Sumber foto: Ilustrasi AI (ChatGPT)

Halo, Sahabat Wirausaha!

Ramadan kerap diasosiasikan dengan lonjakan penjualan makanan dan minuman. Takjil, kue kering, hingga katering sahur hampir selalu mendominasi pembicaraan soal peluang usaha. Akibatnya, pelaku usaha non-makanan sering merasa berada di posisi pinggir—seolah Ramadan bukan momen penting bagi bisnis mereka.

Padahal, selama Ramadan, pola konsumsi masyarakat tidak berhenti di urusan makan. Aktivitas ibadah meningkat, waktu di rumah bertambah, interaksi sosial menguat, dan persiapan menuju Lebaran dimulai lebih awal. Perubahan-perubahan inilah yang memunculkan kebutuhan non-makanan secara nyata dan berulang. Jika dibaca dengan jeli, Ramadan justru membuka ruang peluang yang stabil bagi pelaku usaha di luar sektor kuliner.

Berikut sepuluh ide jualan non-makanan di bulan Ramadan yang tetap dicari konsumen, beserta alasan di balik relevansinya.

1. Perlengkapan Ibadah

Selama Ramadan, ibadah menjadi pusat aktivitas harian. Kebutuhan akan sajadah, mukena, sarung, dan tasbih meningkat, baik untuk pemakaian pribadi maupun sebagai hadiah. Banyak konsumen memilih perlengkapan ibadah sebagai bingkisan karena nilainya personal dan fungsional.

Produk yang paling dicari biasanya bukan yang mewah, melainkan nyaman digunakan sehari-hari dan mudah dibawa. Di sini, pelaku usaha dapat menonjolkan kualitas bahan, kerapian jahitan, serta kemasan sederhana yang rapi. Perlengkapan ibadah juga kerap dibeli sejak awal Ramadan, sehingga perputaran penjualan tidak bergantung pada momen akhir bulan.

2. Busana Muslim dan Pakaian Nyaman di Rumah

Ramadan mengubah cara orang berpakaian. Banyak konsumen mencari busana yang nyaman dipakai seharian, namun tetap sopan untuk beribadah atau menerima tamu. Gamis rumahan, koko kasual, dan pakaian santai berlengan panjang menjadi pilihan yang relevan.

Berbeda dengan busana Lebaran yang cenderung dibeli menjelang hari raya, pakaian ini justru dibeli lebih awal untuk dipakai rutin selama Ramadan. Artinya, peluang penjualan terbuka lebih panjang. Fokus pada kenyamanan, bahan yang adem, dan potongan sederhana sering kali lebih efektif dibanding mengejar tren sesaat.

Baca juga: 7 Ide Bisnis Fashion di Bulan Ramadhan: Cara Memikat Hati Konsumen

3. Hampers Non-Makanan

Minat terhadap hampers tetap tinggi, namun tidak semua konsumen ingin mengirim makanan. Sebagian mulai beralih ke hampers non-makanan yang lebih tahan lama dan terasa personal. Paket perlengkapan ibadah, aromaterapi, atau produk rumah tangga sederhana menjadi alternatif yang banyak dilirik.

Hampers non-makanan juga relatif aman dari risiko basi atau keterlambatan pengiriman. Bagi UMKM, peluang ini dapat dimanfaatkan dengan mengemas produk yang sudah dimiliki, tanpa perlu menciptakan barang baru. Nilai jualnya terletak pada kurasi dan penyajian, bukan semata isi.

4. Perlengkapan Rumah Tangga

Menjelang Lebaran, aktivitas membersihkan dan merapikan rumah meningkat. Konsumen mulai mencari alat kebersihan, organizer, rak penyimpanan, hingga perlengkapan dapur sederhana. Produk-produk ini dibeli karena kebutuhan nyata, bukan karena tren.

Segmen perlengkapan rumah tangga cenderung stabil karena konsumen lebih mengutamakan fungsi dibanding tampilan. Selama barang mudah digunakan dan kualitasnya memadai, keputusan pembelian relatif cepat. Ini menjadikannya pilihan aman bagi pelaku usaha non-makanan selama Ramadan.

5. Parfum dan Produk Perawatan Diri

Meski berpuasa, aktivitas sosial tetap berjalan. Banyak orang ingin tetap segar saat bekerja, beribadah, atau menghadiri acara buka bersama. Parfum non-alkohol, body care ringan, dan produk perawatan diri sederhana menjadi pilihan yang relevan.

Produk ini sering dibeli secara spontan, baik untuk kebutuhan pribadi maupun sebagai hadiah. Konsumen cenderung memilih aroma yang ringan dengan kemasan praktis. Di bulan Ramadan, pendekatan yang halus dan tidak berlebihan justru lebih diterima.

6. Perlengkapan Anak dan Produk Edukatif

Selama Ramadan, anak-anak menghabiskan lebih banyak waktu di rumah. Orang tua mulai mencari aktivitas alternatif agar anak tetap aktif dan tidak terus-menerus bergantung pada gawai. Mainan edukatif, buku cerita, dan alat gambar menjadi solusi yang banyak dicari.

