
Sahabat Wirausaha, kali ini kita berkenalan dengan Idha Noviyanti—salah satu member utama UKMIndonesia.id dari Cipayung, Jakarta Timur. Di balik kesehariannya sebagai ibu rumah tangga, Bu Idha adalah bagian dari sebuah komunitas usaha yang perjalanannya layak untuk kita ceritakan.
Kita semua tahu bahwa tidak semua usaha lahir dari rencana besar. Ada yang justru tumbuh dari kondisi paling sempit—ketika penghasilan keluarga mulai tersendat, sementara kebutuhan hidup tidak bisa menunggu.
Itulah yang dialami Bu Idha bersama 9 ibu rumah tangga lainnya di Cipayung saat pandemi COVID-19 melanda. Penghasilan berbagai profesi para suami mulai tidak menentu. Sementara itu, kontrakan, listrik, dan biaya sekolah anak tidak pernah berhenti menagih.
Situasi ini bukan hanya dialami satu keluarga. Ini adalah potret jutaan rumah tangga di Indonesia—terutama yang bergantung pada satu sumber penghasilan. Di titik paling sempit seperti ini, banyak orang dihadapkan pada dua pilihan: menunggu keadaan membaik, atau mulai bergerak dari apa yang ada.
Para Ibu Rumah Tangga ini, memilih bergerak.
Dari Garasi Rumah Ketua RT, Berawal Hanya 20 Botol dan Modal Tipis Rp100 Ribu

Dari obrolan sederhana tentang kondisi ekonomi yang makin berat, muncul satu kesadaran bersama: mereka harus mencari cara untuk tetap menghasilkan, tanpa meninggalkan peran utama sebagai istri dan ibu. Di saat yang sama, masyarakat tengah mencari cara menjaga daya tahan tubuh—dan minuman rempah menjadi salah satu yang paling diburu.
Dari situlah, Oemah Rempah Rolas mulai tumbuh. Usaha berbasis komunitas ini didirikan pada 19 Februari 2021, dengan produksi pertama dilakukan di garasi rumah Ketua RT dan menggunakan peralatan serba pinjam. Modal awal yang terkumpul hanya Rp100 ribu—dan seluruhnya dibelikan bahan baku.
Dari modal sekecil itu, mereka hanya mampu memproduksi 20 botol minuman rempah dalam tiga varian pertama yaitu Lemon Tea, Teh Sereh Aren, dan Gula Asem Aren. Penjualannya pun masih sangat sederhana: tidak ada marketplace, tidak ada toko, apalagi strategi digital. Mereka hanya mengandalkan jaringan terdekat—menawarkan produk lewat pesan pribadi ke teman-teman.
Langkah kecil itu menjadi awal dari perjalanan panjang yang tidak selalu mudah.
Baca juga: Dari Ladang ke Pasar: 3 Wirausaha Perempuan Indonesia yang Angkat Petani Lokal Lewat Rantai Bisnis
Ketika Produk Tidak Laku, dan Harus Dibuang
Bu Idha masih ingat betul fase terberat yang pernah mereka lalui bersama. Ketika mencoba menjual di bazaar—dengan harapan produk lebih dikenal dan penjualan meningkat—yang terjadi justru sebaliknya.
Produk yang tidak laku harus dibuang karena tidak tahan lama. Kerugiannya bukan hanya soal uang, tetapi juga tenaga, waktu, dan semangat yang sudah dicurahkan bersama-sama.
“Kecewa pasti. Rasanya semua yang sudah kami lakukan hilang begitu saja,” ungkap Bu Idha.
Di titik ini, banyak usaha biasanya berhenti. Namun bagi mereka, kondisi justru tidak memberi ruang untuk menyerah. Kebutuhan rumah tangga tetap berjalan—dan itu menjadi alasan yang cukup untuk bertahan.
Kegagalan itu akhirnya membuka mata mereka. Bahwa mengikuti bazaar tidak bisa sekadar datang dan berjualan. Harus dipelajari siapa penyelenggaranya, seperti apa acaranya, bagaimana alur pengunjung, hingga posisi lapak yang strategis. Kegagalan, ternyata, bisa menjadi pintu masuk untuk memahami pasar dengan lebih serius.
Titik Balik: Dari Kegagalan ke Pembinaan dan Produksi yang Tumbuh
Perlahan, mereka menyadari bahwa semangat saja tidak cukup. Dibutuhkan pengetahuan dan cara kerja yang lebih terarah.
Kesempatan itu datang ketika mereka bergabung dengan program Jakpreneur DKPKP Cipayung, Jakarta Timur. Dari sini, mereka mulai mendapatkan pendampingan, wawasan, serta panduan mengelola usaha secara lebih profesional.
Perubahan ini menjadi titik balik yang nyata. Dengan semangat untuk terus belajar, produksi mulai meningkat secara bertahap. Pada akhir 2021—tahun pertama mereka berdiri—total produksi sudah mencapai 17.415 botol. Dari usaha kecil di garasi, perlahan sistem mulai terbentuk dan menjadi fondasi untuk pertumbuhan berikutnya.
Baca juga: Jenahara Nasution: Dari Ide Sederhana Menjadi Ikon Fashion Muslim Indonesia
Strategi Sederhana yang Membuat Usaha Terus Berkembang
Perjalanan usaha ini tidak berubah karena satu keputusan besar. Perubahannya datang dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten.
Salah satunya adalah soal tampilan produk. Ketika kemasan diperbarui—mulai dari desain botol, label, hingga kelengkapan legalitas—penjualan mulai merespons. Dari ratusan, naik ke ribuan botol. Sebuah pelajaran bahwa kepercayaan konsumen sering kali dimulai dari hal yang paling pertama mereka lihat.
Di saat yang sama, mereka mulai aktif memanfaatkan media sosial. Bukan dengan strategi rumit, tetapi dengan konsistensi menampilkan produk secara apa adanya. Hasilnya, jangkauan brand meluas bahkan tanpa mereka sadari—pelanggan mulai membawa produk ke luar kota secara mandiri.
Kekuatan komunitas juga membuka peluang yang tidak pernah mereka rencanakan sebelumnya: pesanan katering, food stall di berbagai acara, hingga jaringan yang terus meluas lewat mulut ke mulut.
Namun di tengah semua itu, satu hal yang tidak pernah mereka kompromikan adalah kualitas. Produk tetap dibuat dari bahan alami tanpa pengawet, dengan cita rasa yang konsisten dari botol pertama hingga sekarang. Dan pelanggan yang merasakannya pun tidak segan memberikan respons yang jujur.
“Enaaaak… sumpah, seger banget. Manisnya juga pas. Anak-anak di rumah sampai bilang ini enak banget,” tulis Santy, pelanggan dari Jati Sampurna.
Pelanggan lain bahkan menyebut varian kunyitnya “mantul” dan langsung memesan dalam ukuran lebih besar. Respons seperti ini bukan hanya memuaskan—ia mendorong pembelian berulang yang menjadi tulang punggung pertumbuhan usaha mereka.
Menjaga Kekompakan Tim dan Menyeimbangkan Peran di Rumah

Menjalankan usaha bersama 9 orang tentu bukan hal mudah. Tantangan terbesar justru datang dari dalam tim—ketika masing-masing memiliki pandangan dan idealisme yang berbeda, ketika setiap orang merasa idenya yang paling tepat.
Di sinilah proses belajar yang sesungguhnya terjadi. Bahwa usaha bersama tidak bisa dijalankan dengan ego masing-masing. Dibutuhkan komunikasi yang jujur, kompromi yang tulus, dan kepercayaan yang dibangun pelan-pelan.
Tantangan lain datang dari peran ganda sebagai ibu rumah tangga. Di awal usaha, waktu produksi yang belum terjadwal sering berbenturan dengan urusan domestik. Pekerjaan rumah menumpuk, jadwal berantakan, dan emosi pun tak jarang muncul.
Namun seiring waktu, mereka mulai menemukan ritme kerja yang lebih terstruktur. Peran dalam tim pun dibagi sesuai kebutuhan produksi—mulai dari tiga orang yang bertugas sebagai juru masak, satu orang yang mencatat, tiga orang menangani pengemasan, satu orang belanja bahan baku, hingga dua orang yang fokus pada pelabelan produk.
Menariknya, pembagian ini tidak bersifat kaku. Ketika ada anggota yang berhalangan hadir, sebagian besar peran bisa saling menggantikan agar produksi tetap berjalan. Seiring waktu, mereka juga mulai menerapkan manajemen yang lebih teratur. Jadwal produksi tidak lagi mendadak, sehingga urusan rumah tangga tetap bisa berjalan beriringan. Perubahan sederhana ini ternyata menjadi salah satu kunci keberlanjutan usaha mereka hingga hari ini.
Baca juga: Dari Ramuan Keraton ke Pasar Global: Transformasi Mustika Ratu di Tangan Mooryati Soedibyo
Lima Tahun Kemudian: 80.000 Botol dan Omzet Rp500 Juta

Sejak berdiri pada 2021 hingga Maret 2026, Oemah Rempah Rolas telah memproduksi lebih dari 80.000 botol dengan 11 varian pilihan yaitu Lemon Tea, Teh Sereh Aren, Gula Asem Aren, Beras Kencur Aren, Kunyit Asem Aren, Wedang Jahe Aren, Sereh Lemon, Kunyit Lemon, Temulawak, Biang Kunyit, dan Kunyit Sirih Aren.
Kapasitas produksinya kini mencapai sekitar 600 botol per hari. Total omzet kumulatif yang dicapai menyentuh angka Rp500 juta, atau rata-rata sekitar Rp100 juta per tahun.
Namun lebih dari sekadar angka, perjalanan ini membawa perubahan nyata dalam kehidupan para anggotanya. Mereka kini memiliki penghasilan sendiri. Relasi yang lebih luas. Dan yang mungkin paling berharga—kepercayaan diri yang tumbuh dari proses menghadapi kegagalan dan bangkit lagi bersama-sama.
Tidak hanya itu, mereka kini aktif tampil di berbagai kegiatan dan ajang UMKM, baik di tingkat daerah maupun nasional.
Di tengah peringatan Hari Kartini, kisah sepuluh perempuan dari Cipayung ini terasa sangat relevan—bukan karena kebetulan, tetapi karena memang inilah yang sejak dulu diperjuangkan: bahwa perempuan Indonesia punya kapasitas untuk berdiri di atas kakinya sendiri, menggerakkan ekonomi keluarga, dan menciptakan dampak bagi lingkungan di sekitarnya.
Mereka tidak menunggu kondisi ideal. Mereka tidak menunggu modal besar. Mereka mulai dari Rp100 ribu, sebuah garasi, dan keyakinan bahwa langkah kecil yang diambil bersama bisa membawa ke tempat yang jauh lebih besar dari yang pernah dibayangkan.
Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin melihat langsung produk mereka atau menjajaki peluang kerja sama, kamu bisa terhubung melalui kanal berikut:
Peluang tidak selalu datang dalam kondisi ideal. Ia muncul ketika kita berani mengambil peran dan mulai bergerak dari apa yang kita punya. Terima kasih sudah membaca!
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Kamu juga bisa mendukung keberlanjutan konten edukatif di website kami melalui fitur dukung UKM Indonesia di bawah artikel ini.
Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan komunitas UMKM—yuk daftar jadi anggota melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!
Dukung Misi Edukasi Kami
Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.









