Sahabat Wirausaha, memasuki 2026, dinamika perdagangan global semakin menuntut konsistensi dan kredibilitas sistem mutu. Dalam konteks itu, pengalaman pemulihan ekspor udang Indonesia pada 2025 menjadi studi penting tentang bagaimana standar keamanan pangan dan diplomasi teknis menentukan daya saing di pasar internasional, khususnya Amerika Serikat (AS).

Pada 2025, sektor udang sempat diuji oleh isu temuan kontaminasi radioaktif cesium pada salah satu produk perikanan Indonesia. Namun alih-alih melemah, ekspor justru menunjukkan pemulihan. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melaporkan bahwa ekspor udang Indonesia ke AS pada triwulan III 2025 meningkat sekitar 16,3 persen dibanding periode sebelumnya. Angka tersebut bukan sekadar kabar baik, melainkan indikator bahwa sistem pengawasan dan respons klarifikasi Indonesia masih dipercaya oleh pasar.

Karena itu, pertanyaan yang relevan hari ini bukan lagi apakah udang Indonesia laris, melainkan bagaimana memastikan momentum pemulihan tersebut benar-benar memperkuat posisi Indonesia dalam struktur persaingan global yang semakin kompetitif.


Udang Indonesia dan Posisi di Pasar Amerika Serikat

Amerika Serikat selama ini merupakan salah satu pasar utama udang Indonesia. Komoditas ini menjadi tulang punggung ekspor perikanan nasional, bersaing dengan negara produsen besar seperti India, Vietnam, dan Ekuador.

Data KKP menunjukkan bahwa udang masih menjadi komoditas unggulan ekspor sektor kelautan dan perikanan. Pada periode Januari–September 2025, volume dan nilai ekspor udang Indonesia menunjukkan tren peningkatan, terutama ke pasar AS. Bahkan, pada periode pemulihan pasca isu kontaminasi di 2025, Indonesia kembali mengirim lebih dari 100 ton udang ke pasar Amerika.

Fakta ini penting dibaca secara strategis. Pasar AS dikenal ketat dalam menerapkan standar keamanan pangan. Ketika pengiriman tetap berjalan dan bahkan meningkat, artinya otoritas setempat masih menilai sistem pengawasan Indonesia cukup kredibel untuk dipertahankan dalam rantai pasok mereka.

Bagi pelaku usaha dan pembudidaya, ini adalah sinyal bahwa peluang ekspor masih terbuka luas. Namun peluang tersebut tidak berdiri sendiri; ia selalu berdampingan dengan tuntutan mutu.

Baca Juga: Porang Pernah Jadi Primadona Ekspor, Masih Menjanjikan bagi UMKM Indonesia Saat Ini?


Produksi Dalam Negeri dan Daya Saing Global

Secara produksi, Indonesia termasuk dalam jajaran produsen udang terbesar dunia, terutama untuk jenis vaname. Sentra tambak tersebar di berbagai wilayah seperti Jawa Timur, Lampung, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat.

Produksi nasional yang besar menjadi modal penting untuk memenuhi permintaan ekspor. Namun daya saing global tidak hanya ditentukan oleh volume. Efisiensi budidaya, konsistensi ukuran, standar residu, serta kemampuan menjaga rantai dingin (cold chain) menjadi faktor pembeda di pasar internasional.

Di tengah meningkatnya permintaan AS, Indonesia juga menghadapi persaingan agresif dari negara lain. India dan Ekuador, misalnya, terus meningkatkan produktivitas dan efisiensi biaya produksi. Artinya, Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan reputasi lama. Perbaikan sistem harus berjalan seiring dengan peningkatan volume.


Struktur Pasar: Posisi Indonesia Berdasarkan Data 2023

Sahabat Wirausaha, agar tidak keliru membaca momentum, kita perlu membedakan dua konteks data.

Pertama, struktur pangsa pasar global terakhir yang telah terkonfirmasi penuh merujuk pada data impor Amerika Serikat tahun 2023. Berdasarkan data tersebut, Indonesia berada di peringkat ketiga sebagai pemasok udang ke AS, setelah India di posisi pertama dan Ekuador di posisi kedua.

Kedua, tren pemulihan ekspor Indonesia pada 2025 menunjukkan adanya kenaikan 16,3 persen pada triwulan III. Namun, kenaikan ini tidak otomatis mengubah struktur peringkat global, karena ranking resmi full-year 2024 belum dirilis oleh otoritas perdagangan AS dan data 2025 masih berjalan.

Artinya, konfigurasi persaingan masih mengikuti struktur 2023, sementara Indonesia sedang menunjukkan momentum penguatan pada 2025.

Pada 2023, India memimpin sebagai pemasok utama udang ke AS. Keunggulan India terletak pada skala produksi yang sangat besar dan integrasi industri dari tambak hingga fasilitas pengolahan. Dengan struktur industri yang terkonsolidasi, India mampu menawarkan volume tinggi dengan harga kompetitif. Bagi buyer besar di AS, kepastian pasokan dalam jumlah besar menjadi pertimbangan utama.

