
Sahabat Wirausaha, cobalah tengok halaman atau kebun di sekitarmu. Sereh wangi — tanaman yang seringkali dibiarkan tumbuh liar, dipanen sekadarnya untuk bumbu dapur — ternyata menyimpan potensi ekonomi yang jauh lebih besar dari yang kebanyakan orang bayangkan. Bukan sekadar bumbu soto atau bahan pengusir nyamuk tradisional. Dari daun sereh wangi, dunia membuat parfum premium, kosmetik alami, produk aromaterapi, hingga obat-obatan herbal yang dipasarkan di pasar global senilai miliaran dolar.
Dan ironisnya, Indonesia — negeri yang tanahnya cocok untuk sereh wangi tumbuh bahkan di lahan-lahan marginal — pernah menjadi raja ekspor komoditas ini sebelum Perang Dunia Kedua. Kini, kita justru tertinggal jauh dari China dan Taiwan. Bukan karena tanahnya kurang subur. Bukan karena tanaman ini susah tumbuh di sini. Tapi karena kita belum serius mengolahnya.
Dua Jenis Sereh, Dua Peluang yang Berbeda
Sebelum membahas angka, penting untuk memahami bahwa sereh yang kita bicarakan bukan sembarang sereh. Ada dua jenis yang relevan secara ekonomi dan perlu dibedakan sejak awal.
Sereh dapur (Cymbopogon citratus) adalah sereh yang lazim digunakan dalam masakan Indonesia — soto, rendang, gulai, dan berbagai masakan Nusantara lainnya. Permintaan pasarnya stabil di dalam negeri, dan mulai diminati pasar ekspor untuk segmen kuliner dan teh herbal.
Sereh wangi (Cymbopogon nardus) adalah yang memiliki dimensi ekonomi jauh lebih besar. Dari hasil penyulingan daunnya diperoleh citronella oil — minyak atsiri yang dikenal di pasar dunia dengan nama dagang Citronella Oil of Java. Inilah yang digunakan dalam industri parfum, sabun, lotion, penolak nyamuk alami, kosmetik, dan aromaterapi global. Potensi ekspor dan hilirisasi sereh wangi jauh lebih besar dibandingkan sereh dapur. Dan inilah fokus utama artikel ini.
Baca juga: Rempah Termahal Kedua di Dunia Ini Tumbuh Subur di Indonesia — Tapi Kita Belum Kaya dari Sana
Indonesia Pernah Jadi Raja, Kini Tertinggal
Sebelum Perang Dunia Kedua, Indonesia adalah eksportir utama minyak sereh wangi di dunia. Posisi itu kini sudah berpindah ke China, yang bersama Taiwan mendominasi pasar minyak citronella global. Indonesia tertinggal bukan karena kekurangan lahan — sereh wangi justru dikenal sebagai tanaman yang mampu tumbuh di lahan marginal, bahkan bekas tambang — melainkan karena produktivitas dan mutu minyaknya kalah bersaing.
Berdasarkan catatan Badan Litbang Pertanian Kementan, konsumsi minyak sereh wangi dunia mencapai 2.000–2.500 ton per tahun, dan kebutuhan itu baru terpenuhi sekitar 50–60 persen dari total pasokan global. Artinya, ada gap permintaan yang belum terpenuhi, dan Indonesia memiliki semua prasyarat untuk mengisi gap tersebut — iklim tropis, lahan luas, tenaga kerja, dan tradisi penyulingan yang sudah ada sejak lama. Yang kurang hanyalah sistem dan keseriusan.
Sentra produksi sereh wangi Indonesia tersebar di beberapa wilayah utama. Berdasarkan data Ditjen Perkebunan Kementan, sentra historis terbesar mencakup Aceh, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Lampung. Sementara itu, Jawa Tengah — khususnya Kabupaten Brebes — juga mulai dikembangkan sebagai kawasan budi daya sereh wangi, dengan dukungan langsung dari Kementan melalui program pengembangan komoditas perkebunan.
Industri Minyak Atsiri Indonesia: Besar tapi Belum Optimal
Sereh wangi bukan bermain sendiri — ia adalah bagian dari ekosistem industri minyak atsiri Indonesia yang sesungguhnya sudah cukup besar, namun belum dikelola secara optimal.
Dilansir dari Kompas, Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pada 2024 nilai ekspor minyak atsiri Indonesia secara keseluruhan mencapai USD 259,54 juta atau setara Rp4,2 triliun — angka tertinggi dalam lima tahun terakhir. Ini menempatkan Indonesia di posisi kedelapan eksportir minyak atsiri terbesar di dunia, dengan kontribusi 4,12 persen terhadap pasar global.
Dari 97 jenis tanaman atsiri yang dikenal di dunia, sekitar 40 jenis tumbuh subur di Indonesia. Namun baru 25 jenis yang dibudidayakan secara komersial — di antaranya nilam, sereh wangi, cengkeh, pala, kayu putih, dan kenanga. Sereh wangi masuk dalam enam komoditas yang mendominasi ekspor minyak atsiri Indonesia, bersama minyak cengkeh, nilam, turpentin, kayu putih, dan pala — dengan total kontribusi keenamnya mencapai 15.500–16.400 ton pada 2019, berdasarkan kajian Kemenperin dan PT Sucofindo.
Industri ini juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Berdasarkan data Kemenperin (2025), lebih dari 3.000 unit penyulingan tersebar di berbagai daerah dari Aceh hingga Papua, dengan total kapasitas produksi minyak atsiri nasional mencapai 26.398 ton per tahun, dan menyerap lebih dari 200.000 tenaga kerja — mayoritas dari kalangan industri kecil dan menengah.
Baca juga: Ekspor Unggas Rp18,2 Miliar Dilepas Kementan, Ada Peluang Pasar Apa bagi UMKM?
Dari Daun ke Produk: Rantai Nilai yang Belum Digarap Serius
Inilah inti persoalan sereh wangi Indonesia. Sebagian besar pelaku usaha masih berhenti di titik paling hulu: menjual daun kering atau minyak citronella mentah. Sementara itu, nilai sesungguhnya dari sereh wangi justru ada di produk turunannya.
Ada delapan kategori produk turunan yang permintaannya terus tumbuh: sabun sereh wangi dengan sifat antibakteri dan antiseptik, lotion dan krim pelembab berbahan sereh, masker wajah, sampo dan kondisioner, serum dan minyak wajah, body scrub, lilin aromaterapi, serta parfum dan body mist. Semua kategori ini menyasar konsumen yang semakin mengutamakan bahan-bahan alami dan ramah lingkungan.
Di luar industri kecantikan, minyak sereh wangi juga digunakan sebagai bahan baku industri makanan dan minuman, farmasi, produk pembersih rumah tangga (household cleaner) berbahan alami, hingga agrokimia hayati — seperti pestisida nabati yang semakin diminati di era pertanian organik.
Selisih harga antara minyak atsiri mentah dan produk turunannya sangat signifikan. Minyak citronella mentah dihargai relatif rendah karena masih berstatus komoditas bulk. Namun begitu diolah menjadi lotion, sabun premium, atau parfum, nilai jualnya bisa meningkat berlipat ganda — tergantung kemasan, branding, dan segmen pasar yang disasar.
Pasar aromaterapi di Eropa sendiri diperkirakan telah mencapai USD 2,7 miliar pada 2024, berdasarkan data BRMP Pertanian Kementan. Eropa adalah salah satu pasar terbesar untuk produk berbasis minyak atsiri — makanan, parfum, kosmetik, dan aromaterapi — dan permintaannya terus meningkat setiap tahun. Tujuan ekspor utama minyak atsiri Indonesia pada periode 2019–2024 adalah India, Amerika Serikat, China, Singapura, dan Prancis.
Mengapa Kita Masih Stagnan? Akar Masalah di Industri Sereh Wangi
Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin menyebutkan bahwa Indonesia seharusnya sudah berada di posisi 5 besar eksportir minyak atsiri dunia, mengingat kekayaan hayati yang dimiliki. Faktanya kita masih di posisi delapan — dan untuk sereh wangi secara spesifik, kita sudah kehilangan posisi dominan sejak puluhan tahun lalu. Ada beberapa akar masalah yang perlu dipahami oleh pelaku UMKM.
Pertama, kualitas minyak yang tidak seragam. Sebagian besar penyulingan sereh wangi di Indonesia masih dilakukan secara tradisional di tingkat desa. Alat penyulingan sederhana menghasilkan rendemen dan mutu minyak yang tidak konsisten. Di pasar global, buyer menilai minyak atsiri berdasarkan parameter teknis seperti kadar sitronelal, geraniol, kemurnian, dan indeks bias — parameter yang sulit dicapai secara konsisten dengan alat tradisional.
Kedua, lemahnya industri antara atau intermediate. Berdasarkan kajian BRMP Pertanian Kementan (2023), salah satu tantangan terbesar industri minyak atsiri Indonesia adalah kurang berkembangnya industri intermediate — yaitu pelaku yang mengolah minyak atsiri mentah menjadi bahan aktif atau produk setengah jadi sebelum masuk ke industri hilir (kosmetik, parfum, pangan). Tanpa lapisan ini, minyak sereh wangi langsung dijual sebagai bulk commodity dengan margin yang sangat tipis.
