
Halo Sahabat Wirausaha,
Beberapa waktu terakhir, pencarian tentang manfaat daun pegagan meningkat di mesin pencari. Tanaman yang dulu sering tumbuh liar di pekarangan rumah ini kini muncul dalam diskusi tentang gaya hidup sehat, bahan aktif skincare, hingga peluang usaha berbasis herbal.
Pegagan atau Centella asiatica bukan tanaman baru di Indonesia. Dalam tradisi jamu, ia sudah lama dikenal sebagai bagian dari ramuan herbal. Namun yang menarik hari ini bukan sekadar khasiatnya, melainkan bagaimana ia masuk ke percakapan modern: clean label, botanical extract, hingga industri wellness.
Bagi pelaku UMKM, pertanyaannya sederhana namun penting: ketika manfaat daun pegagan ramai dicari, apakah itu berarti ada peluang bisnis yang nyata? Atau hanya tren informasi yang belum tentu berujung pada permintaan stabil?
Mari kita bedah secara tenang dan strategis.
Mengapa Manfaat Daun Pegagan Ramai Dibicarakan?
Ramainya pencarian tentang manfaat daun pegagan tidak berdiri sendiri. Ia muncul dalam konteks tren yang lebih luas.
Pertama, meningkatnya kesadaran konsumen terhadap bahan alami. Setelah pandemi, banyak orang lebih memperhatikan gaya hidup, pola makan, dan produk yang mereka konsumsi.
Kedua, pertumbuhan industri skincare berbasis bahan botanical. Pegagan sering disebut sebagai salah satu bahan yang digunakan dalam produk perawatan kulit global. Familiaritas ini membuat konsumen Indonesia ikut mencari tahu lebih dalam.
Ketiga, peran media sosial dan konten edukasi. Tanaman yang dulu hanya dikenal di kalangan tertentu kini mendapat panggung baru dalam format yang lebih modern.
Namun perlu dipahami: tingginya pencarian tentang manfaat daun pegagan belum tentu berarti pasar siap menyerap produk dalam jumlah besar. Search volume menunjukkan rasa ingin tahu. Keputusan membeli ditentukan oleh faktor lain: harga, kualitas, kepercayaan, dan relevansi kebutuhan. Di sinilah UMKM perlu berhati-hati membaca sinyal.
Kandungan Pegagan dan Cara Mengkomunikasikannya
Dalam kajian fitokimia yang dipublikasikan dalam Jurnal Litbang Pertanian, Centella asiatica (pegagan) diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti triterpenoid (mis. asiatikosida), steroid, saponin, flavonoid, tanin, serta sejumlah mineral penting. Senyawa-senyawa ini termasuk dalam kelompok antioksidan yang umum dibahas dalam konteks bahan herbal tradisional.
Namun dalam bisnis, penyebutan kandungan bukan berarti bebas membuat klaim medis. Komunikasi produk harus disesuaikan dengan izin usaha yang dimiliki. Apakah dikategorikan sebagai pangan olahan, simplisia herbal, atau kosmetik? Setiap kategori memiliki batasan klaim berbeda.
Karena itu, ketika UMKM ingin memanfaatkan tren manfaat daun pegagan, pendekatan yang lebih aman adalah:
- Menekankan proses produksi yang higienis dan terstandar
- Menyampaikan informasi bahan secara informatif, bukan hiperbolik
- Menghindari klaim penyembuhan penyakit
- Membangun kepercayaan melalui transparansi
Reputasi jangka panjang jauh lebih penting daripada lonjakan penjualan sesaat.
Baca juga: Okra Superfood Global: Strategi Naik Kelas dan Nilai Tambah UMKM Indonesia
Membaca Perilaku Konsumen Herbal
Tidak semua konsumen herbal memiliki karakteristik yang sama. Setidaknya ada tiga kelompok yang bisa dipetakan.
Pertama, konsumen tradisional. Mereka terbiasa dengan jamu dan tanaman obat keluarga. Sensitif harga dan cenderung memilih produk sederhana.
Kedua, konsumen urban middle class. Mereka tertarik pada gaya hidup sehat dan kemasan modern. Harga bukan satu-satunya pertimbangan; brand dan citra juga penting.
Ketiga, konsumen beauty-conscious. Mereka mengenal pegagan dari industri skincare dan mencari bahan yang familiar di dunia kecantikan.
Jika UMKM ingin mengembangkan produk berbasis manfaat daun pegagan, segmentasi ini menentukan strategi harga, desain kemasan, hingga bahasa komunikasi. Tanpa segmentasi jelas, produk bisa terjebak di tengah: terlalu mahal untuk pasar umum, namun belum cukup kuat untuk pasar premium.
Analisis Rantai Nilai Pegagan
Agar peluang bisnis lebih terukur, kita perlu melihat rantai nilai pegagan dari hulu ke hilir.
1. Budidaya
Pegagan relatif mudah tumbuh di iklim tropis. Namun di tahap ini, ia masih komoditas mentah. Harga dipengaruhi musim dan pasokan. Jika banyak pelaku usaha masuk karena tren manfaat daun pegagan sedang ramai, produksi meningkat dan harga bisa turun. Tanpa diferensiasi, margin tipis menjadi tantangan utama.
2. Simplisia Kering
Tahap ini mulai memberikan nilai tambah. Daun dikeringkan dengan standar tertentu sehingga lebih tahan lama dan mudah dipasarkan. Kualitas pengeringan menentukan nilai jual. Warna, aroma, dan kadar air menjadi indikator penting.
Di tahap ini, UMKM bisa mulai membangun reputasi kualitas.
3. Pengolahan Lanjutan
Pegagan dapat diolah menjadi teh herbal campuran, bubuk simplisia, atau bahan baku kosmetik. Namun semakin tinggi tingkat pengolahan, semakin tinggi pula tuntutan:
- Standar produksi
- Konsistensi mutu
- Pengetahuan regulasi
- Kemasan profesional
Manfaat daun pegagan mungkin menjadi pintu masuk komunikasi, tetapi keberlanjutan usaha bergantung pada sistem produksi.
4. Branding dan Distribusi
Di tahap hilir, yang dijual bukan lagi daun, melainkan kepercayaan. Konsumen membeli karena:
- Brand terlihat kredibel
- Informasi jelas
- Produk konsisten
- Pengalaman pembelian nyaman
Brand yang kuat dapat bertahan meski tren berubah.
Risiko Komoditisasi dan Validasi Pasar
Ketika manfaat daun pegagan ramai dibicarakan, respons pasar sering kali cepat: banyak pelaku usaha baru bermunculan. Tanpa diferensiasi, pasar menjadi padat dan harga turun. Produk berubah menjadi generik. Yang bertahan bukan yang paling cepat masuk, melainkan yang memiliki struktur usaha jelas, kualitas konsisten, dan segmentasi tepat.
Maka sebelum melakukan produksi besar, UMKM perlu melakukan validasi sederhana. Beberapa langkah realistis antara lain:
- Menguji penjualan dalam skala kecil
- Mengamati respons harga di marketplace
- Mengumpulkan testimoni awal
- Melihat tingkat pembelian ulang
Langkah ini membantu memastikan bahwa tren manfaat daun pegagan benar-benar menghasilkan permintaan nyata. Produksi besar tanpa validasi berisiko menimbulkan stok berlebih dan tekanan arus kas.
Baca juga: Makin Dicari, 8 Peluang Usaha Obat Herbal untuk Wirausaha Baru
Peluang Kolaborasi Antar-UMKM
Salah satu karakter pegagan yang perlu dipahami adalah sifatnya sebagai tanaman liar tropis yang tumbuh tersebar di berbagai daerah dengan kondisi tanah lembap. Ia bukan komoditas yang terpusat pada satu kawasan industri besar, melainkan lebih banyak ditemukan di pekarangan, lahan kecil, atau kebun skala rakyat.
