UKM Indonesia

Mengumpulkan Data Untuk Inovasi Bisnis Kuliner

Penulis : Sonia Fatmarani
10 Mei 2021
Lama Baca : 5 menit

Gambar diambil dari kompas.com

Penggunaan data sebagai panduan dalam mengembangkan bisnis dan memunculkan inovasi produk baru memang sudah biasa dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar, terutama yang berskala internasional. Namun bagaimana dengan kelompok Usaha Kecil dan Menengah? Menurut Forbes, sebanyak 53% perusahaan besar sudah mengadopsi pemakaian big data untuk bisnisnya. Sementara di bisnis UMKM, sebagian besar pelakunya justru belum menyadari pentingnya penggunaan data (soltius.co.id). Padahal, peran data dalam pengambilan keputusan dan penyusunan strategi bisnis sangat disarankan, lho!

Nah, seperti apa sih penggunaan data dalam menyusun strategi bisnis? Artikel Tips Bisnis ini lagi-lagi membahas dari pengalaman Rizal Kurniady selaku CEO Raja Uduk dan Hanindia Narendrata selaku CEO Telunjuk.com. Yuk kita bahas.


Data Tak Melulu Soal Angka

Saat ini, jika warga Jakarta di jam-jam makan mencari nasi uduk lewat platform online, hasil pencarian teratas adalah Raja Uduk. Ya, kuliner ini memang menjadi salah satu menu makan siang favorit warga Jakarta, terutama di sekitar area Tebet. Tak hanya itu, Raja Uduk juga terbukti pemain andal di media sosial. Jika dicek, engagement rate dari akun Instagram @rajauduk sendiri mencapai 1,59%. Begitu juga dengan like rate akun ini, yang mencapai 1,58%. Kedua statistik ini menggambarkan performa akun yang sangat baik. Meskipun followers-nya tidak sampai berjuta-juta, namun dengan engagement rate seperti ini, terlihat bahwa Raja Uduk memang benar-benar diminati dan populer di kalangan pelanggannya di Instagram. Apa resep kesuksesan Raja Uduk?

Baca juga: Tren dalam Instagram yang Penting Bagi Digital Marketing

Menjawab ini, Rizal menjelaskan bahwa data berperan besar dalam proses pengembangan bisnis kulinernya. Namun, banyak data yang digunakannya bukanlah data berbasis angka, melainkan berbasis observasi. Ia tidak hanya menggunakan data yang ada di digital marketing. Tapi juga dari observasi sendiri di restoran dan kuliner lokal sekitar. Lewat praktik ini, ia mengamati bahwa meskipun kuliner lokal jadi juara soal rasa, namun ada beberapa hal yang menjadi problem di rumah-rumah makannya : tempat yang kurang higienis dan pelayanan yang kurang ramah. Hal-hal inilah yang kemudian ia perbaiki. Usaha nasi uduknya menerapkan pelayanan ramah khas Melayu dan tempat yang bersih. Strategi ini jelas berhasil, dan hingga sekarang Raja Uduk menjadi kuliner lokal yang terkenal luas.

Lewat pengalaman Rizal, kita jadi tahu bahwa terkadang, ada usaha yang memang tidak butuh data big data. Yang ia dan timnya butuhkan adalah data yang tersedia secara lokal, ada di sekitarnya, hingga kemudian diolah menjadi strategi penjualan tersendiri. Cara ini berhasil membuat Rizal menemukan sebuah problem penting yang pemecahannya kemudian jadikan tonggak untuk bisnis Raja Uduk sendiri. Ini membuktikan, bahwa membangun brand lokal tidak harus menggunakan data-data besar skala nasional dan sebagainya. Sebagai pelaku usaha, kita hanya harus pintar-pintar memilah data mana yang bisa diolah menjadi strategi.

Baca Juga: Membedah Penggunaan Whatsapp Business untuk Naik Skala Bisnis

Melek data itu penting, tapi saat kita tidak bisa memanfaatkannya sebagai inovasi, ya percuma. Data-data dari Shopee, Tokopedia, Bukalapak, itu memang penting sekali, tapi yang tidak kalah penting adalah data primer yang kita dapatkan dari observasi. Narendrata berpendapat bahwa observasi juga sama pentingnya dengan data statistik online.


Mengembangkan Bisnis Kuliner Lewat Data

Sebelum membangun strategi pengembangan online shopping, kita harus tahu demand (permintaan) dari pasar. Misalnya, jika usaha kita adalah sambal balado, berarti kita memerlukan data tentang penjualan sambal balado di Indonesia guna membangun kepercayaan diri tentang ketersediaan permintaan pasar. Data permintaan inilah yang kemudian digunakan untuk pengembangan bisnis. Menurut Rizal, kita juga bisa menggunakan data agar produk kita bisa lebih baik diterima di pasaran. Bagaimana caranya?

Pertama, untuk pengembangan produk, kita butuh data perilaku masyarakat dari kalangan sekitar dan terdekat kita. Jadikan data ini sebagai pegangan untuk membaca kebutuhan pelanggan. Lalu, jadikan produk kita ini sebagai solusi untuk kebutuhan masyarakat dan pelanggan kita. Kita juga butuh data berupa review, testimoni, dan kepuasaan pelanggan untuk dibagikan di media sosial sebagai promosi produk. Dengan membaca informasi ini, pelanggan akan jauh lebih percaya pada produk kita. Nah, untuk awalnya, strategi yang bisa kita gunakan adalah mengajak kerabat, teman, dan keluarga dekat untuk membeli produk dan memerikan testimoni mereka di lapak online kita. Dengan begitu, pelanggan juga akan lebih tergoda untuk membeli produk.

Baca Juga: Menentukan Unique Selling Proposition

Selain itu, pengembangan juga bisa dilakukan dengan meminta orang-orang terdekat mencicipi rasa kuliner kita, dan memberitahu komentar atau kritik mereka. Data yang kita peroleh dari kritik dan saran pencicip inilah yang bisa menjadi bahan evaluasi dan perbaikan rasa. Tapi ingat, hasil riset yang valid dari metode ini hanya bisa diperoleh dari data yang valid, alias setiap pencicip tidak boleh berbohong. Biasanya, hal ini terjadi karena keluarga dekat selalu ingin menyenangkan kita, bukan? Mereka bisa bilang rasanya enak, padahal saat kita lempar ke pasar ternyata rasanya biasa saja. Hal ini bisa jadi sandungan, karena saat validasi rasa di awalnya salah, maka data yang kita punya juga salah.

Diakui oleh Rizal bahwa hal ini pernah dialaminya. Di kala awal merintis bisnis, ia sempat memberikan masakan untuk dicoba pada keluarga terdekat, dan semua bilang enak. “Meskipun nilainya masih 6 atau 7, namun mereka tetap bilang enak,” Padahal, menurut Rizal, untuk diterima masyarakat kita butuh nilai 9 hingga sempurna. Akhirnya, Rizal memberikan produk nasi uduk ke anak-anak kecil untuk dinilai karena mereka lebih jujur dalam menilai. Mereka nambah saat enak, dan mengaku kenyang setelah beberapa suap jika rasanya kurang disukai. Dari anak-anak ini, kita bisa mendapat respon data tervalidasi yang digunakan sebagai data pengembangan produk dan inovasi soal rasa.

Sedangkan untuk kemasan, pertama-tama kita bisa tentukan dulu nama produk yang banyak dicari. Setelah itu, mencari gambar yang menarik untuk diletakkan di kemasan. Proses pencarian nama, gambar, dan --jika perlu—tagline dari produk ini, bisa kita lakukan dengan melihat data-data yang sudah ada sebeumnya. Kita observasi, kira-kira untuk produk sambal ini pengemasan yang bagus itu seperti apa. Misalnya saja, ada kemasan yang berbentuk kardus karton, atau hanya dengan plastic sealed, atau ternyata yang paling kompatibel adalah menggunakan botol, toples, atau wadah tertutup berbagai ukuran. Mau pakai botol plastik, atau botol kaca, itu ada pasarannya dan kekuarangan serta kelebihan masing-masing. Sebab, setiap produk punya standar yang berbeda tergantung bahannya, terutama bahan kuliner.

Baca Juga: Cara Mengoptimalkan Instagram Untuk Berbisnis, Yuk Simak Tipsnya!

