UKM Indonesia

Mengenal Berbagai Jenis Platform e-Commerce Untuk UKM

Penulis : Annisa Anastasya
Editor : Banu Rinaldi
30 September 2022
Lama Baca : 10 menit

Ecommerce web page concept illustration

Saat ini banyak orang yang memutuskan belanja online untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Praktis, mudah, banyak pilihan, dan harga lebih terjangkau adalah alasan mengapa belanja online semakin banyak peminatnya. Selain itu, ada banyak tawaran menarik untuk para pembeli seperti promo diskon, cashback, hingga gratis ongkir.

Trend belanja online memang mengalami peningkatan signifikan, terutama ketika masa pandemi. Mengutip pernyataan Ahmad M. Ramli (Dirjen PPI Kemenkominfo) di cnnindonesia, aktivitas belanja online masyarakat meningkat sampai 400% pada tahun 2020 lalu. Ini cukup masuk akal mengingat karena ada pembatasan sosial dan harus berdiam di rumah, masyarakat menemukan cara untuk mengusir kebosanan sambil mencari kebutuhan pribadinya, salah satunya dengan belanja online.

Baca Juga: Tren Belanja Online dalam Era New Normal

Perekonomian nasional sempat mengalami perlambatan di awal masa pandemi. Beberapa usaha ada yang sempat melakukan efisiensi besar-besaran, ada juga yang gulung tikar karena penjualan kian merosot. Saat itu banyak masyarakat yang menunda pengeluarannya karena terjadi ketidakpastian ekonomi dan kekhawatiran akan pandemi. Perlahan masyarakat mulai melakukan penyesuaian terhadap pola konsumsinya yaitu dengan beralih dari belanja fisik ke belanja online sebagai upaya membatasi interaksi fisik.

Perubahan perilaku konsumen itu yang perlu diperhatikan oleh Pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) untuk mengatur strategi pemasaran. Digital or die, saat ini pemasaran digital adalah solusi untuk meningkatkan penjualan.

Masalahnya tidak semua pelaku usaha paham tentang platform apa saja yang dapat digunakan sebagai media penjualan. Sebagai langkah awal, pelaku usaha perlu memilih dan menentukan platform yang tepat, mengetahui kegunaan, serta menimbang plus-minusnya. Maka pada topik kali ini kita akan bahas masing-masing platform yang tersedia untuk berbisnis online.

1. Media sosial

Siapa yang tidak kenal media sosial? Kita pun sudah tidak asing lagi karena penggunaan media sosial sudah dikenal secara meluas di Indonesia. Fungsional sebagai media komunikasi, relatif mudah digunakan, dan menyediakan fitur interaktif merupakan daya tariknya. Laporan Digital Report 2020 mencatat ada 175,4 juta pengguna aktif internet berusia 16-64 tahun di Indonesia dimana mayoritas diantaranya merupakan pengguna media sosial.

Baca Juga: Mengenal Ragam Platform Untuk Membuat Website Toko Online Milik Sendiri

Laporan itu juga mengungkapkan intensitas pemakaian media sosial oleh para pengguna di Indonesia. Berdasarkan hasil survey, ada lima jenis media sosial yang paling aktif atau sering digunakan yaitu Youtube (88%), Whatsapp (84%), Facebook (82%), Instagram (79%), dan Twitter (56%). Kita dapat melihat persentase secara menyeluruh pada diagram berikut.


Sumber: Hootsuite, 2020

Saat ini Youtube menjadi media sosial dengan jumlah pengguna dan tingkat keaktifan tertinggi di Indonesia, disusul oleh Whatsapp, Facebook, Instagram, dan Twitter. Media sosial lain yang cukup intens digunakan adalah Line, FB Messenger, Pinterest, Linkedin, Tiktok, We Chat, Snapchat, Skype, Reddit, dan Weibo. Namun, kita hanya akan membatasi pembahasan pada lima media sosial dengan tingkat penggunaan tertinggi.

Baca Juga: 3 Kunci Sukses Transformasi Bisnis Offline ke Online

Mengapa tingkat keaktifan penggunaan media sosial ini penting? Karena data ini dapat menjadi pertimbangan kita menentukan platform media sosial mana yang dapat mengakomodasi produk kita untuk terekspos dan dijangkau oleh konsumen. Kalau tingkat keaktifannya rendah, maka lebih kecil peluang produk kita dilihat oleh konsumen.

