Sumber Foto: qhomemart.com

Sahabat Wirausaha,

Kayu gaharu kerap dijuluki sebagai “emas hijau” Indonesia. Julukan ini bukan tanpa alasan. Aromanya yang khas dan kelangkaannya membuat gaharu menjadi komoditas bernilai tinggi di pasar global, terutama untuk industri parfum, wewangian, dan produk aromatik bernilai budaya. Namun, dibalik reputasi mendunia tersebut, realitas bisnis gaharu di Indonesia tidak selalu seindah nilainya.

Indonesia memang dikenal sebagai salah satu sumber gaharu dunia, tetapi tidak semua pelaku usaha di dalam negeri mampu menikmati nilai ekonominya secara optimal. Banyak gaharu masih diperdagangkan sebagai bahan mentah, dengan nilai tambah yang justru dinikmati di luar negeri. Di sinilah peluang bisnis gaharu sesungguhnya berada—bukan sekadar pada kepemilikan sumber daya, melainkan pada strategi pengelolaan, nilai tambah, dan akses pasar.


Mengapa Gaharu Tetap Diburu Pasar Global

Permintaan gaharu di pasar internasional bersifat spesifik dan tidak massal, tetapi stabil. Pasar ini tidak mengejar volume besar, melainkan kualitas aroma, karakter resin, dan konsistensi produk. Gaharu digunakan sebagai bahan baku parfum kelas atas, dupa premium, hingga produk aromatik bernilai spiritual.

Kelangkaan dan proses alami pembentukan resin menjadikan gaharu memiliki nilai yang sulit digantikan. Namun, pasar global tidak hanya membeli “kayu mahal”. Mereka membeli kejelasan asal-usul, kualitas yang terstandar, dan kepercayaan jangka panjang.

Di pasar global, gaharu tidak diperlakukan sebagai kayu mentah, melainkan sebagai bahan bernilai tinggi untuk industri parfum premium, produk aromatik, wellness, hingga kebutuhan budaya dan spiritual. Minyak gaharu (oud) menjadi komponen penting dalam parfum kelas atas karena karakter aromanya yang khas dan sulit digantikan bahan sintetis. Selain itu, gaharu juga digunakan dalam bentuk dupa, produk meditasi, serta kerajinan bernilai seni untuk segmen kolektor dan pasar hadiah eksklusif. Karena digunakan pada industri-industri dengan daya beli tinggi dan orientasi kualitas, permintaan gaharu cenderung stabil dan tidak bergantung pada tren musiman. Inilah yang membuat gaharu menarik sebagai peluang bisnis—nilainya tumbuh dari fungsi, kualitas, dan eksklusivitas, bukan dari volume semata.

Baca juga: Dari Serpihan Kayu Menjadi Nilai Rupiah: Peluang Emas dari Kerajinan Limbah Kayu


Indonesia di Persimpangan Peluang dan Tantangan

Sejumlah laporan media dan kajian menunjukkan bahwa Indonesia berada di posisi strategis dalam bisnis gaharu, tetapi masih menghadapi tantangan struktural. Rantai pasok yang panjang, keterbatasan pengolahan di tingkat pelaku usaha, serta minimnya akses langsung ke pembeli global membuat nilai ekonomi gaharu belum sepenuhnya dinikmati di dalam negeri.

Di sisi lain, muncul pelaku usaha Indonesia yang berhasil menembus pasar internasional dengan pendekatan berbeda. Dilansir dari Bisnis.com dan Jatimsmart.id, pelaku usaha tersebut tidak menjual gaharu sebagai bahan mentah, melainkan mengembangkan produk olahan dan kerajinan bernilai tambah dengan dukungan legalitas serta konsistensi kualitas. Pola ini menunjukkan bahwa peluang bisnis gaharu terbuka bagi pelaku usaha yang mampu mengelola nilai produk, bukan sekadar mengandalkan bahan baku.


Peluang Bisnis Gaharu Tidak Selalu Dimulai dari Segmen Premium

Kesalahpahaman umum dalam bisnis gaharu adalah anggapan bahwa peluang hanya ada pada produk kelas atas. Faktanya, berbagai inisiatif menunjukkan bahwa produk turunan—bahkan limbah gaharu—dapat diolah menjadi sumber pendapatan baru.

Pengolahan limbah gaharu menjadi produk bernilai ekonomi tidak hanya memperluas peluang usaha, tetapi juga mendukung prinsip keberlanjutan. Bagi UMKM, pendekatan ini menjadi pintu masuk yang lebih realistis tanpa harus langsung bersaing di segmen premium yang sangat ketat.

Baca juga: Negara Tujuan Ekspor Kayu Manis: Mengupas Tuntas Data


Legalitas dan Kepercayaan sebagai Fondasi Pasar Global

Bisnis gaharu tidak dapat dilepaskan dari aspek legalitas. Sebagai komoditas yang diawasi ketat, pasar global menuntut kepastian dokumen, asal-usul produk, serta kepatuhan terhadap regulasi perdagangan internasional. Pelaku usaha yang mengabaikan aspek ini akan sulit bertahan, meskipun produknya berkualitas.

Sebaliknya, pelaku usaha yang menjadikan legalitas sebagai fondasi justru memiliki posisi tawar yang lebih kuat. Transparansi proses dan kepatuhan aturan membangun kepercayaan, yang menjadi mata uang utama dalam bisnis gaharu global.


Digitalisasi sebagai Pengungkit Peluang Usaha

Di era digital, akses pasar global tidak lagi eksklusif bagi perusahaan besar. Pelaku usaha gaharu dari Indonesia mulai memanfaatkan platform digital untuk memperkenalkan produk, proses, dan nilai usaha mereka. Website, katalog digital, dan komunikasi daring menjadi sarana penting untuk membangun reputasi.

Digitalisasi juga memungkinkan pelaku usaha mengurangi ketergantungan pada perantara, sehingga nilai tambah dapat dinikmati lebih optimal. Namun, kehadiran digital harus dibarengi konsistensi, kejujuran, dan profesionalisme agar peluang pasar benar-benar dapat dimanfaatkan.

Baca juga: Strategi Mengembangkan Bisnis Arang Batok Kelapa agar Tumbuh Kompetitif di Era Digital


Risiko dan Pelajaran Penting

Meski peluangnya besar, bisnis gaharu bukan tanpa risiko. Fluktuasi kualitas, proses yang panjang, serta perubahan kebijakan menuntut kesiapan mental dan strategi matang. Banyak pelaku usaha gagal bukan karena produknya buruk, tetapi karena terburu-buru masuk pasar tanpa fondasi yang kuat.

Pelaku usaha yang bertahan justru mereka yang sabar membangun reputasi, menjaga kualitas, dan memahami bahwa bisnis gaharu adalah maraton, bukan sprint.


Apa yang Perlu Dipahami UMKM Sebelum Masuk Bisnis Gaharu

Bagi UMKM, peluang bisnis gaharu tidak selalu berarti terjun langsung ke perdagangan kayu bernilai tinggi. UMKM dapat memulai dari pengolahan produk turunan, kerajinan, atau pemanfaatan limbah gaharu yang memiliki nilai ekonomi. Pendekatan ini menurunkan risiko sekaligus memberi ruang belajar memahami pasar.

UMKM juga perlu menempatkan legalitas sebagai investasi, bukan beban. Memahami dokumen, izin, dan aturan perdagangan sejak awal akan menghindarkan usaha dari masalah di kemudian hari. Digitalisasi sebaiknya dipahami sebagai alat membangun kepercayaan, bukan sekadar promosi. Konsumen global lebih menghargai transparansi proses dan konsistensi kualitas dibanding klaim harga tinggi.

Baca juga: 


Penutup

Peluang bisnis kayu gaharu dari Indonesia yang mampu menembus pasar global bukan sekadar narasi optimistis. Ia adalah peluang nyata yang menuntut strategi, legalitas, dan kesadaran nilai tambah. Gaharu membuktikan bahwa sumber daya lokal dapat menjadi kekuatan ekonomi jika dikelola dengan pendekatan yang tepat.

Bagi pelaku usaha Indonesia, bisnis gaharu bukan hanya soal harga tinggi, tetapi tentang membangun usaha yang berdaya saing, berkelanjutan, dan dipercaya pasar global.

Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!

Follow Instagram @ukmindonesiaid biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!