Ekuador berada di posisi kedua dan dikenal memiliki rantai pasok yang sangat efisien. Negara ini fokus pada udang vaname dengan ukuran yang konsisten serta sistem logistik yang relatif lebih dekat ke pasar Amerika. Efisiensi distribusi dan kestabilan mutu menjadi kekuatan utama Ekuador.

Indonesia berada di posisi ketiga dengan karakter yang berbeda. Produksi udang nasional cukup besar dan memiliki pengalaman panjang di pasar ekspor. Udang Indonesia diterima di berbagai segmen, termasuk retail dan food service. Namun dibanding dua pesaing utama, struktur produksi Indonesia masih relatif lebih tersebar dan belum sepenuhnya terintegrasi dalam sistem industri berskala besar yang seragam.

Perbedaan ini berpengaruh pada konsistensi pasokan dan efisiensi biaya. Beberapa negara pesaing telah lebih dulu menerapkan intensifikasi berbasis teknologi secara luas. Di Indonesia, modernisasi tambak berjalan bertahap dan belum merata di semua sentra produksi.

Namun momentum kenaikan ekspor 2025 menunjukkan bahwa Indonesia tetap memiliki daya saing. Permintaan pasar AS masih menyerap udang Indonesia, bahkan setelah isu kontaminasi. Ini menandakan bahwa sistem pengawasan dan diplomasi teknis Indonesia masih dipercaya.

Bagi pelaku usaha dan pembudidaya, pembanding ini memberi dua pesan strategis.

Pertama, posisi peringkat ketiga adalah fondasi yang kuat, tetapi belum cukup untuk merasa aman. Persaingan volume dan efisiensi akan terus menekan margin jika tidak diimbangi peningkatan produktivitas.

Kedua, momentum pemulihan 2025 harus dibaca sebagai peluang memperkuat sistem, bukan sekadar mengejar lonjakan ekspor sesaat.

Jika ingin memperbesar pangsa pasar di AS, strategi tidak cukup hanya menambah produksi. Perlu langkah sistematis seperti:

  • Meningkatkan efisiensi biaya tanpa mengorbankan kualitas, agar tetap kompetitif terhadap India dan Ekuador.
  • Memperkuat sistem traceability dari tambak hingga ekspor, sehingga setiap isu dapat ditangani berbasis data.
  • Membangun kemitraan dengan pengolah dan eksportir tersertifikasi, untuk menjaga konsistensi standar internasional.
  • Menjaga konsistensi ukuran dan standar residu, karena pasar AS sangat sensitif terhadap variasi mutu.

Persaingan global pada akhirnya bukan hanya soal siapa paling besar, tetapi siapa paling konsisten dan paling siap memenuhi standar. Indonesia sudah berada di tiga besar berdasarkan data terakhir yang terkonfirmasi. Tantangannya kini adalah menjaga momentum pemulihan 2025 agar benar-benar memperkuat posisi struktural, bukan sekadar mencatat kenaikan sementara.


Ujian Standar Mutu dan Proses Pemulihan Kepercayaan

Isu temuan kontaminasi cesium pada 2025 menjadi pengingat bahwa pasar ekspor tidak pernah lepas dari risiko. Ketika terjadi pengembalian produk, prosesnya tidak berhenti di titik penolakan. Ada mekanisme klarifikasi dan verifikasi formal antara otoritas.

Dalam situasi seperti ini, pemerintah melalui KKP dan otoritas karantina melakukan penelusuran (traceability) terhadap asal produk, fasilitas pengolahan, serta dokumen ekspor. Sampel diuji ulang di laboratorium terakreditasi, dan audit dilakukan untuk memastikan apakah temuan tersebut bersifat kasus terbatas atau sistemik.

Jika investigasi menunjukkan bahwa persoalan tidak mencerminkan kegagalan sistem nasional, maka laporan resmi disampaikan kepada otoritas negara tujuan. Di sinilah diplomasi teknis memainkan peran. Negosiasi internasional di sektor pangan bukan soal tawar-menawar harga, melainkan pembuktian sistem pengawasan.

Kepercayaan pasar dapat dipulihkan ketika negara pengekspor mampu menunjukkan tindakan korektif yang jelas dan sistem mutu yang berjalan. Kenaikan ekspor 16,3 persen menjadi indikasi bahwa mekanisme tersebut berhasil meyakinkan pasar AS.

Baca Juga: Produk Pistachio Ramai, UMKM Perlu Ikut Tren atau Hitung Ulang Margin Impor?


Edukasi bagi UMKM: Memahami Negosiasi dan Standar Global

Sahabat Wirausaha, ada pelajaran penting bagi pelaku usaha tambak maupun pengolahan.

Pertama, reputasi ekspor adalah tanggung jawab kolektif. Satu kasus bisa berdampak pada persepsi terhadap seluruh produk nasional. Karena itu, praktik budidaya yang baik (good aquaculture practices) bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi bagian dari strategi bisnis jangka panjang.

Kedua, dokumentasi produksi menjadi kunci. Dalam situasi klarifikasi internasional, data yang rapi mengenai asal benur, kualitas pakan, pengujian air, hingga catatan panen akan memperkuat posisi tawar Indonesia.

Ketiga, standar internasional sebaiknya tidak dipandang sebagai hambatan. Standar tersebut justru menjadi pintu masuk pasar premium. Ketika pelaku usaha mampu memenuhi persyaratan residu, kebersihan, dan traceability, akses pasar akan lebih stabil.

Keempat, komunikasi antara pemerintah dan pelaku usaha perlu terjaga. Respons cepat dan transparan ketika muncul isu akan lebih efektif daripada sikap defensif. Pasar global cenderung menghargai sistem yang terbuka dan berbasis data.

Baca Juga: Rebung dari Bambu Melimpah di Indonesia, Benarkah Berpotensi Jadi Superfood Masa Depan?


Momentum atau Sekadar Siklus?

Peningkatan ekspor udang ke AS bisa dibaca sebagai momentum. Namun Sahabat Wirausaha, momentum perlu dijaga dengan strategi.

Permintaan global terhadap protein laut relatif stabil, terutama di negara dengan konsumsi seafood tinggi seperti AS dan Jepang. Namun fluktuasi nilai tukar, kebijakan perdagangan, serta standar keamanan pangan yang terus diperbarui dapat memengaruhi dinamika ekspor.

Karena itu, strategi jangka panjang perlu mencakup diversifikasi pasar tujuan, peningkatan efisiensi produksi, serta investasi pada sistem mutu. Pelaku usaha yang hanya mengejar volume tanpa memperkuat tata kelola berisiko menghadapi persoalan serupa di masa depan.

Udang Indonesia memang kembali laris di AS. Tetapi keberlanjutan peluang ekspor akan sangat ditentukan oleh konsistensi standar mutu produk. Di pasar global, kepercayaan bukan diberikan sekali untuk selamanya; ia harus dijaga melalui praktik yang disiplin dan transparan.

Bagi Indonesia, komoditas udang bukan sekadar sumber devisa, tetapi cerminan daya saing sektor perikanan nasional. Tantangannya kini bukan hanya memperbanyak produksi, melainkan memastikan setiap kilogram yang diekspor membawa reputasi yang sama: aman, berkualitas, dan dapat ditelusuri.

Memasuki 2026 dan seterusnya, konsistensi sistem mutu dan tata kelola ekspor akan menjadi penentu apakah Indonesia hanya bertahan di tiga besar, atau mampu memperkuat posisinya secara struktural di pasar global.

Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!

Follow Instagram @ukmindonesiaid biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!

Referensi

  1. CNN Indonesia, 2025, KKP Sebut Udang RI Makin Laris di AS Meski Ramai Temuan Cesium,
    https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20251106124606-92-1292573/kkp-sebut-udang-ri-makin-laris-di-as-meski-ramai-temuan-cesium
  2. Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2025, Udang Indonesia Kembali Diserap Pasar AS, Ekspor Triwulan III Naik 16,3 Persen,
    https://kkp.go.id/news/news-detail/udang-indonesia-kembali-diserap-pasar-as-ekspor-triwulan-iii-naik-163-persen-QkQM.html
  3. Radar Surabaya Bisnis, 2025, Ekspor Udang ke AS Sudah Pulih, Indonesia Kirim 106 Ton,
    https://radarsurabayabisnis.jawapos.com/industri-perdagangan/2186798459/ekspor-udang-ke-as-sudah-pulih-indonesia-kirim-106-ton
  4. World Integrated Trade Solution (WITS) – World Bank, 2024, US Import Data HS 030613/030617 (Frozen Shrimp), Data Tahun 2023. https://wits.worldbank.org/trade/comtrade/en/country/USA/year/2023/tradeflow/Imports/partner/ALL/product
  5. US Import Data, 2024, US Shrimp Import Data and List of Top Shrimp Importers in USA,
    https://www.usimportdata.com/blogs/us-shrimp-import-data-and-list-of-top-10-shrimp-importers-in-usa
  6. Shrimp Insights, 2025, US 2024 Shrimp Imports Drop 3% YoY, Still Above Pre-Pandemic Level,
    https://www.shrimpinsights.com/byte/us-2024-shrimp-imports-drop-3-yoy-9-ahead-pre-covid-2019 

Dukung UKM Indonesia

Terima kasih telah membaca. Jika konten ini bermanfaat, dukung kami untuk terus menyajikan informasi berkualitas bagi UMKM Indonesia.