Dalam bagian ini, kita akan fokus menggali lima media sosial yang paling banyak penggunanya dan paling aktif digunakan. Mari kita simak ringkasan profil masing-masing media sosial dan bagaimana relevansinya dengan pemasaran.

Keterangan

Youtube

Whatsapp

Facebook

Instagram

Twitter

Jumlah Pengguna

167 Juta

150 Juta

145 Juta

147 juta

108 juta

Tingkat Keaktifan

88%

84%

82%

79%

56%

Visibilitas

Publik

Terbatas

Publik

Publik

Publik

Media Promosi

Iklan, hastags

-

Iklan, hastags

Iklan, hastags

iklan, hastags

Business Tools

VidiQ, Agorapulse, Tubebuddy

Business WA, katalog, WA Story

Page, page insights, pages manager app, canvas, power editor, ads manager, dll

Instastory, IGTV, Adobe Lightroom, Snapseed, Templates, dll

Tweetdeck, Pooling, dll

Fitur Interaksi

Komentar, Tombol like/dislike, share, dll

Pesan langsung, grup, share

Komentar, pesan langsung, tombol like, share

Komentar, pesan langsung, tombol like, share

Balasan, pesan langsung, tombol like, share

Konten

Video, tulisan

Tulisan, gambar, video, katalog

Gambar, tulisan, video, katalog

Gambar, video, tulisan, story spotlight

Tulisan, gambar, video, tweet disematkan

Sumber: Hootsuite, Datalistz, dan data olahan, 2021

Visibilitas menunjukkan bagaimana suatu konten dapat dijangkau publik. Kalau visibilitasnya publik berarti konten tersebut bisa diakses oleh siapa saja dengan fitur pencarian, tetapi kalau terbatas artinya hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengaksesnya, misalnya Whatsapp yang memungkinkan kita sebagai pengguna melihat story dan katalog produk orang lain jika kita sudah menyimpan nomor teleponnya.

Business tools atau fitur-fitur penunjang untuk membuat konten produk adalah beragam fitur dan aplikasi yang bisa kita gunakan untuk membuat konten pemasaran jika menggunakan media sosial terkait.

Fitur interaksi merupakan fitur yang disediakan media sosial agar antar pengguna bisa saling berinteraksi. Ada media sosial yang menyediakan fitur komentar, pesan langsung, tombol like/dislike, dan bagikan (share). Fitur ini dibuat untuk mempermudah interaksi antar pengguna media sosial, dalam konteks ini antara pelaku usaha dan konsumen.

Baca Juga: Spesifikasi Gawai yang Perlu Dimiliki Untuk Optimalkan Jualan Online

Media sosial memiliki ciri khas masing-masing terkait konten yang dapat dibagikan. Youtube misalnya, konten yang dibagikan dalam bentuk video dan tulisan, sedangkan konten instagram berupa gambar, tulisan, dan video singkat.

Lalu, bagaimana dengan efektivitas penggunaan media sosial untuk keperluan bisnis? Media sosial apa yang paling efektif dan sering digunakan untuk saluran promosi produk?

Survey yang dilakukan Databoks terhadap pelaku usaha yang menggunakan media sosial sebagai platform bisnis menunjukkan bahwa closing penjualan paling banyak terjadi melalui Facebook (43%), Facebook & Instagram secara bersama-sama (11%), dan Instagram (5%). Hal ini menunjukkan bahwa Facebook dan Instagram adalah media sosial yang paling banyak digunakan sebagai toko online oleh pelaku usaha di Indonesia.

Facebook merupakan media sosial yang paling sering digunakan dalam berbisnis. Alasannya karena facebook menyediakan fitur bisnis cukup lengkap dan mampu mengakomodir publisitas produk melalui postingan gambar, tulisan, video, hingga katalog. Jika pengguna beralih menggunakan akun bisnis, ada banyak fitur business tools yang facebook sediakan untuk memfasilitasi perdagangan online, baik yang bisa digunakan secara gratis dalam aplikasi facebook maupun yang perlu diunduh secara terpisah melalui playstore.

Selain facebook, media sosial lain yang sering digunakan sebagai media pemasaran adalah instagram. Bahkan saat ini jumlah penggunanya meningkat pesat menjadi 147 Juta orang, lebih tinggi dari facebook.