Permintaan terhadap produk anak relatif stabil karena berangkat dari kebutuhan orang tua. Pelaku usaha di segmen ini dapat menekankan nilai edukatif dan keamanan produk. Ramadan sering menjadi momentum karena orang tua lebih memperhatikan kualitas aktivitas anak selama di rumah.

Baca juga: 8 Cara Meningkatkan Penjualan Saat Ramadhan, Terbukti Ampuh di Pasaran!

7. Produk Digital dan Jasa Berbasis Keahlian

Tidak semua peluang Ramadan bersifat fisik. Banyak pelaku usaha justru membutuhkan dukungan jasa dan produk digital selama periode ini. Template desain, jasa penulisan, pembuatan konten, hingga pengelolaan media sosial menjadi semakin relevan.

Produk digital memiliki keunggulan karena fleksibel dan minim risiko stok. Pelaku usaha berbasis keahlian dapat menyesuaikan layanan dengan kebutuhan Ramadan tanpa mengubah model bisnis secara drastis. Ramadan bisa menjadi periode memperluas klien, bukan waktu berhenti produksi.

8. Aksesori dan Fashion Pendukung

Selain busana utama, aksesori seperti tas, sandal, sepatu, hijab, dan bros tetap dicari. Konsumen biasanya membeli secara bertahap, menyesuaikan kebutuhan dan anggaran. Produk ini berfungsi sebagai pelengkap, bukan pembelian utama.

Bagi penjual, aksesori menawarkan peluang penjualan berulang dengan harga yang relatif terjangkau. Selama Ramadan, konsumen cenderung lebih selektif, sehingga kualitas dan kegunaan menjadi faktor utama dalam keputusan pembelian.

9. Dekorasi Rumah Sederhana

Sebagian keluarga dan tempat usaha memilih menghadirkan suasana Ramadan lewat dekorasi sederhana. Lampu hias, ornamen meja, atau hiasan dinding bertema ringan mulai dicari, terutama menjelang pertengahan bulan.

Dekorasi yang diminati biasanya praktis, mudah dipasang, dan tidak memerlukan biaya besar. Nilai jual produk ini terletak pada kesederhanaan dan kemudahan penggunaan, bukan pada kemewahan.

10. Produk Kado dan Souvenir Lebaran

Kebutuhan kado dan souvenir meningkat seiring mendekatnya Lebaran. Tidak hanya untuk keperluan pribadi, banyak kantor dan komunitas mencari souvenir non-makanan sebagai bentuk apresiasi. Produk seperti pouch, alat tulis, atau perlengkapan ibadah kecil sering dipilih karena awet dan fleksibel dari sisi anggaran.

Bagi UMKM, segmen ini menarik karena sering melibatkan pemesanan dalam jumlah besar. Konsistensi kualitas dan ketepatan waktu menjadi kunci utama untuk menjaga kepercayaan konsumen.

Baca juga: 12 Ide Jualan Dessert Khas Ramadhan, Bisa Kamu Mulai dengan Budget Minimal!


Membaca Ramadan dari Sudut Kebutuhan

Sepuluh ide di atas menunjukkan bahwa Ramadan bukan hanya soal lonjakan penjualan makanan. Perubahan rutinitas, meningkatnya aktivitas ibadah, dan persiapan sosial menciptakan kebutuhan non-makanan yang beragam dan berkelanjutan.

Bagi pelaku usaha non-makanan, Ramadan dapat menjadi momen konsistensi. Dengan membaca kebutuhan konsumen secara lebih jeli, peluang tetap terbuka tanpa harus mengubah karakter usaha yang sudah dibangun.


Tips Meraup Cuan dari Ramadan Sale

Ramadan sale kerap dipersepsikan sebagai ajang perang harga. Padahal, bagi pelaku usaha non-makanan, pendekatannya bisa berbeda. Alih-alih fokus pada diskon besar, manfaatkan momentum Ramadan untuk menyesuaikan pesan dan pengalaman belanja.

Pertama, perjelas konteks penggunaan produk. Konsumen lebih tertarik ketika produk dikaitkan langsung dengan aktivitas Ramadan—ibadah, aktivitas rumah, atau persiapan Lebaran. Cara penyajian sering kali lebih menentukan dibanding potongan harga.

Kedua, atur waktu promosi. Kebutuhan non-makanan tidak selalu menunggu akhir Ramadan. Banyak kebutuhan muncul sejak awal dan pertengahan bulan. Membagi periode promosi ke beberapa fase membantu menjaga arus penjualan tetap stabil.

Ketiga, kemas produk agar siap dijadikan hadiah. Ramadan identik dengan berbagi. Kemasan sederhana namun rapi dapat meningkatkan nilai jual tanpa menambah biaya produksi secara signifikan.

Terakhir, jaga stok dan pelayanan. Di bulan Ramadan, konsumen lebih sensitif terhadap keterlambatan dan respons yang lambat. Kecepatan, kejelasan informasi, dan konsistensi layanan sering kali menjadi penentu pembelian ulang.

Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!

Follow WA Channel UKMIndonesia.id biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!