
Sahabat Wirausaha, pernahkah kamu memperhatikan hamparan hijau lembut yang menempel di bebatuan, batang pohon, atau bahkan di sela-sela pagar rumah? Itulah lumut — tanaman kecil yang selama ini dianggap pengganggu oleh banyak orang. Namun siapa sangka, di balik penampilannya yang sederhana, lumut menyimpan nilai ekonomi yang luar biasa dan sudah lama menjadi incaran pasar internasional.
Destinasi utamanya? Jepang, yang menyerap 87 persen dari total ekspor lumut Indonesia. Angka ini mungkin terlihat kecil dibanding komoditas ekspor unggulan lainnya, tetapi justru di sinilah letak peluangnya: pasar lumut dunia terus tumbuh, sementara kontribusi Indonesia masih jauh dari optimal.
Bagi pelaku UMKM, ini adalah sinyal kuat. Komoditas ini tersedia melimpah di alam Indonesia, proses persiapannya relatif sederhana, dan permintaan globalnya terus meningkat. Mari kita bahas lebih dalam.
Apa Itu Lumut dan Mengapa Bernilai Tinggi?
Lumut atau Bryophyta adalah kelompok tumbuhan non-vaskular berukuran kecil yang tumbuh di tempat lembap dan teduh — di atas batu, tanah, batang pohon, bahkan di sisi-sisi bangunan. Di Indonesia, diperkirakan terdapat sekitar 3.000 dari 4.000 spesies lumut yang ada di dunia, menjadikan Indonesia salah satu negara dengan kekayaan spesies lumut terbesar secara global.
Lumut yang banyak diekspor Indonesia termasuk dalam kategori HS 06049010 — yakni mosses and lichens — yaitu jenis lumut yang sudah dikeringkan, diwarnai, diputihkan, atau diawetkan untuk keperluan industri. Jenis yang paling umum diekspor adalah lumut daun (Bryophyta) dan lumut kerak (Lichenes) yang teksturnya kuat dan tahan lama setelah dikeringkan.
Baca juga: Ginger Lily untuk Shampoo Alami: Peluang UMKM di Industri Perawatan Berbasis Tanaman
Beragam Kegunaan Lumut di Pasar Internasional
Permintaan global terhadap lumut didorong oleh luasnya kegunaan komoditas ini di berbagai sektor industri. Berikut beberapa yang paling signifikan:
- Florikultura dan dekorasi interior: Lumut digunakan untuk terrarium, kokedama, rangkaian bunga, dan elemen dekorasi dinding hijau (green wall) yang kini menjadi tren di Jepang, Eropa, dan Amerika Serikat.
- Hortikultura: Lumut gambut (Sphagnum) sudah lama digunakan sebagai media tanam unggulan untuk anggrek dan tanaman karnivora karena kemampuannya menahan air dan bersifat steril alami.
- Farmasi dan kesehatan: Lumut mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, fenolat, dan terpenoid yang memiliki aktivitas antioksidan, antibakteri, antivirus, dan anti-inflamasi. Industri farmasi Jepang, salah satunya, aktif memanfaatkan kandungan nutrisi lumut untuk pengembangan produk kesehatan.
- Kosmetik: Senyawa antioksidan dalam lumut menjadi bahan baku menarik untuk produk perawatan kulit dan kosmetik alami.
- Material bangunan ramah lingkungan: Beberapa perusahaan di Eropa memanfaatkan lumut kering sebagai panel dinding akustik ramah lingkungan dan material isolasi termal.
Fakta Ekspor Lumut Indonesia: Sudah Ada, Tapi Belum Optimal
Indonesia bukan pemain baru dalam ekspor lumut. Komoditas ini sudah tercatat sebagai bagian dari ekspor tanaman hias nasional. Pada periode Januari–September 2021, lumut (mosses and lichens) menyumbang 22,54 persen dari total ekspor tanaman hias Indonesia yang mencapai USD10,77 juta — menjadikannya komponen terbesar kedua setelah bunga potong.
Data terbaru dari Satu Data Kementerian Perdagangan RI menunjukkan ekspor lumut (HS 06049010) periode Oktober 2024–Oktober 2025 mencapai USD0,711 juta atau sekitar Rp11,6 miliar. Meski angka ini sedikit turun 5,75 persen secara tahunan — kemungkinan akibat cuaca ekstrem yang mempengaruhi produksi — tren permintaan global justru terus meningkat.
Siapa saja pembeli utama lumut Indonesia?
- Jepang: Pasar terbesar dengan nilai USD0,62 juta atau 87 persen dari total ekspor. Tradisi bonsai, ikebana, dan terrarium membuat permintaan lumut di Jepang stabil dan tinggi sepanjang tahun. Lumut kering berkualitas tinggi bahkan bisa mencapai harga puluhan dolar AS per kilogram di pasar Jepang.
- Spanyol: Pasar terbesar kedua senilai USD0,07 juta, terutama untuk dekorasi restoran, hotel, dan ruang publik.
- Inggris dan Swedia: Pasar yang terus berkembang untuk kebutuhan material dekoratif alami dan hortikultura modern.
Baca juga: Lavender sebagai Tanaman Aromatik Bernilai Tinggi dan Peluang Usaha bagi UMKM
Mengapa Indonesia Berpotensi Besar dalam Ekspor Lumut?
Setidaknya ada lima alasan kuat mengapa Indonesia punya modal besar untuk menjadi pemain utama ekspor lumut dunia:
- Keanekaragaman spesies tertinggi di dunia. Sekitar 3.000 dari 4.000 spesies lumut dunia tumbuh di Indonesia. Ini adalah keunggulan kompetitif yang tidak bisa ditandingi oleh banyak negara.
- Iklim tropis yang ideal. Hutan hujan tropis Sumatra, Jawa bagian barat, Kalimantan, dan Sulawesi menyediakan habitat sempurna bagi pertumbuhan lumut sepanjang tahun. Lumut tumbuh subur di musim penghujan di daerah berhawa lembap yang menjadi karakteristik sebagian besar wilayah Indonesia.
- Biaya produksi rendah. Lumut tumbuh liar dan tidak membutuhkan lahan khusus atau pupuk kimia. Proses panen dan pengeringan yang sederhana menjadikan modal awal relatif terjangkau bagi pelaku UMKM.
- Nilai tambah yang bisa ditingkatkan. Lumut yang sudah diolah (dikeringkan, diwarnai, atau diawetkan) memiliki harga jual jauh lebih tinggi dibanding lumut segar. UMKM bisa mengambil nilai tambah ini langsung dari tingkat produsen.
- Tren global mendukung. Tren green living, biophilic design, dan produk ramah lingkungan yang terus berkembang di Jepang dan Eropa meningkatkan permintaan terhadap material alam seperti lumut secara konsisten.
Langkah Awal UMKM untuk Memanfaatkan Peluang Ekspor Lumut
Tertarik mulai merambah pasar ekspor lumut? Berikut beberapa langkah strategis yang bisa Sahabat Wirausaha jadikan panduan:
1. Pahami Produk dan Standar Kualitas
Kenali jenis lumut yang paling diminati pasar ekspor: lumut daun (Bryophyta) dan lumut kerak (Lichenes). Pelajari proses penanganan pasca panen yang baik: pengeringan, pewarnaan (jika diperlukan), pengawetan, dan pengemasan yang memenuhi standar negara tujuan. Kualitas dan konsistensi produk adalah kunci utama kepercayaan buyer internasional.
2. Siapkan Legalitas dan Sertifikasi
Dokumen wajib yang harus disiapkan untuk ekspor tanaman dan produk tumbuhan adalah Phytosanitary Certificate (Sertifikat Kesehatan Tumbuhan) yang diterbitkan oleh Badan Karantina Indonesia. Sertifikat ini membuktikan bahwa produk lumut yang akan diekspor bebas dari hama dan penyakit tumbuhan. Pengajuan dapat dilakukan secara daring melalui sistem IQFAST (Indonesian Quarantine Full Automation System) ke Balai Karantina Pertanian terdekat. Proses penerbitan umumnya membutuhkan waktu 1–3 hari kerja.
Selain itu, pastikan juga legalitas usaha seperti Nomor Induk Berusaha (NIB) sudah tersedia. Untuk ekspor dalam skala besar, pertimbangkan mendaftarkan usaha sebagai eksportir resmi atau bermitra dengan perusahaan forwarder yang berpengalaman.
3. Riset dan Temukan Buyer
Pasar utama saat ini adalah Jepang, Spanyol, Inggris, dan Swedia. Untuk menemukan calon buyer, manfaatkan platform digital seperti Alibaba, TradeIndia, atau Indonetwork. Kamu juga bisa mendaftarkan produk di Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) yang ada di berbagai negara, atau mengikuti pameran dagang tanaman hias yang diselenggarakan Kementerian Pertanian dan Kemendag RI.
4. Pertimbangkan Keberlanjutan Produksi
Pasar ekspor kelas premium, terutama Jepang dan Eropa, semakin mengutamakan produk yang dipanen secara berkelanjutan dan memiliki sertifikasi hijau. Menjaga kelestarian ekosistem hutan sebagai sumber lumut adalah investasi jangka panjang. Kamu juga bisa mulai mengeksplorasi budidaya lumut sebagai alternatif pemanenan dari alam untuk memastikan pasokan yang stabil dan terverifikasi.
Baca juga: Manfaat Daun Pegagan Ramai Dicari, Bisakah Jadi Peluang Bisnis untuk UMKM?
Peluang Nyata, Langkah Nyata
Lumut adalah contoh nyata bahwa peluang ekspor tidak selalu datang dari komoditas besar dan mahal. Kadang, justru dari tumbuhan yang selama ini kita abaikan di pinggir got, di batang pohon tua, atau di bebatuan berlumut di pekarangan.
Indonesia memiliki semua modal yang dibutuhkan: kekayaan spesies, iklim tropis yang ideal, biaya produksi rendah, dan pasar global yang haus akan produk alam. Yang dibutuhkan sekarang adalah pelaku UMKM yang jeli melihat peluang, serius mempersiapkan kualitas dan legalitas, serta berani melangkah ke pasar internasional.
Jadi, Sahabat Wirausaha — siapkah kamu mengubah lumut liar menjadi peluang ekspor yang menggiurkan?
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Kamu juga bisa mendukung keberlanjutan konten edukatif di website kami melalui fitur dukung UKM Indonesia dibawah artikel ini.
Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!
Daftar Referensi:
- CNBC Indonesia (2025). Tumbuh Liar Dekat Got di RI, Tanaman Ini Diincar Jepang-Swiss. https://www.cnbcindonesia.com/research/20251113150625-128-684968/tumbuh-liar-dekat-got-di-ri-tanaman-ini-diincar-jepang-swiss
- BertuahPos (2025). Potensi Pasar Ekspor Lumut Kering Terbuka, Paling Diincar Jepang dan Korsel. https://bertuahpos.com/business/potensi-pasar-ekspor-lumut-kering.html
- Jurnal STKIP Muhammadiyah Bogor (2025). 30 Manfaat Tumbuhan Lumut, Penyubur Tanah Alami. https://jurnal.stkipmb.ac.id/30-manfaat-tumbuhan-lumut-penyubur-tanah-alami-repository/
- Badan Karantina Indonesia. Ekspor Tumbuhan dan Produk Tumbuhan. https://karantinaindonesia.go.id/hal/EKSPOR-TUMBUHAN-DAN-PRODUK-TUMBUHAN
Dukung UKM Indonesia
Terima kasih telah membaca. Jika konten ini bermanfaat, dukung kami untuk terus menyajikan informasi berkualitas bagi UMKM Indonesia.









