Sumber foto: Ilustrasi AI (ChatGPT)

Halo, Sahabat Wirausaha!

Belakangan, daun kelor kerap disebut memiliki nuansa rasa yang mengingatkan pada matcha Jepang. Pernyataan ini muncul dalam berbagai percakapan ringan, ulasan konsumen, hingga narasi produk minuman sehat. Pertanyaannya kemudian mengemuka: benarkah rasanya memang mirip? Ataukah perbandingan ini lahir dari cara lidah modern memahami rasa hijau yang belum sepenuhnya akrab?

Perbandingan antara kelor dan matcha memang terdengar sederhana. Keduanya sama-sama berwarna hijau, sama-sama diseduh, dan sama-sama hadir dalam diskursus gaya hidup sehat. Namun, dibalik kesan awal tersebut, terdapat lapisan rasa, konteks budaya, serta cara pandang yang jauh lebih kompleks. Membaca perbandingan ini secara utuh berarti tidak hanya berbicara soal rasa, tetapi juga tentang persepsi.


Saat Lidah Mencari Referensi

Bagi banyak orang, pengalaman pertama mencicipi minuman kelor dimulai dari kesan visual yang kuat. Warna hijau pekat, aroma yang earthy, dan pahit ringan sering memicu asosiasi tertentu. Di titik inilah, matcha kerap dijadikan pembanding.

Hal ini wajar. Lidah manusia bekerja dengan ingatan. Ketika berhadapan dengan rasa baru, ia cenderung mencari referensi terdekat yang sudah dikenal. Dalam konteks konsumen urban hari ini, matcha menjadi salah satu rujukan paling populer untuk rasa “hijau”. Ia hadir di kafe, produk minuman siap saji, hingga citra hidup sehat yang modern.

Maka ketika kelor diseduh dan memberikan sensasi hijau yang serupa, perbandingan pun muncul secara spontan. Bukan karena rasanya identik, melainkan karena pengalaman sensoriknya berada dalam spektrum yang berdekatan.


Mirip di Kesan Awal, Berbeda di Karakter

Jika ditelusuri lebih jauh, kemiripan antara kelor dan matcha sejatinya berhenti di kesan awal. Matcha dikenal dengan karakter rasa yang lebih lembut, dengan sentuhan umami dan tekstur yang cenderung creamy. Kepahitannya halus dan sering diimbangi oleh rasa manis alami.

Sebaliknya, daun kelor menghadirkan karakter yang lebih tegas. Rasanya cenderung herbal dan vegetal, dengan pahit yang lebih langsung terasa. Tidak ada lapisan creamy yang menahan rasa, sehingga aftertaste kelor terasa bersih namun kuat sebagai rasa tanaman.

Perbedaan ini bukan soal mana yang lebih unggul. Keduanya tumbuh dari tradisi, proses pengolahan, dan kebiasaan konsumsi yang berbeda. Menyamakan keduanya secara mutlak justru berisiko mengaburkan identitas masing-masing.

Baca juga: Fenomena Popularitas Matcha: Kenapa Tren Ini Meledak?


Rasa Hijau dan Persepsi Konsumen

Sejumlah ulasan dan literatur pangan mencatat bahwa kelor dan matcha memang sama-sama berada dalam spektrum rasa hijau, tetapi bekerja dengan cara yang berbeda di lidah. Matcha memberi sensasi yang lebih membulat dan halus, sementara kelor menonjolkan karakter herbal yang lebih eksplisit.

Di sinilah pentingnya memahami bahwa perbandingan antara kelor dan matcha lebih banyak dipengaruhi oleh persepsi konsumen, bukan oleh kesamaan rasa yang nyata. Dalam banyak kasus, perbandingan tersebut muncul sebagai upaya menyederhanakan pengalaman—agar rasa yang baru lebih mudah dipahami melalui rujukan yang sudah dikenal.

Dengan kata lain, ketika kelor disebut “mirip matcha”, yang terjadi bukanlah penyamaan rasa, melainkan proses adaptasi persepsi.


Kelor dan Cara Kita Memandangnya

Perbandingan ini sekaligus membuka refleksi tentang cara kita memandang bahan pangan lokal. Daun kelor bukan tanaman baru di Indonesia. Ia tumbuh di pekarangan, dimasak sebagai sayur, dan digunakan dalam praktik tradisional selama bertahun-tahun. Namun, dalam waktu lama, kelor kerap diposisikan sebagai pangan sederhana—bahkan kerap luput dari perhatian.

Sementara itu, matcha berkembang bersama ritual dan simbol budaya yang kuat. Ia tidak sekadar diminum, tetapi juga dimaknai. Setiap cangkir matcha membawa cerita, standar, dan citra tertentu.

Ketika kelor mulai dibandingkan dengan matcha, yang sesungguhnya berubah bukanlah rasanya, melainkan sudut pandang kita. Perbandingan tersebut menandai pergeseran cara membaca nilai—dari yang semula dianggap biasa, menjadi sesuatu yang layak diperbincangkan dan dieksplorasi lebih jauh.


