Bisnis cokelat di Indonesia selalu jadi hal menarik untuk dibahas. Meskipun setiap olahan kuliner Cokelat yang terkenal berasal dari Eropa, namun benua itu tidak dipenuhi kebun-kebun cokelat. Alih-alih, dalam jajaran sepuluh besar penghasil cokelat dunia, yang mendominasi adalah negara-negara di benua Afrika dan—tentu saja—Indonesia.

Karena itu, tentunya amat disayangkan jika potensi komoditas ini tidak dimanfaatkan dan diolah dengan baik di negeri sendiri. Muhammad Arif Akbar, seorang alumni jurusan Food Technology Institut Pertanian Bogor, menyadari potensi ini.

Dengan latar belakang yang tepat, ia mendirikan Chocolazo Indonesia, sebuah brand produsen cokelat bubuk yang tak kalah enak dengan produk cokelat Eropa. Perjalanannya bisa jadi inspirasi bagi Sahabat Wirausaha untuk lebih menyadari peluang bisnis dari komoditas lokal Indonesia.


Latar Belakang Keluarga di Industri Cokelat

Selepas lulus dari jurusan Food Technology Institut Pertanian Bogor, Arif sempat bekerja di beberapa pabrik makanan dan minuman. Namun, meskipun difasilitasi dengan gaji yang cukup tinggi, ia selalu merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Perlahan, timbul keinginan di dalam dirinya untuk memanfaatkan ilmu yang ia miliki agar lebih berguna untuk masyarakat luas. “Saya mikirnya simpel, hidup cuma sekali, jadi harus punya manfaat lebih buat orang banyak,” tutur Arif.

Baca Juga : SAGALEH, Melanggengkan Budaya Ngopi Dengan Manisnya Racikan Keluarga

Tak lama setelahnya, ia menyadari bahwa saat ini, tren bisnis kafe yang menjual minuman serbuk sedang sangat bagus. Dan hampir di setiap kafe tersebut, ada menu minuman cokelat. Tak hanya itu, Ayahnya pun sudah puluhan tahun berkecimpung di industri pengolahan cokelat di beberapa perusahaan pengolahan makanan. “Ayah saya dulu di bagian produksi, jadi lumayan banyak tahu tentang pengolahan cokelat,” papar Arif.

Latar belakang ini sangat berguna untuk memulai bisnis yang menggunakan cokelat sebagai bahan baku utamanya. Ditambah lagi, saat masih bekerja kantoran pun, Arif pernah menjadi bagian tim Research and Development sebuah perusahaan food and beverage yang cukup besar di Indonesia.

Baca Juga: Mengumpulkan Data Untuk Inovasi Bisnis Kuliner

Di samping itu, Arif juga mengamati perubahan gaya konsumsi masyarakat Indonesia. Menurutnya, sekarang konsumen tidak terlalu fanatik dengan produk makanan dan minuman impor maupun bermerk. Mereka cenderung memilih produk lokal yang cocok di lidah dan diakui aman oleh BPOM serta Halal dari MUI. “Jadi, Chocolazo mungkin bisa memanfaatkan hype produk lokal yang sedang jadi tren ini,” papar Arif.

Ia jadi semakin percaya diri berkat sebuah pengalaman membuat produk cokelat untuk kawan lama ayahnya yang akan memulai perjalanan dinas ke luar negeri. Tak disangka, ternyata kawan sang ayah menikmati produk yang dibuat Arif, dan memesannya kembali.

Akhirnya di awal tahun 2020, berbekal pengalamannya pengalaman pribadi dan ilmunya semasa kuliah, Arif pun nekat memulai bisnis sebagai pemasok minuman serbuk untuk kafe-kafe. “Chocolazo dirintis saat saya masih bekerja, namun baru fokus jualan di awal 2020, setelah saya resign dari pekerjaan sebelumnya,” tutur Arif.

Baca Juga: Tips Melakukan Riset Pasar Bagi UMKM

Lantaran pengalaman sang ayah yang luas tentang cokelat, maka Arif pun memilih cokelat sebagai produk pertama. Selain itu, cokelat bubuk juga termasuk produk low risk, dengan proses pembuatan yang cukup simpel. Arif menggaet supplier cokelat bubuk dan gula pasir lokal yang berkualitas bagus, dan tinggal mencari komposisi yang pas agar rasa seduhannya nanti enak untuk dinikmati. “ Tapi kedepannya, saya ingin tidak hanya mengambil cokelat serbuk, melainkan bisa mengambil bahan langsung dari petani-petani cokelat lokal,” ujar Arif.


Dihantam Pandemi dan Pivoting ke Bisnis Online

Di awal pendirian Chocolazo, Arid mengaku sudah mempersiapkan banyak strategi guna mengoptimalkan pemasaran. Omzet yang dihasilkan pun terbilang cukup baik. Namun, di bulan Maret, pandemi COVID-19 menghantam Indonesia. Industri HOREKA (Hotel, Restoran, dan Kafe) yang menjadi target pasar Chocolazo pun banyak yang merugi hingga akhirnya gulung tikar.

