![]()
Sahabat Wirausaha, ada satu bahan yang oleh nelayan Situbondo dan Tegal selama ini hanya dianggap sisa hasil tangkapan — kulit kerang capiz, atau dalam istilah ilmiahnya Placuna Placenta. Tidak banyak yang tahu bahwa kerang jenis ini hanya bisa ditemukan di perairan Indonesia dan Filipina.
Nanik Salvia Sasatyo adalah orang yang melihat peluang di balik kulit kerang yang terbuang itu. Sebelas tahun lalu, dari kekayaan bahan alami Indonesia yang melimpah dan belum banyak dilirik, ia mendirikan La Vida HOME Indonesia — sebuah brand kerajinan yang kini produknya sudah dikenal di pasar internasional.
Sepuluh Tahun Belajar dari Nol Sebelum Berani Memulai
Perjalanan Nanik tidak dimulai dari modal besar atau koneksi instan. Sebelum mendirikan La Vida HOME, ia menghabiskan sepuluh tahun bekerja di sebuah trading company di bidang craft. Di sanalah ia belajar secara otodidak — dari yang sama sekali tidak mengerti bahan baku natural fiber, hingga benar-benar memahami seluk-beluknya, karena tuntutan pekerjaan dan permintaan ketat dari para buyer internasional.
Pengalaman sepuluh tahun itu menjadi fondasi penting ketika pada 14 April 2014, Nanik akhirnya memutuskan melangkah sendiri. Modal awal sebesar Rp40 juta, murni dari tabungan pribadi, ia gunakan untuk membangun fondasi La Vida HOME — sebuah brand yang menyasar pasar lokal, khususnya warga negara asing yang tinggal menetap di Jakarta, bukan sekadar wisatawan yang datang dan pergi.
Ketika 80% Pelanggan Tiba-Tiba Pulang Kampung
Bisnis yang dibangun dengan hati-hati itu diuji keras ketika pandemi melanda dunia di tahun 2020.
Masalahnya spesifik dan berat: 70-80% pelanggan La Vida HOME saat itu adalah warga negara asing yang tinggal di Jakarta. Begitu pandemi merebak, sebagian besar dari mereka memilih kembali ke negara asalnya. Pasar yang selama bertahun-tahun menjadi tulang punggung bisnis itu lenyap nyaris dalam semalam — sementara di sisi lain, karyawan tetap harus digaji setiap bulan.
Di titik krisis itulah Nanik mengambil keputusan yang mengubah arah bisnisnya. Alih-alih menunggu pelanggan lama kembali, ia dan timnya mencari tahu produk apa yang justru disukai pasar lokal Indonesia. Jawabannya: Indoor Pot — pot kerajinan untuk tanaman dalam ruangan, dibuat dari bahan yang sama, kulit kerang capiz.
Keputusan itu terbukti tepat. Produk Indoor Pot dari kulit kerang berhasil diterima dengan baik oleh pasar domestik, membuka jalan bagi La Vida HOME untuk bertahan melewati masa tersulit dalam sejarah bisnisnya — sekaligus mengajarkan pelajaran penting: membaca pasar dan beradaptasi cepat adalah keterampilan yang tidak bisa ditawar dalam dunia usaha.
Dari Tangan Ibu-Ibu Desa, ke Etalase Lintas Benua
Yang membuat La Vida HOME berbeda bukan hanya bahan bakunya yang unik, tapi juga siapa yang mengerjakannya.
Proses produksi La Vida HOME dijalankan secara berkelompok dan terstruktur, melibatkan warga di desa-desa terpencil — sebagian besar perempuan. Tahapannya dibagi dengan jelas: kelompok ibu-ibu pertama bertugas menempelkan kulit kerang ke produk, dilakukan dua kali pengerjaan untuk tiap produknya. Setelah ditempel, produk diteruskan ke kelompok ibu-ibu lain untuk proses pengamplasan. Tahap akhir, pelapisan resin, dikerjakan oleh kelompok bapak-bapak.
![]()
Sistem kerja berkelompok ini bukan sekadar pembagian tugas — ia menjadi jalur pemberdayaan ekonomi bagi banyak keluarga di Situbondo dan Tegal, daerah pemasok utama kulit kerang capiz untuk La Vida HOME.
Dari tangan-tangan inilah, produk seperti placemat, coaster, salad server, hingga indoor pot bertransformasi menjadi karya yang menembus pasar internasional. Buyer La Vida HOME kini mencakup Amerika Serikat, Cina serta UK. Di dalam negeri, produk mereka juga hadir di Ritz Carlton, Pacific Place Jakarta dan dipasarkan melalui kemitraan dengan PT Sarinah.
Baca juga: Kisah Inspiratif UMKM: Modal Rp100 Ribu, 10 Ibu Rumah Tangga Ini Sekarang Produksi 600 Botol Sehari
Kepercayaan yang Dibangun Lewat Kualitas, Bukan Iklan
Bagi Nanik, kunci pertumbuhan La Vida HOME bukan satu strategi tunggal, melainkan kombinasi: inovasi produk yang multifungsi dan berbeda dari kompetitor, pemanfaatan media sosial secara konsisten untuk promosi sekaligus transaksi, partisipasi aktif dalam berbagai pameran dagang, serta — yang menurutnya paling sering diremehkan — membangun komunitas sebagai jalur pemasaran yang efektif dan berkelanjutan.
![]()
Kepercayaan itu juga tercermin dari respons pelanggan internasional mereka. Salah satu buyer yang menerima kiriman produk pernah menuliskan kekagumannya begitu barang tiba dalam kondisi sempurna, bahkan langsung tertarik memesan koleksi lainnya. Pelanggan lain yang menerima kiriman selimut tenun dari La Vida HOME menyampaikan rasa bahagianya melihat hasil produk yang indah dan tidak sabar menempatkannya di ruangan mereka sendiri.
Kerja konsisten ini juga membuahkan pengakuan formal. Di tahun 2024, La Vida HOME meraih Inacraft Awards dan WCC Award of Excellence for Handicrafts dari World Crafts Council — penghargaan internasional yang mengukuhkan posisi mereka di industri kerajinan tangan dunia. Jenama ini juga berpartisipasi dalam pameran dagang bergengsi seperti NY NOW di Amerika Serikat dan Find Design Asia di Singapura.
Mencari Mitra yang Sevisi, Tantangan yang Tak Pernah Selesai
Di balik pencapaiannya, Nanik tidak menutupi bahwa membangun bisnis yang berdampak bukan perkara mudah. Menurutnya, tantangan terbesar yang terus berulang adalah mencari mitra yang benar-benar selaras visi dan misi — terlebih ketika kerja sama itu diharapkan memberi dampak baik bagi lingkungan maupun masyarakat sekitar. Tanpa usaha maksimal, kecocokan semacam itu sulit ditemukan.
Ia juga menekankan bahwa membaca pasar dan menyesuaikan produk dengan selera konsumen adalah keterampilan yang harus terus diasah, bukan sekali dipelajari lalu selesai. Sebagai pemilik usaha, ia meyakini bahwa upgrade diri yang konsisten — termasuk mengikuti perkembangan teknologi — adalah syarat mutlak agar perusahaan tetap relevan seiring zaman yang terus berubah.
Baca juga: Kisah Inspiratif UMKM: Gagal di 10 Produk, Nia Temukan Jalannya Lewat Garam Infused Salty Ship
Mimpi yang Belum Selesai: Memberi Lebih Banyak Kepada yang Lain
Ditanya soal target tiga sampai lima tahun ke depan, jawaban Nanik tidak melulu soal ekspansi bisnis. Ia ingin La Vida HOME bisa masuk pasar internasional yang lebih luas lagi — menjangkau lebih banyak negara di lima benua yang sudah mereka rambah. Namun di sisi lain, ia juga punya mimpi yang lebih personal: ingin terus berbagi pengalaman dan ilmu yang dimilikinya kepada pelaku UMKM lain yang ingin berkembang dan maju.
Dampak usaha ini sudah ia rasakan langsung dalam keluarganya sendiri — salah satunya, ia kini bisa menyekolahkan keponakannya dengan lebih baik. Namun bagi Nanik, pesan yang paling ingin ia sampaikan kepada sesama pelaku usaha jauh lebih sederhana dan personal: belajar dan terus belajar, tanpa mengenal lelah maupun usia.
Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin melihat koleksi produk La Vida HOME atau menjajaki peluang kerja sama, kamu bisa terhubung langsung melalui:
- WhatsApp Business: wa.me/c/6282122101390
- Website: www.lavidaindonesia.com
- Instagram: @lavidaindonesia
Kisah Nanik mengingatkan kita bahwa nilai sebuah bahan tidak ditentukan oleh asalnya sebagai limbah, melainkan oleh tangan-tangan yang mau melihatnya secara berbeda — dan keberanian untuk terus belajar, bahkan setelah satu dekade pengalaman sekalipun terasa belum cukup.
Semoga bermanfaat!
Nanik Salvia Sasatyo adalah salah satu Member Utama UKMIndonesia.id — dan kisahnya adalah salah satu alasan mengapa komunitas ini ada: untuk memastikan perjalanan seperti milik Nanik tidak berhenti sebagai cerita pribadi, melainkan menjadi inspirasi bagi ribuan wirausahawan lain yang sedang berjuang di tahap yang sama.
Ilmu dan informasi yang bermanfaat layak untuk terus bergerak. Yuk, bantu kami sebarkan kepada sesama pelaku usaha yang mungkin sedang membutuhkannya.
Kamu juga bisa berkontribusi lebih jauh dengan mendukung keberlanjutan konten edukatif ini melalui fitur Dukung Kami di bawah artikel ini.
Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin tumbuh dalam komunitas yang saling menguatkan, bergabunglah di ukmindonesia.id/registrasi. Tempat para pelaku UMKM belajar bersama dan naik kelas!
Dukung Misi Edukasi Kami
Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.








