“Pemberlakuan MEA di Indonesia pada tahun 2015 akan memberikan beberapa tantangan baik di dalam negeri maupun persaingan dengan sesama negara ASEAN dan negara lain di luar ASEAN seperti China dan India. Persaingan ini akan berdampak pada persaingan harga barang yang tidak hanya terjadi pada komoditas unggulan/ industri besar (UB), tetapi juga bagi para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).” (Putri et al, 2019)

Dalam menjalankan usaha, Sahabat Wirausaha perlu memperhatikan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Hal ini dikarenakan setiap kebijakan tersebut akan berdampak terhadap kegiatan usaha yang dimiliki, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini dikarenakan Sahabat Wirausaha akan diharuskan untuk menyesuaikan berbagai aspek dari kegiatan usaha dengan peraturan yang ada. Jika tidak melakukan penyesuaian Sahabat Wirausaha dapat tertinggal dari pelaku usaha lain atau bahkan mendapatkan sanksi.

Salah satu kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah semenjak tahun 2015 adalah ASEAN Economic Community atau yang juga dikenal dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Kebijakan ini diberlakukan untuk memperluas peluang perdagangan melalui penciptaan area perdagangan terbuka di kawasan ASEAN. Jika bisa memahaminya dengan baik, Sahabat Wirausaha dapat memanfaatkannya sebagai sebuah peluang, meskipun bisa menjadi tantangan pula di sisi yang lain.

Dalam rangka memaksimalkan kebijakan tersebut, Sahabat Wirausaha perlu mempelajari lebih lanjut mengenai apa yang dimaksud dengan MEA. Setelah memahami dengan baik mengenai kebijakan tersebut, barulah Sahabat Wirausaha bisa melakukan beberapa penyesuaian strategi dalam rangka memanfaatkan peluang yang ada.

Baca Juga: Penting! Ketahui 4 Tahap Marketing Funnel untuk Strategi Pemasaran Lebih Efektif 


Mengenal Lebih Dalam Mengenai MEA

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, MEA diluncurkan pada tahun 2015 yang ditandai dengan penandatanganan Cetak Biru Masyarakat Ekonomi ASEAN 2025. Pada cetak biru tersebut, terdapat beberapa kesepakatan yang berfokus pada integrasi ekonomi antar para anggota negara ASEAN degan 1900 langkah kebijakan yang akan diambil. Hingga tengah tahun 2020, 84 persen dari langkah kebijakan tersebut telah diimplementasikan dimana 43 persen tersebut berstatus selesai dan 41 persen lainnya dalam tahapan implementasi.

Dari banyaknya kebijakan yang ada pada MEA, terdapat beberapa yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku UMKM. Kebijakan pertama yang dapat dimanfaatkan adalah kebijakan mengenai perdagangan. Pada kebijakan ini, negara-negara ASEAN menyepakati untuk membuka ruang perdagangan seluas-luasnya dengan memperkecil tarif dan pajak untuk perdagangan barang antar negara ASEAN. Sebagai contoh, semenjak tahun 2020 biaya transaksi perdagangan di ASEAN diturunkan sebesar 10% sesuai dengan hasil ASEAN Council Meeting di tahun 2017. Selain itu, hingga tahun 2023 ASEAN secara keseluruhan telah mengeliminasi biaya hingga 96% dari total tarif yang ada.

Kebijakan ini baiknya diperhatikan oleh Sahabat Wirausaha khususnya ketika akan mengirimkan produk ke negara tetangga. Dengan adanya penurunan tarif di negara-negara ASEAN, rencana distribusi keluar negeri menjadi relatif lebih murah. Meski begitu, Sahabat Wirausaha juga perlu berhati-hati dimana kebijakan ini juga mungkin mempermudah usaha sejenis di beberapa negara tetangga untuk masuk ke Indonesia dan menjadi pesaing dari produk yang dimiliki.

Selain kebijakan mengenai perdagangan, MEA juga memiliki kebijakan khusus yang berkaitan dengan UMKM. Beberapa program tersebut berkaitan dengan pengembangan kapasitas UMKM. Beberapa jenis program tersebut adalah ASEAN SME Online Academy, ASEAN SME Service Center, ASEAN Business Incubator Network dan ASEAN Mentorship for Entrepreneurs Network. 

Dari beberapa program tersebut, Sahabat Wirausaha dapat memulai dengan mengakses ASEAN SME Online Academy yang dibuka secara online melalui kanal https://asean-sme-academy.org/. Pada halaman tersebut, ASEAN menyediakan banyak pelatihan yang bekerja sama dengan berbagai lembaga donor dan juga swasta. Pelatihan yang diadakan juga cukup beragam mulai dari aspek operasional, keuangan, pemasaran hingga berbagai topik lainnya. Pemerintah Indonesia sendiri mengintegrasikan program ini dengan Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) dengan tujuan mendorong pelaku usaha untuk mengikuti kegiatan tersebut. Tantangan yang perlu diperhatikan dalam program tersebut adalah penggunaan bahasa dimana kebanyakan pelatihan tersebut menggunakan Bahasa Inggris.

Selain kedua kebijakan tersebut, masih terdapat banyak kebijakan yang dapat dimanfaatkan dalam menjalankan kegiatan usaha. Beberapa regulasi yang sudah diatur tersebut mencakup perpindahan tenaga kerja, investasi, pariwisata, energi, pertanian, mineral hingga e-commerce. Dengan mempelajari lebih mendalam aspek-aspek tersebut, Sahabat Wirausaha mungkin dapat menemukan peluang yang dapat dimanfaatkan dalam menjalankan kegiatan usaha.

Baca Juga: Mengadaptasi Nama Hingga Kemasan, Kenali Strategi Me Too Marketing yang Bisa UMKM Coba


Meningkatkan Tingkat Kompetitif dalam Menghadapi MEA

Dalam menghadapi MEA, Putri et al. (2019) menyatakan bahwa para pelaku usaha harus meningkatkan kemampuan mereka untuk berkompetisi. Hal ini tidak terlepas dari akses pasar yang meluas dan persaingan yang semakin ketat. 

alam meningkatkan kemampuan untuk berkompetisi tersebut, Sahabat Wirausaha sendiri dapat merujuk pada Michael E. Porter mengenai teori kompetisi. Porter menyatakan bahwa dalam menghadapi kondisi yang penuh persaingan di dunia global, Sahabat Wirausaha harus mampu memikirkan kelebihan usahanya sendiri tanpa harus bergantung pada pemangku kepentingan lain. Berdasarkan gambaran dari Porter, terdapat beberapa kunci untuk mampu meningkatkan kemampuan bersaing tersebut.

1. Menciptakan Tekanan untuk Berinovasi

Dalam menciptakan budaya yang penuh inovasi, sebuah bisnis harus menekan diri mereka sendiri dalam sebuah tantangan. Kondisi yang menciptakan tekanan untuk berinovasi ini menjadi sebuah hal penting ketika akan masuk ke pasar luar negeri seperti ASEAN. Poin terpenting dari mengambil tekanan ini adalah bagaimana menyampaikan kelebihan produk yang sudah ada di Indonesia untuk diperkenalkan ke pasar lain. Salah satu langkah yang bisa diambil adalah dengan berfokus pada produk terbaik, baik secara minat pasar maupun secara kompleksitas produk.

Sebagai contoh, Sahabat Wirausaha memiliki dua jenis produk. Satu adalah produk olahan ayam ungkep yang relatif mudah dibuat dan satu lagi adalah ayam beku yang membutuhkan beberapa teknologi. Secara daya beli, produk ayam beku memiliki peminat yang lebih banyak dibandingkan ayam ungkep. Akan tetapi, kompleksitas dan modal untuk ayam beku lebih sulit untuk dipenuhi dibandingkan dengan ayam ungkep.

Apabila ingin mengaplikasikan konsep tekanan untuk berinovasi, Sahabat Wirausaha harus lebih memilih produk ayam beku untuk diprioritaskan masuk ke pasar ASEAN. Hal ini dikarenakan produk yang lebih kompleks akan memiliki tingkat kompetitif yang lebih tinggi dibandingkan produk yang relatif tidak kompleks. Tuntutan ini mungkin akan membutuhkan biaya dan memiliki risiko. Tetapi poin ini yang kemudian menjadi penekanan dimana Sahabat Wirausaha menjadi tidak takut untuk berinovasi dan berani maju dengan risiko tertinggi.

2. Mencari Kompetitor yang Sesuai Sebagai Motivasi

Selain menciptakan lingkungan yang mencari tantangan, Sahabat Wirausaha juga dapat mencari referensi dan motivasi dari para kompetitor. Sebuah bisnis yang baik akan selalu berani mengidentifikasi kompetitornya dan di saat yang sama menjadikannya sebagai penantang yang perlu dikalahkan. Sebagai dampaknya, lingkungan bisnis akan menjadi lebih dinamis dan terbiasa untuk memperdebatkan kualitas dari produk yang dimiliki.

Sebagai contoh, apabila Sahabat Wirausaha memiliki usaha produksi baju, maka kompetitor yang dapat menjadi motivasi untuk berinovasi seharusnya bukan lagi sesama pelaku usaha mikro dan kecil tetapi bahkan sudah sampai usaha besar dan produk luar, seperti H&M misalnya. Sahabat wirausaha harus mulai mempertanyakan dan memikirkan cara untuk bisa bersaing dengan produk tersebut, baik dari sisi produknya maupun dari sisi aspek pendukung produk seperti pemasaran.

Penentuan target kompetitor yang tinggi sendiri harus dipandang sebagai sebuah hal yang positif. Meskipun pada perjalanannya sangat sulit untuk mengejar target yang tinggi tersebut, Sahabat Wirausaha akan menjadi individu yang tidak cepat puas dan ingin terus berinovasi dalam sisi produk. Kondisi ini akan semakin relevan ketika Sahabat Wirausaha akan masuk ke pasar global seperti pada ASEAN dikarenakan target tersebut mungkin memang akan menjadi kompetitor di pasar global.

Baca Juga: Jangan Anggap Remeh, Strategi Pemasaran Offline Berikut Masih Efektif di Era Digital

3. Mengembangkan Mekanisme Peringatan Dini

Mekanisme peringatan dini yang dimaksud di sini adalah tingkat sensitivitas Sahabat Wirausaha mengenai hal-hal yang sedang banyak dibicarakan oleh masyarakat. Dalam bahasa yang saat ini digunakan, mekanisme peringatan dini dapat juga disebut sebagai kesadaran mengenai hal yang sedang `viral`. Mekanisme peringatan dini ini menjadi sangat penting karena dapat dimanfaatkan sebagai kesadaran untuk menjadi pihak pertama yang mengambil sebuah peluang. Apabila Sahabat Wirausaha memiliki mekanisme peringatan dini yang baik, maka Sahabat Wirausaha akan mudah menangkap hal-hal yang diminati oleh konsumen.

Sebagai contoh, Sahabat Wirausaha sebagai seorang pengusaha fashion atau pakaian yang memiliki mekanisme peringatan dini akan cenderung mudah menangkap keinginan konsumen. Dengan tingkat sensitivitas yang tinggi, Sahabat Wirausaha akan mampu melihat jenis pakaian yang akan `viral` dan dapat memproduksi barang tersebut sebelum kompetitor lain memproduksi barang serupa. Ketika mereka melakukan hal tersebut, Sahabat Wirausaha sendiri akan dikenal lebih dahulu sebagai pencetus sekaligus role model dari jenis pakaian tersebut.

Hal yang perlu diperhatikan adalah mekanisme ini tidak hanya berlaku pada saat akan masuk ke dalam suatu trend, tetapi juga untuk keluar ketika trend tersebut akan terlewat. Sebagai contoh, ketika trend baju tersebut mulai terlihat menurun, Sahabat Wirausaha yang memiliki mekanisme ini akan menyadari hal tersebut dan menghentikan produksi yang berlebihan sebelum produknya tidak menjadi trend kembali. Secara umum, mekanisme ini menjadi panduan yang baik bagi Sahabat Wirausaha untuk membangun tingkat kompetitif usaha.

4. Memberikan Nilai Tambah Bagi Industri Nasional

Sebuah bisnis yang baik akan dapat memberikan manfaat yang luas bagi para pemangku kepentingan khususnya dari dalam negerinya sendiri. Porter mengatakan bahwa sebuah bisnis yang kompetitif di tingkat global justru ada yang mampu untuk memanfaatkan karakteristik unik dari negara asalnya. Hal ini dikarenakan kearifan lokal dari negara asal pada dasarnya dapat menjadi sebuah nilai tambah ketika akan mengakses pasar global.

Penambahan nilai tambah ini bisa dilakukan dengan berbagai cara. Cara pertama yang dapat digunakan Sahabat Wirausaha adalah dengan memasukkan nilai kearifan lokal pada produk yang dimiliki. Kearifan lokal ini akan memberikan nilai tambah dan keunikan tersendiri bagi para konsumen. Cara lain yang dilakukan adalah dengan memanfaatkan pemasok serta karyawan domestik dalam memperluas jaringan bisnis. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya langkah serupa dari perusahaan multinasional yang mempekerjakan karyawan lokalnya di mancanegara.

Pada cakupan yang lebih spesifik, sebuah usaha yang sukses akan memberikan dampak yang masif pada industri di suatu negara. Sebagai contoh, kondisi yang terjadi di Korea Selatan dimana Samsung membuat industri chip mikro di negara tersebut berkembang pesat. Hal ini tidak terlepas dari internalisasi kompetensi yang dimiliki pada masyarakat sekitar.

Hal ini dapat diaplikasikan juga oleh Sahabat Wirausaha. Dalam rangka untuk mendorong nilai tambah tersebut, Sahabat Wirausaha dapat mencoba menyisipkan kearifan lokal yang dimiliki Indonesia. Dengan tetap mengutamakan kualitas, produk Sahabat Wirausaha akan memiliki keunikan tersendiri ketika masuk ke pasar mancanegara.

Baca Juga: Strategi Marketing MS Glow, Inspirasi Buat UMKM yang Ingin Produknya Viral dan Tembus Pasar Mancanegara

5. Memilih Beraliansi Secara Selektif

Dalam melakukan penetrasi global, Sahabat Wirausaha terkadang mendapat tawaran untuk beraliansi dengan perusahaan mancanegara. Hal ini sering direspons dengan cepat dan antusias dikarenakan aliansi dengan pihak luar terlihat sebagai sebuah potensi yang menguntungkan. Akan tetapi, sebenarnya aliansi bukan menjadi pilihan utama untuk menuju pasar global. Hal ini dikarenakan banyak biaya yang harus dikeluarkan dalam membangun sebuah aliansi, baik biaya materiil maupun imaterial. Biaya materiil dapat terlihat dari pembagian profit yang pasti berkurang sedangkan biaya imaterial dapat terlihat dari rekonsiliasi tujuan bisnis yang tidak mudah serta ketergantungan usaha yang ada.

Dalam menyadari hal ini, Sahabat Wirausaha harus melihat entitas yang mengajak beraliansi sebagai kompetitor. Pada satu masa, mereka dapat menjadi pesaing bisnis yang Sahabat Wirausaha sehingga Sahabat Wirausaha perlu berhati-hati. Sahabat wirausaha juga harus memastikan diri tidak bergantung dengan aliansi tersebut. Kondisi ini yang kemudian membuat aliansi dengan perusahaan mancanegara sebaiknya dilakukan dalam jangka waktu pendek atau pada aktivitas yang bukan merupakan bisnis utama.

Beberapa masukan tersebut dapat menjadi referensi oleh Sahabat Wirausaha untuk berkompetisi pada tingkat ASEAN dimana hal itu didorong oleh pengaplikasian MEA yang sudah sejak tahun 2015. Perlu diperhatikan juga bahwa saat ini kompetitor pelaku usaha di Indonesia tidak hanya di ASEAN saja, bahkan belakangan banyak produk luar negeri dengan harga yang lebih murah dari negara-negara di luar ASEAN. Dengan demikian membangun kemampuan berkompetisi akan menjadi kunci utama untuk bersaing.

Nah, dengan berbagai strategi tersebut, sudah saatnya bagi Sahabat Wirausaha untuk lebih kompetitif dengan pelaku usaha lain di mancanegara. Selamat mencoba.

Jika tulisan ini bermanfaat , silahkan di share ke rekan-rekan Sahabat Wirausaha. Follow juga Instagram @ukmindonesia.id untuk update terus informasi seputar UMKM.