
Sahabat Wirausaha, pernah kamu membayangkan bagaimana rasanya melihat hasil panen sendiri dihargai murah bertahun-tahun? Itulah yang dialami sebagian besar petani di Desa Punggelan, Kabupaten Banjarnegara. Singkong, komoditas yang tahan terhadap kondisi lahan minim air dan jadi andalan petani setempat, sering kali hanya dihargai sekitar Rp500 per kilogram saat musim panen tiba. Harga yang jauh dari layak ini menjadi keprihatinan Johan Irawan, warga sekaligus guru SMK Darunnajah Banjarmangu, yang akhirnya mendorongnya mencari cara agar singkong punya nilai jual lebih tinggi.
Dari keprihatinan itu lahirlah gula singkong cair — inovasi yang mengubah tepung singkong atau pati menjadi pemanis alami dengan tingkat kemanisan dua kali lipat gula pasir biasa. Prosesnya tidak instan. Johan mengalami kegagalan bertahun-tahun sebelum akhirnya berhasil menyempurnakan formulanya pada 2020. Enam tahun kemudian, gula singkong cair racikannya sudah dipasarkan ke berbagai penjuru Indonesia, dari Kalimantan Timur hingga Yogyakarta. Kisah ini bukan sekadar cerita tentang gula, melainkan tentang bagaimana bahan baku yang dianggap remeh bisa naik kelas lewat proses dan ketekunan.
Apa Kata Angka soal Gula Singkong Cair
Sahabat Wirausaha, klaim "lebih sehat" atau "lebih manis" akan lebih meyakinkan kalau kita lihat angkanya. Berdasarkan penjelasan Johan, gula singkong cair buatannya memiliki tingkat kemanisan sekitar 75,6 brix, atau kurang lebih dua kali lipat dibandingkan gula pasir konvensional. Artinya, untuk mencapai rasa manis yang sama, jumlah gula singkong cair yang dibutuhkan bisa lebih sedikit dibanding gula biasa.
Dari sisi nilai gizi, hasil uji yang pernah dipublikasikan menunjukkan bahwa dalam takaran saji 15 gram, gula singkong cair ini mengandung energi total sekitar 50 kilokalori, dengan kandungan lemak dan protein nol gram, karbohidrat sekitar 12 gram termasuk 6 gram gula, serta natrium sekitar 4 miligram. Angka-angka ini membantu menjelaskan mengapa produk tersebut sering disebut sebagai alternatif dengan kalori relatif rendah dibanding gula pasir pada takaran yang setara.
Meski begitu, Sahabat Wirausaha perlu membaca klaim "lebih sehat" ini secara proporsional. Kementerian Kesehatan RI menganjurkan batas konsumsi gula harian sekitar 50 gram atau setara empat sendok makan, dan konsumsi gula berlebihan tetap berisiko terhadap obesitas maupun gangguan metabolik, apa pun sumbernya. Dengan kata lain, gula singkong cair adalah alternatif pemanis dari bahan lokal, bukan produk yang membebaskan konsumsi manis dari batas wajar.
Baca juga: Kisah Inspiratif UMKM: Kelompok Ibu Rumah Tangga di Magelang Olah Singkong Bernilai Ekspor
Likuifikasi, Sakarifikasi, dan Perjalanan Enam Tahun
Bagian menarik dari kisah ini adalah bagaimana proses produksinya berjalan. Bahan utama gula singkong cair adalah tapioka yang diekstrak dari singkong. Tapioka ini kemudian melalui dua tahap utama:
-
Likuifikasi, yaitu proses memecah pati menjadi bentuk cair menggunakan enzim alfa amilase, sehingga adonan tidak menggumpal menjadi bubur saat direbus.
-
Sakarifikasi, yaitu tahap mengubah dekstrin menjadi gula sederhana atau glukosa menggunakan enzim glukoamilase, di mana kandungan fruktosa mulai terbentuk dan memberi rasa manis yang khas.
Setelah dua tahap ini, cairan direbus kembali dengan tambahan arang aktif untuk memisahkan ion-ion yang menggumpal agar proses penyaringan lebih mudah, lalu dipekatkan hingga mencapai kadar kemanisan sekitar 75–76 brix.

Perjalanan bisnis Johan juga menunjukkan dinamika skala usaha yang realistis untuk dipelajari. Berdasarkan laporan pada 2022, produksi gula singkong cair skala rumah tangga ini sempat mencapai sekitar 20 ton per bulan, dipasarkan secara business-to-business ke produsen kue dan yoghurt di Wonogiri, Sragen, Salatiga, Cilacap, hingga Depok, dengan beberapa merek dagang seperti Manes, Gutela, Garva, dan Fruktela. Sementara itu, berdasarkan laporan terbaru pada April 2026, Johan menyebut mampu memproduksi 3 hingga 4 ton produk ini per bulan untuk memenuhi pesanan dari berbagai daerah, dengan permintaan terbanyak datang dari Tenggarong, Kalimantan Timur, untuk kebutuhan bahan baku sirup. Perbedaan angka produksi di dua periode ini wajar terjadi pada usaha rumahan yang skalanya menyesuaikan siklus permintaan pasar dan kapasitas produksi pada waktu tertentu.
Hilirisasi Bukan Sekadar Istilah
Ada beberapa pelajaran yang bisa kamu ambil dari perjalanan bisnis ini, terutama jika kamu bergerak di sektor pangan olahan atau produk berbasis komoditas lokal.
-
Nilai tambah lahir dari proses, bukan dari bahan baku semata. Singkong yang tadinya hanya dihargai Rp500 per kilogram, setelah diolah menjadi gula cair, memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi. Ini adalah contoh nyata hilirisasi pangan skala mikro yang bisa direplikasi pelaku UMKM lain dengan komoditas lokal masing-masing.
-
Uji laboratorium memperkuat kredibilitas produk. Adanya data nilai gizi yang teruji membuat klaim "rendah kalori" tidak sekadar jargon pemasaran, melainkan punya dasar yang bisa dipertanggungjawabkan ke konsumen dan mitra bisnis.
-
Model B2B bisa jadi pintu masuk pasar yang lebih stabil. Alih-alih langsung menyasar konsumen akhir dalam jumlah besar, menjalin kerja sama dengan produsen kue, yoghurt, atau minuman sirup memberi kepastian permintaan yang lebih terukur bagi usaha skala rumahan.
-
Diversifikasi merek membuka segmen pasar berbeda. Dengan beberapa nama dagang untuk kemasan dan target pasar yang berbeda, satu lini produksi bisa menjangkau lebih banyak jenis pembeli tanpa perlu membangun lini produksi baru dari nol.
Yang Perlu Diwaspadai sebelum Latah Ikut Bikin Gula Alternatif
Sahabat Wirausaha, cerita inspiratif seperti ini tetap perlu dilihat dengan kacamata realistis. Ada beberapa risiko yang layak kamu perhitungkan sebelum tergoda meniru model usaha serupa.
Pertama, konsistensi mutu pada usaha skala rumahan yang naik kelas ke pasar nasional bukan perkara mudah. Fluktuasi volume produksi dari 20 ton menjadi 3–4 ton per bulan pada periode berbeda menunjukkan bahwa kapasitas produksi rumahan rentan berubah mengikuti ketersediaan bahan baku, tenaga kerja, dan permintaan musiman.
Kedua, klaim kesehatan harus disampaikan dengan hati-hati. Gula singkong cair adalah alternatif pemanis, bukan obat atau produk yang otomatis aman dikonsumsi tanpa batas oleh penderita diabetes. Setiap klaim terkait manfaat kesehatan idealnya disertai hasil uji laboratorium resmi dan tetap merujuk pada anjuran tenaga medis, bukan testimoni semata.
Ketiga, aspek legalitas dan sertifikasi produk pangan olahan — seperti izin edar, sertifikasi halal, dan standar keamanan pangan — menjadi syarat penting sebelum produk benar-benar siap bersaing di rak nasional maupun ekspor, sekalipun proses produksinya sudah berjalan bertahun-tahun secara rumahan.
Baca juga: Potensi Cuan dari Bisnis Keripik Singkong, Bisa Dirintis dengan Modal Terbatas
Ketika Bahan Biasa Menemukan Momennya
Kisah gula singkong cair ini mengingatkan kita bahwa nilai sebuah komoditas tidak selalu ditentukan oleh bahan bakunya, melainkan oleh sejauh mana ia diberi kesempatan untuk diproses lebih jauh. Singkong yang dulu dianggap tidak menguntungkan bagi petani, kini menjelma jadi bahan baku produk yang dicari dari Kalimantan hingga Yogyakarta.

Namun perjalanan enam tahun Johan Irawan — dari kegagalan berulang hingga akhirnya menemukan formula yang tepat — juga jadi pengingat bahwa hilirisasi produk lokal bukan jalan pintas. Ia menuntut kesabaran menguji proses, keberanian menghadapi kegagalan, dan kesediaan menjaga mutu ketika permintaan mulai datang dari berbagai daerah.
Bagi Sahabat Wirausaha yang sedang melihat potensi di sekitar tempat tinggal sendiri, pertanyaannya bukan lagi soal ada tidaknya bahan baku lokal yang bisa diolah. Pertanyaannya adalah, seberapa jauh kamu bersedia menguji dan menyempurnakan prosesnya sebelum bahan biasa itu benar-benar menemukan momennya di pasar yang lebih luas?
Ilmu dan informasi yang bermanfaat layak untuk terus bergerak. Yuk, bantu kami sebarkan kepada sesama pelaku usaha yang mungkin sedang membutuhkannya.
Kamu juga bisa berkontribusi lebih jauh dengan mendukung keberlanjutan konten edukatif ini melalui fitur Dukung Kami di bawah artikel ini.
Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin tumbuh dalam komunitas yang saling menguatkan, bergabunglah di ukmindonesia.id/registrasi. Tempat para pelaku UMKM belajar bersama dan naik kelas!
Daftar Referensi
- Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah. (2022). Simaneez Gula Singkong dari Banjarnegara. https://diskop-ukm.jatengprov.go.id/berita/simaneez-gula-singkong-dari-banjarnegara
- Pemerintah Kabupaten Banjarnegara. (2022). Johan Irawan Tekun Kembangkan Gula Ketela Khas Punggelan. https://banjarnegarakab.go.id/2022/04/30/johan-irawan-tekun-kembangkan-gula-ketela-khas-punggelan/
- Pemerintah Kabupaten Banjarnegara. (2026). Lebih Sehat dan Manis, Gula Singkong Cair Asal Punggelan Mulai Diminati Pasar Nasional. https://banjarnegarakab.go.id/2026/04/25/lebih-sehat-dan-manis-gula-singkong-cair-asal-punggelan-mulai-diminati-pasar-nasional/
- Detik Food. Ini Gula Singkong dari Banjarnegara yang Rendah Kalori. https://food.detik.com/berita-boga/d-5559765/ini-gula-singkong-dari-banjarnegara-yang-rendah-kalori
Dukung Misi Edukasi Kami
Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.








