
Sahabat Wirausaha, tidak semua usaha lahir dari rencana yang matang dan modal yang siap. Ada yang justru dimulai dari titik paling tertekan — ketika utang lebih besar dari penghasilan, ketika pandemi mematikan mesin pabrik, dan ketika tidak ada pilihan lain selain bergerak. Di sinilah kisah Asep Koharrudin di Kota Baru, Karawang Jawa Barat bermula: seorang karyawan yang setelah 16 tahun bekerja di perusahaan otomotif besar, mendapati dirinya terjepit antara gaji pokok Rp7,5 juta dan cicilan yang tembus Rp9 juta — di bulan yang sama ketika pandemi mulai mengubah segalanya.
Dari tekanan kondisi itulah Yeza Collection lahir. Bukan dari rencana bisnis yang tersusun rapi, bukan dari modal yang disiapkan jauh-jauh hari — melainkan dari sebuah printer seharga Rp2 juta, ketekunan belajar otodidak dari YouTube, dan satu prinsip yang ia pegang teguh: masalah bukan hambatan, masalah adalah level tumbuh berikutnya.
Enam Belas Tahun Bekerja, Tapi Kantong Tetap Bocor
Asep bukan orang yang tidak punya penghasilan. Sejak 2009, ia bekerja di sebuah perusahaan otomotif besar — dengan gaji dan tunjangan yang stabil. Namun ia sendiri yang mengakui bahwa ia terlena. Gaji yang rutin masuk setiap bulan terasa seperti jaminan, sampai tanpa disadari hutang demi hutang menumpuk: bank, kartu kredit, koperasi, cicilan mobil, hingga pinjaman online.
Ketika pandemi melanda dan perusahaan mendadak menghentikan produksi di akhir Februari 2020, realita memukul keras. Gaji pokok tersisa Rp7,5 juta, sementara total angsuran bulanan Rp9 juta. Semua cicilan seketika tidak terbayar.
Di titik itulah Asep mulai bergerak. Maret 2020, ia mulai berjualan boneka melalui Facebook — bukan dengan modal, melainkan murni sistem dropship: ambil dari tetangga hanya kalau sudah ada yang beli. Tidak glamor, tidak bermodal. Tapi setiap hari selalu ada penjualan, meski hanya satu produk. Dan justru konsistensi kecil itulah yang mengajarkan sesuatu yang selama ini terlewat: bahwa usaha tidak harus dimulai dari modal besar untuk bisa berarti.
Konsumen Rewel yang Mengubah Arah Bisnis

September 2020, toko Shopee-nya mulai bergeliat. Salah satu produk yang ia jual adalah boneka dengan bantal foto custom — bantal yang dicetak dengan sesuai pesanan pelanggan. Produk tersebut ia ambil dari produsen lain. Tapi di bulan April 2021, datanglah komplain keras dari seorang konsumen: kualitas cetakan pada bantalnya jelek. Asep meneruskan keluhan itu ke produsennya — dan produsen lepas tangan, bahkan tidak mengizinkan Asep melihat proses produksinya.
Keputusan besar pertama pun diambil.
Dengan tabungan Rp2 juta hasil dropship, Asep membeli sebuah printer Epson L120 dan belajar sendiri dari YouTube cara produksi cetak sublim. Hasilnya? Gagal lebih dari sepuluh kali. Ia menggunakan setrika biasa sebagai alat press darurat — panas tidak merata, hasil cetakan tidak sempurna. Tapi tiap kegagalan ia catat, tiap percobaan ia jadikan data. Hingga ia menemukan durasi yang pas: 30 menit per bantal.
Konsumen rewel itu pun akhirnya puas.
Sebulan berselang, Asep menerima SHU koperasi sebesar Rp1,3 juta — langsung ia alokasikan untuk membeli mesin press kaos bekas. Modal total di titik ini belum genap Rp3,5 juta. Kecil, tapi setiap rupiahnya digunakan dengan sangat terencana.
Saat Perhiasan Istri Pun Ikut Berjuang
Tidak semua hari berjalan mulus. Juni 2022 menjadi momen paling berat dalam perjalanan Asep.
Saat itu pesanan sudah mencapai 130 bantal per hari. Ia mulai mempercayakan proses produksi kepada karyawan. Namun karyawan tersebut bekerja sambil bermain HP, hingga tinta printer habis tanpa terkontrol. Tinta hitam tidak mau keluar meski sudah diisi ulang. Pesanan menumpuk. Terjebak deadline.
Asep mencoba memperbaiki sendiri — menonton tutorial di YouTube, membongkar bagian dalam printer. Tapi alih-alih membaik, kondisi justru semakin parah: semua warna ikut tidak keluar.
"Saya nangis, stress, dan hampir menyerah," ungkapnya.
Di titik paling berat itulah sang istri mengulurkan cincin pernikahannya untuk dijual, agar Asep bisa membeli printer baru seharga Rp8 juta.
Printer baru datang. Dan ada satu hal yang lucu sekaligus menyentuh: printer lama yang sudah dianggap rusak total itu, iseng-iseng Asep lap bagian kepala printnya dengan tisu basah — dan printer langsung hidup normal kembali.
Dua printer kini ada di tangan. Besoknya, orderan melonjak menjadi 200 pcs per hari.
Baca juga: Kisah Inspiratif UMKM: Gagal di 10 Produk, Nia Temukan Jalannya Lewat Garam Infused Salty Ship
Dari Setrika ke Mesin Press, Dari Shopee ke TikTok

