Sumber foto: Ilustrasi AI (ChatGPT)

Halo Sahabat Wirausaha,

Setiap Ramadan selalu muncul tren produk baru. Tahun ini dessert box viral, tahun depan hampers premium naik daun, lalu menyusul frozen food praktis atau paket buka puasa ekonomis. Media sosial mempercepat pergerakan tren, dan pelaku usaha sering merasa harus segera ikut agar tidak tertinggal.

Masalahnya, tidak semua tren cocok untuk semua usaha.

Jika di artikel sebelumnya kita membahas mengapa banyak UMKM gagal memaksimalkan Ramadan, kali ini pertanyaannya lebih mendasar: bagaimana memilih produk yang tepat sejak awal agar tidak terjebak euforia tren?

Menentukan produk jualan Ramadan bukan soal mengikuti apa yang sedang ramai, tetapi soal membaca kapasitas usaha, menghitung potensi, dan memastikan keputusan yang diambil selaras dengan strategi jangka panjang.

Berikut lima pertanyaan penting yang bisa menjadi panduan.

1. Apakah Produk Ini Sesuai Kapasitas Usaha?

Tren sering membuat pelaku usaha lupa pada kapasitas internalnya sendiri. Melihat frozen food laris, misalnya, belum tentu berarti semua usaha siap memproduksinya dalam skala besar.

Produk seperti makanan beku membutuhkan peralatan penyimpanan memadai, manajemen stok yang disiplin, serta distribusi yang terjaga kualitasnya. Dalam beberapa referensi tentang peluang bisnis makanan beku saat Ramadan, terlihat bahwa kesiapan operasional menjadi faktor penentu utama keberhasilan.

Begitu pula dengan bisnis catering buka puasa, yang sekilas terlihat menjanjikan karena permintaan tinggi. Namun operasional catering memerlukan ketepatan waktu, konsistensi rasa, serta manajemen tim yang solid. Jika kapasitas dapur terbatas dan tenaga kerja belum siap, lonjakan pesanan justru bisa menimbulkan komplain.

Produk yang tepat bukan yang paling viral, melainkan yang paling realistis dijalankan dengan sumber daya yang dimiliki.

2. Apakah Produk Ini Memberi Nilai Tambah yang Jelas?

Ramadan identik dengan kompetisi yang padat. Hampers, parcel, dessert, dan fashion hadir dalam berbagai varian. Tanpa nilai tambah yang jelas, produk mudah tenggelam di antara kompetitor.

Misalnya dalam bisnis parcel Ramadan, diferensiasi bisa datang dari kurasi produk lokal, desain kemasan yang unik, atau segmentasi pasar yang spesifik—misalnya untuk korporasi, keluarga muda, atau komunitas tertentu.

Begitu juga dengan oleh-oleh khas Ramadan. Produk mungkin sama-sama kue kering atau camilan manis, tetapi cerita di balik produk, kualitas bahan baku, dan cara penyajian dapat menjadi pembeda.

Sebelum memilih produk, tanyakan: apa yang membuat produk ini berbeda dari puluhan penjual lain? Jika jawabannya hanya harga lebih murah, maka keunggulan itu akan mudah ditiru. Nilai tambah yang jelas akan memperkuat posisi usaha, bukan sekadar mengikuti arus pasar.

3. Apakah Produk Ini Hanya Musiman?

Ramadan memang momen puncak, tetapi usaha yang sehat tidak bergantung pada satu bulan saja.

Beberapa produk sangat musiman—misalnya hampers dengan tema spesifik Lebaran. Setelah momentum lewat, permintaan bisa turun drastis. Sementara produk lain, seperti fashion basic atau makanan siap saji yang praktis, memiliki potensi dijual kembali setelah Ramadan.

Dalam ide bisnis fashion Ramadan, misalnya, terdapat produk yang bersifat timeless seperti tunik basic atau setelan modest wear yang bisa tetap relevan di bulan-bulan berikutnya. Berbeda dengan model yang terlalu tematik dan sulit dijual setelah musim berakhir.

Memilih produk yang memiliki potensi repeat order atau adaptasi pasca-Ramadan akan membantu menjaga arus pendapatan lebih stabil. Tren boleh dimanfaatkan, tetapi keberlanjutan tetap harus dipikirkan.

4. Apakah Struktur Harganya Sehat?

Produk yang terlihat menarik belum tentu sehat secara struktur biaya.

Sebelum memutuskan, lakukan simulasi sederhana. Hitung biaya bahan baku, kemasan Ramadan, tenaga tambahan, potensi diskon, dan biaya promosi. Jangan lupa memperhitungkan kemungkinan retur atau stok tak terjual.

Jika harga jual Rp150.000 tetapi total biaya efektif mencapai Rp130.000, maka margin hanya sekitar 13%. Angka ini mungkin terasa cukup saat volume tinggi, tetapi menjadi berisiko jika terjadi kenaikan bahan baku atau penurunan permintaan.

Idealnya, produk yang dipilih memiliki ruang margin yang cukup untuk menanggung fluktuasi biaya dan tetap memberi keuntungan wajar. Memilih produk tanpa menghitung struktur harga sama saja dengan berjalan tanpa peta.

5. Apakah Semua Produk Harus Didorong Saat Ramadan?

Banyak pelaku usaha memiliki lebih dari satu lini produk. Ada yang menjual aneka kue, minuman, frozen food, hingga paket hampers sekaligus. Ketika Ramadan datang, muncul pertanyaan penting: apakah semua produk harus diperlakukan sebagai “produk andalan” dengan target omzet khusus?

Jawabannya: tidak selalu.

Ramadan memang meningkatkan permintaan, tetapi bukan berarti seluruh portofolio produk harus digenjot secara bersamaan. Justru dalam kondisi operasional yang lebih padat, fokus sering kali menjadi kunci.

Coba bayangkan sebuah usaha kuliner yang memiliki 15 varian menu. Jika seluruh varian didorong dengan promosi, diskon, dan stok tambahan, maka beban produksi meningkat drastis. Bahan baku makin kompleks. Risiko kesalahan pesanan meningkat. Tenaga kerja lebih mudah kewalahan.

Sebaliknya, jika pelaku usaha memilih 3–5 produk unggulan sebagai fokus Ramadan—misalnya produk dengan margin paling sehat, proses produksi paling efisien, dan permintaan paling stabil—maka energi tim bisa diarahkan lebih optimal.

Dalam praktik manajemen produk, ini dikenal sebagai strategi prioritisasi portofolio. Tidak semua produk memiliki kontribusi laba yang sama. Biasanya ada produk yang menjadi “penarik trafik” (traffic driver), ada yang menjadi “penyumbang margin utama” (profit driver), dan ada pula yang sekadar pelengkap.

Selama Ramadan, akan lebih bijak jika pelaku usaha:

  • Mengidentifikasi produk dengan margin terbaik

  • Memilih produk yang prosesnya paling stabil

  • Menghindari varian yang terlalu rumit diproduksi

  • Mengurangi produk yang jarang terjual tetapi memakan sumber daya

Dengan pendekatan ini, target omzet Ramadan tidak dibagi rata ke semua produk, tetapi difokuskan pada lini yang paling strategis. Pendekatan fokus ini juga membantu dalam pengelolaan stok dan pengendalian kualitas. Lebih sedikit variasi berarti kontrol lebih kuat. Lebih fokus berarti risiko kesalahan lebih kecil. Ramadan adalah momentum percepatan. Dalam situasi seperti ini, penyederhanaan sering kali lebih efektif daripada ekspansi berlebihan.

6. Apakah Produk Ini Mendukung Strategi Jangka Panjang?

Pertanyaan terakhir seringkali terlewat: apakah produk ini membantu memperkuat brand usaha?

Ramadan bisa menjadi pintu masuk untuk menjangkau pelanggan baru. Namun jika produk yang dipilih tidak selaras dengan identitas usaha, pelanggan mungkin tidak akan kembali setelah musim selesai.

Misalnya, usaha yang selama ini fokus pada makanan sehat tiba-tiba menjual produk tinggi gula hanya karena tren. Secara jangka pendek mungkin laku, tetapi secara brand positioning bisa membingungkan pasar.

Sebaliknya, jika produk Ramadan masih berada dalam koridor identitas usaha—misalnya varian sehat untuk berbuka atau hampers berkonsep mindful gifting—maka Ramadan menjadi momentum memperluas basis pelanggan tanpa kehilangan arah.

Produk yang tepat bukan hanya menghasilkan omzet, tetapi juga memperkuat fondasi usaha ke depan.

Tren memang menggoda. Apalagi saat melihat kompetitor ramai dan lini masa media sosial dipenuhi produk serupa. Namun mengikuti tren tanpa pertimbangan strategis bisa membuat usaha bekerja keras tanpa arah jelas.

Menentukan produk jualan Ramadan yang tepat berarti berani bertanya sebelum memutuskan. Apakah sesuai kapasitas? Apakah punya nilai tambah? Apakah berkelanjutan? Apakah marginnya sehat? Apakah selaras dengan strategi jangka panjang?

Ramadan bukan sekadar momentum panen sesaat. Ia bisa menjadi titik tolak untuk memperkuat model bisnis—asal keputusan yang diambil tidak hanya berdasarkan apa yang sedang ramai, tetapi apa yang paling tepat untuk usaha yang sedang kamu bangun.

Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!

Follow WA Channel UKMIndonesia.id biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!