Instagram yang memfokuskan konten pada data visual ternyata dipandang sebagai media yang cukup efektif mengekspos tampilan produk agar tampak lebih menarik. Jika produk bisnis kita merupakan perlengkapan yang berhubungan dengan kaum wanita, memasarkannya melalui instagram adalah hal yang tepat dikarenakan mayoritas atau 51% penggunanya adalah perempuan.

Baca Juga: Fokus atau Perbanyak Platform E-Commerce dalam Berjualan Online?

Whatsapp menempati media sosial yang paling banyak digunakan (150 Juta Pengguna) sekaligus paling aktif di urutan kedua setelah Youtube (84%). Saat ini Whatsapp mengembangkan versi bisnisnya yang memungkinkan penggunanya untuk memposting katalog, menampilkan profil, dan menjawab pesan konsumen secara otomatis. Fitur bisnis pada Whatsapp kini juga menyediakan fitur yang memungkinkan satu nomor terintegrasi dengan beberapa ponsel customer service untuk menguatkan kesan profesional.

Untuk tujuan berbisnis, biasanya Whatsapp digunakan sebagai media interaksi dengan konsumen secara personal, bukan untuk menjaring konsumen baru. Penggunaan Whatsapp akan semakin efektif jika digunakan bersama dengan media sosial lain yang dapat dijangkau publik.

Hal ini disebabkan Whatsapp memiliki visibilitas terbatas, yang artinya konten pemasaran yang ditampilkan hanya bisa diakses oleh orang-orang yang sudah menyimpan kontak Whatsapp dalam ponselnya. Berbeda dengan media sosial lain yang memiliki visibilitas sehingga dapat diakses publik.

Media sosial yang kini pengguna dan tingkat popularitasnya tertinggi adalah Youtube. Umumnya, pelaku usaha menggunakan youtube sebagai media edukasi kepada konsumen dengan membuat video mengenai informasi produk, cara penggunaan, hingga tips dan trik mengoptimalkan kegunaan produk.

Jika kita memiliki kemampuan membuat video produk yang menarik, menggunakan youtube sangat efektif untuk menginfokan spesifikasi produk kepada konsumen dan meningkatkan ranking SEO di mesin pencarian.

Baca Juga: Optimalisasi Facebook Untuk UMKM Melalui Facebook Ads

Meskipun youtube memiliki jumlah pengguna tertinggi, namun tidak begitu banyak pelaku usaha yang mampu menggunakannya karena memiliki keterbatasan dalam membuat konten video. Seperti halnya twitter, meskipun jumlah penggunanya cukup besar, namun tidak banyak yang menggunakan media sosial ini untuk transaksi jual beli karena memiliki keterbatasan menampilkan gambar visual.

Beberapa media sosial lain yang juga cukup populer dan mulai digunakan untuk membuat konten promosi adalah tiktok dan pinterest. Namun pengguna media sosial ini terbatas pada rentang usia tertentu, seperti tiktok yang umumnya digunakan pelaku usaha generasi milenial dan Z.

2. Marketplace

Platform e-commerce kedua yang dapat digunakan untuk media bisnis online adalah marketplace. Marketplace adalah sebuah platform dagang yang dikelola sebuah perusahaan sebagai pihak ketiga untuk memfasilitasi bertemunya penjual dan pembeli secara online.

Kalau diibaratkan, marketplace ini seperti mall yang menaungi banyak toko yang menawarkan beragam jenis produk kepada pembeli yang berkunjung. Bedanya, jika di dalam mall pengunjung bisa melihat produknya langsung, di marketplace pengunjung tidak bisa melihat secara langsung sehingga mengandalkan etalase foto dan deskripsi produk sebagai referensi sebelum membeli.

Pertumbuhan marketplace di Indonesia sedang pesat-pesatnya hingga Indonesia dinobatkan sebagai negara dengan pertumbuhan marketplace terpesat di dunia. Setidaknya saat ini ada 10 marketplace yang bersaing menampung penjual dan pembeli potensial untuk bertransaksi.

Menurut katadata, ada lima situs marketplace dengan jumlah pengunjung terbanyak setiap bulannya selama 2020 yaitu Shopee (96,5 juta), Tokopedia (85 juta), Bukalapak (31,4 juta), Lazada (22,7 juta), dan Blibli (18,7 juta). Jumlah pengunjung ini mengindikasikan jumlah potensi pasar yang ada pada marketplace tersebut.

Baca Juga: Optimalkan Digital Marketing Dengan Agenda dan Saluran yang Tepat

Berbisnis online melalui marketplace sepertinya cukup menjanjikan. Traffic atau jumlah kunjungan marketplace yang semakin tinggi merupakan daya tarik yang patut diperhitungkan, terlebih saat ini masing-masing marketplace terus berupaya menarik pengunjung sebanyak-banyaknya dengan beragam promo menarik seperti cashback, diskon, dan gratis ongkir.

Namun sebelum memutuskan, mari kita telaah apa saja plus minus berjualan melalui marketplace.

Kelebihan

Kekurangan

  1. Proses pendaftaran akun relatif mudah.
  2. Sudah memiliki sistem berjualan sehingga tidak perlu repot merancang sistemnya.
  3. Transaksi aman karena terawasi oleh sistem marketplace.
  4. Pasar sudah terbentuk.
  1. Memiliki banyak kompetitor.
  2. Perang harga
  3. Kurang mendukung branding produk.

Setiap platform dagang tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan berjualan di marketplace sudah pasti menguntungkan penjual sehingga tidak terlalu dipermasalahkan, lalu bagaimana dengan kekurangannya? Karena banyaknya kompetitor dan terjadinya perang harga bisa berdampak negatif bagi penjualan.

Ternyata banyak penjual yang mengatasi kekurangan marketplace dengan mengombinasikan saluran penjualan marketplace dengan platform penjualan lain seperti media sosial dan website pribadi sehingga penjual tidak kehilangan kesempatan untuk membangun brand perusahaan.

Ketika ada yang ingin membeli produk melalui marketplace, penjual tinggal mengarahkan konsumen ke akun tokonya di marketplace. Dari sini, penjual mendapatkan dua keuntungan yaitu membangun interaksi dengan konsumen dan meningkatkan penjualan melalui marketplace.

Strategi pemasaran ini dapat kita lihat pada brand Hijabchic yang merupakan produk fashion muslimah yang mengusung gaya chic dan warna pastel. Ia menawarkan produk dari beberapa saluran penjualan seperti melalui instagram, website pribadi, dan marketplace.

Sembilan tahun beroperasi membuat brand Hijabchic dikenal dan memiliki pelanggan tetap tersendiri. Untuk merambah pangsa yang lebih besar dan memanfaatkan promo yang menguntungkan pelanggannya, Hijabchic juga menawarkan produk melalui marketplace seperti Shopee dan Tokopedia.

Baca Juga: Seluk Beluk Analisa Peluang Pasar di Tokopedia

Selain itu, ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan berjualan melalui marketplace yaitu melihat segmen pembeli. Tidak semua marketplace berhasil mencatat penjualan tinggi di setiap kategori produk.

Ada marketplace yang segmen konsumen kategori produk fashion-nya lebih tinggi dibandingkan kategori produk makanan, namun ada juga marketplace yang segmen konsumen kategori produk makanannya yang justru lebih tinggi dibandingkan produk fashion-nya.

https://lh3.googleusercontent.com/EpIkRtUSg4VPbGIAeMv76mH6X2KRlJ8lu1UevBV7sdyheKo6sVyln13N0__CqNDGreHUgGpk7FFuXwfTaktzK2RWz9BeffgwHnxInl2wjxMV15GzpQLpIjmox4ovOA

Sumber : androidcame.com, 2020

Dapat kita lihat, marketplace Blibli misalnya, mencatat produk dengan penjualan terlaris pada kategori mobile & electronics (21%), fashion (17%), dan groceries (17%), sedangkan untuk kategori lainnya seperti health & wellness (3%) terlihat lebih rendah. Nah, sebelum memilih marketplace yang akan kita pergunakan untuk saluran pemasaran dan penjualan, sebaiknya pertimbangkan segmentasi konsumen yang ada di marketplace tersebut dengan melihat produk apa yang paling laris terjual.

3. Website Pribadi

Saluran penjualan e-commerce yang dapat kita gunakan selanjutnya adalah website pribadi. Kalau marketplace diibaratkan seperti mall, maka website pribadi seperti toko personal. Kalau kita ingin agar usaha terlihat lebih profesional, membuat website pribadi adalah kuncinya.

Website dapat digunakan pemilik usaha untuk membangun identitas brand dan menjalin interaksi dengan konsumen. Informasi tentang perusahaan, misi, visi, nilai, logo, filosofi logo, identitas warna, konsep usaha, dan sebagainya dapat dimuat dalam halaman website untuk membangun kesan positif dan keterikatan emosional dengan konsumen. Memiliki website pribadi juga membuat kita leluasa mengatur sistem penjualan dan berinteraksi dengan konsumen atau pihak lain yang ingin menjalin kerjasama.

