
Sahabat Wirausaha, berdasarkan laporan BPS, nilai ekspor nonmigas Indonesia pada semester pertama 2025 mencapai USD 128,39 miliar atau naik 8,96 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Di balik angka makro tersebut, ada kisah-kisah konkret yang sering luput dari perhatian: kisah wirausaha perempuan Indonesia yang bukan hanya memasarkan produk ke pasar lokal, tetapi membangun brand yang dikenal dan dipercaya di luar negeri. Mereka bukan sekadar eksportir, melainkan pembangun merek yang menjawab kebutuhan spesifik konsumen global dengan kekayaan lokal sebagai modal utama.
Topik ini penting dianalisis secara serius karena banyak pelaku UMKM masih menganggap ekspansi global sebagai urusan korporasi besar atau pemerintah. Padahal, sebagian dari nama yang akan dibahas dalam artikel ini memulai dari skala rumahan, modal minimal, dan produk yang awalnya dianggap terlalu 'lokal' untuk bisa bersaing secara internasional. Apa yang membedakan mereka? Bukan hanya keberuntungan, melainkan pilihan strategi yang bisa dipelajari.
Artikel ini mengulas lima tokoh pengusaha inspiratif dengan berbagai latar belakang sektor — dari kosmetik halal hingga agribisnis — yang berhasil membangun brand Indonesia dengan jejak global yang terverifikasi. Analisisnya tidak berhenti pada profil, tetapi mencoba mengidentifikasi pola dan implikasi strategisnya bagi pelaku UMKM.
1. Nurhayati Subakat dan Wardah: Kosmetik Halal yang Mendefinisikan Ulang Standar Global
Ketika Nurhayati Subakat meluncurkan Wardah pada 1995, konsep 'kosmetik halal' belum ada di peta industri kecantikan Indonesia. Alumnus Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 1975 ini memulai usahanya dari rumah pada 1985 di bawah nama PT Pusaka Tradisi Ibu, sebelum kemudian berevolusi menjadi PT Paragon Technology and Innovation. Wardah sendiri lahir dari pabrik yang sebelumnya sempat terbakar habis — sebuah titik balik yang mendorong Nurhayati untuk memulai kembali dengan pendekatan yang lebih terdiferensiasi.
Strategi distribusi awal Wardah juga tidak konvensional: produk ini pertama kali dipasarkan dari pesantren ke pesantren, bukan dari rak supermarket. Pendekatan ini membangun loyalitas berbasis nilai, bukan sekadar preferensi produk. Sertifikasi halal dari LPPOM MUI diraih pada 1999 — lebih dari satu dekade sebelum tren global halal beauty berkembang pesat.
Ekspansi internasional Wardah dimulai dengan masuk ke Malaysia, diikuti Bangladesh. Berdasarkan laporan dari Salaam Gateway 2024/2025, Wardah meraih gelar 'Top Muslim-Friendly Cosmetic Brand in the World'. Kehadiran Wardah di New York Fashion Week 2016 dan Global Business Forum Dubai Expo menjadi bukti konkret bahwa brand berbasis nilai lokal bisa menembus forum bisnis bergengsi secara global. Berdasarkan laporan Forbes, kekayaan Nurhayati diperkirakan sekitar US$1,5 miliar, dengan Paragon mempekerjakan lebih dari 12.000 karyawan.
Yang perlu dicatat: penetrasi global Wardah masih terfokus pada pasar mayoritas Muslim. Ekspansi ke Eropa dan Afrika — yang sedang dipersiapkan — akan menjadi ujian sesungguhnya apakah proposisi halal dapat diterima sebagai nilai universal kualitas dan etika produksi, bukan sekadar segmentasi religius.
Baca juga: Partisipasi Perempuan dalam Legalitas Usaha Mencerminkan Perubahan Perilaku Bisnis UMKM di Indonesia
2. Martha Tilaar dan Sariayu: Kearifan Lokal sebagai Proposisi Nilai Ekspor
Kisah Martha Tilaar dimulai bukan di Indonesia, melainkan di Amerika Serikat pada awal 1970-an, ketika ia belajar di Beauty Academy sambil bekerja sebagai pengasuh anak. Di sanalah ia mendapat tugas akademik yang mengubah arah hidupnya: membuat makalah tentang riasan tradisional dari negara asalnya. Kebingungan itulah yang kemudian mendorongnya menggali kembali kekayaan kecantikan Nusantara — dan menjadikannya inti dari seluruh strategi bisnisnya.
Kembali ke Indonesia, Martha mendirikan salon kecil berukuran 6x4 meter di garasi rumah orang tuanya di Menteng, Jakarta Pusat, dengan modal Rp 1 juta. Dari titik itulah berkembang Martha Tilaar Group, konglomerasi kecantikan yang menaungi brand Sariayu, PAC (Professional Artist Cosmetic), Biokos, Rudy Hadisuwarno Cosmetics, dan sejumlah merek lainnya, serta sekolah kecantikan internasional Puspita Martha International Beauty School.
Sariayu, brand unggulannya, kini telah merambah pasar internasional di Malaysia, Brunei Darussalam, Taiwan, Hong Kong, China, Mauritius, dan sejumlah negara di Afrika Timur. Berdasarkan laporan PT Martina Berto Tbk, ekspor Sariayu tumbuh hingga 120 persen pada 2019. Martha Tilaar juga pernah mendapat penghargaan dari Sekretaris Jenderal PBB atas implementasi 10 prinsip Global Compact dalam operasi perusahaannya — sebuah pengakuan bahwa bisnisnya bukan hanya sukses secara komersial, tetapi juga relevan secara etis di forum internasional.
Pendekatan Sariayu yang mengangkat tema kecantikan dari setiap daerah Indonesia — Sumba, Toraja, Papua, Minang — bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan komitmen sistemik terhadap dokumentasi dan promosi kearifan lokal. Setiap peluncuran koleksi tahunan (Color Trend) adalah penelitian etnobotani yang dikomersialisasikan dengan standar industri modern.
3. Linda Anggrea dan Buttonscarves: Fashion Muslim yang Merebut Pasar Global
Sektor fashion muslim Indonesia menyimpan potensi ekspor yang sering diremehkan. Linda Anggrea, pendiri Buttonscarves, adalah salah satu wirausaha perempuan Indonesia yang membuktikan bahwa brand fashion modest dari Indonesia bisa bersaing di panggung internasional. Buttonscarves didirikan pada awal 2016 dengan fokus pada segmen hijab premium — dan dalam waktu relatif singkat berhasil membangun basis konsumen yang melampaui batas geografis Indonesia.
Kekuatan Buttonscarves terletak pada kombinasi antara inovasi desain yang konsisten, pemilihan material berkualitas, dan strategi storytelling yang kuat di media sosial. Brand ini tidak sekadar menjual hijab; ia membangun gaya hidup dan identitas bagi perempuan Muslim modern yang menginginkan produk dengan standar estetika tinggi. Ekspansinya ke pasar Asia Tenggara — dengan Malaysia sebagai pintu utama — mengikuti pola yang lazim bagi brand modest fashion Indonesia, namun Buttonscarves melakukannya dengan branding yang lebih premium.
Yang menarik dari Buttonscarves adalah bagaimana Linda membangun distribusi internasional berbasis komunitas, bukan semata-mata melalui retailer konvensional. Strategi ini memungkinkan brand memiliki hubungan langsung dengan konsumen di berbagai negara — dan memperoleh umpan balik pasar secara real-time. Di era di mana pasar modest fashion global diproyeksikan tumbuh signifikan seiring pertambahan populasi Muslim muda di berbagai belahan dunia, posisi Buttonscarves sebagai brand premium Indonesia memiliki potensi ekspansi yang masih sangat luas.
Baca juga: Strategi Ekspor UMKM: Tips Mengelola Risiko dan Logistik Menuju Pasar Global
4. Irene Ursula dan Somethinc: Skincare Digital-First yang Menyeberangi Perbatasan
Jika tiga nama sebelumnya membangun brand dalam hitungan puluhan tahun, kisah Irene Ursula menggambarkan bagaimana kecepatan ekosistem digital mengubah kurva waktu ekspansi brand secara fundamental. Ia mendirikan platform e-commerce kecantikan BeautyHaul pada 2014, kemudian pada Mei 2019 meluncurkan brand produk sendiri: Somethinc. Tidak sampai lima tahun sejak peluncuran, Somethinc sudah hadir di Malaysia dan Singapura, dengan rencana ekspansi ke Brunei Darussalam.
Di bawah payung BeautyHaul yang sama, Irene juga mengoperasikan Dear Me Beauty — brand yang menembus pasar China melalui Tmall, marketplace premium China yang memiliki standar seleksi ketat bagi brand asing. Kehadiran di Tmall bukan sekadar pencapaian distribusi; ini adalah validasi dari algoritma kurasi konsumen China yang terkenal kritis.
Kunci strategi Irene berbeda dari generasi sebelumnya: ia memulai sebagai platform digital sebelum menjadi brand. BeautyHaul memberinya data konsumen, pemahaman tren, dan kepercayaan komunitas kecantikan Indonesia selama bertahun-tahun sebelum ia meluncurkan produknya sendiri. Somethinc juga memanfaatkan bahan aktif yang pada saat peluncurannya belum banyak tersedia dari brand lokal, menciptakan diferensiasi berbasis formulasi, bukan hanya kemasan.
Berdasarkan data yang tersedia, Somethinc mencatatkan penjualan sebesar US$3 juta atau setara Rp46 miliar hingga akhir 2023 — angka yang signifikan untuk brand skincare yang belum genap lima tahun. Irene juga meraih Rekor MURI dalam kategori kosmetik, salah satu indikator penetrasi pasar domestik yang kuat sebagai fondasi ekspansi.
5. Margareta Astaman dan Java Fresh: Membangun Brand Agribisnis dari Petani Mikro ke Pasar Dunia
Di antara lima nama dalam artikel ini, Margareta Astaman mungkin yang paling jarang disebut di media mainstream — namun pendekatan bisnisnya adalah yang paling relevan bagi pelaku UMKM berbasis pertanian. Java Fresh, yang ia dirikan pada 2014, bukan sekadar perusahaan eksportir buah tropis. Ia adalah wirausaha sosial yang secara sistematis membangun rantai pasok ekspor yang menghubungkan petani mikro Indonesia — dengan rata-rata lahan di bawah 0,5 hektar — langsung ke pasar internasional.
Margareta menyadari bahwa hambatan utama petani lokal bukan hanya akses pasar, melainkan ketidakmampuan memenuhi standar konsistensi kualitas yang disyaratkan importir internasional. Java Fresh menjawab ini dengan program pelatihan terstruktur dalam sorting, grading, dan handling sesuai standar ekspor — termasuk pelatihan khusus untuk perempuan petani yang sebelumnya memiliki akses terbatas terhadap pengetahuan ekspor dan pemahaman finansial.
Pada 2025, Java Fresh terpilih sebagai penerima dana hibah DBS Foundation Grant Program, yang memperkuat kapasitas riset dan pengembangan (R&D) mereka dalam menghadapi gangguan iklim terhadap rantai pasok pertanian. Penghargaan ini bukan hanya pengakuan komersial, melainkan validasi bahwa model bisnis yang menggabungkan ekspor dan pemberdayaan petani bisa menarik ekosistem pendanaan global.
Indonesia adalah produsen buah terbesar keenam di dunia berdasarkan data 2023 dengan total produksi 28,24 juta ton. Namun sebagian besar ekspor masih berbentuk komoditas tanpa brand, bukan produk bermerek dengan nilai tambah. Di sinilah Java Fresh melakukan diferensiasi: mengubah buah tropis dari sekadar komoditas menjadi produk terstandarisasi dan terbranding yang bisa bersaing di pasar internasional premium.
Baca juga: Incoterms EXW FOB CIF untuk Ekspor Pemula: Panduan Memilih agar Bisnis Terlindungi
Inpirasi untuk Wanita Indonesia
Lima tokoh pengusaha inspiratif dalam artikel ini beroperasi di sektor yang sangat berbeda — dari farmasi hingga agribisnis, dari fashion hingga teknologi digital. Namun mereka berbagi satu kesamaan mendasar: mereka tidak menunggu kondisi 'siap sempurna' sebelum melangkah. Mereka memulai dari skala kecil, memilih satu proposisi nilai yang sangat spesifik, dan membangun standar yang diperlukan untuk masuk ke pasar yang mereka bidik.
Pasar kosmetik halal global terus tumbuh, modest fashion Indonesia semakin mendapat pengakuan internasional, produk agribisnis tropis Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang nyata, dan ekosistem digital mempersingkat jarak antara produsen lokal dan konsumen global secara dramatis. Semua kondisi ini sudah ada.
Yang masih menjadi pertanyaan terbuka adalah: apakah wirausaha perempuan Indonesia — terutama di skala UMKM — sudah mendapatkan ekosistem pendukung yang sepadan dengan potensi yang mereka miliki? Akses pembiayaan ekspor, program sertifikasi berbiaya terjangkau, dan mentorship dari pelaku yang sudah berhasil adalah tiga komponen yang laporan KATALIS dan Kementerian Perdagangan sendiri sudah identifikasi sebagai gap yang perlu ditutup. Menutup gap itu bukan hanya tugas kebijakan, melainkan juga tanggung jawab kolektif komunitas wirausaha — termasuk kamu yang membaca artikel ini. Sepakat?
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Kamu juga bisa mendukung keberlanjutan konten edukatif di website kami melalui fitur dukung UKM Indonesia di bawah artikel ini.
Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan komunitas UMKM—yuk daftar jadi anggota melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!
Sumber foto: https://www.idntimes.com/
Dukung Misi Edukasi Kami
Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.









