
Halo, Sahabat Wirausaha!
Kalau kamu berjalan ke pusat perbelanjaan atau kafe di kota besar Indonesia hari ini, semuanya tampak normal—bahkan ramai. Antrean di gerai kopi specialty masih panjang. Restoran weekend butuh reservasi. Mal tetap sesak di akhir pekan.
Tapi ada data yang bercerita berbeda. Jumlah kelas menengah Indonesia justru menyusut selama dua tahun berturut-turut. Kredit macet mulai merangkak naik. Ketergantungan masyarakat pada pinjaman online terus meningkat. Dan tabungan kelompok menengah terkikis lebih cepat dari yang terlihat.
Dua gambaran ini hidup berdampingan saat ini. Bagi Sahabat Wirausaha yang mengelola usaha dengan basis pelanggan kelas menengah, pertanyaannya menjadi krusial: apakah daya beli yang terlihat itu mencerminkan kondisi keuangan yang sehat, atau ada sesuatu yang lebih kompleks di balik keramaian itu?
Angka yang Perlu Kamu Baca Lebih Dekat
Berdasarkan laporan Mandiri Institute, jumlah kelas menengah Indonesia turun dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta orang pada 2025—berkurang sekitar 1,1 juta orang, lebih dalam dari penurunan tahun sebelumnya yang hanya 0,4 juta orang. Angka ini setara dengan 16,6% dari total penduduk nasional.
Di sisi lain, kelompok aspiring middle class atau calon kelas menengah justru meningkat signifikan dari 137,5 juta menjadi 142 juta orang. Artinya, sebagian yang tadinya masuk kategori kelas menengah kini bergeser ke bawah—tapi belum masuk kategori miskin. Mereka berada di zona abu-abu: punya penghasilan, tapi daya belinya semakin tipis.
Data OJK menambahkan konteks yang tidak bisa diabaikan. Distribusi kredit melalui Pegadaian naik 25,83%, sementara pinjaman online tumbuh 9,03% secara tahunan. NPL atau kredit macet segmen UMKM sudah berada di level 4,62% per April 2026. Konsumsi rumah tangga yang selama ini menyangga 54–55% PDB Indonesia—berdasarkan data Kemenko Perekonomian—mulai menunjukkan tekanan dari dalam, meski angka permukaannya masih terlihat solid.
Gabungkan semua angka ini, dan kamu akan menemukan sebuah paradoks: pasar tampak aktif, tapi fondasi daya beli kelas menengah sedang retak perlahan.
Baca juga: Blue Ocean Strategy: Mengapa UMKM Harus Berhenti Bersaing di Red Ocean dan Ciptakan Pasar Baru
Duck Syndrome: Terlihat Normal, Padahal Sedang Menggayuh Keras
Ada istilah yang belakangan digunakan para ekonom untuk menggambarkan kondisi ini: duck syndrome. Bebek terlihat tenang meluncur di permukaan air, tapi kakinya menggayuh keras di bawahnya. Laporan Kompas.id tentang kondisi kelas menengah Indonesia secara eksplisit menyebut fenomena ini sebagai gambaran yang akurat—kelas menengah tampak stabil di permukaan, tapi secara finansial sedang bekerja jauh lebih keras hanya untuk mempertahankan posisinya.
Banyak yang menyebut ini doom spending—pengeluaran yang didorong rasa pasrah terhadap masa depan. Tapi framing itu kurang tepat untuk konteks Indonesia, karena mengasumsikan kesengajaan yang tidak selalu ada. Yang lebih mendekati realita adalah ini: kelas menengah Indonesia tidak berhenti belanja karena putus asa, melainkan karena tekanan sosial dan identitas mendorong mereka untuk mempertahankan penampilan konsumsi meski fondasi keuangannya sedang goyah.
Mekanismenya konkret. Ketika seseorang tidak sanggup membeli barang besar—properti, kendaraan baru, liburan luar negeri—ia tetap mempertahankan pengeluaran kecil yang memberi identitas sosial dan rasa normal. Kopi Rp45.000 bukan sekadar minuman; ia adalah sinyal bahwa "saya masih baik-baik saja." Dan sinyal itu dibeli meski harus menggunakan paylater atau mengorbankan pos tabungan bulan ini.
Inilah yang membuat permukaan tampak ramai, sementara dalamnya sedang terkikis.
Siapa yang Sebenarnya Mengisi Mall dan Kafe Itu?
Ini pertanyaan yang jarang diajukan, tapi penting bagi UMKM untuk dijawab secara jujur. Berdasarkan data yang tersedia, setidaknya ada tiga segmen berbeda yang tampak bercampur dalam satu keramaian yang sama.
Pertama, kelas atas yang memang stabil. Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam Economic Outlook 2026 menyatakan bahwa kelompok atas justru kembali ke tren positif dan relatif stabil. Mereka belanja, dan secara finansial memang mampu. Tapi kelompok ini hanya sekitar 1,2 juta orang—tidak cukup besar untuk menjelaskan ramainya mal secara keseluruhan.
Kedua, kelas menengah yang menggunakan kredit dan paylater. Ini segmen yang paling perlu dicermati. Mereka hadir di tempat yang sama, dengan tampilan yang serupa, tapi dengan kondisi keuangan yang berbeda secara fundamental. Pertumbuhan kredit konsumsi yang signifikan sepanjang 2025, disertai mulai naiknya NPL kredit konsumsi di kuartal ketiga, mengindikasikan bahwa sebagian konsumsi yang terlihat sehat ini sesungguhnya dibiayai oleh utang yang sedang menumpuk.
Ketiga, aspiring middle class yang naik secara konsumsi tapi belum naik secara pendapatan. Kelompok 142 juta orang ini mulai mengadopsi pola belanja kelas menengah—termasuk ngopi di kafe dan jalan ke mal—sebagai bagian dari aspirasi sosial. Mereka hadir dan turut meramaikan, tapi daya belinya sangat tipis dan paling rentan terhadap guncangan ekonomi sekecil apapun.
Ketiga segmen ini bercampur dalam satu data agregat yang disebut "konsumsi domestik masih kuat." Dan di situlah letak jebakan analisisnya bagi pelaku usaha yang hanya membaca sinyal permukaan.
Yang Perlu Diantisipasi UMKM
Memahami komposisi ketiga segmen ini bukan soal pesimisme—ini soal ketepatan membaca pasar. Ada beberapa hal konkret yang perlu dipertimbangkan oleh Sahabat Wirausaha.
- Jangan hanya membaca ramai sebagai tanda sehat. Antrean panjang di depan toko tidak selalu mencerminkan daya beli yang solid. Jika sebagian besar pembelian menggunakan skema cicilan atau paylater, ada risiko gagal bayar yang bisa berdampak pada arus kas UMKM—terutama jika kamu bermitra dengan platform yang menanggung risiko kredit secara tertunda.
- Perhatikan pergeseran kategori, bukan hanya volume. Ketika daya beli kelas menengah tertekan, mereka tidak berhenti belanja—mereka turun kategori. Dari restoran ke warung, dari produk premium ke produk value. UMKM yang mampu menawarkan kualitas yang bisa dirasakan di harga yang masuk akal justru berpotensi mendapat pelanggan baru dari segmen yang sedang turun kategori ini. Untuk memahami strategi produk dalam konteks ini, kamu bisa membaca lebih lanjut di artikel Lipstick Effect: Strategi Bertahan Saat Daya Beli Turun.
- Diversifikasi segmen pelanggan. Jika basis pelangganmu saat ini didominasi satu segmen—misalnya kelas menengah muda perkotaan dengan pola belanja tinggi—pertimbangkan untuk mulai menjangkau segmen yang lebih tahan terhadap tekanan, atau justru kelompok aspiring middle class yang jumlahnya terus tumbuh dan sedang mencari produk yang memberi rasa setara dengan harga yang lebih terjangkau.
- Bangun loyalitas, bukan hanya transaksi. Di masa ketidakpastian, konsumen yang sudah percaya pada bisnismu jauh lebih berharga dari konsumen baru yang datang karena promo sesaat. Mereka yang loyal cenderung mempertahankan pembelian bahkan ketika harus memilih mana yang diprioritaskan di akhir bulan.
Perspektif Akhir
Kondisi konsumsi Indonesia saat ini tidak sesederhana "masih kuat" atau "sudah lemah." Yang lebih mendekati realitasnya adalah ini: konsumsi masih berjalan, tapi dengan fondasi yang semakin heterogen—sebagian ditopang kemampuan nyata, sebagian lagi ditopang kredit dan aspirasi sosial yang belum tentu berkelanjutan.
Bebek itu masih meluncur. Tapi kakinya sedang bekerja lebih keras dari sebelumnya.
Bagi UMKM, ini bukan saatnya untuk panik, tapi juga bukan saatnya membaca keramaian sebagai sinyal aman tanpa analisis lebih dalam. Memahami siapa yang sebenarnya membeli dan dengan apa mereka membayar adalah bagian dari literasi pasar yang semakin krusial di 2026.
Sahabat Wirausaha, sudahkah kamu tahu persis segmen mana yang selama ini menopang bisnismu—dan seberapa tahan segmen itu terhadap tekanan ekonomi yang belum selesai?
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Kamu juga bisa mendukung keberlanjutan konten edukatif di website melalui fitur Dukung Kami di bawah artikel ini.
Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan komunitas UMKM—yuk daftar jadi anggota melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!
Sumber foto: Sam Lion di Pexels.com
Dukung Misi Edukasi Kami
Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.








