Sumber foto: Ilustrasi AI (ChatGPT)

Halo Sahabat Wirausaha,

Setiap Ramadan, grafik penjualan UMKM melonjak. Permintaan meningkat, transaksi lebih cepat terjadi, dan arus kas terasa lebih hidup dibanding bulan-bulan biasa. Tidak sedikit pelaku usaha yang merasa usahanya “naik level” karena lonjakan tersebut.

Namun pertanyaannya sederhana: apa yang terjadi setelah Lebaran?

Bagi sebagian UMKM, permintaan turun drastis. Produksi kembali normal, bahkan melambat. Stok tersisa menumpuk. Arus kas kembali ketat. Euforia Ramadan ternyata hanya bersifat sementara. Ramai saat Ramadan memang nyata. Tetapi agar bisnis tetap berkelanjutan, UMKM membutuhkan strategi yang lebih dari sekadar memanfaatkan momentum musiman.

Berikut beberapa langkah yang bisa menjadi pijakan agar Ramadan tidak berhenti sebagai lonjakan sesaat, melainkan menjadi titik penguatan sistem bisnis.

1. Ubah Mindset: Ramadan Bukan Puncak, Tapi Uji Model Bisnis

Ramadan sering dianggap sebagai “puncak” bisnis tahunan. Padahal, lebih tepat jika diposisikan sebagai uji coba besar-besaran terhadap model usaha yang sedang dijalankan. Lonjakan permintaan selama Ramadan sebenarnya menguji banyak hal sekaligus:

  • Seberapa kuat kapasitas produksi?
  • Seberapa rapi pencatatan keuangan?
  • Seberapa responsif tim terhadap lonjakan pesanan?
  • Seberapa efektif kanal pemasaran?

Jika selama Ramadan terjadi keterlambatan produksi, kesalahan pengiriman, atau margin menipis karena diskon berlebihan, itu bukan sekadar tantangan musiman. Itu sinyal bahwa sistem bisnis perlu diperbaiki. Alih-alih hanya menghitung total omzet, UMKM sebaiknya mengevaluasi:

  • Produk mana yang paling menguntungkan?
  • Kanal mana yang menghasilkan penjualan paling stabil?
  • Segmen mana yang paling loyal?

Ramadan seharusnya menjadi “stress test” yang membantu pelaku usaha memahami kekuatan dan kelemahan model bisnisnya.

2. Kumpulkan dan Kelola Data Pelanggan

Selama Ramadan, banyak pelanggan baru datang. Baik dari promosi media sosial, rekomendasi teman, maupun pembelian impulsif menjelang Lebaran. Masalahnya, banyak UMKM hanya fokus melayani pesanan tanpa mengelola data pelanggan. Padahal data inilah aset jangka panjang.

Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:

  • Simpan nomor WhatsApp pelanggan dengan kategori yang jelas (retail, reseller, corporate).
  • Catat riwayat pembelian untuk melihat pola repeat order.
  • Kumpulkan email atau izin follow-up untuk promo berikutnya.

Setelah Ramadan berakhir, komunikasi tidak harus berhenti. Pelaku usaha bisa mengirimkan ucapan terima kasih, katalog produk reguler, atau penawaran khusus pasca Lebaran. Tanpa pengelolaan data, pelanggan Ramadan akan kembali menjadi “pembeli sekali lewat”. Dengan data yang rapi, mereka berpotensi menjadi pelanggan tetap.

Keberlanjutan bisnis sering kali bukan soal mencari pelanggan baru, tetapi mempertahankan yang sudah pernah percaya.

Baca juga: Ramadan Jadi Momen Emas Bisnis, 6 Alasan UMKM Masih Gagal Mendulang Keuntungan

3. Jaga Arus Kas Setelah Lonjakan Berakhir

Lonjakan transaksi selama Ramadan sering membuat pelaku usaha merasa kondisi keuangan aman. Uang masuk lebih cepat, pesanan datang bertubi-tubi, dan saldo rekening terlihat meningkat. Namun arus kas yang ramai belum tentu berarti stabil.

Kesalahan umum setelah Ramadan adalah melakukan ekspansi berlebihan: membeli peralatan baru, menambah stok dalam jumlah besar, atau memperluas operasional tanpa perhitungan matang. Padahal permintaan setelah Lebaran biasanya kembali normal. Agar lebih konkret, mari lihat simulasi sederhana.

Misalnya selama Ramadan, sebuah UMKM mencatat:

  • Omzet Ramadan: Rp120.000.000
  • Biaya produksi & operasional: Rp95.000.000
  • Laba kotor: Rp25.000.000

Melihat laba Rp25 juta, pemilik usaha merasa optimistis dan memutuskan untuk:

  • Membeli mesin baru seharga Rp15.000.000
  • Menambah stok bahan baku Rp10.000.000

Total pengeluaran tambahan: Rp25.000.000

Masalahnya, setelah Lebaran, omzet turun menjadi rata-rata Rp40.000.000 per bulan dengan margin bersih hanya sekitar Rp6.000.000–Rp8.000.000.

Artinya, seluruh keuntungan Ramadan habis untuk ekspansi, sementara bulan-bulan berikutnya harus menanggung beban biaya tambahan. Bandingkan jika strategi yang dipilih berbeda:

Dari laba Rp25.000.000, misalnya:

  • Rp10.000.000 disimpan sebagai dana cadangan
  • Rp5.000.000 dialokasikan untuk penguatan pemasaran jangka panjang
  • Rp10.000.000 digunakan secara selektif untuk peningkatan kapasitas yang benar-benar dibutuhkan

Dengan pendekatan ini, usaha tetap memiliki bantalan kas dan tidak sepenuhnya bergantung pada performa bulan berikutnya. Simulasi sederhana ini menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak ditentukan oleh seberapa besar laba di bulan terbaik, tetapi oleh bagaimana laba tersebut dikelola setelahnya.

Arus kas yang sehat berarti pengeluaran disesuaikan dengan ritme permintaan, bukan mengikuti euforia musim puncak.

4. Adaptasi Produk agar Tidak Bergantung Musim

Banyak produk laris saat Ramadan karena konteksnya mendukung. Parcel, kue kering, frozen food, hingga busana muslim mengalami peningkatan permintaan karena kebutuhan spesifik bulan tersebut. Pertanyaannya, apakah produk itu bisa disesuaikan untuk bulan lain?

Beberapa contoh adaptasi:

  • Parcel Ramadan dikembangkan menjadi corporate gift untuk momen ulang tahun perusahaan atau akhir tahun.
  • Kue kering dikemas ulang dalam ukuran lebih kecil untuk konsumsi harian.
  • Frozen food diposisikan sebagai solusi praktis keluarga di hari kerja.

Alih-alih menghentikan produksi setelah Ramadan, UMKM bisa memodifikasi konsep dan target pasar. Produk yang fleksibel lebih mudah bertahan dibanding produk yang sepenuhnya musiman.

Baca juga: Cara Menentukan Produk Jualan Ramadan yang Tepat untuk UMKM, Bukan Sekadar Ikut Tren

5. Perkuat Brand, Bukan Hanya Penjualan

Ramadan bukan hanya momen transaksi, tetapi juga momen exposure. Selama bulan tersebut, aktivitas media sosial meningkat. Interaksi pelanggan lebih aktif. Konten promosi lebih sering dilihat. Sayangnya, sebagian UMKM hanya fokus mengejar penjualan tanpa memanfaatkan momentum untuk membangun brand.

Beberapa strategi sederhana untuk memperkuat brand selama dan setelah Ramadan:

  • Dokumentasikan proses produksi dan unggah secara konsisten.
  • Tampilkan testimoni pelanggan.
  • Ceritakan perjalanan usaha dan nilai yang dipegang.
  • Bangun identitas visual yang konsisten.

Brand yang kuat memudahkan pelanggan mengingat dan kembali membeli di luar musim Ramadan. Tanpa brand yang jelas, usaha akan kembali bersaing di harga ketika momentum berakhir.

6. Siapkan Kalender dan Catatan Evaluasi Setelah Ramadan

Keberlanjutan tidak terjadi secara otomatis. Ia perlu direncanakan secara sadar dan terdokumentasi. Banyak UMKM berhenti bergerak begitu Ramadan selesai. Produksi kembali normal, promosi mereda, dan aktivitas bisnis berjalan seperti biasa tanpa evaluasi yang jelas. Padahal justru setelah musim ramai berakhir, pekerjaan strategis seharusnya dimulai. 

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah membuat catatan evaluasi Ramadan. Ini bisa sederhana, tidak harus rumit atau menggunakan sistem mahal. Bahkan jurnal di buku tulis atau spreadsheet sederhana sudah cukup.

Beberapa hal yang sebaiknya dicatat:

  • Produk apa yang paling laris dan paling menguntungkan?

  • Produk mana yang banyak komplain atau retur?

  • Di minggu mana permintaan paling tinggi?

  • Apakah terjadi keterlambatan produksi atau pengiriman?

  • Berapa persen repeat order dibanding pelanggan baru?

  • Apakah diskon terlalu besar hingga menggerus margin?

Catatan ini penting karena memori bisnis sering bias. Tanpa data tertulis, keputusan tahun depan akan kembali berbasis asumsi. Selain jurnal operasional, UMKM juga bisa membuat evaluasi finansial sederhana:

  • Bandingkan omzet Ramadan dengan tiga bulan sebelumnya.

  • Hitung margin bersih sebenarnya setelah seluruh biaya tambahan dihitung.

  • Identifikasi biaya tidak terduga yang muncul selama musim ramai.

Dari sini, pelaku usaha bisa menyusun strategi yang lebih matang untuk Ramadan berikutnya. Langkah berikutnya adalah menyusun kalender 90 hari pasca-Ramadan. Alih-alih menunggu momen besar berikutnya, buat rencana konkret untuk tiga bulan ke depan. 

Dengan pendekatan ini, bisnis memiliki ritme. Ramadan tidak lagi berdiri sendiri sebagai satu bulan istimewa, melainkan menjadi bagian dari siklus bisnis tahunan yang terstruktur. UMKM juga bisa membuat satu dokumen sederhana berjudul “Pelajaran Ramadan 2026”. Di dalamnya berisi:

  • Tantangan terbesar yang muncul

  • Solusi yang berhasil

  • Kesalahan yang tidak ingin diulang

  • Ide perbaikan untuk tahun berikutnya

Dokumen ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dalam jangka panjang menjadi aset pengetahuan internal yang sangat berharga. Karena keberlanjutan bukan hanya soal produk dan omzet. Ia tentang kemampuan belajar dari momentum dan menjadikannya sistem.

Dengan kalender bisnis yang jelas, usaha tidak lagi bergantung pada satu musim saja. Ramai adalah hasil momentum. Berkelanjutan adalah hasil sistem. Ramadan bisa menjadi lebih dari sekadar bulan dengan omzet tertinggi. Ia bisa menjadi titik balik untuk membangun usaha yang lebih stabil, lebih matang, dan lebih siap menghadapi bulan-bulan biasa.

Karena pada akhirnya, usaha yang bertahan bukan yang paling ramai di musim puncak, melainkan yang paling siap untuk terus bertumbuh.

Baca juga: Bisnis Parcel Ramadan Makin Padat, Strategi UMKM Tetap Unggul di Tengah Persaingan

Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!

Follow WA Channel UKMIndonesia.id biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!

Dukung UKM Indonesia

Terima kasih telah membaca. Jika konten ini bermanfaat, dukung kami untuk terus menyajikan informasi berkualitas bagi UMKM Indonesia.