Sahabat Wirausaha, Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen udang terbesar di dunia, khususnya untuk jenis vaname atau udang panami. Produksi nasional tersebar di berbagai sentra tambak seperti Jawa Timur, Lampung, Sulawesi Selatan, hingga Nusa Tenggara Barat. Selama ini, komoditas udang lebih sering dikaitkan dengan pasar ekspor. Namun disisi lain, potensi olahan udang untuk pasar domestik sebenarnya sangat besar dan belum sepenuhnya tergarap oleh UMKM.

Konsumsi seafood masyarakat Indonesia cenderung stabil, bahkan meningkat di kota-kota besar. Artinya, peluang usaha berbasis udang tidak harus selalu berorientasi ekspor. Dengan pendekatan resep lokal dan manajemen biaya yang disiplin, UMKM bisa memulai bisnis dengan modal terjangkau dan skala yang realistis.

Berikut 12 ide bisnis olahan udang yang bisa dikembangkan secara bertahap.

1. Udang Goreng Tepung Crispy

Produk ini cocok untuk segmen pelajar, mahasiswa, dan pekerja kantoran yang mencari lauk praktis. Di pasar UMKM kota menengah, udang goreng isi 5–6 ekor umumnya dijual di kisaran Rp25.000–Rp30.000 per porsi. Jika dijual dalam paket rice bowl lengkap nasi dan sambal, harga bisa naik ke Rp32.000–Rp38.000. Karena proses produksinya sederhana dan tidak memerlukan peralatan mahal, produk ini sangat cocok untuk memulai usaha skala kecil.

2. Sate Udang Bakar Madu

Sate udang memiliki segmen pasar yang lebih spesifik, yaitu konsumen keluarga dan katering acara kecil. Harga per tusuk bisa dipasarkan di kisaran Rp8.000–Rp12.000, tergantung ukuran udang. Untuk paket 5 tusuk, harga bisa mencapai Rp45.000–Rp55.000. Karena tampilannya menarik, produk ini cocok dijual melalui media sosial dengan sistem pre-order akhir pekan.

3. Udang Saus Padang

Segmen pasar utama adalah keluarga dan penggemar seafood. Untuk porsi 250–300 gram, harga pasar domestik berkisar Rp35.000–Rp45.000 tergantung lokasi. Menu ini cocok dijual melalui platform pesan antar karena sudah familiar di lidah konsumen Indonesia. UMKM bisa mengoptimalkan margin melalui racikan saus yang kaya rasa tanpa menambah banyak udang.

4. Udang Saus Mentega

Produk ini cocok untuk pasar kelas menengah dan konsumen keluarga. Harga jual biasanya setara dengan saus Padang, yakni Rp35.000–Rp45.000 per porsi. Karena bahan saus relatif terjangkau, margin bisa dijaga tetap stabil. Menu ini juga mudah dikombinasikan dalam paket keluarga. Nilai tambahnya ada pada aroma dan rasa gurih yang disukai banyak kalangan.

Baca Juga: 10 Ide Jualan Non-Makanan di Bulan Ramadan yang Tetap Dicari Konsumen

5. Udang Bumbu Rujak

Bumbu rujak memberi sentuhan khas Nusantara. UMKM bisa memposisikan produk ini sebagai lauk khas rumahan dengan cita rasa tradisional. Bumbu berbasis cabai dan gula merah juga relatif terjangkau. Segmen pasarnya adalah konsumen yang menyukai cita rasa tradisional. Produk ini bisa dijual Rp30.000–Rp40.000 per porsi. Keunggulannya, bumbu rujak berbasis bahan lokal seperti cabai dan gula merah sehingga biaya produksi tetap terkendali.

6. Udang Asam Manis

Menu ini memiliki pasar luas karena rasanya netral dan mudah diterima semua usia. Untuk efisiensi, UMKM bisa menambahkan potongan paprika atau nanas agar porsi terlihat lebih banyak tanpa menaikkan biaya udang secara signifikan. Pasarnya luas, termasuk anak-anak dan keluarga. Harga jual umumnya Rp30.000–Rp40.000 per porsi. Untuk UMKM, menu ini bisa dimodifikasi dengan tambahan sayur agar porsi terlihat lebih besar tanpa menaikkan biaya udang secara signifikan.

7. Balado Kentang Udang

Ini strategi cerdas untuk menjaga margin. Kombinasi kentang dan udang membuat biaya bahan baku lebih terkendali. Produk ini cocok untuk warung makan harian dan katering sekolah atau kantor. Karena ada kombinasi kentang, harga jual bisa ditekan di kisaran Rp25.000–Rp32.000 per porsi. Strategi ini membantu menjaga margin ketika harga udang sedang naik.

8. Mie Kari Udang

Produk berbasis mie memberi kesan porsi besar. Udang menjadi topping utama, sementara mie dan kuah kari membantu menekan biaya produksi. Cocok untuk UMKM yang menyasar segmen mahasiswa dan pekerja. Produk ini bisa dijual Rp22.000–Rp30.000 per porsi, tergantung topping udang. Karena mie menjadi komponen utama, biaya bahan baku lebih terkendali dibanding menu berbasis udang penuh.

Baca Juga: 15 Cara Memaksimalkan Pekarangan Rumah, Dari Menghemat Belanja hingga Peluang Usaha UMKM

9. Lumpia Udang

Lumpia memiliki fleksibilitas tinggi. Lumpia udang memiliki segmen camilan dan frozen food rumahan. Bisa dijual sebagai camilan beku, titip jual di warung, atau dijual secara online. Campuran sayuran dalam isian membantu menjaga biaya tetap efisien. Harga per pack isi 10 bisa dijual Rp35.000–Rp45.000. Produk ini cocok untuk reseller karena daya simpannya lebih lama dibanding menu siap saji.

10. Bola-Bola Udang

Produk ini mirip nugget tetapi lebih fleksibel dalam ukuran. Bisa dipasarkan sebagai camilan anak-anak atau produk frozen rumahan. Proses pembuatannya tidak membutuhkan mesin industri besar. Untuk kemasan frozen 250 gram, harga bisa berada di kisaran Rp30.000–Rp38.000. Modalnya relatif terjangkau karena campuran tepung membantu mengontrol biaya bahan baku.

11. Kerupuk Udang

Kerupuk udang termasuk olahan udang dengan daya simpan panjang. Cocok untuk distribusi luas dan tidak terlalu bergantung pada penjualan harian. UMKM bisa memulai dengan produksi kecil menggunakan peralatan sederhana. Kerupuk udang memiliki pasar luas dari warung hingga toko oleh-oleh. Untuk kemasan 250 gram, harga pasar bisa Rp18.000–Rp25.000. 

12. Udang Panami Frozen Kupas Bersih

Udang panami kupas bersih dalam kemasan higienis sangat diminati rumah tangga urban. Modal utamanya adalah freezer dan kemasan yang rapi. Produk ini menekankan kualitas dan kebersihan. Produk ini menyasar rumah tangga urban yang ingin praktis. Untuk kemasan 500 gram, harga bisa berkisar Rp45.000–Rp60.000 tergantung ukuran dan kualitas. Nilai tambah utamanya ada pada kebersihan dan kemasan higienis.

Baca Juga: 8 Alasan Usaha Buah Kering Relevan di Tengah Tren Camilan Sehat dan Gaya Hidup Praktis


Standarisasi Resep Udang untuk UMKM

Mengembangkan resep udang saja tidak cukup. Agar bisnis berkelanjutan, UMKM perlu:

  • Menetapkan takaran bumbu yang konsisten. UMKM perlu memastikan setiap porsi memiliki rasa dan kualitas yang konsisten. Karena itu, takaran bumbu sebaiknya ditetapkan secara pasti, misalnya dengan timbangan atau sendok ukur, bukan sekadar “kira-kira”. Konsistensi ini penting agar pelanggan yang membeli hari ini mendapatkan rasa yang sama ketika membeli kembali minggu depan.
  • Menjaga ukuran udang agar porsi stabil. Jika hari ini menggunakan udang ukuran besar dan besok ukuran lebih kecil tanpa penyesuaian harga atau jumlah, konsumen bisa merasa tidak adil. Standarisasi ukuran membantu menjaga persepsi nilai produk.
  • Mengelola stok dengan Prinsip FIFO (First In, First Out), yaitu bahan baku yang dibeli lebih dulu harus digunakan lebih dulu. Caranya sederhana: beri label tanggal pada setiap kemasan udang dan susun stok di freezer sehingga yang lama berada di bagian depan. Dengan cara ini, risiko bahan baku rusak atau kualitas menurun bisa ditekan.
  • Memastikan penyimpanan dingin berjalan baik.  Udang termasuk bahan yang sensitif terhadap suhu. Pastikan freezer berfungsi optimal dan tidak terlalu sering dibuka-tutup agar suhu tetap stabil. Penyimpanan yang tepat bukan hanya menjaga rasa, tetapi juga mencegah kerugian akibat bahan baku yang tidak layak pakai.

Simulasi Modal dan Analisa Profit

Sebagai contoh, kita hitung potensi margin udang goreng tepung.

Harga udang vaname: Rp70.000 per kg
Bahan tambahan (tepung, telur, minyak, bumbu): Rp30.000

Total biaya produksi per kg: Rp100.000

Jika 1 kg menghasilkan 7 porsi, biaya dasar per porsi sekitar Rp14.300. Setelah ditambah kemasan dan overhead, total biaya riil per porsi sekitar Rp18.000.

Jika harga jual Rp28.000, margin kotor sekitar Rp10.000 per porsi. Dengan penjualan 30 porsi per hari, potensi margin kotor Rp300.000 per hari atau sekitar Rp7.500.000 per bulan sebelum biaya tetap.

Tentu harga udang bisa naik saat musim tertentu. Karena itu, UMKM perlu menyiapkan variasi menu berbasis campuran seperti balado kentang udang agar margin tetap stabil.


Strategi Agar Bisnis Olahan Udang Bertahan

  1. Diversifikasi produk agar tidak tergantung satu menu.
  2. Gunakan sistem pre-order untuk mengurangi risiko stok.
  3. Bangun branding sederhana namun konsisten.
  4. Catat setiap biaya produksi secara rinci.

Dengan pendekatan disiplin, bisnis olahan udang bisa menjadi sumber pendapatan stabil tanpa harus skala besar sejak awal.

Udang bukan hanya komoditas ekspor. Dengan resep lokal dan manajemen biaya yang tepat, UMKM bisa menjadikannya peluang bisnis domestik yang realistis dan berkelanjutan.

Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!

Follow WA Channel UKMIndonesia.id biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!

Dukung UKM Indonesia

Terima kasih telah membaca. Jika konten ini bermanfaat, dukung kami untuk terus menyajikan informasi berkualitas bagi UMKM Indonesia.