Pertumbuhan Yeza Collection tidak terjadi karena strategi besar yang direncanakan jauh hari. Ia tumbuh karena setiap masalah diselesaikan dan menjadi pembelajaran yang baik untuk bisnisnya.
Tahun 2021, Asep dan istri mengerjakan segalanya berdua dengan pesanan 10–50 pcs per hari. April 2022, dua tetangga direkrut karena pesanan sudah menyentuh 50–100 pcs per hari. Tahun 2023, tim bertambah menjadi lima orang karena produksi menembus 100 pcs per hari. Tahun 2024, Yeza Collection masuk ke TikTok dan menambah dua orang khusus untuk admin dan editing.
Kemudian, di bulan Mei 2025, setelah 16 tahun bekerja sebagai karyawan, Asep akhirnya memutuskan resign dari perusahaan otomotif tempatnya berkarier. Bukan karena gaji kecil — tapi karena fokusnya terlalu terpecah. Uang pesangon langsung diinvestasikan kembali ke bisnis: printer berukuran A1, mesin press 40×60 cm, dan empat unit iPhone untuk mendukung aktivitas live streaming.
Tapi 2025 juga mengajarkan pelajaran pahit. Terlena dengan pertumbuhan yang cepat, di bulan Juni ia merekrut hingga 20 orang sekaligus untuk memacu konten, live streaming, dan produksi. September 2025, omzet tidak naik sesuai ekspektasi — malah minus Rp12 juta karena beban operasional melonjak tidak terkendali.
"Saya terlalu terlena. Saya lupa mengontrol cash flow," refleksinya. Karyawan kembali disesuaikan. Kini dengan 22 orang yang terstruktur — tiga CS lintas shift, tim produksi printing, jahit, press, pengemasan, hingga live streaming — pesanan berjalan stabil di angka 300–400 pcs per hari dengan omzet Rp200 juta per bulan.
22 Karyawan, Semua dari Komplek Sendiri

Yang membuat Yeza Collection berbeda bukan hanya angka pertumbuhannya — tapi siapa yang ikut tumbuh bersamanya.
Dari 22 karyawan saat ini, hampir seluruhnya adalah tetangga Asep di sekitar rumah produksi. Ada yang bergabung karena suaminya baru pensiun dan butuh penghasilan tambahan. Ada yang baru kena PHK dan belum tahu harus ke mana. Ada yang berulang kali gagal tes kerja karena buta warna. Ada pula yang baru lulus dan belum memiliki pengalaman kerja.
Tidak hanya itu, Asep kini membina tiga orang yang ingin memulai usaha online. Ketiganya sudah mulai berjualan, dan sudah ada transaksi masuk. Baginya, ekosistem kecil di sekitar rumahnya itu adalah bagian dari makna usaha yang sesungguhnya.
Baca juga: Kisah Inspiratif UMKM: Modal Rp100 Ribu, 10 Ibu Rumah Tangga Ini Sekarang Produksi 600 Botol Sehari
Bukan Kata Asep — Tapi Kata Pembelinya
Pertumbuhan Yeza Collection tidak hanya terlihat dari angka pesanan atau omzet. Ia terasa paling nyata dari suara pelanggan yang kembali lagi — dan merekomendasikan ke orang lain.
Di kolom ulasan marketplace, ribuan bintang lima berjejer dengan komentar yang hampir seragam: harga terjangkau, kualitas di luar ekspektasi, pengiriman cepat, dan admin yang ramah.
Seorang pembeli meninggalkan ulasan yang cukup merangkum semuanya: "murah banget cuma 30an dengan kualitas yang bagus banget" — dan menyebutnya cocok untuk kado ulang tahun hingga anniversary.
Yang lebih bercerita adalah pembeli yang datang bukan untuk pertama kalinya. "Beli untuk yang ke-2 kalinya, sumpah bagus banget, harga murah tapi kualitasnya bagus, halus banget, bantalnya empuk," tulis salah satu pelanggan yang kembali repeat order.
Sementara pembeli lain mencatat hal yang sederhana tapi bermakna: "deskripsinya po 3 hari tapi belum sampai 3 hari sudah dikirim."
Kini Asep menyimpan satu mimpi besar: membangun fasilitas digital printing berskala lebih besar, tempat di mana pelaku usaha lain bisa datang untuk proses maklon tanpa harus belajar dari nol tentang mesin dan produksi. Sebuah visi yang lahir dari perjalanan ia sendiri yang pernah belajar dari nol — sendirian, dari YouTube, dengan tangan dan setrika.
Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin melihat produk Yeza Collection atau menjajaki peluang kerja sama, kamu bisa terhubung langsung melalui:
- WhatsApp: wa.me/6281388343814
- Shopee: shopee.co.id/yezacollection
- Instagram: @yeza.collection
- YouTube: @yezacollection
Kisah Asep mengingatkan kita bahwa dampak nyata sebuah usaha tidak selalu diukur dari angka omzet semata, tapi juga dari berapa banyak tetangga yang kini bisa memulai paginya dengan lebih tenang.
Semoga menginspirasi!
Asep Koharrudin adalah salah satu Member Utama UKMIndonesia.id — komunitas wirausaha yang mempertemukan pelaku UMKM dari seluruh Indonesia untuk saling belajar, bertumbuh, dan naik kelas bersama. Kisahnya kami angkat karena percaya bahwa perjalanan seperti ini terlalu berharga untuk tidak dibagikan
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Kamu juga bisa mendukung keberlanjutan konten edukatif di website kami melalui fitur Dukung Kami di bawah artikel ini.
Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan komunitas UMKM — yuk daftar jadi anggota melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!
Dukung Misi Edukasi Kami
Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.