Ketiga, akses pasar global yang terbatas. Buyer internasional untuk produk turunan minyak atsiri berbeda dengan buyer minyak atsiri mentah. Mereka membutuhkan sertifikasi mutu, konsistensi pasokan, standar GMP (Good Manufacturing Practices), dan kemampuan komunikasi bisnis yang berbeda. Sebagian besar UMKM pengolah sereh wangi belum memiliki kapasitas ini.
Keempat, masalah kontinuitas pasokan bahan baku. Produktivitas sereh wangi sangat dipengaruhi oleh kesuburan tanah, curah hujan, dan teknik budi daya. Petani yang belum menerapkan GAP (Good Agricultural Practices) sering menghadapi fluktuasi hasil panen yang membuat komitmen pasokan kepada buyer sulit dipenuhi.
Baca juga: Potensi Ekspor UMKM Kapulaga Hijau: Peluang Bisnis Rempah Termahal di Pasar Internasional
Langkah Konkret Pemerintah dan Peluang bagi UMKM
Pemerintah mulai mengambil langkah lebih terstruktur. Pada 2023, Kemenperin membentuk Pusat Industri Minyak Atsiri Rakyat (PIMAR) — sebuah ekosistem co-sharing yang menyediakan sarana produksi bersama, layanan inkubasi bisnis, akses ke quality assurance, serta promosi dan pemasaran produk hilir. PIMAR mulai beroperasi awal 2024 dan dirancang sebagai pusat layanan produksi sekaligus pemasaran produk hilir minyak atsiri seperti aromaterapi, flavor, fragrance, kosmetik, dan wellness products.
Selain itu, pemerintah juga menerbitkan SNI untuk minyak sereh wangi, yaitu SNI 3953-2019 tentang minyak atsiri seraiwangi tipe Jawa dan SNI 8835-2019 tentang minyak atsiri serai dapur. Standardisasi ini menjadi fondasi penting untuk membangun kepercayaan buyer internasional.
Bagi pelaku UMKM, peluangnya terbuka di beberapa segmen. Dari sisi hulu, budi daya sereh wangi menarik karena masuk baruannya relatif rendah — tanaman ini tumbuh di berbagai tipe lahan, dari dataran rendah hingga ketinggian 1.200 mdpl, tahan terhadap kondisi tanah marginal, dan panen pertama bisa dilakukan 4–8 bulan setelah tanam. Dari sisi hilir, produk konsumen berbasis sereh wangi — sabun, losion, lilin aromaterapi, body mist — memiliki margin jauh lebih tinggi dari minyak mentah dan bisa dimulai dalam skala kecil dengan investasi terjangkau.
Peluang Ada, tapi Sistem yang Menentukan
Sereh wangi mengajarkan satu pelajaran yang relevan tidak hanya untuk komoditas ini, tetapi untuk hampir semua tanaman atsiri Indonesia: kita kaya bahan baku, namun masih miskin dalam mengolah bahan baku itu menjadi produk bernilai tinggi.
Sahabat Wirausaha, sereh wangi tumbuh nyaris di mana saja di Indonesia tanpa banyak perawatan. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita punya potensi — itu sudah terbukti sejak sebelum Perang Dunia Kedua. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita mau mengolahnya lebih dari sekadar menjual minyak mentah dalam jerigen?
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Kamu juga bisa mendukung keberlanjutan konten edukatif di website melalui fitur Dukung Kami di bawah artikel ini.
Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan komunitas UMKM—yuk daftar jadi anggota melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!
Daftar Referensi:
- Balai Riset dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Kementerian Pertanian RI. (2023). Tantangan dan Peluang Industri Minyak Atsiri Indonesia di Pasar Global. https://pengelolahasil.brmp.pertanian.go.id
- Kompas.com, 2025. Promosi Industri Minyak Atsiri, Kemenperin Akan Gelar Aromatika Indofest. https://money.kompas.com/read/2025/05/23/121747926/promosi-industri-minyak-atsiri-kemenperin-akan-gelar-aromatika-indofest
- Balai Pengelola Hasil Perakitan dan Modernisasi Pertanian. 2023.Serba-serbi Minyak Atsiri Indonesia dan Potensi Pengembangannya untuk Pasar Internasional. https://pengelolahasil.brmp.pertanian.go.id/berita/serba-serbi-minyak-atsiri-indonesia-dan-potensi-pengembangannya-untuk-pasar-internasional
Dukung Misi Edukasi Kami
Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.









