
Halo Sahabat Wirausaha,
Belakangan ini, pistachio seperti muncul di mana-mana. Dari pistachio latte, pistachio croissant, pistachio kunafa, hingga berbagai dessert dengan warna hijau khas yang langsung diasosiasikan sebagai premium. Di media sosial, tampilannya yang kontras dan “mewah” membuat produk berbasis pistachio mudah viral. Banyak UMKM F&B pun ikut menangkap momentum ini.
Sekilas, tren ini terlihat menjanjikan. Harga jual produk berbasis pistachio relatif tinggi dibanding varian rasa biasa. Secara positioning, ia memberi kesan eksklusif dan berbeda. Namun di balik euforia tersebut, ada satu fakta penting yang sering luput diperhatikan: pistachio tidak tumbuh di Indonesia.
Artinya, semua bahan baku pistachio yang digunakan oleh UMKM di dalam negeri pada dasarnya adalah impor.
Di sinilah diskusi menjadi menarik. Karena ketika berbicara tentang bahan impor, yang perlu dihitung bukan hanya kreativitas menu, tetapi juga struktur margin dan risiko usaha.
Pistachio dan Ketergantungan Impor

Pistachio (Pistacia vera) adalah tanaman yang membutuhkan iklim subtropis dengan musim dingin yang jelas. Ia memerlukan periode “winter chilling” agar bisa berbuah optimal. Negara produsen utama dunia antara lain Iran, Amerika Serikat (California), dan Turki. Indonesia yang beriklim tropis lembap tidak memiliki kondisi agroklimat yang cocok untuk budidaya pistachio skala komersial.
Bagi UMKM, kondisi ini berarti satu hal: hulu tidak bisa dikendalikan. Tidak ada opsi bermitra dengan petani lokal untuk stabilisasi harga. Tidak ada fleksibilitas produksi berbasis musim domestik. Harga bahan baku sangat dipengaruhi oleh:
- Kurs dolar terhadap rupiah
- Biaya logistik dan distribusi
- Panen dan pasokan di negara asal
- Margin distributor dalam negeri
Berbeda dengan bahan lokal seperti kelapa, singkong, atau bahkan komoditas herbal yang bisa dibudidayakan di berbagai daerah Indonesia, pistachio sepenuhnya berada di luar kontrol ekosistem UMKM lokal. Ini bukan berarti UMKM tidak boleh menggunakannya. Namun risikonya berbeda.
Baca juga: Okra Superfood Global: Strategi Naik Kelas dan Nilai Tambah UMKM Indonesia
Harga Tinggi Belum Tentu Margin Tinggi
Banyak pelaku usaha tergoda karena harga jual produk pistachio terlihat tinggi. Secangkir pistachio latte bisa dijual jauh di atas varian biasa. Dessert berbasis pistachio sering diposisikan sebagai premium item.
Namun dalam bisnis F&B, harga jual hanyalah satu sisi. Yang menentukan kesehatan usaha adalah margin bersih setelah semua biaya dihitung.
Ambil contoh sederhana secara konseptual. Jika bahan baku pistachio paste memiliki harga jauh lebih tinggi dibanding varian cokelat atau vanilla, maka komponen food cost akan meningkat signifikan. Jika food cost ratio ideal berada di kisaran tertentu agar usaha tetap sehat, penggunaan bahan mahal dapat mendorong rasio itu mendekati batas yang berisiko.
Belum lagi faktor waste. Bahan impor dengan harga tinggi tetapi umur simpan terbatas dapat meningkatkan risiko kerugian jika penjualan tidak sesuai ekspektasi. Disisi lain, untuk menjaga positioning premium, pelaku usaha mungkin juga meningkatkan kualitas kemasan atau presentasi, yang berarti tambahan biaya.
Akhirnya, harga jual tinggi tidak otomatis berarti untung tinggi. Tanpa perhitungan detail, margin bisa justru tergerus.
Risiko yang Sering Tidak Terlihat
Ketika tren sedang naik, pasokan dari distributor biasanya lancar. Namun UMKM perlu membayangkan skenario lain.
Bagaimana jika kurs melonjak?
Bagaimana jika pengiriman tertunda?
Bagaimana jika harga distributor naik karena pasokan global menurun?
Bahan impor membawa risiko eksternal yang tidak bisa dikendalikan pelaku usaha kecil. Fluktuasi kecil di tingkat global bisa berdampak besar pada struktur biaya di tingkat UMKM.
Selain itu, ketika tren sedang ramai, banyak pelaku usaha masuk ke produk serupa. Tanpa diferensiasi kuat, persaingan harga bisa terjadi. Jika semua menjual pistachio, keunikan berkurang dan perang harga tidak terhindarkan. Dalam kondisi ini, margin semakin tertekan.
Baca juga: Spesifikasi Standar Mutu (Grading) Kayu Gaharu dan Pemetaan Segmen Pembelinya di Indonesia
Strategi Bermain Aman Tanpa Anti-Tren
Apakah artinya UMKM harus menghindari tren pistachio? Tidak selalu. Kuncinya bukan pada ikut atau tidak ikut, melainkan pada bagaimana cara ikut.
Beberapa pendekatan yang lebih terukur antara lain:
- Menjadikan produk pistachio sebagai menu musiman atau limited edition, bukan menu utama permanen.
- Menggunakan pistachio sebagai elemen campuran atau topping, bukan bahan dominan yang menyedot biaya besar.
- Melakukan uji pasar dalam skala kecil sebelum memperbesar produksi.
- Menghitung ulang HPP secara detail dengan memasukkan kemungkinan fluktuasi harga bahan baku.
Dengan pendekatan ini, UMKM tetap bisa menangkap momentum tren tanpa mempertaruhkan stabilitas arus kas.
Baca juga: Indonesia Raja Stok Tuna, Tapi UMKM Masih Tertinggal dalam Rantai Nilai
Menghitung Ulang Margin: Studi Kasus Pistachio Latte
Untuk memahami dampak bahan impor terhadap struktur biaya, kita bisa melihat contoh sederhana pada satu produk yang sedang ramai: pistachio latte.
Misalnya sebuah coffee shop UMKM menjual pistachio latte seharga Rp48.000 per cup. Sekilas, harga ini terlihat premium dibanding varian rasa biasa. Namun bagaimana struktur biayanya?
Sebagai gambaran, jika harga pistachio paste impor berada di kisaran Rp450.000 per kilogram dan setiap minuman menggunakan sekitar 15 gram, maka biaya bahan pistachio per cup berada di kisaran Rp6.500–7.000. Angka ini mungkin terlihat kecil per porsi, tetapi ia menjadi komponen yang signifikan dalam perhitungan food cost.
Ketika harga naik menjadi Rp520.000 per kilogram akibat fluktuasi kurs atau distribusi, biaya bahan per cup bisa meningkat menjadi sekitar Rp7.800. Selisih beberapa ratus rupiah per gram mungkin tampak tidak signifikan, namun dalam ratusan porsi per hari, dampaknya terhadap margin menjadi nyata.
Di luar pistachio, komponen lain juga harus dihitung. Susu, espresso, gula atau sirup tambahan, serta kemasan memiliki biaya tersendiri. Jika total bahan baku per cup berada di kisaran Rp16.000, lalu ditambah biaya operasional seperti listrik, gaji barista, dan sewa yang secara proporsional bisa mencapai sekitar Rp8.000 per porsi, maka total biaya produksi per cup berada di kisaran Rp24.000.
Dengan harga jual Rp48.000, margin kotor terlihat sekitar 50 persen. Secara umum, angka ini masih tergolong sehat dalam bisnis F&B. Namun ruang napas tersebut bisa menyempit ketika harga bahan impor naik atau ketika usaha menjalankan promo diskon untuk menarik pelanggan.
Di sinilah pelajaran pentingnya: produk dengan harga jual tinggi belum tentu memiliki margin yang lebih aman. Terutama jika komponen utamanya sangat bergantung pada bahan impor yang fluktuatif.
Karena itu, sebelum ikut tren, UMKM perlu bertanya bukan hanya “apakah produk ini laku?”, tetapi juga “apakah struktur biayanya stabil?”. Tren bisa datang cepat, tetapi margin yang sehat hanya bertahan jika perhitungannya matang.
Ikut Tren atau Hitung Ulang?
Produk pistachio memang sedang ramai. Secara visual menarik, secara positioning terlihat menjanjikan. Namun di balik warna hijau yang memikat, ada struktur biaya dan risiko impor yang perlu dihitung dengan cermat.
Bagi Sahabat Wirausaha, pertanyaan utamanya bukan sekadar: “Apakah produk ini laku?”
Tetapi: “Apakah margin saya tetap sehat jika tren ini saya jalankan?”
Dalam dunia UMKM, kreativitas penting. Tetapi perhitungan jauh lebih penting. Tren bisa datang dan pergi. Margin dan arus kas adalah yang menentukan apakah usaha bertahan.
Jadi sebelum ikut euforia pistachio, mungkin ada baiknya berhenti sejenak, membuka catatan biaya, dan menghitung ulang dengan tenang. Karena dalam bisnis, yang paling aman bukan yang paling cepat mengikuti tren, melainkan yang paling disiplin menjaga struktur keuangan.
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Follow WA Channel UKMIndonesia.id biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!
Dukung UKM Indonesia
Terima kasih telah membaca. Jika konten ini bermanfaat, dukung kami untuk terus menyajikan informasi berkualitas bagi UMKM Indonesia.









