Optimalisasi Linkedin - Apakah Sahabat Wirausaha sedang merintis atau mempunyai bisnis produk ekspor? Mengekspor tentu menjadi pilihan yang menguntungkan bagi bisnis kita, terutama ketika peluang domestik di negara pengimpor terbatas. Menemukan pembeli untuk produk ekspor dapat menjadi suatu tantangan dan kendala, terutama jika kita baru memulai bisnis ekspor. Namun di era digital ini, berbagai macam jenis media sosial muncul untuk membantu kita mencari pembeli potensial, salah satunya melalui LinkedIn. Dengan lebih dari 930 juta pengguna di seluruh dunia, LinkedIn memungkinkan penjual membangun jaringan profesional yang kuat dan dapat menghubungkan kita dengan calon pembeli profesional di industri terkait. 

Yuk kita pelajari bersama-sama tentang bagaimana cara memaksimalkan penggunaan LinkedIn untuk mencari pembeli ekspor menurut Arie Putra, Marketing Engagement Manager di PEFC Indonesia!


Tahap Pertama: Membuat dan Melengkapi Profil LinkedIn yang Berpusat Pada Pembeli

Tahap pertama sebelum kita mencari pembeli untuk ekspor di LinkedIn adalah dengan membuat dan melengkapi profil LinkedIn kita terlebih dahulu. Kita harus menganggap LinkedIn sebagai representatif diri profesional kita di dunia maya, sehingga bangunlah profil seprofesional mungkin. Buatlah sebuah profil LinkedIn yang bertujuan untuk memuaskan dan menetapkan pembeli sebagai prioritas utama kita dengan menerapkan strategi customer-centric. Strategi ini akan memungkinkan kita membangun hubungan dengan pembeli hingga akhirnya mereka akan selalu membeli produk kita. Beberapa tips untuk membuat profil profesional kita di LinkedIn adalah:

1. Menyertakan Foto Profesional untuk Profil LinkedIn.

Hal ini berfungsi agar pembeli mengenali dan menganggap kita sebagai calon penjual yang serius. Kita dapat menggunakan foto profil yang disesuaikan dengan pembeli dan industri tujuan bisnis kita. Jika calon pembeli kita merupakan industri yang santai (contoh: perusahaan startup, perusahaan teknologi, perusahaan agensi media, perusahaan desain interior, dan sebagainya), maka kita dapat membuat foto profil yang lebih kasual.

Contoh Foto Profil dan Headline Profesional di LinkedIn

Baca Juga: Ketahui Syarat Ekspor Untuk Pangan Olahan Yuk!

2. Membuat dan Mencantumkan Headline Posisi Profesional di Profil LinkedIn 

Sebagai contoh adalah jika kita berjualan furniture dan ingin mencari pembeli toko retail furniture, maka headline LinkedIn kita dapat dibuat menjadi:

Chief Executive Officer at [nama perusahaan kita] | Sustainable Furniture Companies | Specialized in Teak Wood Furniture. 

Buatlah sebuah headline yang menandakan bahwa kita merupakan profesional di bidang tersebut, sehingga calon pembeli pun akan lebih percaya kepada kita.

3. Mengisi Deskripsi Profil Diri

Di kolom deskripsi profil, tulislah sebuah penjelasan tentang diri kita secara profesional. Penjelasan ini dapat mencakup kompetensi, pengalaman kerja, dan berikan penjelasan sekilas tentang informasi jasa atau produk yang kita tawarkan. Sebelum menyimpan deskripsi yang telah dibuat, lakukanlah pengecekan terlebih dahulu agar menghindari kesalahan pengetikan kata atau typo supaya menjadi profil profesional. 

  • Mencantumkan pengalaman kerja profesional. Poin yang terakhir adalah melengkapi kolom pengalaman kerja dengan riwayat kerja profesional kita. Selain menjelaskan tentang tanggung jawab kita, jelaskanlah pula tentang prestasi yang dicapai dan dapat terukur saat menduduki posisi tersebut. 

Contoh Cara Pengisian Pengalaman Kerja di LinkedIn


Tahap Kedua: Membangun Reputasi Merek di LinkedIn Melalui Konten

Membangun reputasi merek merupakan sebuah langkah penting untuk membangun saluran penjualan di LinkedIn. Tujuannya tentu supaya merek kita lebih dikenal oleh masyarakat luas dan diketahui oleh tujuan pasar ekspor. Menurut LinkedIn Sales [In]Sider Profesional Darren McKee, mengunggah konten organik secara regular dan berinteraksi dengan sesama pengguna di LinkedIn merupakan cara yang tepat untuk mendapat dan memperluas brand awareness kita. 

Luangkanlah waktu beberapa menit di setiap harinya untuk memberikan komentar di konten unggahan milik orang lain, menyukai, atau membagikan ulang konten tersebut. Sedangkan dalam membuat konten, Darren McKee mengatakan bahwa terdapat 4 jenis unggahan LinkedIn yang akan menarik audiens, yaitu konten branding dan bercerita tentang merek kita, konten yang memberikan saran dan nilai, konten berita tentang bisnis atau pasar industri kita, serta konten viral yang membagikan emosinya dan mengajak audiens untuk masuk merasakan emosi tersebut. 

Baca Juga: Mau Daftar Merek? Perhatikan 4 Kriteria dan Contoh Merek yang Ditolak Registrasinya

Untuk membuat sebuah konten LinkedIn yang baik, kita dapat memulainya dengan menggunakan kerangka kerja VS4C berikut:

1. Value (Nilai)

Mulailah dengan menentukan nilai atau value bisnis yang akan kita bawa ke pasar. Nilai ini dapat diimplementasikan ke unique selling points, yaitu sebuah faktor yang membuat calon pembeli mempertimbangkan untuk membeli produk atau menggunakan jasa kita. Kemudian, kita harus mengidentifikasi kekuatan, keahlian, dan kompetensi yang dapat ditawarkan melalui pengalaman kita di industri ini.

2. Sincerity (Ketulusan)

Ketulusan dalam membuat sebuah konten tidak luput dari branding merek yang jujur, autentik, membawa kebaikan, dan peduli terhadap konsumen. Buatlah sebuah konten sebagaimana kepribadian profesional dan merek kita ingin dilihat oleh pembeli. Menurut Khushi Bhagat, seorang Social Media Marketer yang aktif mengunggah konten di Linkedin, salah satu cara untuk membuat konten dengan ketulusan adalah membagikan kisah pribadi dan menunjukkan sisi kerentanan kita yang berhubungan dengan pesan konten tersebut.

3. Clarity (Kejelasan)

Dalam membuat konten LinkedIn, kita harus memposisikan diri sebagai koneksi kita yang membaca. Pembaca akan lebih memahami konten dengan penulisan bahasa dan struktur kata yang jelas dan tak rumit. Kita harus membuat pesan yang ingin disampaikan dengan jelas melalui konten tersebut, apa yang kita inginkan dan mengapa kita menginginkannya. Pesan ini dapat disampaikan melalui judul, poin-poin dan visual yang menarik.

4. Concision (Ringkas)

Unggahan konten LinkedIn yang terlalu panjang berisiko untuk kehilangan perhatian pembaca. Maka dari itu, kita perlu membuat konten yang jelas, ringkas, tegas tidak berbelit, dan langsung ke intinya. Konten yang jelas dan ringkas akan menghasilkan komunikasi yang baik dan meningkatkan kemungkinan konten kita akan dibagikan kembali.