Karena itu, rantai pasok pegagan cenderung terfragmentasi. Produksi bahan baku bisa tersebar di banyak titik kecil, sementara kebutuhan pengolahan dan distribusi menuntut konsistensi volume dan kualitas.
Di sinilah kolaborasi menjadi relevan. Model kolaborasi dapat membuat struktur usaha lebih stabil dan terukur:
- UMKM budidaya fokus menjaga kualitas bahan baku dan konsistensi panen.
- UMKM pengolahan menangani proses pengeringan, standarisasi, dan kemasan.
- UMKM pemasaran fokus pada distribusi, edukasi pasar, dan penguatan brand.
Ekosistem seperti ini membagi risiko investasi dan memperkuat rantai pasok. Alih-alih satu usaha menanggung seluruh beban produksi hingga pemasaran, kolaborasi memungkinkan setiap pelaku fokus pada kompetensinya masing-masing.
Dalam konteks manfaat daun pegagan yang sedang ramai dicari, pendekatan kolektif seperti ini membuat peluang lebih realistis dan berkelanjutan dibanding strategi tunggal yang serba ditangani sendiri.
Penutup: Tren Ramai, Strategi Harus Tenang
Manfaat daun pegagan memang sedang ramai dicari. Ini menunjukkan adanya minat konsumen terhadap bahan alami dan gaya hidup sehat. Namun peluang bisnis tidak lahir dari viralitas semata.
Pegagan bisa menjadi peluang UMKM jika dikelola dengan:
- Struktur rantai nilai yang jelas
- Segmentasi pasar yang tepat
- Validasi pasar yang disiplin
- Kolaborasi yang terencana
- Narasi yang bertanggung jawab
Dalam dunia UMKM, yang bertahan bukan yang paling cepat ikut tren, melainkan yang paling siap membangun fondasi usaha yang kuat.
Glosarium Istilah:
- Clean label: Istilah pemasaran yang merujuk pada produk dengan daftar bahan sederhana, mudah dipahami konsumen, dan dipersepsikan lebih alami.
- Wellness: Konsep gaya hidup yang berfokus pada kesehatan menyeluruh, termasuk pola makan, kebugaran, dan keseimbangan mental.
- Botanical extract: Ekstrak yang berasal dari bagian tanaman tertentu dan digunakan dalam produk pangan, herbal, atau kosmetik.
- Simplisia herbal: Bahan alami berupa bagian tanaman (daun, akar, batang, atau bunga) yang telah dikeringkan tanpa melalui proses ekstraksi kimia lanjutan, dan digunakan sebagai bahan baku produk herbal.
- Urban middle class: Kelompok konsumen kelas menengah yang tinggal di wilayah perkotaan, umumnya memiliki daya beli lebih tinggi dan mempertimbangkan kualitas, brand, serta gaya hidup dalam keputusan pembelian.
- Beauty-conscious: Istilah untuk konsumen yang memiliki perhatian tinggi terhadap perawatan kulit dan penampilan, serta aktif mengikuti tren bahan aktif dalam industri kecantikan.
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Follow WA Channel UKMIndonesia.id biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!
Daftar Referensi:
- Sutardi. (2016). Kandungan Bahan Aktif Tanaman Pegagan dan Khasiatnya untuk Meningkatkan Sistem Imun Tubuh. Jurnal Litbang Pertanian, 35(3), 121-130. PDF diakses dari https://media.neliti.com/media/publications/122679-ID-kandungan-bahan-aktif-tanaman-pegagan-da.pdf
Dukung UKM Indonesia
Terima kasih telah membaca. Jika konten ini bermanfaat, dukung kami untuk terus menyajikan informasi berkualitas bagi UMKM Indonesia.