Baca Juga: Mengenal Jenis-Jenis Website Untuk Bisnis

Kelebihan lain dari memiliki website pribadi, toko online kita dapat muncul di mesin pencarian google ketika ada orang yang mencari keyword yang berhubungan dengan produk yang ditawarkan. Hingga saat ini mesin pencarian google masih menjadi tools yang paling diandalkan untuk mencari barang yang dibutuhkan. Berbeda halnya dengan sosial media dan marketplace yang memiliki jangkauan konsumen yang lebih terbatas.

Sebelum membuat website pribadi, tentu kita perlu mengetahui apa saja yang dibutuhkan dan dilakukan. Mengelola website membutuhkan kemandirian dan inisiatif pemilik usaha karena perlu menyiapkan sistem penjualan dan selalu meng-update foto produk, informasi produk, dan konten edukatif. Dan jangan lupa bahwa membuat website pribadi mengharuskan kita untuk menganggarkan pengeluaran domain dan hosting setiap tahunnya.

Sebelum membuat website, kita perlu memahami secara utuh apa saja manfaat dan konsekuensi yang harus ditanggung agar dapat mengambil keputusan dengan tepat.

Manfaat

Konsekuensi

  1. Meningkatkan kredibilitas dan kesan profesional.
  2. Memegang kendali penuh.
  3. Membangun identitas brand.
  4. Tidak bergantung pada pihak ketiga.
  5. Menjangkau target pasar yang lebih luas, bahkan hingga skala internasional.
  6. Memudahkan konsumen menemukan toko online melalui mesin pencarian.
  1. Membutuhkan kemandirian dan inisiatif untuk mengelola konten.
  2. Pengeluaran untuk domain dan hosting.

Salah satu kelebihan website pribadi dibandingkan platform e-commerce lainnya adalah kita dapat memperluas jangkauan konsumen hingga skala global. Jika memang target market kita adalah konsumen global, menyediakan konten berbahasa inggris sangatlah perlu agar informasi yang disediakan dapat dipahami oleh konsumen mancanegara.

Baca Juga: Meningkatkan Kualitas Website dengan Backlink

Hal lain yang perlu diketahui teman-teman dalam pembuatan website adalah mengenai pemesanan barang. Kita bisa memasang fitur e-commerce dalam website, sehingga konsumen bisa langsung memilih produk dan membayar pesanan langsung di website. Namun jika tidak mampu melengkapi dengan adanya fitur ini, jangan lupa untuk ditaruh link WA Business, media sosial, dan marketplace nya sehingga konsumen bisa langsung menghubungi untuk membeli produk Sahabat UKM.


Memilih Platform e-Commerce yang Tepat

Semua platform e-commerce yang tersedia sejatinya berfungsi sebagai media pemasaran untuk mengoptimalkan penjualan produk. Jika saat ini masih menimbang-nimbang mana platform yang sebaiknya digunakan, kita perlu mempertanyakan tujuan bisnis dan menakar kemampuan yang dimiliki.

Misalnya jika kita memiliki budget yang cukup dan tujuan bisnis kita adalah membangun brand, maka memiliki website pribadi dan media sosial adalah sebuah prioritas. Apabila target kita adalah penjualan dan punya keterbatasan untuk membuat konten, maka menggunakan media sosial dan marketplace adalah pilihan yang lebih tepat.

Baca Juga: Mengenal Ragam Platform Aplikasi Pesan Untuk Bisnis (Telegram, WA Bisnis, Line)

Idealnya, pelaku usaha yang serius ingin berbisnis online perlu memiliki ketiganya yaitu saluran penjualan di media sosial, marketplace, dan website pribadi. Variasi saluran penjualan memberikan pilihan dan kemudahan kepada konsumen sehingga memperbesar peluang terjadinya transaksi.

Yuk kita tingkatkan selalu kapasitas digitalisasi usaha kita. Platform digital sudah wajib digunakan UMKM saat ini, khususnya untuk bertahan dalam pandemi. Saatnya UMKM Go Global!

Jika merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini ya Sahabat Wirausaha.

Referensi:

Indonesian Digital Report, 2020

Mungkin Anda perlu membaca Artikel ini: