Halo Sahabat Wirausaha,

Di sejumlah daerah seperti Kalimantan, Sumatera, hingga Sulawesi, bangunan tinggi tanpa jendela dengan suara kicau burung dari pengeras suara sudah menjadi pemandangan yang lazim. Dari luar tampak seperti ruko kosong. Namun di dalamnya, tersimpan salah satu komoditas bernilai tinggi Indonesia: sarang burung walet.

Sebelumnya, kami telah membahas potensi dan perkembangan bisnis sarang walet di Indonesia. Kali ini, kita masuk lebih dalam. Bukan lagi sekadar potensi, tetapi bagaimana Peluang Bisnis UMKM sarang walet benar-benar dikelola secara strategis agar tidak berhenti di hulu dan siap bersaing di pasar global.


Indonesia dan Struktur Pasar Global

Indonesia diperkirakan menyumbang sekitar 60–70% produksi sarang walet dunia. Posisi ini menjadikan Indonesia pemain dominan di sisi produksi.

Pada 2024, nilai ekspor sarang burung walet Indonesia tercatat sekitar USD 428 juta, dengan mayoritas tujuan ekspor ke Tiongkok. Artinya, pasar global sarang walet memang besar dan permintaannya relatif stabil. Namun ada satu hal yang perlu dibaca lebih dalam.

Struktur ekspor Indonesia sangat terkonsentrasi. Sekitar dua pertiga ekspor mengalir ke satu negara tujuan. Konsentrasi ini membuat struktur pasar menjadi sensitif terhadap perubahan regulasi, standar kesehatan, maupun dinamika kebijakan impor. Dominasi produksi tidak otomatis berarti dominasi nilai tambah. Di sinilah perbedaan antara potensi dan kesiapan mulai terlihat.


Memilih Model Usaha yang Realistis

Banyak orang langsung mengasosiasikan bisnis walet dengan membangun rumah walet. Model ini memang umum, tetapi membutuhkan investasi besar dan analisis lokasi yang matang.

Rumah walet memerlukan:

  • Desain bangunan khusus
  • Pengaturan suhu dan kelembapan
  • Sistem suara pemancing
  • Pengelolaan panen rutin

Kesalahan memilih lokasi dapat berujung pada bangunan yang tidak produktif dan modal yang terkunci dalam jangka panjang. Karena itu, bagi pelaku usaha pemula, jalur yang lebih realistis sering kali adalah masuk melalui tahap pengolahan dan pengumpulan.

Menjadi pengumpul, pembersih, atau grader bersertifikasi membuka ruang Peluang Bisnis UMKM tanpa harus langsung menanggung risiko investasi bangunan besar. Di titik ini, kunci keberhasilan bukan pada luasnya lahan, tetapi pada konsistensi mutu.


Harga Tinggi, Risiko Tetap Nyata

Sarang walet sering dipersepsikan sebagai komoditas “emas”. Pada periode tertentu, harga kualitas premium dapat mencapai puluhan juta rupiah per kilogram. Namun harga tinggi sering kali menciptakan euforia yang tidak selalu diikuti perhitungan matang. Agar Peluang Bisnis UMKM tidak berubah menjadi jebakan investasi, beberapa risiko perlu dipahami secara menyeluruh.

1. Risiko Lokasi dan Produktivitas Gedung

Tidak semua daerah cocok untuk budidaya walet. Faktor lingkungan, pola migrasi burung, tingkat kebisingan, hingga kepadatan bangunan sekitar sangat mempengaruhi keberhasilan. Banyak kasus di mana gedung telah dibangun dengan biaya besar, tetapi koloni tidak berkembang optimal. Akibatnya, modal terkunci tanpa arus kas yang memadai. Risiko ini sering kali muncul karena keputusan investasi diambil berdasarkan tren, bukan analisis lokasi yang mendalam.

2. Risiko Regulasi dan Standar Mutu

Pasar ekspor, terutama Tiongkok, semakin ketat dalam pengawasan keamanan pangan. Kandungan tertentu dalam sarang walet harus berada dalam batas yang diperbolehkan. Ketidakkonsistenan dalam proses pembersihan atau sanitasi dapat menyebabkan penolakan produk di pelabuhan tujuan. Penolakan ini bukan hanya berdampak pada satu transaksi, tetapi juga reputasi pemasok. Fasilitas produksi perlu terdaftar sesuai ketentuan negara tujuan. Dokumen karantina dan sertifikat kesehatan menjadi syarat mutlak.

Di sinilah Peluang Ekspor UMKM sering kali tersandung bukan karena produk tidak laku, tetapi karena administrasi dan sistem mutu belum siap. Bagi UMKM, membangun kemitraan dengan eksportir resmi menjadi langkah awal yang lebih aman sebelum mempertimbangkan ekspor mandiri.

3. Risiko Ketergantungan Pasar Tunggal

Struktur ekspor yang sangat terkonsentrasi pada satu negara membuat harga domestik sensitif terhadap perubahan kebijakan. Jika terjadi pengetatan impor, perubahan standar, atau perlambatan ekonomi di negara tujuan, dampaknya langsung terasa pada harga di tingkat peternak. Diversifikasi pasar dan peningkatan nilai tambah menjadi strategi untuk mengurangi risiko ini.

4. Risiko Keamanan dan Biaya Operasional

Nilai jual yang tinggi membuat sarang walet rentan pencurian. Sistem keamanan tambahan menjadi bagian dari struktur biaya yang harus diperhitungkan sejak awal. Tanpa pengelolaan risiko yang matang, Peluang Bisnis UMKM bisa berubah menjadi beban finansial jangka panjang.

Baca juga: Peluang Bisnis UMKM Indonesia: Jerami dan Strategi Menembus Pasar Ekspor Global


Bedah Struktur Nilai Tambah: UMKM Ada di Lapisan Mana?

Nilai ekspor USD 428 juta terlihat besar. Namun nilai tersebut tersebar di sepanjang rantai pasok.

Rantai nilai sarang walet melibatkan:

  • Pemilik rumah walet
  • Pengumpul
  • Pembersih dan grader
  • Eksportir resmi
  • Importir dan distributor
  • Produsen produk hilir di negara tujuan

Setiap lapisan mengambil margin.

Sarang mentah memiliki harga tertentu. Setelah dibersihkan dan disortir, nilainya meningkat. Ketika diolah menjadi produk siap konsumsi atau suplemen di negara tujuan, nilai tambahnya bisa jauh lebih tinggi lagi. Artinya, pelaku usaha di hulu tidak otomatis menikmati porsi terbesar dari nilai ekspor tersebut.

Di sinilah Peluang Bisnis UMKM perlu dibaca secara strategis. Jika hanya berada di titik awal rantai nilai tanpa proses tambahan, margin yang diterima cenderung tipis dan sangat tergantung pada fluktuasi harga global. Sebaliknya, ketika UMKM naik satu tingkat—misalnya menjadi pembersih dan grader bersertifikasi—posisi tawar ikut meningkat.


Hilirisasi Global: Nilai Tambah Tertinggi Terjadi di Mana?

Secara global, sarang walet paling banyak digunakan untuk produk konsumsi premium seperti sup tradisional, minuman kesehatan siap minum, suplemen nutraceutical, hingga produk perawatan kulit berbasis ekstrak.

Namun pola yang terlihat jelas adalah ini:
Nilai tambah tertinggi lebih banyak terjadi di negara pengolah akhir dibanding negara produsen bahan mentah.

Indonesia dominan di sisi produksi. Tetapi produk bermerek global—minuman botol siap konsumsi, kapsul suplemen, hingga produk kecantikan—lebih banyak diproduksi dan dipasarkan di negara tujuan ekspor. Artinya, meskipun Indonesia unggul di hulu, nilai merek dan margin hilir sering kali dinikmati di luar negeri.

Di sinilah letak tantangan sekaligus Peluang Ekspor UMKM yang lebih strategis. Apakah UMKM akan tetap berada di segmen komoditas, atau mulai mengambil peran dalam pengembangan produk bernilai tambah?

Hilirisasi memang membutuhkan izin edar, standar keamanan pangan, dan konsistensi mutu. Namun tanpa langkah ini, posisi tawar dalam rantai global akan sulit berubah.

Baca juga: Indonesia Produsen Durian Terbesar Dunia, Tapi Bukan Pemain Utama Global: Di Mana Letak Masalahnya?


Strategi Bertahap Menuju Kenaikan Kelas

Indonesia memang produsen utama dunia. Namun dalam ekonomi global, produksi bukan satu-satunya faktor penentu kesejahteraan pelaku usaha. Yang menentukan adalah siapa yang mengendalikan nilai tambah.

Apakah pelaku usaha cukup puas menjadi pemasok bahan mentah?
Ataukah mulai membangun sistem mutu dan merek agar tidak hanya mengikuti harga komoditas?

Agar lebih terukur, pelaku usaha dapat membagi perjalanan bisnis menjadi tiga tahap.

Tahap pertama, memperkuat fondasi melalui pembersihan dan grading berkualitas.
Tahap kedua, membangun kemitraan ekspor dan memahami regulasi secara detail.
Tahap ketiga, mempertimbangkan hilirisasi atau ekspor mandiri dengan sistem mutu yang mapan.

Pendekatan bertahap ini membuat Peluang Bisnis UMKM sarang walet tumbuh secara realistis tanpa euforia berlebihan.

Sahabat Wirausaha, pasar sarang walet global memang besar. Tetapi sebelum berbicara tentang ekspor, pertanyaannya lebih mendasar: di lapisan rantai nilai mana usaha Anda berada hari ini, dan kemana ingin bergerak esok hari?

Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!

Kamu juga bisa mendukung keberlanjutan konten edukatif di website kami melalui fitur dukung UKM Indonesia dibawah artikel ini.

Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!

Daftar Referensi:

  1. Universitas Gadjah Mada (UGM), 2019. RI Eksportir Sarang Burung Walet Terbesar di Dunia
    https://ugm.ac.id/id/berita/18598-ri-eksportir-sarang-burung-walet-terbesar-di-dunia/
  2. Kontan.co.id, 2024. Cuan Warga Konawe Mengalir ke Dompet dari Rumah Bertingkat untuk Sarang Burung Walet
    https://jelajahekonomi.kontan.co.id/ekonomi-infrastruktur/news/cuan-warga-konawe-mengalir-ke-dompet-dari-rumah-bertingkat-untuk-sarang-burung-walet
  3. Badan Pusat Statistik (BPS), 2024. Data Ekspor Sarang Burung Walet Indonesia 2024. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MjAyMiMx/ekspor-sarang-burung-menurut-negara-tujuan-utama--2012-2024.html 



Dukung UKM Indonesia

Terima kasih telah membaca. Jika konten ini bermanfaat, dukung kami untuk terus menyajikan informasi berkualitas bagi UMKM Indonesia.