Tren Global dan Rasa Lokal yang Bertemu

Perubahan cara pandang ini tidak terjadi tanpa konteks. Tren global menunjukkan meningkatnya minat pada minuman berbasis tanaman, bahan alami, dan produk dengan cerita asal-usul yang jelas. Konsumen tidak lagi sekadar mencari rasa enak, tetapi juga makna di balik apa yang mereka konsumsi.

Dalam konteks ini, kelor menemukan momentumnya. Ia hadir sebagai bahan lokal yang relevan dengan tren global, tanpa harus kehilangan identitasnya. Nuansa rasa hijau yang dimilikinya menjadi pintu masuk, bukan tujuan akhir.

Ketertarikan pada kelor bukan semata karena ia dianggap “mirip matcha”, melainkan karena ia menawarkan pengalaman yang berbeda—dengan kedekatan emosional yang lebih kuat bagi konsumen Indonesia.

Baca juga: Peluang Ekspor Daun Kelor, Khasiatnya Bikin Produk Ini Banyak Dicari


Mana yang Sebaiknya Dipilih?

Pertanyaan tentang memilih antara daun kelor dan matcha sering muncul bersamaan dengan perbandingan rasa. Namun dalam konteks ini, memilih bukan soal menentukan mana yang lebih unggul. Pilihan tersebut lebih berkaitan dengan kebutuhan, kebiasaan, dan cara seseorang memaknai apa yang ia konsumsi.

Matcha kerap dipilih karena menawarkan pengalaman minum yang sudah mapan. Ia hadir bersama ritual, standar rasa yang relatif konsisten, serta citra tertentu—tenang, rapi, dan terhubung dengan tradisi. Bagi sebagian konsumen, matcha memberikan rasa aman karena karakternya sudah dikenal dan mudah ditebak.

Daun kelor bekerja dengan cara yang berbeda. Ia tidak datang dengan ritual yang baku atau ekspektasi rasa yang seragam. Kelor lebih lentur dalam cara ia dikonsumsi: bisa diseduh sederhana, dicampur dengan bahan lain, atau diolah ulang sesuai preferensi. Pilihan terhadap kelor sering kali bukan soal mencari pengalaman yang “sempurna”, melainkan pengalaman yang lebih personal dan dekat.

Di titik ini, memilih kelor atau matcha sesungguhnya mencerminkan cara seseorang memandang konsumsi itu sendiri. Apakah minum dipahami sebagai aktivitas menikmati standar rasa yang sudah disepakati, atau sebagai ruang untuk membangun hubungan baru dengan bahan yang tumbuh di sekitar kita.

Bagi konsumen Indonesia, kelor juga membawa lapisan makna tambahan. Ia bukan bahan asing. Ada ingatan kolektif, cerita keluarga, dan pengalaman keseharian yang melekat padanya. Ketika kelor hadir dalam bentuk minuman modern, yang berubah bukan identitasnya, melainkan cara kita berinteraksi dengannya.

Karena itu, pertanyaan “mana yang sebaiknya dipilih” tidak perlu dijawab secara tegas. Kelor dan matcha tidak berada dalam arena yang sama. Keduanya berdiri di jalurnya masing-masing—dengan karakter, cerita, dan nilai yang berbeda.


Apa Artinya bagi Produk Lokal dan UMKM?

Bagi pelaku usaha, fenomena ini menyimpan pelajaran penting. Tantangan utama produk lokal sering kali bukan pada kualitas bahan, melainkan pada cara ia diperkenalkan. Tanpa narasi yang utuh, bahan lokal mudah terjebak dalam posisi defensif, selalu diukur dengan standar luar.

Kelor menunjukkan bahwa perbandingan bisa menjadi jembatan, selama tidak dijadikan tujuan. Ia dapat dikenalkan sebagai rasa hijau yang familiar, lalu diperdalam sebagai rasa yang memiliki karakter sendiri. Di sinilah peluang bagi UMKM untuk membangun cerita yang lebih percaya diri, tanpa harus menghapus akar lokalnya.

Alih-alih berlomba menjadi “versi lokal” dari produk impor, bahan seperti kelor justru memiliki ruang untuk berdiri sejajar—dengan identitas, konteks, dan cerita yang berbeda.

Baca juga: Peluang Usaha Kerokot: Tanaman Liar yang Mulai Naik Kelas di Pasar Superfood Lokal


Tidak Harus Menjadi Matcha

Pada akhirnya, pertanyaan apakah rasa daun kelor mirip matcha mungkin bukan hal terpenting. Yang lebih relevan adalah bagaimana perbandingan tersebut membuka ruang dialog tentang identitas rasa, nilai lokal, dan cara kita menghargai bahan pangan sendiri.

Kelor tidak perlu menjadi matcha. Ia tidak perlu disahkan lewat pembandingan. Cukup dikenali apa adanya—sebagai rasa hijau yang tumbuh dari tanah Indonesia, dengan karakter, cerita, dan potensi yang layak dipahami lebih dalam.

Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!

Follow Instagram @ukmindonesiaid biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!

Catatan Redaksi:

Tulisan ini terinspirasi dari insight dan pengalaman lapangan yang disampaikan oleh Owner Brand Imago Raw Honey, salah satu Member Utama UKMIndonesia.id.

Daftar Referensi: