UKM Indonesia

Mendulang Cuan : Bisnis Hampers Hari Raya


bathroom essentials on wooden crate

Sumber: Unsplash

Apakah Sahabat Wirausaha masih ingat berapa banyak hampers atau bingkisan yang diterima atau dikirimkan pada saat hari raya kemarin? Apakah semuanya diposting di status media sosial? Atau rekan-rekan yang menerima hampers dari kita me-mention kita di postingan social media mereka? Jawabannya pasti banyak yang menjawab YA! Hal ini juga saya jumpai sendiri secara langsung, bahwa beberapa tahun terakhir ini, khususnya di masa pandemi, di masa hari raya, hampir 50% postingan media social teman-teman saya, kemudian juga artis dan influencer dipenuhi dengan postingan hampers yang mereka terima ataupun postingan repost dari rekan yang menerima hampers dari mereka.

“Memamerkan” hampers di media sosial mulai menjadi kebiasaan dan kebanggaan tersendiri bagi konsumen, gak hanya kaum milenial, generasi yang lebh tua pun turut menikmati pertunjukkan ini dan makin lama menggeser-geser layer media sosialnya. Postingan hampers ini seakan mampu dan menjadi toak ukur untuk menunjukkan kelas sosial mereka. Seberapa mahal hampers yang mereka terima atau kirimkan dan berapa banyak jumlahnya. Fenomena ini tentunya turut berpengaruh terhadap banyak produk baik buatan lokal maupun buatan luar negeri. Tim kami melakukan survey mengenai minat konsumen terhadap fenomena saling kirim hampers ini. Survey yang dilaksanakan selama tiga bulan di tahun 2021 ini ternyata menunjukkan hasil menarik.

Hampers itu apa sih?

Beberapa tahun yang lalu hampers lebih dikenal sebagai parsel, dengan tampilan khas keranjang rotan dan berbagai jenis makanan ditata rapi kemudian dilapisi dengan plastik bening dan diberi pita serta kartu ucapan yang sematkan di atasnya. Menjelang hari raya biasanya supermarket dekat rumah dipenuhi jajaran parcel yang sudah dirangkai dengan berbagai macam isi dan harga. Seiring berjalannya waktu, selain disebut dengan parsel, bingkisan ini lebih popular dengan sebutan hampers.

Ilustrasi parsel Lebaran

Ilustrasi gambar parsel. Sumber : www.kompas.com

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan parsel adalah bingkisan yang berisi berbagai hadiah, seperti aneka kue, makanan dan minuman dalam kaleng, barang pecah belah, yang ditata apik dalam keranjang dan dikirimkan kepada orang-orang tertentu pada hari raya (KBBI, 2021). Sedangkan, asal kata hampers itu sendiri berasal dari Bahasa Inggris, sehingga tidak ditemukan di KBBI. Kata hampers sendiri mengandung arti keranjang anyaman, dimana pada abad ke 11, keranjang anyaman ini menjadi media untuk membawa makanan dan anggur dalam perjalanan perang yang memakan waktu lama dan Panjang. Keranjang anyaman sendiri dipilih karena dianggap kuat, namun dengan bobot yang lebih ringan dibandingkan dengan keranjang yang terbuat dari kayu. Munculnya tradisi mengirim parsel berasal dari tradisi dimana para kaum perempuan mengirimkan makanan kepada suami mereka yang pergi berperang.

summer-hamper

Ilustrasi hampers dengan produk import. sumber : https://www.hampers.com

7 Isi Hampers Lebaran Unik dan Bermanfaat | Doran Souvenir

Ilustrasi hampers dengan produk lokal. sumber : https://doransouvenir.com/hampers-lebaran-unik/

Hampers Menjadi Tradisi

Saling berkirim bingkisan, sebenarnya sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia sejak lama. Hampers atau bingkisan pada saat hari raya keagamaan atau hari besar lainnya dikirimkan untuk keluarga, sahabat, rekan kerja dan orang-orang yang dihormati.

Berbeda dengan parsel, kemasan dari hampers, bentuk serta isinya makin bervariasi, sesuai dengan budget pengirim hampers dan siapa tujuan pengiriman hampers tersebut. Dahulu, parsel didominasi oleh para pejabat dan koleganya, namun saat ini hampers bias diperuntukkan bagi semua kalangan. Tujuan pengiriman hampers tidak harus pejabat atau atasan. Hampers bisa dikirimkan kepada rekan sejawat, teman kantor, teman alumni, guru sekolah anak-anak kita, instruktur Zumba di tempat senam dan juga gebetan kita lho.

Tradisi berkirim hampers sepertinya makin dipercepat perkembangannya dengan adanya pandemi. Pandemi, seperti yang terukir dalam ingatan kita, mulai masuk ke Indonesia pada awal maret 2020 dan masih berlangsung hingga saat ini dengan kurva yang naik turun, sudah melewati beberapa kali hari raya keagamaan dan hari besar nasional seperti hari raya idul fitri 2020, hari raya idul adha 2020, hari raya natal 2020, tahun baru 2021, hari raya idul fitri 2021 dan hari raya idul adha 2021. Selain virus corona yang menyebar hingga ke pelosok desa, menyebabkan adanya aturan pembatasan sosial dan bahkan pembatasan fisik di masyarakat.

Tradisi mudik, saling mengunjungi sanak keluarga, sahabat dan rekan kerja di saat hari raya menjadi ditiadakan oleh pemerintah. Di saat itulah hampers, hadir untuk menjembatani kekosongan tersebut, di saat kita tidak bisa mudik, tidak bisa saling berkunjung, saling mengirim hampers menjadi pengganti dalam menyambung tali silaturahmi pada hari raya dan hari besar. Hampers menjadi simbol yang berubah peran menjadi penyambung silaturahmi, menjaga hubungan baik dengan atasan dan kolega, dan merefleksikan status sosial.

Peluang Bisnis Hampers

Pada saat hari raya tiba, media sosial dipenuhi postingan ucapan terima kasih dari penerima hampers pada pengirimnya, sebaliknya, pengirim hampers juga mengunggah postingan yang sama dengan menyertakan nama sosial media pembuat hampers tersebut. Hal ini turut berdmapak positif bagi para produsen hampers, khususnya yang berasal dari kalangan UMKM, karena bisa menjadi media promosi gratis dan testimonial yang memperkaya portofolio mereka.

Beberapa situs internet dan lembaga penelitian juga menyebutkan bahwa kerjasama antar UMKM menjadi kunci dalam mengembangkan usaha hampers, dan di sisi lain, kolaborasi antar UMKM menjadi cara yang efektif untuk bertahan di masa pandemi ini. Karena bagi sebagian UMKM, menurunnya penjualan membuat cadangan modal juga makin menurun, sehingga untuk menyediakan seluruh barang yang akan dijual sendirian menjadi sangat sulit. Strategi ini juga dianggap bisa menolong UMKM yang masih tergolong pemula atau yang omzetnya masih kecil jika bekerja sama dengan produsen hampers yang sudah memiliki nama dan omzet yang besar. Hampers lebaran makin marak dari tahun ke tahun dan variasi harga, produsen, produk, bentuk dan kemasannya makin beragam. Bahkan saat ini dengan budget di bawah Rp. 100 ribu rupiah saja, kita sudah bisa mengirimkan hampers lebaran kepada kerabat dan rekan kerja. Dan nampaknya fenomena ini sangat dekat dengan media sosial sebagai penyampai pesan kepada pengirim atau penerima, dan bahkan ada kecenderungan fenomena saling kirim hampers ini menampakkan kelas sosial pengirim dan penerima, sehingga sangat mungkin berdampak pada kesenjangan sosial. Hasil penelitian kami dengan judul Hampers dan Geliat UMKM, mencoba memotret fenomena ini, siapa dan apa tren hampers belakangan ini, serta menganalisis tren hampers ke depannya.

Berdasarkan hasil survey yang kami lakukan selama tiga bulan dari bulan mei-juli 2021 kepada 90 orang responden yang melakukan pengiriman hampers lebaran pada masa hari raya idul fitri 2021, kami mendapatkan 5 hasil sebagai berikut.

  1. Konsumen hampers lebih banyak didominasi oleh kaum perempuan dengan angka sebanyak 75%. Jumlah ini tidak mutlak menggambarkan bahwa konsumen hampers sebenarnya adalah perempuan, karena survey lain menjelaskan bahwa untuk produk tertentu, konsumen pria cenderung meminta bantuan kepada pasangan atau rekan kerja untuk membelikan produk tersebut.
  2. Usia yang mendominasi konsumen hampers ini adalah kaum milenial yang berusia 25-40 tahun, dimana ciri khas dari kelompok ini adalah mereka melek tekhnologi dan sangat memanfaatkan tekhnologi digital dalam kehidupan termasuk berbelanja.
  3. Cukup menyenangkan melihat data yang menjelaskan bahwa jenis pekerjaan konsumen hampers ini cukup beragam dari pegawai BUMN, pegawai negeri sipil, pegawai swasta, wiraswasta dan lain-lain dengan persentase jumlah yang hampir sama. Hal ini dapat diartikan bahwa pada saat ini hampers diminati oleh banyak kalangan, sehingga peluang bisnis hampers makin terbuka lebar.
  4. Dari sisi pendapatan, pada survei ini, responden terdiri dari 65% dengan pendapatan dibawah 10 juta rupiah, 25% dengan pendapatan hingga 25 juta rupiah dan sisanya berpendapatan di atas 25 juta rupiah. Hal ini menggambarkan bahwa minat untuk produk hampers sangat bervariasi dari segi budget.
  5. 56% dari responden menyatakan bahwa mereka memesan hampers untuk dikirimkan kepada teman dekat, kemudian 34% dikirimkan kepada keluarga, dan sisanya untuk kolega.
Kreativitas Mendongkrak Keuntungan

Membangun usaha dalam bidang apapun membutuhkan banyak skill termasuk kreativitas. Kreativitas dalam memilih produk, mendesain promosi untuk produk tersebut, mendesain kemasan produk, memanfaatkan digital marketing dalam menjual produk dan kreativitas lainnya. Terlebih lagi di saat masa pandemi, para pengusaha dari pengusaha kecil hingga pengusaha besar berjuang mencari cara untuk bertahan di masa pandemi. Dari banyak usaha yang terkena dampak pandemi akhirnya menyerah, mereka-mereka yang bertahan adalah yang kreatif dalam mencari solusi. Beberapa hal yang bisa dimanfaatkan dalam bisnis hampers adalah :

  1. Produk dengan value. Pilih dan pikirkan produk yang mempunyai value, produk yang berbeda dari yang lain, produk yang baru dikenal atau produk yang Namanya unik atau buat inovasi baru dari produk sehingga konsumen tertarik untuk mencoba. Contohnya adalah Dear Butter yang mengeluarkan produk croffle. Makanan ini mendadak viral di media sosial hingga muncul jastip-jastip atau jasa titip untuk membelinya, banyak influencer, kaum milenial dan kaum sosialita ramai-ramai memposting makanan ini di media sosial. Jika dicermati, bentuk croffle ini mengingatkan kita pada makanan waffle yang sudah kita kenal sejak lama di Indonesia, ternyata croffle ini tidak jauh berbeda, makanan ini terbuat dari adonan waffle dipadukan dengan adonan croissant sehingga rasanya lebih crispy dibanding waffle. Pemiliknya menyatakan bahwa gerai Dear Butter bisa menjual 1.600 croffle dalam sehari. Dalam kasus ini, makanan yang baru, pandemi, serta efek media sosial yang membantu memviralkan produk ini merupakan paduan yang mendukung dari kreativitas pemilik usaha dalam menciptakan dan mempertahankan bisnis.
  2. Manfaatkan tekhnologi digital. Manfaatkan seluruh digital market yang ada, marketplace, media sosial, website, chat application, online food delivery, blog, youtube dan lainnya. Saat ini banyak orang memantau dunia melalui ponsel mereka, termasuk produk-produk baru, promosi dan kisah hidup orang lain. Di saat masa ppkm/ lockdown, masyarakat sangat terbantu dengan jasa dari online shop dan online food delivery yang ada. Layanan yang ditawarkan, membantu masyaratkat tetap dapat memenuhi kebutuhan mereka tanpa harus keluar rumah dan meng
  3. Manfaatkan fenomena influencer. Media promosi untuk produk saat ini tidak hanya terbatas menggunakan media print saja, banyak strategi lainnya yang dapat digunakan untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat, salah satunya adalah menggunakan jasa influencer. Pilih influencer dengan citra diri yang sesuai dengan produk yang akan kita jual, dan untuk di awal pilihlah influencer yang belum begitu terkenal dan biaya endorsenya masih relative rendah. Menggunakan jasa influencer memungkinkan kita untuk membangun kepercayaan dari konsumen terhadap produk yang kita tawarkan.
Trend Hampers di Masa Depan

Survey yang kami lakukan memberikan gambaran mengenai trend hamper di masa depan, penjelasannya sebagai berikut :

  1. Responden menyatakan bahawa 78% dari mereka lebih memilih hampers dari produsen lokal sedangkan sisanya mempertimbangkan juga hampers yang berisi produk import. Mereka menyatakan bahwa produsen lokal memilik daya Tarik dan kualitas produk yang tidak kalah dibandingkan dengan produk import. Selain itu produsen hampers lokal lebih banyak dan lebih mudah ditemukan juga dengan harga yang lebih rendah dibandingkan produk import.
  2. Penggunaan kurir online juga menjadi pilihan terbanyak dari responden, sebanyak 68% dari responden menyatakan menggunakan kurir online untuk mengantar hampers mereka ke tujuan. Cara ini adalah cara yang paling simple dan murah dibandingkan harus mengirimkan sendiri ke tujuan.
Strategi Jualan Hampers Laku Keras

Buat Sahabat Wirausaha yang ingin nyobain bisnis hampers ini, walaupun bisnis ini tergolong mudah dijalankan, namun ada beberapa hal yang musti diperhatikan sebelum memutuskan untuk terjun:

  1. Mulailah dengan Modal Berapapun Juga
Adanya internet dan marketplace yang sangat mudah diakses saat ini memungkinkan kita untuk tidak perlu memiliki barang terlebih dahulu saat memulai usaha. Cara ini biasanya dikenal sebagai dropship atau menjadi reseller. Dengan menjadi dropshiper dan reseller, kita bisa memulai usaha hanya dengan bermodalkan ponsel dan kuota, sisanya kita hanya perlu memilih dan memutuskan dari supplier atau produsen mana kita akan mengambil barang yang hendak kita jual.

  1. Tentukan target Market
Selanjutnya kita harus menentukan siapa target market kita, karena hal tersebut akan mempengaruhi jenis barang yang akan kita jual serta harganya. Cara termudah untuk menentukan target market adalah dengan melakukan survey ke sekitar kamu, teman, saudara dan kolega. Cara lainnya adalah melakukan survey di marketplace, masukkan keyword hampers, lihat hasil yang muncul dan lihat yang paling banyak laku terjual produk apa. Dengan melihat jenis produknya kita bisa mengetahui kira-kira segmen konsumen mana yang paling banyak dituju. Tentunya ad acara lain yang lebih sulit dan memakan waktu ya untuk menentukan target market ini, namun untuk langkah awal mulailah dengan yang paling mudah.

  1. Kerja Keras Cari Ide Kreatif
Bisnis hampers yang sedang booming ini pastinya dilirik oleh banyak pihak, terlebih di masa pandemi ini banyak bisnis yang mengalami penurunan sehingga para pelaku UMKM juga mencari peluang bisnis lain yang lebih menguntungkan. Karena banyaknya pesaing, Sahabat Wirausaha harus jeli dan bekerja keras dalam mencari ide kreatif untuk hampers yang akan dijual ini. Pikirkan bagaimana kemasannya, bagaimana menata produk dalam kemasan tersebut, warna dan bahan untuk kemasannya, yang tentu saja disesuaikan dengan target market yang sudah ditentukan sebelumnya.

  1. Berkolaborasi dengan Produsen Lain
Sahabat Wirausaha harus ingat, saat ini kita hidup di masa yang menurut para ahli adalah masa ekonomi berbagi (Sharing Economy), dimana konsep ekonomi berbagi diartikan sebagai konsep bisnis yang dapat memberikan akses kepada sumber daya yang dimiliki pihak lain untuk dikonsumsi atau dimanfaatkan Bersama. Tujuannya beragam, seperti menghemat biaya, mengurangi dampak lingkungan, dan juga memaksimalkan keuntungan. Dengan bekerja sama dengan produsen lain, kita akan mendapatkan beberapa manfaat seperti, biaya kemasan dan pengiriman tidak ditanggung sendiri, ragam produk lebih banyak, base konsumen dan promosi yang lebih luas dan juga menghemat ongkos produksi.

  1. Tetapkan Harga yang Bersaing
Walaupun banyak paket hampers yang dikemas secara premium dan berisi lebih dari dua produk dengan harga ratusan ribu rupiah, bukan berarti kita harus menjual dengan harga yang mahal juga. Penetapan harga akan sangat tergantung dengan harga pokok produksi dan siapa target konsumen kita. Tentunya kita juga harus coba melirik ke toko sebelah, setinggi atau serendah apa pesaing kita menetapkan harga mereka.

Peluang jadi Tajir Bisnis Hampers

Pemaparan di atas menggambarkan dengan jelas bahwa bisnis hampers adalah bisnis yang cukup menjanjikan jika digarap dengan baik. Walaupun saat ini bisnis hampers masih menjadi bisnis musiman di saat momen-momen tertentu, namun terdapat kecenderungan perkembangan bisnis hampers ini akan menjadi bisnis yang dicari masyarakat lebih sering, seperti hampers untuk momen ulang tahun, kelahiran anak, wisuda, farewell party, bachelor party dan acara-acara lainnya. Tren inilah yang sebaiknya dimanfaatkan oleh Sahabat Wirausaha secara serius. Produk hampers yang dpilih bisa sangat beragam seperti kue kering, kue basah dan cake, alat ibadah, perlengkapan rumah tangga, sembako, kosmetik dan asesoris. Sahabat Wirausaha bisa memilih produk yang paling dikuasai untuk memulai bisnis ini. Nah, tunggu apalagi, selamat berkreasi dan mendulang cuan dari bisnis hampers.

Ajeng Septiana Wulansari, Dosen Marketing UPN Veteran Jakarta, Doctoral Student Program Doktor Ilmu Manajemen UGM

Tags
Mungkin Anda perlu membaca Artikel ini: