Sahabat Wirausaha, tidak semua pelaku usaha langsung menemukan produk yang tepat sejak awal. Ada yang harus melalui proses panjang: mencoba satu ide, mengevaluasi, berganti arah, lalu memulai lagi dari hampir nol.

Hal itulah yang dialami Nia Budiharti. Sejak kecil, ia sudah terbiasa berjualan. Kebiasaan tersebut berlanjut hingga masa kuliah, di mana ia aktif menjadi reseller berbagai produk. Dari pengalaman itu, muncul keinginan untuk tidak hanya menjual produk orang lain, tetapi juga menciptakan produk sendiri. Setelah lulus kuliah pada 2014, Nia mulai memproduksi masker organik dengan merek Ormask sebagai langkah awal membangun usaha.


Dari Dunia Kerja ke Dunia Usaha

Sebelum fokus membangun usaha, Nia memiliki pengalaman kerja di bidang HR selama kurang lebih delapan tahun. Ia pernah bekerja di pabrik sepatu sebagai Asisten Chief HR Planning & Management selama sekitar lima tahun, kemudian melanjutkan karier di pabrik panel sebagai asisten di bidang HRD, GA, dan Legal selama kurang lebih tiga tahun. Di sela pekerjaannya, ia tetap menjalankan aktivitas usaha. Namun seperti banyak pelaku UMKM pemula, produk pertama bukanlah jawaban akhir. 

Nia terus mencoba berbagai ide dan peluang yang dirasa memiliki potensi. Ia pernah mengembangkan berbagai produk dari beberapa kategori, mulai dari masker organik, tape ketan, cake in jar, toples hias, tutug oncom instan, susu almond, baju anak, VCO, hingga deodorant tawas sebelum akhirnya menemukan arah di produk berbasis hasil laut.

Seiring berjalannya waktu, ia mulai menyadari bahwa terlalu banyak mencoba tanpa arah yang jelas justru membuat fokus usaha terpecah. Dari sinilah muncul kesadaran bahwa usaha tidak hanya soal banyaknya produk, tetapi juga tentang menentukan arah yang tepat.

Baca juga: Kisah Inspiratif UMKM: Modal Rp100 Ribu, 10 Ibu Rumah Tangga Ini Sekarang Produksi 600 Botol Sehari


Gagal Produksi 20 Kg Sambal Embet

Salah satu titik paling berat dalam perjalanan usaha Nia terjadi saat ia mencoba memproduksi sambal embet, yaitu sambal berbahan kerang kecil atau remis yang dikenal masyarakat sekitar Cilamaya.

Saat itu, ia langsung memproduksi sekitar 20 kilogram dalam satu kali proses. Sebagai langkah awal, keputusan tersebut terasa cukup berani. Namun hasilnya tidak sesuai harapan. Keesokan harinya, sambal tersebut berubah rasa dan berjamur. Seluruh produk tidak bisa dijual dan akhirnya harus dibuang. Kerugian yang terjadi tidak hanya dari sisi modal, tetapi juga secara mental.

Dari pengalaman tersebut, Nia menyadari bahwa dalam usaha makanan, rasa saja tidak cukup. Proses produksi, kebersihan, ketahanan produk, hingga kesiapan distribusi menjadi faktor yang sangat penting.


Menemukan Arah Dari Potensi Lokal

Setelah melalui berbagai percobaan, Nia mulai melihat pola dari perjalanan usahanya. Produk berbasis hasil laut terasa lebih dekat dengan lingkungan tempat ia tinggal. Cilamaya, Karawang, dikenal memiliki potensi hasil laut yang cukup besar, mulai dari ikan, hasil tangkapan laut, hingga garam lokal.

Dari situ, ia mulai berpikir lebih strategis. Produk hasil laut tidak harus berhenti sebagai bahan mentah atau olahan biasa. Dengan pendekatan yang tepat, produk tersebut bisa memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.

Pemikiran inilah yang kemudian melahirkan Salty Ship, sebuah brand yang berfokus pada pengolahan hasil laut menjadi produk yang lebih modern, higienis, dan memiliki identitas yang kuat.

Baca juga: Kisah Inspiratif UMKM: Bersama 25 Mitra Perempuan Tani, Mardin Bangun Bisnis Minyak Kelapa VCO, Omzet Tembus Rp500 Juta


Dari Teri Krispi Hingga Garam Infused

Saat ini, Salty Ship menghadirkan berbagai produk olahan hasil laut seperti teri krispi, teri bubuk, udang bubuk, dan kerupuk teri.

Dan produk yang paling banyak dibeli adalah teri krispi. Produk ini sudah lebih dulu dikenal dan memiliki permintaan yang cukup stabil. Beberapa pelanggan menyebut rasanya gurih dan “bikin nagih”, bahkan ada yang melakukan pembelian berulang.

Namun Nia tidak berhenti di sana. Ia mulai melihat peluang pengembangan lain dari hasil laut lokal, terutama pada produk garam.

Garam infused menjadi salah satu arah pengembangan utama. Produk ini dinilai memiliki ruang inovasi yang luas, karena dapat dipadukan dengan berbagai bahan untuk menghasilkan karakter rasa yang berbeda.

Dari pengembangan tersebut, Nia kemudian mulai memperluas inovasi ke produk garam infused. Saat ini telah tersedia varian awal seperti black salt dan garlic salt, yang dijual di kisaran Rp30.000–Rp35.000 per jar. Respon awal dari pembeli cukup positif karena produk ini dianggap unik dan belum banyak ditemukan di pasaran.


Produksi Rumahan dengan Jangkauan yang Terus Tumbuh

Nia membangun usahanya secara bertahap. Modal awal yang digunakan sekitar Rp2,2 juta, berasal dari dana pribadi yang ia kumpulkan perlahan. Modal itu digunakan untuk membeli bahan baku, perlengkapan dasar produksi, serta melakukan uji coba produk.

Saat ini, proses produksi masih dilakukan di rumah dengan memanfaatkan ruang khusus di area depan rumah untuk kegiatan produksi dan pengemasan. Dalam operasionalnya, Nia dibantu sekitar 2–3 orang dari lingkungan sekitar.

Kapasitas produksi berada di kisaran 70–80 kilogram per bulan, atau sekitar 1.000–1.050 pouch untuk produk yang aktif berjalan. Omzet bulanan mencapai sekitar Rp15–17 juta, tergantung pada volume produksi dan penjualan.

Dari sisi pemasaran, sistem konsinyasi atau titip jual menjadi kanal utama. Selain itu, penjualan juga dilakukan melalui marketplace, media sosial, dan penjualan langsung ke konsumen.

Untuk bahan baku, Nia bekerja sama dengan petani garam dan pelaku usaha hasil laut lokal di sekitar Cilamaya sebagai bagian dari upaya membangun rantai pasok berbasis lokal.

Baca juga: Menyulam Tradisi Menjadi Peluang: Cerita Sukses Kampung Cikiray Tasikmalaya, Sentra Kerajinan Bambu Kelas Dunia


Ketika Fokus Bisnis Ditemukan dari Lingkungan Terdekat

Kisah Nia Budiharti menunjukkan bahwa kegagalan dalam perjalanan bisnis tidak selalu berarti salah jalan. Kadang, kegagalan justru menjadi cara paling nyata untuk memahami mana produk yang belum tepat, mana proses yang perlu diperbaiki, dan mana arah yang seharusnya diambil.

Bagi Sahabat Wirausaha, cerita ini memberi satu pelajaran penting. Peluang bisnis tidak selalu harus dicari jauh-jauh. Kadang, ia justru berada di sekitar kita—di bahan baku lokal, di kebiasaan masyarakat, di hasil bumi atau hasil laut daerah sendiri—yang selama ini belum diolah dengan sudut pandang baru.

Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin melihat produk Salty Ship atau menjajaki peluang kerja sama, kamu bisa terhubung melalui kanal berikut:

Pembelajaran bagi kita semua, bahwa membangun usaha bukan hanya tentang menemukan produk yang laku. Lebih jauh dari itu, usaha yang kuat lahir dari kemampuan membaca potensi, belajar dari kegagalan, dan berani memilih fokus yang benar-benar bisa dikembangkan.

Nia menemukan arahnya dari laut lokal di sekitarnya. Yuk bersama refleksikan diri, potensi apa yang sebenarnya sudah ada di sekitar kita, tetapi belum kita olah dengan serius?



Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!

Kamu juga bisa mendukung keberlanjutan konten edukatif di website melalui fitur Dukung Kami di bawah artikel ini.

Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan komunitas UMKM—yuk daftar jadi anggota melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!

 

Dukung Misi Edukasi Kami

Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.