
Sahabat Wirausaha, pernah kepikiran nggak kalau daun singkong—yang selama ini biasanya cuma jadi pakan ternak atau bahkan berakhir di tempat sampah—bisa disulap jadi camilan sehat mirip nori rumput laut? Itulah yang dilakukan Ibu Nurlaila, ketua kelompok KUB Sari Rezeki dari Dusun Padudan, Desa Banjarsari, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang.
Ceritanya bermula dari obrolan sederhana di depan rumah. Sekelompok ibu yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) ini punya satu keresahan yang sama: ingin punya penghasilan sendiri, tapi bingung harus mulai dari mana. Untungnya, jawabannya ternyata ada di halaman belakang rumah mereka sendiri—singkong.
Dari Obrolan Ibu-Ibu KWT ke Ide Olahan Singkong
Di Windusari, singkong memang melimpah. Masalahnya, singkong-singkong itu selama ini hanya dijual mentah dengan harga yang jauh dari layak, berkisar Rp1.000 hingga Rp1.500 per kilogram di tingkat tengkulak. Petani nyaris tidak mendapat nilai tambah apa pun dari hasil kebun mereka sendiri, padahal proses menanam dan merawatnya butuh waktu bertahun-tahun.

Melihat kondisi ini, Ibu Nurlaila dan kelompoknya berinisiatif mengolah singkong menjadi produk yang lebih bernilai. Menariknya, mereka justru memilih membeli singkong langsung dari petani dengan harga Rp3.000 hingga Rp4.000 per kilogram—jauh di atas harga pasar biasa. Sekilas ini terdengar seperti keputusan yang kurang efisien untuk kelompok usaha dengan modal terbatas. Tapi di titik inilah cerita ini menjadi menarik: kesejahteraan petani di sekitar mereka dipandang sebagai bagian dari keberlanjutan usaha, bukan sekadar biaya produksi yang harus ditekan serendah mungkin.
Trial and Error: Dari Tutorial YouTube ke Resep Paten
Perjalanan Ibu Nurlaila tidak dimulai dengan resep sempurna. Ia mengaku belajar membuat keripik singkong presto secara otodidak lewat YouTube, lalu mencoba berulang kali sampai menemukan racikan yang pas—mulai dari teknik pengupasan, cara menghilangkan lendir di kulit singkong, hingga takaran waktu perebusan (presto) sebelum digoreng.

Hasilnya, keripik singkong presto buatan KUB Sari Rezeki punya karakter berbeda dari keripik singkong kebanyakan di pasaran:
- Bentuk persegi panjang, bukan bulat seperti keripik singkong pada umumnya.
- Tekstur lebih renyah berkat teknik presto sebelum digoreng.
- Rasa original tanpa tambahan perisa berlebihan, sehingga cita rasa asli singkong tetap terjaga.
Poin-poin ini bukan sekadar detail teknis. Perbedaan bentuk dan tekstur inilah yang membuat produk mereka mudah dikenali sekaligus punya nilai jual berbeda dibanding keripik singkong yang sudah lebih dulu membanjiri pasar.
Nori Daun Singkong: Ketika Limbah Berubah Jadi Peluang
Bagian paling unik dari cerita ini justru lahir dari sesuatu yang biasanya dianggap sisa produksi. Karena Ibu Nurlaila membeli singkong langsung dari kebun—satu pohon lengkap dengan daunnya—otomatis ada banyak daun singkong yang tidak terpakai.
Dari situ muncul ide: kenapa tidak membuat nori dari daun singkong? Ia melihat anak-anak di sekitarnya menyukai nori dari rumput laut, sementara daun singkong justru sering diabaikan padahal jumlahnya melimpah.

Prosesnya tidak sederhana. Daun singkong mengandung sedikit racun sianida yang perlu dinetralkan dengan cara direbus menggunakan campuran garam dan baking soda—selain menghilangkan racun, cara ini juga membantu mempertahankan warna hijau alami daun. Endapan tapioka dari air cucian singkong yang selama ini terbuang pun dimanfaatkan sebagai bahan perekat alami, sehingga tekstur nori bisa menyerupai nori rumput laut yang dijual di pasaran. Prosesnya berlanjut dengan penghalusan, pencetakan tipis, pengukusan singkat, penjemuran, hingga penggorengan sebelum dikemas.
Dua produk ini pada akhirnya saling melengkapi: satu diolah dari umbi singkong, satu lagi dari daun yang sebelumnya dianggap limbah. Keduanya lahir dari proses coba-gagal yang panjang, bukan dari resep yang langsung jadi di percobaan pertama.
Baca juga: Kisah Inspiratif UMKM: Gagal di 10 Produk, Nia Temukan Jalannya Lewat Garam Infused Salty Ship
Titik Balik lewat Program Desa Emas
Sejak 2025, KUB Sari Rezeki mendapat pendampingan dari Inotek Foundation bersama Yayasan Indonesia Setara melalui Program Desa Emas, sebuah program yang turut melibatkan Sandiaga Uno dalam mendorong penguatan UMKM berbasis desa. Lewat program ini, Ibu Nurlaila dan kelompoknya mendapat fasilitas alat produksi, pendampingan manajemen keuangan, pelatihan produksi, hingga bantuan pengemasan yang jauh lebih layak dibanding kemasan plastik sederhana yang mereka pakai sebelumnya.
Dampaknya terasa nyata. Mereka berkesempatan mengikuti pameran di Jakarta dan melakukan pitching langsung di hadapan Bapak Sandiaga Uno. Kepercayaan diri yang tumbuh dari proses ini membuat produk mereka mulai diterima di berbagai toko, sekaligus mempercepat perputaran modal untuk melanjutkan produksi. Puncaknya, pada awal 2026 kelompok ini menerima tawaran ekspor ke Brunei Darussalam dan telah menandatangani nota kesepahaman (MoU), hasil kolaborasi antara Inotek Foundation dan Dinas Perdagangan Kabupaten Magelang.
Perjalanan dari dapur rumah ke meja negosiasi ekspor ini menunjukkan satu hal penting: pendampingan yang tepat sasaran bisa mempercepat lompatan kelas usaha, asal fondasi produk dan kelompoknya sudah cukup kuat untuk menampung peluang tersebut.
Tantangan yang Belum Sepenuhnya Selesai
Meski sudah mencatat sejumlah pencapaian, bukan berarti perjalanan KUB Sari Rezeki bebas hambatan. Ada beberapa tantangan yang masih perlu dikelola dengan hati-hati:
-
Ketergantungan pada usia panen singkong. Jika singkong dipanen lebih dari satu tahun, teksturnya cenderung mengeras dan kurang layak diolah menjadi keripik berkualitas.
-
Tidak semua jenis daun singkong cocok untuk nori. Kelompok ini secara spesifik hanya menggunakan daun dari batang singkong berwarna hijau, bukan batang merah, karena perbedaan karakter daun memengaruhi hasil akhir produk.
-
Skala produksi yang masih terbatas. Sebagai kelompok usaha rumahan, kapasitas produksi mereka belum sebesar industri olahan singkong berskala pabrik, sehingga pemenuhan permintaan ekspor tetap perlu direncanakan bertahap.
Ketiga hal ini penting dicatat agar cerita keberhasilan ini tidak dibaca sebagai jalan yang mulus. Justru di titik-titik seperti inilah pembinaan lanjutan dan kedisiplinan produksi akan menentukan apakah momentum ekspor ke Brunei bisa berkelanjutan atau berhenti di satu pengiriman saja.
Baca juga:
Ketika Limbah Tak Lagi Jadi Soal, tapi Peluang
Kisah Ibu Nurlaila dan KUB Sari Rezeki memperlihatkan bahwa inovasi tidak selalu lahir dari modal besar atau teknologi canggih. Kadang, ia lahir dari kejelian melihat apa yang selama ini dianggap sisa—daun singkong yang biasa dibuang, air cucian yang biasa mengalir begitu saja—lalu mengubahnya menjadi produk yang bahkan sanggup menembus pasar luar negeri.
Bagi Sahabat Wirausaha yang berada di daerah dengan hasil bumi melimpah tapi bernilai jual rendah, cerita ini bisa jadi bahan refleksi: bahan baku yang murah bukan berarti tidak berharga, ia hanya belum menemukan bentuk olahannya yang tepat. Yang dibutuhkan sering kali bukan modal besar di awal, melainkan keberanian untuk mencoba, gagal, dan mencoba lagi.
Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin belajar langsung proses pembuatan keripik singkong presto maupun nori daun singkong, KUB Sari Rezeki membuka pintu setiap Senin–Sabtu melalui:
- WhatsApp: 0838-3810-9809
- Instagram: KUB Sari Rezeki, Yayasan Indonesia Setara, dan Inotek Foundation
Referensi: Video wawancara Ibu Nurlaila, ketua KUB Sari Rejeki — YouTube: https://youtu.be/QG_4fjhIO1U
Ilmu dan informasi yang bermanfaat layak untuk terus bergerak. Yuk, bantu kami sebarkan kepada sesama pelaku usaha yang mungkin sedang membutuhkannya.
Kamu juga bisa berkontribusi lebih jauh dengan mendukung keberlanjutan konten edukatif ini melalui fitur Dukung Kami di bawah artikel ini.
Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin tumbuh dalam komunitas yang saling menguatkan, bergabunglah di ukmindonesia.id/registrasi. Tempat para pelaku UMKM belajar bersama dan naik kelas!
Dukung Misi Edukasi Kami
Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.