5. Communication (Komunikasi)

Selalu menulis dan berkomunikasi dalam bahasa yang mudah dipahami oleh target pembaca kita. Tentukan secara spesifik bagaimana cara branding kita akan berkomunikasi dan menggunakan Call to Action di awal kalimat.  Jika target pasar kita adalah anak-anak muda atau industri kreatif, gunakanlah bahasa anak muda yang kekinian namun tanpa meninggalkan unsur profesional. Selain membuat konten, kita dapat berinteraksi dengan memberi komentar dan membagikan ulang konten koneksi kita. Semakin banyak interaksi yang dilakukan, maka akan meningkatkan kemungkinan konten kita lebih diketahui banyak orang.

6. Confidence (Kepercayaan Diri)

Buatlah konten yang menggambarkan kepercayaan diri kita dan menginspirasi para pembaca. Dalam membuat konten LinkedIn, gunakan berita utama yang menarik perhatian, menulis konten dengan hanya 150 hingga 300 kata supaya ringkas, serta mengunggah konten sesuai dengan industri dan pengetahuan kita lebih dari dua kali seminggu agar unggahan kita menonjol dan dipercayai oleh para pembaca.

Baca Juga: 9 Cara Membangun Reputasi Bisnis untuk Bangun Kepercayaan Pelanggan


Tahap Ketiga: Memberikan dan Mendapatkan Rekomendasi dari Pihak Lain

Salah satu fitur LinkedIn yang tidak dapat ditemukan di jejaring media sosial lainnya adalah kolom recommendations atau rekomendasi. Rekomendasi memungkinkan anggota LinkedIn lainnya untuk memberikan pujian atau testimoni terhadap pekerjaan yang kita lakukan. Kita dapat meminta rekomendasi dari koneksi rekan kerja atau pembeli yang sedang bekerja atau pernah bekerjasama dengan kita. Mendapatkan rekomendasi tentu penting karena dapat meningkatkan kepercayaan calon pembeli terhadap kita.


Tahap Keempat: Memahami Pasar Tujuan Ekspor dan Menjalin Koneksi dengan Calon Pembeli

Sebelum memulai mencari pembeli di LinkedIn, kita harus menetapkan dan memahami target pasar terlebih dahulu. Untuk mengetahui prospek pasar dan mendapatkan wawasan lebih luas mengenai tren industri, LinkedIn telah menyediakan fitur LinkedIn Sales Insight dan LinkedIn Sales Navigator. Fitur ini membantu kita untuk memahami industri dan lokasi geografis mana yang sedang bertumbuh serta membantu mengidentifikasi pembeli berdasarkan jabatan, industri, dan tingkat keterlibatan di LinkedIn. 

Setelah itu, Sahabat Wirausaha dapat mengambil 3 negara potensial teratas yang menjadi tujuan ekspor dan menetapkan kata kunci yang ditargetkan secara spesifik untuk menemukan prospek baru dalam industri yang kita tawarkan. Masukkan kata kunci di kolom pencarian, contohnya seperti furniture jika Sahabat Wirausaha ingin mencari pembeli furniture, kemudian klik enter. Pilih bagian people, klik all filter, ketik Buyer di kolom Title, dan show results

Pada contoh gambar di atas, terlihat bahwa ada sekitar 2,600 hasil Buyer furniture di seluruh dunia. Sesuaikanlah filter dengan negara ekspor yang menjadi negara tujuan kita. Hasilnya adalah sebanyak 1,700 calon pembeli potensial di negara tujuan kita Amerika Serikat yang dapat kita tambahkan di LinkedIn dan kita hubungi.

Dalam menggunakan LinkedIn, kita harus aktif berkenalan dengan jaringan kita yang mungkin belum mengenal satu sama lain. Jika memungkinkan, temukan kesamaan dalam profil mereka yang dapat digunakan untuk terlibat dalam percakapan. LinkedIn memiliki bagian di mana pengguna dapat berbagi tujuan yang mereka pedulikan, serta peluang menjadi sukarelawan yang telah mereka ikuti. Informasi seperti ini adalah cara yang bagus untuk memahami apa yang benar-benar penting bagi pembeli Anda.

Saat menambahkan calon pembeli, kita dapat membuat pesan yang dipersonalisasikan agar mereka lebih tertarik dan lebih cepat untuk menerima undangan koneksi kita. Atau ketika ada yang menambahkan kita sebagai koneksi, hubungi mereka dengan pesan terima kasih yang dipersonalisasi. Tulislah pesan dalam bahasa inggris seperti contoh dibawah ini:

Hi Jess,

My name is Fiya from Company A Furniture. We’re an Indonesian Furniture Specialist Company and I saw you work as a Buyer at Hudson’s Furniture. I would be really happy if we could connect and work together in the future. Have a good day!

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:

Hai Jess,

Nama saya Fiya dari Perusahaan A Furniture. Kami adalah Perusahaan Spesialis Furnitur Indonesia dan saya melihat Anda bekerja sebagai Pembeli di Hudson’s Furniture. Saya akan sangat senang jika kita bisa terhubung dan bekerja sama di masa depan. Semoga harimu menyenangkan!

Cara lainnya untuk menghubungi pembeli jika permintaan koneksi di LinkedIn kita tidak direspon adalah dengan menghubungi kontak yang tertera pada tempat pembeli bekerja. Mari kita ambil studi kasus calon pembeli dari Amerika Serikat diatas. Jess merupakan seorang Buyer di Hudson’s Furniture, dimana tertera di laman LinkedInnya bahwa Hudson’s Furniture telah berjalan selama 36 tahun dan menyediakan furniture berkualitas tinggi. Disana, tertera situs web Hudson’s Furniture dan kita dapat menyambanginya. Lewat situs web tersebut, kita dapat mengirimkan pesan ke bagian Customer Service yang berisi menawarkan produk atau jasa yang kita jual. Lakukanlah hal ini sampai kita mendapatkan tujuan pembeli ekspor yang telah ditetapkan di awal.

Baca Juga: Mengenal Pinjaman Pembiayaan Ekspor, Solusi Bagi Eksportir yang Butuh Modal


Tahap Kelima: Mengajak Calon Pembeli Baru untuk Pindah Ke Dunia Nyata

Langkah terakhir yang paling kritikal adalah membangun koneksi dengan pembeli di dunia nyata. Setelah kita menjalin koneksi baru dengan calon pembeli dan telah membangun kredibilitas kita, kita harus melakukan transisi ke percakapan offline. Ajaklah calon pembeli kita melakukan pertemuan atau meeting untuk membahas potensial kerjasama ekspor di waktu yang telah disepakati. Kita perlu menyiapkan pitching atau presentasi ide bisnis yang secara umum berisi tentang tujuan bisnis, pengetahuan produk, hingga pencapaian secara historis kepada calon pembeli. Diskusikanlah tentang masalah apa yang dihadapi oleh calon pembeli agar kita dapat menawarkan solusi yang terbaik dan membawa kesan positif di mata mereka.

Pada akhirnya, kesuksesan Sahabat Wirausaha mencari pembeli ekspor di LinkedIn bergantung pada dedikasi kita dalam menggunakan LinkedIn sebagai platform professional yang mumpuni. Kunci untuk mendapatkan pembeli dari LinkedIn adalah aktif dalam mencari koneksi, membangun kredibilitas merek, serta gigih dan pantang menyerah. Kesuksesan pun membutuhkan waktu, namun percayalah Sahabat Wirausaha, hasilnya pasti akan sepadan. Saatnya UMKM naik kelas!

Jika tulisan ini bermanfaat , silahkan di share ke rekan-rekan Sahabat Wirausaha. Follow juga Instagram @ukmindonesia.id untuk update terus informasi seputar UMKM. 

Sumber:

  1. linkedin.com
  2. Optimalisasi Platform Linkedin untuk Promosi dan Pemasaran Produk Ekspor 
  3. 7 Steps to Attract More Clients With LinkedIn