
Sahabat Wirausaha, dalam beberapa tahun terakhir semakin banyak pelaku usaha kecil yang membuka penjualan dengan sistem pre order atau yang sering disebut open PO. Strategi ini terlihat sederhana: pelanggan memesan lebih dulu, lalu produk diproduksi setelah pesanan terkumpul.
Bagi banyak pelaku usaha, cara ini dianggap sebagai bagian dari strategi bisnis UMKM untuk menjaga arus kas tetap sehat. Tanpa perlu menyiapkan stok besar di awal, produksi dapat dilakukan sesuai jumlah pesanan yang sudah pasti.
Namun di balik kepraktisannya, sistem pre order juga menyimpan tantangan. Tidak sedikit pelanggan yang harus menunggu lebih lama karena barang belum tersedia, bahkan dalam beberapa kasus pesanan terlambat diproduksi.
Di titik inilah muncul pertanyaan penting bagi pelaku usaha: apakah sistem pre order benar-benar membantu cashflow bisnis, atau justru berpotensi menjadi risiko reputasi usaha dalam jangka panjang dalam praktik strategi bisnis UMKM?
Mengapa Banyak UMKM Membuka Open Pre Order?
Sistem pre order atau open PO semakin sering digunakan oleh pelaku usaha kecil di berbagai sektor. Mulai dari usaha makanan rumahan, produk fashion lokal, hingga kerajinan tangan banyak yang menggunakan model penjualan ini.
Salah satu alasan utamanya adalah keterbatasan modal produksi. Tidak semua UMKM memiliki kemampuan untuk menyiapkan stok dalam jumlah besar tanpa kepastian penjualan.
Secara sederhana, pre order atau PO adalah sistem penjualan di mana pelanggan melakukan pemesanan terlebih dahulu sebelum barang diproduksi atau tersedia. Setelah pesanan terkumpul, pelaku usaha baru memulai proses produksi.
Dalam praktik usaha kecil, pendekatan ini sering menjadi bagian dari strategi bisnis UMKM untuk menyesuaikan produksi dengan permintaan pasar sekaligus mengurangi risiko stok tidak terjual.
Namun sistem ini tidak hanya berkaitan dengan efisiensi produksi. Pre order juga berkaitan dengan kemampuan usaha dalam mengelola ekspektasi pelanggan, terutama terkait waktu tunggu dan kepastian pengiriman barang.
Baca juga: Strategi Bisnis UMKM: Minimum Order Quantity (MOQ), Menguntungkan atau Menghambat Pertumbuhan?
Produk Apa yang Cocok dalam Strategi Bisnis UMKM dengan Sistem Pre Order?
Tidak semua jenis usaha cocok menggunakan sistem pre order. Karakteristik produk sangat menentukan apakah strategi ini membantu bisnis atau justru menimbulkan masalah bagi pelanggan. Dalam konteks strategi bisnis UMKM, sistem pre order biasanya lebih efektif pada produk yang membutuhkan waktu produksi tertentu atau memiliki unsur kustomisasi.
Beberapa kategori usaha yang relatif cocok menggunakan sistem ini antara lain:
1. Produk fashion custom
Produk seperti batik handmade, pakaian ukuran khusus, atau sepatu custom biasanya membutuhkan waktu produksi tertentu. Dalam kondisi ini pelanggan cenderung memahami adanya waktu tunggu sebelum produk selesai dibuat.
2. Makanan untuk acara atau momen tertentu
Contohnya hampers Lebaran, kue ulang tahun, atau katering acara keluarga. Produksi dilakukan berdasarkan jumlah pesanan sehingga bahan baku dapat digunakan secara lebih efisien.
3. Kerajinan tangan dan produk handmade
Produk seperti dekorasi rumah, tas rajut, atau produk kayu sering membutuhkan proses produksi manual yang tidak dapat dilakukan secara massal dalam waktu singkat.
Pendekatan ini membuat sistem pre order sering dipandang sebagai salah satu strategi bisnis UMKM untuk menyesuaikan kapasitas produksi dengan permintaan pasar.
Produk yang Kurang Cocok Dijual dengan Sistem Pre Order
Sebaliknya, ada juga jenis usaha yang kurang cocok menggunakan pendekatan ini. Beberapa contoh usaha yang biasanya membutuhkan stok siap jual antara lain:
1. Produk kebutuhan harian
Seperti sembako, air minum, atau makanan siap saji. Konsumen biasanya membeli produk ini karena kebutuhan langsung sehingga mereka tidak ingin menunggu terlalu lama.
2. Produk dengan persaingan sangat tinggi
Jika produk mudah ditemukan di banyak toko atau marketplace, pelanggan biasanya akan memilih penjual yang dapat menyediakan barang secara langsung.
3. Produk dengan nilai transaksi kecil
Untuk barang dengan harga murah atau pembelian impulsif, pelanggan cenderung memilih penjual yang memiliki stok siap kirim.
Dalam praktik strategi bisnis UMKM, memahami karakter produk seperti ini penting agar pelaku usaha tidak salah memilih model penjualan.
Baca juga: Boros Iklan Tapi Penjualan Gitu-Gitu Aja? Mungkin Kamu Belum Tahu Apa Itu Customer Acquisition Cost
Bagaimana Pre Order Bisa Membantu Cashflow dalam Strategi Bisnis UMKM?
Salah satu alasan utama banyak pelaku usaha menggunakan sistem pre order adalah untuk menjaga cashflow bisnis.
Dalam model penjualan konvensional, pelaku usaha biasanya harus mengeluarkan biaya produksi terlebih dahulu sebelum produk terjual. Hal ini sering menjadi tantangan bagi usaha kecil yang memiliki modal terbatas.
Dengan sistem pre order, pelanggan memesan produk terlebih dahulu sebelum barang diproduksi. Dalam beberapa kasus pelanggan bahkan membayar penuh atau memberikan uang muka. Bagi pelaku usaha, dana tersebut dapat digunakan sebagai bagian dari biaya produksi. Artinya bisnis tidak perlu mengeluarkan seluruh modal di awal.
Dalam praktik strategi bisnis UMKM, pendekatan ini sering digunakan untuk mengurangi risiko stok tidak terjual sekaligus menjaga arus kas usaha tetap stabil. Namun manfaat tersebut tidak selalu otomatis terjadi. Sistem pre order hanya akan membantu cashflow jika pelaku usaha mampu mengelola produksi dan pengiriman secara disiplin.
Simulasi Kasus UMKM: Produksi Stok vs Sistem Pre Order
Untuk melihat bagaimana sistem pre order memengaruhi keuntungan usaha, bayangkan sebuah usaha kue rumahan yang menjual cake premium dengan harga Rp70.000 per kotak.
Biaya produksi per cake sekitar Rp40.000.
Jika pelaku usaha memproduksi 50 cake sekaligus, maka modal produksi yang harus disiapkan adalah:
50 × Rp40.000 = Rp2.000.000
Namun jika hanya 35 cake yang terjual sebelum masa simpan habis, maka masih ada 15 cake yang tidak laku.
Kerugian dari produk yang tidak terjual:
15 × Rp40.000 = Rp600.000
Keuntungan usaha akhirnya hanya sekitar Rp450.000.
Sebaliknya, jika pelaku usaha menggunakan sistem pre order dan menerima 35 pesanan terlebih dahulu, maka produksi hanya dilakukan sesuai jumlah pesanan tersebut.
Biaya produksi menjadi Rp1.400.000 dengan pendapatan Rp2.450.000.
Keuntungan usaha menjadi sekitar Rp1.050.000.
Simulasi sederhana ini menunjukkan bahwa sistem pre order dapat membantu meningkatkan efisiensi produksi dalam praktik strategi bisnis UMKM, terutama karena risiko stok tidak terjual dapat ditekan.
Ketika Pre Order Berubah Menjadi Risiko Reputasi Bisnis
Meskipun sistem pre order dapat membantu cashflow usaha, strategi ini juga memiliki sisi lain yang sering luput diperhatikan, yaitu risiko reputasi bisnis. Masalah biasanya muncul ketika pelaku usaha tidak mampu mengelola ekspektasi pelanggan dengan baik.
Beberapa situasi yang sering memicu keluhan pelanggan antara lain:
- waktu produksi lebih lama dari yang dijanjikan
- jumlah pesanan melebihi kapasitas produksi
- komunikasi yang tidak transparan kepada pelanggan
Dalam praktik strategi bisnis UMKM, risiko reputasi ini sering muncul ketika pelaku usaha terlalu fokus pada peningkatan pesanan tanpa mempertimbangkan kemampuan operasional. Di era marketplace dan media sosial, reputasi usaha dapat memengaruhi keputusan pembelian pelanggan lainnya.
Misalnya ketika pesanan datang terlambat atau tidak sesuai janji, pelanggan dapat meninggalkan ulasan negatif atau memberikan rating rendah di marketplace. Komentar seperti “pengiriman lama” atau “pesanan tidak sesuai jadwal” sering kali terlihat oleh calon pembeli lainnya. Dalam jangka panjang, akumulasi ulasan seperti ini dapat membuat pelanggan baru ragu untuk memesan produk dari usaha tersebut.
Perspektif Akhir: Pre Order dalam Strategi Bisnis UMKM
Pada akhirnya, sistem pre order bukan hanya metode penjualan. Dalam banyak kasus, pendekatan ini menjadi bagian dari strategi bisnis UMKM untuk menyeimbangkan keterbatasan modal dengan kebutuhan menjaga kelancaran produksi.
Jika dikelola dengan baik, sistem ini dapat membantu usaha mengurangi risiko stok tidak terjual sekaligus menjaga arus kas tetap stabil. Namun di sisi lain, strategi ini juga menuntut kedisiplinan operasional.
Karena pada akhirnya, pelanggan yang memesan melalui sistem pre order pada dasarnya sedang memberikan kepercayaan kepada bisnis.
Pertanyaannya bukan hanya apakah sistem ini membantu cashflow usaha, tetapi juga apakah pelaku usaha siap menjaga kepercayaan tersebut dalam jangka panjang sebagai bagian dari strategi pertumbuhan bisnis UMKM yang berkelanjutan.
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Kamu juga bisa mendukung keberlanjutan konten edukatif di website kami melalui fitur dukung UKM Indonesia dibawah artikel ini.
Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!
Dukung UKM Indonesia
Terima kasih telah membaca. Jika konten ini bermanfaat, dukung kami untuk terus menyajikan informasi berkualitas bagi UMKM Indonesia.