Baca Juga: Mengidentifikasi Peta Persaingan Supaya Bisnis Tetap Unggul

Ini adalah tantangan paling awal dalam menjalankan Chocolazo. Ia mendirikan usaha dengan memproduksi cokelat bubuk dalam jumlah besar terlebih dulu. Alhasil, stok produk menumpuk, sementara penjualan justru mandek. Metode pemasaran yang ia rencanakan, yaitu door to door selling, tidak membuahkan hasil yang baik karena industri hotel dan kafe yang menjadi sasarannya pun tidak beroperasi lantaran pandemi.

Arif mengakui bahwa masa-masa awal tersebut dilaluinya penuh perjuangan. Demi menjual produk, ia nekat mengetuk pintu demi pintu untuk menawarkan produknya pada berbagai restoran, kafe, dan hotel. “Saya modal penampilan rapi, product knowledge, dan beberapa sampel buat tester,” cerita Arif. Namun, cara ini ternyata tidak kunjung membawa hasil yang diharapkan. Ia sadar, bahwa strateginya masih salah.

Baca Juga: Memilih Berbisnis Lewat E-commerce di Era Digital

“Seharusnya, bisnis yang ideal adalah dari market dulu berangkatnya. Masyarakat punya problem apa, dan kita sebagai pengusaha menghadirkan solusi dengan produk. Nah, mindset bikin produk terus jual apalagi tanpa riset pasar, biasanya ditemui di banyak UKM, dan alhasil sulit banget tumbuh,” jelas Arif panjang lebar.

Menyadari hal itu, Arif tak kemudian hilang akal. Ia justru beralih memasarkan produknya ke konsumen yang lebih luas dengan menjajal penjualan online. “Mulai dari website, media sosial, sampai marketplace, saya coba optimalkan,” paparnya.

Saat memasuki pasar online, Arif sadar bahwa riset mendalam tentang latar belakang produk dan besaran pasar sangatlah penting untuk menyusun strategi pemasaran yang tepat. “Karena perkembangan teknologi kan cepat ya, jadi kayak harus belajar terus tiap hari buat mengikutinya,” ujar Arif. Ketekunan dan usahanya perlahan membuahkan hasil.

Baca Juga: Mengenal Ragam Platform Untuk Membuat Website Toko Online Milik Sendiri

Penjualan di pasar online berhasil membuat Chocolazo bertahan, sekaligus memperluas jangkauan pasar ke skala nasional. Selain itu, di pertengahan hingga akhir 2021, kafe dan restoran sudah mulai ramai. Pesanan cokelat bubuk dari industri HOREKA pun kembali datang. “Dulu mungkin 2020 mati total, 2021 kadang dilarang beroperasi, kadang buka. Tapi 2022 sudah mulai longgar,” ujar Arif.

Saat ini, Chocolazo Indonesia sudah berhasil mengembangkan produknya hingga memiliki tujuh varian, yaitu Original Chocolate Drink, Milk Chocolate Drink, Dark Brown Chocolate Powder, Baristamate Chocolate Powder, Pure Matcha, Matcha Latte, dan Malt Chocolate Drink. Kapasitas produksinya pun bertambah besar, yaitu memproduksi hingga 200 – 300 kilogram cokelat dan omset sebesar 15 hingga 20 juta rupiah setiap bulannya.

Kedepannya, Arif punya mimpi untuk Chocolazo Indonesia agar bisa berkembang menjadi food manufacturing besar. Sehingga nantinya, akan lebih banyak manfaat yang ia berikan untuk masyarakat Indonesia, mulai dari meningkatkan penyerapan tenaga kerja hingga mengangkat nilai dari bahan baku komoditas lokal. “Cita-cita saya sejak kecil, memang adalah bisa punya pabrik makanan sehat yang berkualitas dan mampu bersaing dengan pabrik-pabrik makanan asing yang besar,” papar pria asli Jawa Timur ini.

Baca Juga : Potensi Ekspor Cokelat Indonesia

Dari Chocolazo Indonesia, Sahabat Wirausaha bisa belajar tentang bagaimana kenekatan berbisnis, yang dipadukan dengan kerja keras, kegigihan, dan pengetahuan yang baik, bisa menghasilkan bisnis yang stabil. Tak hanya itu, kita juga jadi tahu bahwa ada banyak komoditas lokal yang bisa diolah menjadi produk berkualitas, ketimbang hanya diekspor secara mentah. Jika kita bisa menambah nilai komoditas lokal dengan pengolahan yang baik, tentunya daya ekspor produk juga semakin kuat, bukan? Yuk, sudah saatnya UKM Naik Kelas!

Baca Juga : Aroma Segar Bisnis Kopi Indonesia Dari Hulu ke Hilir

Jika merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini ya Sahabat Wirausaha.

Referensi:

Wawancara langsung dengan Muhammad Arif Akbar, Founder sekaligus Owner Chocolazo Indonesia, sepanjang bulan Januari 2022

https://majoo.id/blog/detail/brand-lokal-yang-meng...