
Sahabat Wirausaha, ada satu pertanyaan yang mungkin jarang kamu tanyakan pada dirimu sendiri: apakah bisnis kamu ikut tumbuh ketika orang Indonesia berlibur? Karena itulah inti dari leisure economy — ekonomi yang digerakkan bukan oleh industri berat atau ekspor komoditas, melainkan oleh aktivitas waktu luang manusia: makan di luar, menginap di hotel, membeli oleh-oleh, menaiki bus wisata, atau menyaksikan pertunjukan budaya. Dan berdasarkan data terbaru BPS RI, ekonomi berbasis waktu luang ini sudah berkontribusi sebesar 4,8% terhadap PDB nasional Indonesia pada 2024 — angka yang kecil secara persentase, tapi raksasa secara nilai absolut.
Dari Pandemi ke Rp1.067 Triliun: Sebuah Pemulihan yang Solid

Untuk memahami seberapa besar potensi leisure economy Indonesia, kamu perlu melihat lintasan pertumbuhannya. Pada 2019, PDB pariwisata Indonesia — atau yang secara teknis disebut Tourism Direct Gross Domestic Product (TDGDP) — tercatat sebesar Rp786 triliun. Angka ini mencerminkan kontribusi langsung sektor wisata terhadap perekonomian setelah memperhitungkan pajak neto dan produk impor terkait pengeluaran wisatawan.
Kemudian pandemi Covid-19 menghantam. Tahun 2020, PDB pariwisata amblas menjadi Rp344 triliun — turun lebih dari 56% hanya dalam satu tahun. Di sinilah leisure economy memperlihatkan sisi rapuhnya: ketika mobilitas manusia terhenti, seluruh ekosistem yang menopang aktivitas wisata ikut kolaps.
Namun pemulihan terjadi lebih cepat dari yang banyak orang perkirakan. Pada 2021, angkanya naik ke Rp390 triliun, lalu melompat ke Rp729 triliun di 2022, Rp975 triliun di 2023, dan akhirnya menembus Rp1.067 triliun pada 2024. Dalam dua tahun terakhir saja, sektor ini tumbuh lebih dari 46%. Berdasarkan data BPS, tren ini mencerminkan bahwa pariwisata Indonesia tidak sekadar pulih — ia tengah berkembang lebih kuat dari posisi pra-pandemi.
Baca juga: 7 Usaha di Tempat Wisata yang Menarik untuk Ditekuni, Siap Coba?
Siapa yang Paling Banyak Menyerap Nilai? Ini Peta Industrinya

Salah satu hal yang paling penting dipahami Sahabat Wirausaha adalah bahwa leisure economy bukan monolitik. Ia tersusun dari berbagai subsektor yang masing-masing memiliki skala dan karakteristik berbeda. Berdasarkan data Nilai Tambah Bruto (NTB) Industri Pariwisata Indonesia 2024, berikut distribusinya:
-
Jasa Makan dan Minum: Rp507,1 triliun — subsektor terbesar, hampir dua kali lipat dari peringkat kedua
-
Jasa Akomodasi bagi Wisatawan: Rp266,8 triliun — hotel, guest house, villa, dan sejenisnya
-
Jasa Angkutan Udara untuk Penumpang: Rp253,9 triliun — penerbangan domestik dan internasional
-
Perdagangan Barang-Barang Pariwisata: Rp113,8 triliun — oleh-oleh, kerajinan, suvenir
-
Jasa Olahraga dan Rekreasi: Rp92,3 triliun — taman hiburan, olahraga, wahana wisata
Yang menarik, tiga subsektor teratas — kuliner, akomodasi, dan penerbangan — menyumbang hampir 75% dari total NTB pariwisata. Ini bukan sekadar statistik; ini adalah sinyal bahwa pariwisata Indonesia digerakkan oleh konsumsi sehari-hari, bukan hanya atraksi wisata besar.
25 Juta Tenaga Kerja: Pariwisata Adalah Bisnis Rakyat

Angka berikut ini mungkin yang paling langsung relevan bagi kamu sebagai pelaku UMKM: sektor pariwisata Indonesia menyerap 25 juta tenaga kerja pada 2024. Jumlah ini terus tumbuh — dari 20,76 juta (2019), sempat turun ke 20,43 juta (2020), lalu naik konsisten hingga mencapai angka tertinggi sejarah saat ini.
Distribusi tenaga kerjanya pun menceritakan sesuatu yang penting. Hampir 80% tenaga kerja pariwisata bekerja di dua subsektor: penyediaan makan dan minum (40,6%) serta perdagangan barang-barang pariwisata (38,7%). Sisanya tersebar di jasa angkutan darat untuk penumpang (9,4%) dan penyediaan akomodasi (5,6%).
Ini artinya: mayoritas wajah pariwisata Indonesia adalah warung makan, restoran lokal, pedagang oleh-oleh, penjual kerajinan, dan jasa transportasi kecil. Bukan konglomerat perhotelan bintang lima. Pariwisata, dalam strukturnya yang sesungguhnya, adalah domain UMKM.
Baca juga: 10 Peluang Bisnis di Bali yang Paling Dicari Wisatawan dan Digital Nomad
Implikasi bagi UMKM: Di Mana Pintu Masuknya?
Bagi Sahabat Wirausaha, data ini membuka beberapa pintu peluang yang konkret:
-
Kuliner lokal masih undervalued secara branding Jasa makan dan minum menyumbang Rp507 triliun NTB, tapi sebagian besar bisnis kuliner lokal belum memaksimalkan positioning sebagai destinasi wisata kuliner. Mengemas pengalaman makan — bukan sekadar produk — adalah diferensiasi yang bisa kamu bangun sekarang.
-
Perdagangan souvenir dan produk lokal punya pasar yang dalam Dengan 38,7% tenaga kerja berada di sektor perdagangan barang pariwisata, pasar ini jelas besar. Tantangannya bukan di volume permintaan, melainkan di kualitas produk, konsistensi, dan akses ke kanal distribusi yang menjangkau wisatawan domestik maupun mancanegara.
-
Akomodasi skala kecil masih tumbuh Lonjakan NTB akomodasi ke Rp266,8 triliun terjadi bukan semata karena hotel besar. Homestay, villa, dan penginapan butik berbasis komunitas ikut tumbuh. Jika kamu berada di kawasan dengan potensi wisata, bisnis akomodasi skala kecil bisa menjadi pilihan yang layak dipertimbangkan.
-
Jasa pendukung wisata sering terlewat Subsektor seperti jasa persewaan kendaraan (Rp35,7 triliun), jasa agen perjalanan (Rp17,8 triliun), dan jasa olahraga-rekreasi (Rp92,3 triliun) adalah celah yang belum jenuh. Bisnis yang melayani wisatawan secara tidak langsung — laundry, fotografi, guided tour lokal, penyewaan alat outdoor — termasuk dalam ekosistem ini.
Risiko yang Tidak Boleh Diabaikan
Sebelum kamu terlalu optimistis, ada beberapa risiko struktural yang perlu kamu pertimbangkan:
Konsentrasi geografis yang tinggi. Data BPS tidak merinci sebaran regional, tapi secara historis pariwisata Indonesia sangat terkonsentrasi di Bali, Yogyakarta, Jakarta, dan beberapa destinasi utama. Jika bisnismu berada di luar zona ini, akses ke arus wisatawan bisa terbatas.
Ketergantungan pada mobilitas dan infrastruktur. Subsektor angkutan udara yang bernilai Rp253,9 triliun sangat sensitif terhadap kebijakan tarif, BBM, dan konektivitas. Kenaikan harga tiket pesawat, misalnya, secara langsung menekan kunjungan wisatawan ke daerah non-Jawa.
Daya beli wisatawan domestik yang fluktuatif. Sebagian besar leisure economy Indonesia ditopang oleh wisatawan domestik. Ketika tekanan ekonomi rumah tangga meningkat — inflasi, kenaikan suku bunga, atau perlambatan pertumbuhan upah — pengeluaran untuk wisata adalah salah satu yang pertama dipangkas.
Persaingan platform digital yang semakin agresif. OTA (Online Travel Agent) dan platform agregator kuliner semakin mendominasi discovery dan transaksi. UMKM yang tidak hadir secara digital akan kehilangan visibilitas, bahkan di pasar lokal mereka sendiri.
Baca juga: Izin Usaha Biro Perjalanan Wisata: Syarat, Proses, dan Dokumen yang Perlu Disiapkan
Kamu Sudah Ada di Ekosistem Ini — Tapi Sudah Sadar?
Angka Rp1.067 triliun PDB pariwisata dan 25 juta tenaga kerja adalah bukti bahwa leisure economy bukan sekadar isu destinasi wisata kelas atas. Ia adalah jaringan ekonomi besar yang hidup di warung nasi pinggir jalan, toko oleh-oleh di terminal, homestay di kampung wisata, hingga ojek yang mengantar tamu hotel.
Pertanyaannya bukan apakah UMKM bisa masuk ke leisure economy. Banyak dari kamu mungkin sudah ada di dalamnya tanpa menyadarinya. Pertanyaan yang lebih tepat adalah: apakah kamu sudah memposisikan bisnismu untuk menangkap nilai yang lebih besar dari ekosistem ini?
Karena di sinilah perbedaan antara pelaku UMKM yang sekadar bertahan dan yang benar-benar tumbuh bersama gelombang pemulihan pariwisata Indonesia.
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Kamu juga bisa mendukung keberlanjutan konten edukatif di website melalui fitur Dukung Kami di bawah artikel ini.
Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan komunitas UMKM—yuk daftar jadi anggota melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!
Sumber data: BPS RI – Direktorat Analisis Statistik dan Neraca Satelit, Infografis Leisure Economy 2025.
Dukung Misi Edukasi Kami
Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.









