
Sumber foto: Ilustrasi AI (ChatGPT)
Halo Sahabat Wirausaha,
Gaharu kerap dibicarakan sebagai komoditas bernilai tinggi dengan peluang pasar yang besar. Pada pembahasan sebelumnya, kami sempat mengulas bagaimana kayu gaharu dari Indonesia mampu menarik perhatian pasar global. Namun setelah peluang itu terlihat, muncul pertanyaan yang tak kalah penting di tingkat lapangan: ketika benar-benar berhadapan dengan kayunya, bagaimana cara membaca mutunya, dan kepada siapa seharusnya ia dijual?
Pertanyaan ini penting karena di lapangan masih banyak petani, pemilik pohon, hingga pelaku UMKM yang sudah memegang kayu gaharu, tetapi belum benar-benar memahami apakah kayu tersebut masuk kelas tinggi, menengah, atau rendah—serta ke pasar mana seharusnya ia diarahkan. Akibatnya, peluang sering bocor di titik paling krusial: salah menilai mutu, salah menentukan harga, dan salah memilih target pembeli.
Perlu digaris bawahi sejak awal, artikel ini tidak membahas ekspor secara teknis maupun prosedural. Fokus utama tulisan ini adalah pasar domestik dan rantai pembeli gaharu di Indonesia, karena disinilah sebagian besar pelaku usaha memulai langkahnya. Memahami pasar lokal dengan baik menjadi pondasi penting sebelum melangkah lebih jauh.
Kenapa Grading Gaharu Menentukan Nasib Bisnis
Dalam praktik perdagangan gaharu, harga tidak ditentukan oleh besar kecilnya kayu, melainkan oleh kandungan resin aromatik, karakter aroma, dan konsistensi mutunya. Dua potong kayu yang tampak serupa di mata awam bisa memiliki selisih nilai yang sangat jauh di pasar.
Tanpa pemahaman grading, risikonya nyata. Kayu berkualitas tinggi bisa dilepas terlalu murah, sementara pembeli yang berharap mutu tertentu justru kecewa karena aroma tidak sesuai ekspektasi. Dalam jangka panjang, kesalahan seperti ini merusak kepercayaan dan memutus peluang kerja sama berkelanjutan.
Di titik inilah grading tidak lagi sekadar istilah teknis, melainkan bahasa kepercayaan dalam rantai bisnis gaharu—dari petani, pengepul, pelaku UMKM, hingga industri pengolahan.
Kerangka Mutu: Antara Standar Resmi dan Bahasa Pasar
Secara formal, Indonesia memiliki acuan Standar Nasional Indonesia (SNI) 7631:2011 sebagai rujukan penilaian mutu kayu gaharu. Dalam standar ini, gaharu dikelompokkan ke dalam beberapa sortimen utama, seperti gubal gaharu, kemedangan, dan abu gaharu, dengan parameter penilaian yang mencakup warna, bobot jenis, aroma saat dibakar, kadar resin, serta kondisi serat kayu.
Namun dalam praktik sehari-hari, pelaku pasar sering menggunakan bahasa yang lebih cair, seperti super, tanggung, kacangan, teri, kemedangan, hingga suloan. Meski istilahnya berbeda-beda antar daerah dan pelaku, logikanya tetap sama: semakin padat resin dan semakin kuat serta tahan aroma saat dibakar, semakin tinggi kelas dan nilainya.
Memahami dua dunia ini—standar resmi dan praktik pasar—membantu pelaku UMKM tidak salah bicara ketika berhadapan dengan pembeli dari latar belakang yang berbeda.
Sekilas Acuan Formal Mutu Gaharu di Indonesia
Dalam SNI 7631:2011, penilaian mutu gaharu dilakukan melalui pengujian visual dan sensorik di tempat terang. Penilaian akhir biasanya ditentukan oleh parameter terendah yang ditemukan. Artinya, satu cacat serius dapat menurunkan kelas keseluruhan, meskipun indikator lain terlihat baik.
Secara umum, sortimen gaharu dibagi sebagai berikut:
- Gubal gaharu, berupa potongan kayu relatif besar dengan kandungan resin tinggi. Sortimen ini berada di kelas mutu tertinggi dan sering menjadi incaran industri bernilai tinggi.
- Kemedangan, berupa potongan kecil atau serpihan, dengan mutu menengah hingga tinggi, banyak dimanfaatkan untuk pengolahan lanjutan seperti penyulingan minyak.
- Abu gaharu, berupa serbuk atau sisa halus hasil sortasi, dengan mutu lebih rendah, tetapi tetap memiliki nilai di pasar tertentu.
Standar ini menjadi acuan penting, terutama ketika pelaku usaha mulai menata proses sortasi dan dokumentasi mutu secara lebih rapi.
Cara Praktis Membaca Grading Gaharu bagi UMKM
Bagi banyak pelaku UMKM, tantangan terbesar bukan mencari pembeli, melainkan berani dan mampu menilai mutu kayu gaharu yang dimiliki secara realistis.
Kesalahan pertama yang sering terjadi adalah menilai dari satu indikator saja. Warna gelap atau bobot berat memang bisa menjadi petunjuk awal, tetapi bukan penentu akhir. Dalam praktik perdagangan, aroma tetap menjadi faktor paling krusial. Kayu berwarna gelap belum tentu bernilai tinggi jika aromanya tipis atau cepat menguap.
Kesalahan kedua adalah uji aroma yang terlalu kasar. Membakar potongan besar justru bisa merusak sampel dan menghasilkan aroma yang bias. Pedagang berpengalaman biasanya hanya memanaskan serpihan kecil untuk membaca karakter awal aromanya—apakah lembut, tajam, hangat, atau cepat hilang.
Kesalahan ketiga adalah mengabaikan kondisi fisik kayu. Kayu yang lapuk, retak, atau busuk tetap akan turun nilainya meskipun warna dan aromanya cukup baik. Dalam banyak rujukan teknis, mutu akhir sering ditentukan oleh parameter terlemah.
Pemahaman ini bukan untuk menggantikan penilaian profesional, tetapi membantu UMKM mengetahui posisi produknya saat bernegosiasi dan menentukan segmen pasar yang paling masuk akal.
Pemetaan Segmen Pembeli Gaharu di Indonesia
Setelah memahami mutu, pertanyaan berikutnya adalah: siapa pembelinya dan untuk kebutuhan apa?
Di pasar domestik, pembeli gaharu dapat dipetakan ke beberapa segmen utama. Industri parfum dan kosmetik premium umumnya mencari mutu tinggi dengan konsistensi aroma. Pasar religius dan budaya menyerap mutu menengah hingga tinggi untuk kebutuhan pembakaran ritual. Kolektor dan penghobi mencari potongan unik dengan karakter aroma khas. Sementara segmen kerajinan dan pengolahan massal memanfaatkan kelas menengah hingga bawah, dengan fokus pada efisiensi bahan baku.
Perbedaan kebutuhan inilah yang membuat satu jenis gaharu bisa bernilai sangat berbeda, tergantung ke siapa ia dijual.
Baca juga: Ginger Lily untuk Shampoo Alami: Peluang UMKM di Industri Perawatan Berbasis Tanaman
Kisaran Nilai dan Logika Harga Gaharu di Pasar Domestik
Dalam praktik perdagangan gaharu di Indonesia, pembicaraan soal harga seringkali muncul lebih cepat daripada pembahasan soal mutu. Padahal, harga baru masuk akal jika dibaca bersamaan dengan grade dan segmen pembelinya. Tidak ada satu angka tunggal yang berlaku untuk semua gaharu, namun di lapangan terdapat kisaran nilai yang kerap dijadikan acuan awal dalam negosiasi.
Sebagai gambaran umum, berikut estimasi kisaran nilai gaharu di pasar domestik, berdasarkan praktik lapangan dan peruntukan pembelinya.
| Sortimen & Mutu Umum | Karakter Mutu Utama | Segmen Pembeli Domestik | Kisaran Nilai Lapangan* |
| Gubal mutu tinggi | Resin padat, aroma kuat dan tahan | Penyuling premium, kolektor | Ratusan juta rupiah/kg |
| Gubal mutu menengah | Aroma cukup kuat, resin tidak merata | Pedagang besar, pengolah | Puluhan juta rupiah/kg |
| Kemedangan mutu atas | Serpihan gelap, aroma tajam | Penyuling minyak | Puluhan juta rupiah/kg |
| Kemedangan mutu menengah | Aroma sedang | Pengolahan lanjutan | Belasan juta rupiah/kg |
| Abu gaharu | Serbuk halus beraroma | Dupa dan produk campuran | Jutaan rupiah/kg |
*Kisaran nilai bersifat indikatif dan sangat bergantung pada mutu aktual, konsistensi aroma, kondisi fisik kayu, serta kesepakatan transaksi di lapangan.
Tabel ini menunjukkan bahwa nilai gaharu tidak ditentukan oleh nama sortimen semata, melainkan oleh kesesuaian antara mutu dan kebutuhan pembeli. Gubal tidak selalu mahal, dan kemedangan tidak selalu murah—semuanya kembali pada kualitas nyata dan kejujuran penempatan produk di pasar yang tepat.
Kenapa Memahami Pasar Lokal Menjadi Bekal ke Pasar Global
Meski peluang ekspor gaharu sangat besar, pasar domestik sering menjadi ruang belajar pertama yang paling realistis. Di sinilah kualitas diuji secara konsisten, komunikasi mutu dilatih, dan kesalahan bisa diperbaiki dengan risiko yang lebih terkendali.
Jika pelaku UMKM mampu menjelaskan grade dan batasan produknya secara jujur di pasar lokal, fondasi kepercayaan sudah terbentuk. Dari titik inilah kesiapan menuju pasar yang lebih luas mulai terlihat.
Baca juga: 8 Alasan Usaha Buah Kering Relevan di Tengah Tren Camilan Sehat dan Gaya Hidup Praktis
Implikasi Praktis bagi Pelaku UMKM Gaharu
Dari pemetaan mutu dan pasar ini, ada pelajaran penting bagi pelaku UMKM. Bermain di segmen premium menuntut pengetahuan dan dokumentasi mutu yang lebih rapi, sementara segmen kerajinan dan pengolahan massal tetap membutuhkan kejelasan grade agar ekspektasi pembeli terjaga.
Pemahaman mutu juga membantu optimalisasi bahan. Bagian terbaik dapat diarahkan ke segmen bernilai tinggi, sementara potongan sisa dan abu tetap memiliki nilai jika disalurkan ke pasar yang sesuai. Dengan pendekatan ini, pelaku usaha tidak hanya mengejar harga tertinggi, tetapi membangun alur bisnis yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Lebih jauh, transparansi soal asal bahan, proses sortasi, serta batasan klaim aroma menjadi pembeda utama antara usaha yang dipercaya jangka panjang dan usaha yang hanya mengejar transaksi sesaat.
Memahami Mutu sebagai Fondasi Usaha Gaharu
Jika pembahasan tentang gaharu sering berhenti pada cerita mahal dan peluang besar, tulisan ini mencoba menariknya kembali ke fondasi yang lebih mendasar. Peluang hanya bisa digarap secara serius ketika pelaku usaha memahami mutu dan pasar tempat ia bermain.
Grading bukan sekadar istilah teknis, melainkan cara pelaku usaha menghargai produknya sendiri, memahami kebutuhan pembeli, dan menjaga keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang. Tanpa pemahaman itu, gaharu berisiko hanya menjadi komoditas spekulatif—ramai dibicarakan, tetapi sulit dikelola secara konsisten.
Pada akhirnya, pertanyaan penting bagi pelaku UMKM bukan semata “berapa mahal gaharu yang saya punya?”, melainkan “seberapa tepat saya menempatkan mutu ini di tangan pembeli yang benar?” Dari sanalah usaha kecil dalam rantai gaharu dapat tumbuh lebih sehat dan naik kelas secara bertahap.
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Follow Instagram @ukmindonesiaid biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!
Daftar Referensi:
- Badan Standardisasi Nasional (BSN). SNI 7631:2011 Kayu Gaharu.
- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Informasi Perdagangan dan Pengelolaan Gaharu. (diakses 2025)
https://muspera.kehutanan.go.id - Budidaya Gaharu. Standar Mutu Gaharu dalam Praktik Lapangan. (n.d.).
http://budidayagaharu.yolasite.com/gaharu-standar-nasional-indonesia.php. - Kilas Bisnis. Dinamika Industri Gaharu dan Pentingnya Konsistensi Mutu. (2023). https://kilasbisnis.com









