Sahabat Wirausaha, tidak banyak orang yang berani memulai usaha dari titik yang benar-benar nol — tanpa pengalaman memasak, tanpa modal besar, dan tanpa jaringan bisnis yang sudah terbentuk. Tapi Lia Moore bukan orang kebanyakan. Dari dapur rumah dan modal Rp1 juta di tengah pandemi, ia membangun Madam Moore — brand makanan ringan premium yang kini produknya sudah bisa ditemukan di deretan supermarket premium Jakarta.

Kisah Madam Moore bukan tentang keberuntungan. Melainkan tentang seorang ibu yang memilih produktif di tengah kebosanan, tekun melewati enam bulan penolakan tanpa satu pun supermarket yang mau membuka pintu kesempatan, dan bijak ketika usahanya mulai tumbuh — dengan cara yang tidak semua pengusaha bisa lakukan. 


Dari Pegawai Bank yang Tidak Bisa Memasak

Sebelum Madam Moore ada, Lia adalah seorang pegawai bank swasta. Dunia yang jauh dari dapur, jauh dari tepung dan mentega, dan — ia sendiri yang mengakui — ia tidak pandai memasak sama sekali.

Pandemi Covid-19 mengubah rutinitasnya. Tiba-tiba hari-hari terasa lebih panjang, dan Lia yang terbiasa aktif mulai mencari kesibukan yang berarti. Ia mulai belajar memasak — bukan dari kursus formal, melainkan secara mandiri, dengan penuh rasa ingin tahu dan ketekunan yang ia bawa dari dunia kerjanya dulu.

Dalam waktu yang relatif singkat, ia tidak hanya bisa memasak — ia memasak dengan baik. Kebiasaannya berbagi hasil masakan kepada kerabat dan teman-teman di sekitar menjadi cermin pertama: respons positif yang ia terima dari orang-orang terdekat itulah yang meyakinkannya bahwa produknya layak untuk dijual.

Baca juga: Kisah Inspiratif UMKM: Modal Rp7 Juta Bangkrut, Modal Rp2 Juta Malah Tembus Omzet Rp200 Juta — Asep dan Pelajaran dari Yeza Collection


Alur Cerita Rp1 Juta, Lasagna, dan Kompleks Perumahan

Modal awal Madam Moore hanya Rp1 juta — dialokasikan untuk bahan-bahan dasar seperti butter, tepung, keju, dan kemasan. Tidak ada peralatan canggih, tidak ada dapur produksi khusus. Hanya dapur rumah dan dua tangan yang terus berlatih.

Produk pertama Madam Moore bukan kue kering — melainkan makanan Barat seperti lasagna, chicken pie, dan beef Wellington yang ia jual di lingkungan kompleks perumahannya. Respons warga kompleks lebih dari yang ia harapkan. Pesanan datang, nama Madam Moore mulai dikenal dari mulut ke mulut, dan Lia memberanikan diri membuka layanan pesan antar online.

Di sinilah peran keluarga menjadi sangat nyata. 

Putrinya, Angel Moore yang mahir memasak sekaligus cakap memanfaatkan teknologi mulai turun tangan membantu proses produksi sekaligus mendesain logo Madam Moore. Suaminya, yang memiliki naluri promosi yang tajam, membantu merancang kemasan produk agar tampil menarik dan memberikan sentuhan kesan premium. Bukan bisnis yang dibangun sendirian — melainkan proyek keluarga yang dikerjakan dengan kekompakan. Seru kan!

Seiring waktu, Lia mulai menambahkan menu kue kering dan makanan manis lainnya ke dalam lini produk Madam Moore. Konsistensi rasa yang ia jaga membuat pelanggan semakin percaya. Pesanan besar mulai berdatangan, terutama menjelang hari-hari besar. Selama hampir setahun penuh, seluruh proses produksi, pengemasan, hingga pengantaran ia kerjakan sendiri — kewalahan, tapi tidak berhenti.


Enam Bulan Ditolak, Satu Alasan yang Sama

Ketika kapasitas mulai terasa terbatas, Lia memutuskan untuk membawa Madam Moore ke level berikutnya: masuk ke supermarket. Ia mulai mengurus seluruh perizinan yang dibutuhkan — sertifikasi, legalitas usaha, standar produksi — agar Madam Moore siap bersaing di pasar yang lebih luas.

Tapi perjalanan ke rak supermarket tidak semulus yang dibayangkan.

Selama enam bulan, Lia menawarkan produknya ke berbagai supermarket — dan terus ditolak. Ada yang bahkan tidak bersedia untuk bertemu. Ada yang mengundangnya ke tahap meeting, tapi produknya tetap tidak diterima. Alasan yang paling sering ia dengar dari para manajer supermarket itu membekas: kue kering dianggap sudah terlalu pasaran, tidak ada yang baru, tidak menarik untuk ditambahkan ke rak yang sudah penuh dengan produk serupa.

Bagi sebagian orang, enam bulan penolakan adalah sinyal untuk berhenti. Bagi Lia, itu adalah alasan untuk terus datang kembali — dengan produk dan presentasi yang semakin dipoles setiap kalinya.


Ketika Supermarket Premium Akhirnya Membuka Pintu

Ketekunan itu akhirnya menemukan jawabannya. Sebuah supermarket premium menjadi pintu pertama yang terbuka untuk Madam Moore — dengan standar seleksi produk yang ketat, diterimanya produk Madam Moore di sana menjadi bukti bahwa kualitas yang Lia bangun selama ini memang sudah setara standar pasar kelas atas.

Begitu penjualannya tumbuh konsisten, momentum itu membuka jalan ke gerai-gerai premium lainnya. Kini produk Madam Moore sudah bisa ditemukan di berbagai supermarket premium di Jakarta.

Dari kompleks perumahan ke rak supermarket premium — perjalanan yang tidak singkat, tapi nyata.

Baca juga: Kisah Inspiratif UMKM: Bunbueok, Brand Bungeoppang — Bisnis yang Lahir dari Cinta Ibu untuk Sang Anak


Karyawan yang Dipilih dan Diterima dengan Hati

Ketika penjualan mulai melonjak dan Lia tidak lagi mampu menangani segalanya sendiri, ia mulai merekrut karyawan. Yang pertama bergabung adalah asisten rumah tangganya sendiri — yang selama ini sudah ikut membantu proses produksi dan memahami standar Madam Moore dari dalam.

Tapi dalam merekrut karyawan berikutnya, Lia membuat satu keputusan yang tidak semua pengusaha lakukan: ia secara khusus menerima remaja perempuan yang putus sekolah karena keterbatasan ekonomi keluarga. Keempat karyawan Madam Moore saat ini hanya menyelesaikan pendidikan hingga tingkat SD sampai SMP.

Bagi Lia, membesarkan Madam Moore bukan sekadar soal angka penjualan. Ia ingin usahanya memberi dampak nyata bagi perempuan-perempuan muda di sekitarnya yang tidak punya banyak pilihan.

"Kunci utama agar usaha tetap maju adalah saya sebagai pengusaha memiliki hubungan baik dengan karyawan dan juga mereka dengan satu sama lain," ungkap Lia.

Lingkungan kerja yang ia bangun bukan sekadar profesional — ia hangat dan penuh kepercayaan. Setiap tahun, Lia memberikan apresiasi kepada karyawannya — bonus uang atau jalan-jalan bersama ke tempat pilihan mereka sendiri. Sebuah detail kecil yang bercerita banyak tentang bagaimana hubungan di dalam Madam Moore terasa seperti keluarga.


Kualitas Produk yang Berbicara Sendiri

Sebelum produk baru diluncurkan, Lia selalu mengadakan sesi tester — melibatkan keluarga dan karyawannya untuk mencicipi dan memberikan masukan jujur. Proses ini bukan formalitas; ini adalah bagian dari komitmen Madam Moore untuk tidak mengeluarkan produk sebelum rasanya benar-benar memuaskan.

Nama "Madam Moore" sendiri bukan dipilih sembarangan. Kata "Madam" dari bahasa Prancis berarti nyonya — membawa kesan elegan dan berkelas. "Moore" diambil dari nama belakang Lia sendiri. Keduanya digabungkan untuk mencerminkan citra yang premium sekaligus personal: ini bukan sekadar brand, ini adalah identitas sang pendiri yang ia tuangkan ke dalam setiap produk.


Dari Kue Kering ke Snack Tradisional Premium

Pertumbuhan Madam Moore tidak berhenti di kue kering. Tahun lalu, Lia mengambil langkah yang semakin memperluas identitas brand-nya: meluncurkan banana chips dan peyek — dua camilan tradisional Indonesia yang ia angkat ke level premium.

Yang menarik, banana chips Madam Moore menggunakan pisang yang bersumber langsung dari petani pisang lokal di pasar sekitar. Bukan sekadar efisiensi bahan baku — ini adalah keputusan yang disengaja untuk mendukung ekosistem lokal dan menjaga rantai produksi tetap berkelanjutan.

Langkah ini sekaligus memperkuat positioning Madam Moore: bukan hanya brand kue kering premium, melainkan brand yang mengangkat cita rasa tradisional Indonesia dengan kualitas yang bisa bersanding di rak supermarket premium. Kapasitas produksi yang dulu hanya 1-2 loyang kini sudah mencapai 15 loyang — sebuah lompatan yang mencerminkan perjalanan panjang yang sudah Lia tempuh.

Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin mencoba produk Madam Moore atau menjajaki peluang kerja sama, kamu bisa terhubung langsung melalui:

Kisah Lia mengingatkan kita bahwa modal kecil bukan hambatan — ia hanya menentukan dari mana kita mulai, bukan seberapa jauh kita bisa pergi. Dan bahwa ditolak berkali-kali bukan tanda untuk berhenti, melainkan kesempatan untuk datang kembali dengan versi yang lebih baik.

Semoga bermanfaat!

Lia Moore adalah salah satu Member Utama UKMIndonesia.id — dan kisahnya adalah salah satu alasan mengapa komunitas ini ada: untuk memastikan perjalanan seperti milik Lia tidak berhenti sebagai cerita pribadi, melainkan menjadi inspirasi bagi ribuan wirausahawan lain yang sedang berjuang di tahap yang sama.

Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!

Kamu juga bisa mendukung keberlanjutan konten edukatif di website kami melalui fitur Dukung Kami di bawah artikel ini.

Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan komunitas UMKM — yuk daftar jadi anggota melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!

Dukung Misi Edukasi Kami

Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.