Selain itu, jangan lupa pula untuk menginformasikan data komposisi bahan, berat produk, tanggal produksi dan kadaluarsa pada kemasan. Data-data ini termasuk penting untuk dicantumkan, agar produk kita terlihat lebih valid. Sebisa mungkin, buatlah konsumen merasa produk kita ini aman dan enak dikonsumsi dari tampilan kemasannya. Dan yang terpenting, dengan menghadirkan data-data ini, teman-teman UKM bisa membangun personal brand untuk investasi jangka panjang. Contohnya, usaha keripik Maicih, yang tadinya hanya usaha kecil, namun mampu membangun brand image mereka dengan baik dari bawah dan rasanya pun enak. Produk ini sukses mengalahkan brand-brand besar dan hingga sekarang, dalam persaingan keripik lokal, Maicih masih jadi yang teratas. Selain dengan riset yang baik, Maicih juga menghadirkan data-data terpercaya.

Setelah melakukan banyak observasi online dan mengumpulkan banyak data, sebagai pengusaha kuliner kita tidak boleh lupa yang paling penting. Pertama, rasa produk harus enak, kemasannya harus menarik, harganya kompetitif, dan penjual haruslah ramah. Ketika kita pindahkan ini ke online marketplace, ya sama saja, ketiga-tiganya juga harus kita miliki. Jika diperhatikan, keramahan penjual saat melayani konsumen via chat WhatsApp atau chat Shopee dan Tokopedia, dan dalam menanggapi review, sangat berpengaruh terhadap citra produk.


Memanfaatkan Data Untuk Inovasi Produk

Dalam berjualan, kita harus senantiasa berpegang pada value proposition di mana produk kita selain memuaskan perut juga bisa menjadi solusi bagi masyarakat. Ada data dan promo yang posisinya hanya untuk gimmick karena mengikuti tren. Contohnya, di dunia kuliner, sekarang ini yang sedang tren adalah makanan-makanan Korea. Perlukah gimmick nasi uduk tapi dengan fushion ala Korea? Ini bisa jadi gimmick yang menarik pasar. Jangan-jangan, malah bisa laku keras dan konsumen suka dan jadi menu tetap. Atau, misalnya saja di toko sebelah sempat ramai karena menyajikan menu kopi yang sedang tren, yaitu kopi dalgona. Jika kita juga seorang pemilik kedai kopi, tentu sangat masuk akal untuk mengikuti tren ini agar produk kita lebih diminati. Karena meskipun sementara, hal ini bisa meningkatkan penjualan juga. Tapi, semua gimmick juga harus sejalan dengan produk utama kita, yang di sini adalah nasi uduk. Jangan sampai gimmick justru menciderai nilai-nilai luhur yang direpresentasikan oleh nasi uduk.

Baca Juga: Tips Membuat Jadwal Konten di Media Sosial

Tapi, kita tidak bisa mengikuti tren terus menerus, karena kelamaan kita akan kelelahan sendiri. Produk kitalah yang harus jadi andalan utama, harus punya nilai unik dan nilai jual yang tidak ada di produk serupa lainnya. Nah, untuk mengetes apakah suatu promo atau gimmick bisa nyambung dengan produk dan konsumen, kita bisa melakukan testing. Menurut Narendrata, kita cukup alokasikan satu hari dan modalnya, untuk memakai promo ini. Dari situ, kita bisa melihat reaksi konsumen dan bisa dijadikan data, apalagi jika kita observasi langsung dengan ngobrol dengan konsumen. Terkadang, testing memang dilupakan oleh pelaku UMKM, padahal ini bisa jadi tahap penting. Dalam melakukan hal ini, kita juga harus menggunakan data sebelumnya tentang perilaku konsumen. Jangan sampai, apa yang kita suguhkan berbarengan dengan promo lain, justru tidak sesuai dengan apa yang diinginkan konsumen.

Nah, itu tadi penjelasan lengkap tentang bagaimana kekuatan data yang akurat dapat membantu kita mengembangkan bisnis dan inovasi produk, khususnya di bidang kuliner. Setelah ini, diharapkan teman-teman UKM tidak lagi ragu untuk menggunakan data dalam pengembangan produk. Sebab sudah saatnya UKM naik kelas!

Jika merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini ya Sahabat Wirausaha.

Referensi :

APINDO UMKM Akademi



Mungkin Anda perlu membaca Artikel ini: