Halo, Sahabat Wirausaha!

Memasuki Mei 2026, hampir seluruh platform e-commerce besar di Indonesia menaikkan biaya layanan secara bersamaan. Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop kompak mengubah skema biaya mereka. Mulai dari tarif program ongkir gratis, biaya logistik per pesanan, hingga batas maksimum komisi yang melonjak signifikan.

Perubahan yang paling terasa ada di platform Tokopedia, di mana batas maksimum komisi per item naik dari Rp40.000 menjadi Rp650.000. Kenaikannya hampir 15 kali lipat yang berlaku efektif 18 Mei 2026. 

Di sisi lain, brand lokal seperti True to Skin, Somethinc, dan Thenblank secara terbuka mulai mengarahkan pelanggan mereka ke website pribadi dan WhatsApp resmi sebagai respons langsung terhadap kenaikan ini.

Bagi UMKM yang selama ini mengandalkan marketplace sebagai satu-satunya kanal, hal  ini bukan sekadar penyesuaian teknis. Kenaikan biaya ini menyentuh langsung margin keuntungan yang sudah lama tipis.


Mengapa Biaya Marketplace Bisa Menggerus Margin UMKM?

Saat berjualan di marketplace, pelaku usaha tidak hanya menanggung harga produk dan biaya produksi. Ada banyak komponen biaya lain yang bekerja secara berlapis dan sering kali tidak terasa di awal.

Biaya admin platform, komisi kategori, biaya layanan logistik, subsidi ongkir, diskon produk, voucher, hingga biaya iklan agar produk tetap terlihat. Semuanya mengalir keluar sebelum keuntungan sampai ke tangan seller. 

Melansir dari Sentrasoft, jika dikalkulasikan secara menyeluruh, total beban efektif yang harus ditanggung penjual bisa mencapai 15% hingga 25% dari total harga jual produk, tergantung kategori dan platform yang digunakan.

Bagi produk dengan margin besar, angka ini mungkin masih bisa ditoleransi. Namun bagi UMKM dengan margin tipis, seperti produk FMCG, fashion, atau kebutuhan sehari-hari, potongan kecil sekalipun dapat memangkas habis keuntungan, bahkan memicu kondisi yang dikenal di kalangan seller sebagai "boncos".

Melansir dari Bisnis Tekno, kondisi ini bukan muncul tiba-tiba. Kenaikan biaya marketplace sudah terjadi secara bertahap sepanjang 2025. Tokopedia mulai menaikkan biaya layanan sejak Oktober 2025, sementara Shopee menyusul dengan penyesuaian struktur biaya per Januari 2026. Gelombang kebijakan baru yang berlaku serentak pada Mei 2026 hanya membuat tekanannya terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.

Karena itu, pelaku usaha perlu rutin menghitung ulang struktur biaya penjualan dan mencari solusi biaya admin marketplace naik agar bisnis tidak terus bergantung pada diskon dan perang harga.


Marketplace Tetap Penting, tapi Jangan Jadi Satu-satunya Kanal

Perlu dipahami: membangun kanal penjualan mandiri bukan berarti UMKM harus langsung meninggalkan marketplace.

Marketplace tetap memiliki peran yang sulit digantikan. Platform ini membantu produk ditemukan oleh pembeli baru, membangun kepercayaan awal melalui sistem ulasan, dan memudahkan transaksi dengan infrastruktur yang sudah ada. Shopee, misalnya, masih menguasai sekitar 53 persen pangsa pasar GMV e-commerce Indonesia pada 2025 dan tetap menjadi tempat jutaan konsumen mencari produk setiap hari.

Masalahnya bukan pada marketplace itu sendiri, melainkan pada ketergantungan tunggal terhadapnya.

Faris M. Hanif, VP of Managed Services Everpro, menyebut bahwa tantangan seller saat ini bukan tentang harus keluar dari marketplace sepenuhnya. 

"Pertanyaannya bukanlah apakah Anda harus berada di marketplace, melainkan apakah marketplace adalah satu-satunya saluran Anda," ujarnya.

— Faris M. Hanif, VP of Managed Services Everpro

Ketika semua penjualan hanya bergantung pada satu platform, bisnis akan sangat rentan terhadap perubahan kebijakan, kenaikan biaya, atau pergeseran algoritma yang terjadi kapan saja tanpa pemberitahuan memadai. Seller yang merespons dengan langsung menonaktifkan semua toko di marketplace pun berisiko kehilangan trafik besar yang selama ini sudah terbangun.

Artinya, UMKM tetap bisa menggunakan marketplace. Namun, di saat yang sama, UMKM juga perlu mulai membangun kanal tambahan yang bisa dikendalikan sendiri.

Dengan memiliki kanal sendiri, UMKM bisa mulai membangun aset bisnis yang lebih kuat. Misalnya database pelanggan, nomor WhatsApp pembeli, halaman penawaran sendiri, dan sistem follow-up untuk repeat order.

Inilah alasan mengapa banyak pelaku usaha mulai mempelajari solusi jualan tanpa marketplace sebagai strategi tambahan untuk menjaga margin dan membangun hubungan langsung dengan pelanggan.


Mulai dari Ekosistem Sederhana, Bukan Sistem yang Rumit

Banyak UMKM merasa jualan mandiri terdengar rumit. Mereka membayangkan harus punya website besar, tim teknologi, sistem pembayaran sendiri, dan operasional yang kompleks.

Padahal, jualan mandiri bisa dimulai secara bertahap.

Faris menggambarkan pendekatan ini seperti Lego. UMKM tidak harus membangun semuanya sekaligus, tetapi bisa menambahkan bagian-bagian penting sesuai kebutuhan bisnis.

Dalam konteks UMKM, ekosistem jualan mandiri bisa dimulai dari lima bagian sederhana: mendatangkan calon pembeli, menyediakan halaman penjualan, mengelola chat, menyiapkan pengiriman, dan menyimpan data pelanggan.

Langkah 1: Datangkan Calon Pembeli dari Kanal Sendiri

Saat berjualan di marketplace, seller terbantu oleh traffic dari platform. Namun, saat mulai membangun kanal sendiri, UMKM perlu mulai mencari sumber traffic lain.

Traffic bisa datang dari media sosial, komunitas, database pelanggan lama, konten edukasi, hingga iklan digital.

Untuk UMKM yang mulai menjalankan iklan, salah satu tantangan yang sering muncul adalah akun iklan yang terkena pembatasan, sulit scale-up, atau biaya iklan yang kurang efisien. Di tahap ini, Everpro Ads dapat membantu seller menyiapkan aset iklan yang lebih siap digunakan untuk mendatangkan calon pembeli.

Tujuannya bukan sekadar mendapatkan banyak klik, tetapi mendatangkan calon pembeli yang bisa diarahkan ke halaman penjualan.

Langkah 2: Siapkan Halaman Penjualan Sendiri

Setelah traffic datang, UMKM perlu memiliki tempat untuk menjelaskan produk dengan lebih lengkap. Halaman ini tidak harus langsung berupa website besar. UMKM bisa mulai dari landing page sederhana yang berisi informasi produk, manfaat, harga, testimoni, cara order, dan tombol WhatsApp.

Yang penting, halaman tersebut bisa menjawab pertanyaan calon pembeli dengan jelas.

  • Nama produk dan manfaat utama
  • Foto produk yang jelas
  • Penjelasan masalah yang diselesaikan oleh produk
  • Keunggulan produk dibanding pilihan lain
  • Testimoni atau bukti sosial
  • Informasi harga dan promo
  • Tombol WhatsApp untuk order
  • Informasi pengiriman dan metode pembayaran

Everpro Web Builder dapat menjadi salah satu solusi bagi UMKM yang ingin membuat landing page tanpa harus membangun website dari nol atau memiliki kemampuan coding.

Langkah 3: Arahkan Pembeli ke WhatsApp

Banyak transaksi UMKM di Indonesia masih terjadi melalui WhatsApp. Karena itu, WhatsApp bisa menjadi pusat komunikasi dan closing penjualan. Namun, jika chat mulai banyak, pelaku usaha perlu menyiapkan sistem sederhana agar tidak kewalahan.

UMKM bisa mulai dengan membuat template balasan untuk pertanyaan yang sering muncul, seperti harga, ukuran, stok, cara order, ongkir, dan estimasi pengiriman.

Jika bisnis sudah memiliki beberapa admin, pembagian chat juga perlu diperhatikan. Jangan sampai calon pembeli menunggu terlalu lama hanya karena pesan menumpuk di satu nomor.

Dalam ekosistem Everpro, kebutuhan ini dapat dibantu melalui Everpro Chat. Fitur seperti pembagian chat ke beberapa CS, smart reply, hingga bantuan untuk mengecek ongkir dan membuat order dapat membantu proses closing berjalan lebih rapi.

Respons cepat sangat penting dalam jualan mandiri. Berbeda dengan marketplace yang sudah memiliki tombol checkout, transaksi melalui WhatsApp sangat bergantung pada kecepatan dan kualitas komunikasi.

Langkah 4: Sediakan COD dan Pengiriman yang Dipercaya

Salah satu tantangan terbesar saat jualan di luar marketplace adalah membangun kepercayaan. Pembeli baru mungkin bertanya, “Apakah toko ini aman?” atau “Kalau saya transfer, barangnya benar dikirim?”

Untuk mengurangi keraguan tersebut, UMKM bisa menyediakan metode Cash on Delivery atau COD. Dengan COD, pembeli dapat membayar saat barang diterima, sehingga rasa aman meningkat.

Selain COD, informasi pengiriman juga perlu dibuat jelas. UMKM perlu memastikan pembeli mendapatkan nomor resi, estimasi pengiriman, dan informasi kurir yang digunakan.

Everpro Shipping dapat membantu seller dalam kebutuhan pengiriman, termasuk COD, pencairan dana COD, rekomendasi kurir, hingga peluang cashback ongkir. Komponen ini penting karena pengalaman pengiriman yang baik dapat memengaruhi kepercayaan dan potensi repeat order.

Langkah 5: Simpan Data Pelanggan untuk Repeat Order

Keuntungan besar dari jualan mandiri adalah UMKM bisa memiliki data pelanggan sendiri. Data ini sangat penting untuk pertumbuhan bisnis. Dari data pelanggan, UMKM bisa mengetahui siapa yang pernah membeli, produk apa yang dibeli, kapan terakhir transaksi, dan siapa yang berpotensi melakukan repeat order.

Data sederhana seperti nama, nomor WhatsApp, produk yang dibeli, kota tujuan, dan tanggal pembelian sudah cukup untuk memulai. Dengan database ini, UMKM bisa melakukan follow-up secara lebih terarah. Misalnya mengirim promo khusus pelanggan lama, mengingatkan stok ulang, menawarkan produk pelengkap, atau memberikan voucher repeat order.

Everpro CRM dapat membantu seller mengelola database pelanggan dan membaca potensi repeat order berdasarkan riwayat transaksi. Dengan begitu, UMKM tidak hanya fokus mencari pembeli baru, tetapi juga merawat pelanggan yang sudah pernah membeli.

Langkah 6: Pantau Performa dalam Satu Alur

Setelah semua bagian mulai berjalan, UMKM perlu memantau performa penjualannya. Tidak cukup hanya melihat jumlah order, pelaku usaha juga perlu memahami dari mana traffic datang, berapa banyak chat masuk, berapa yang closing, bagaimana status pengiriman, dan apakah transaksi masih menghasilkan margin sehat.

Di sinilah pendekatan ekosistem menjadi penting. Jika setiap bagian berjalan sendiri-sendiri, UMKM akan lebih sulit membaca performa bisnis secara utuh.

Dengan ekosistem yang terhubung, seller dapat melihat perjalanan pelanggan dari awal hingga akhir: dari klik iklan, masuk ke landing page, chat WhatsApp, order, pengiriman, sampai repeat order.

Kenaikan biaya marketplace 2026 menjadi sinyal bahwa bisnis yang sehat tidak bisa sepenuhnya bergantung pada satu platform yang aturan mainnya bisa berubah kapan saja.

Marketplace tetap bisa digunakan, bahkan sebaiknya tetap digunakan, sebagai sumber trafik dan akuisisi pembeli baru. Namun di saat yang sama, UMKM perlu mulai membangun kanal mandiri yang memberi kontrol lebih besar atas margin, data pelanggan, dan pengalaman pembeli.



Dukung Misi Edukasi Kami

Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.