Sumber foto: magnific.com
Halo Sahabat Wirausaha,
Lovebird dan kenari masih layak dipertimbangkan sebagai ide bisnis budidaya burung di 2026, dengan puyuh dan merpati sebagai opsi lain yang risikonya berbeda. Lovebird dan kenari cocok untuk pemula. Murai batu dan merpati balap butuh modal serta pengalaman lebih. Puyuh sangat bergantung pada harga pakan dan telur. Pilih sesuai modal, waktu, dan kesiapanmu menghadapi harga yang naik turun.
Kenapa harus memilih dengan hati-hati? Karena hampir semua burung punya pola yang sama: permintaan bisa ramai, lalu harga jatuh ketika banyak orang ikut beternak. Seorang peternak muda di Yogyakarta bahkan mengatakan, seperti dilaporkan media, bahwa tren burung kicau bisa naik turun mengikuti popularitas lomba dan permintaan pasar. Harga bisa melonjak atau anjlok tergantung popularitas lomba dan permintaan pasar. Karena itu, artikel ini membandingkan lima jenis burung dari sisi pasar, modal, dan risikonya, bukan sekadar menjanjikan untung.
Satu catatan: sarang walet tidak dibahas di sini karena modal dan aturannya jauh berbeda. Kalau kamu tertarik ke sana, baca dulu ulasan kami di artikel berikut.
Baca Juga: Peluang Bisnis UMKM Sarang Walet dan Strategi Menguatkan Posisi di Pasar Ekspor
Lovebird: Masih Bertahan, tapi Harganya Tidak Selalu Stabil
Sumber foto: kompas.com
Lovebird termasuk burung yang harganya paling berayun. Pada awal 2025, sebuah media pertanian melaporkan bahwa harga lovebird sempat terjun bebas sampai banyak penangkar beralih ke burung kicauan, sebelum kemudian naik lagi. Di Kediri, harga anakan lovebird pada Januari 2025 mulai dari sekitar Rp60 ribu, tergantung jenis dan warna bulu.
Meski begitu, lovebird masih dianggap ramah untuk pemula. Menurut Liputan6 (Maret 2026), lovebird dan jalak suren bisa dipanen anakannya setiap dua bulan. Segmen yang lebih tinggi nilainya adalah lovebird mutasi warna. Seorang peternak di Malang yang fokus di segmen ini mengatakan harganya mulai dari Rp500 ribu hingga puluhan juta rupiah per ekor, meski butuh waktu bertahun-tahun untuk mengembangkan indukan unggulan.
Soal ekspor, lovebird memang sudah masuk radar. Pada Agustus 2026, lovebird ikut ditampilkan sebagai komoditas ekspor di Mini Expo BKHIT Banten. Peternak Malang tadi juga pernah mengirim minimal 100 ekor sekali ekspor ke Pakistan, Irak, Lebanon, dan Uzbekistan, namun itu informasi 2024. Data resmi volume ekspor lovebird 2026 belum kami temukan. Kalau berminat, konsultasikan persyaratannya langsung ke balai karantina terdekat, karena Barantin menyediakan layanan Klinik Ekspor untuk pendampingan pelaku usaha.
Kenari: Pilihan Lebih Tenang untuk Pemula
Sumber foto: bismajayaberkah.com
Kenari sering disebut lebih stabil dibanding lovebird. Laporan dari Kediri menyebut harga kenari tetap stabil dan perawatannya mudah, sementara Liputan6 mencatat anakan kenari bisa dijual pada usia 25–30 hari.
Harganya sangat bervariasi. Di Kediri, anakan kenari dijual sekitar Rp40 ribu hingga Rp100 ribu, ada juga yang kisaran Rp150 ribu hingga Rp1 juta, bergantung warna dan kualitas suara. Perbedaan ini wajar, karena harga dipengaruhi daerah, jenis, dan kualitas indukan. Cek harga di pasar tempatmu sebelum menghitung proyeksi.
Satu hal yang perlu dijaga adalah cuaca. Peternak mengingatkan bahwa perubahan cuaca sering memengaruhi kesehatan burung, terutama kenari, sehingga suhu kandang dan kebersihan tidak boleh diabaikan.
Murai Batu: Nilai Tinggi, Persaingan dan Aspek Legal Lebih Berat
Sumber foto: linggaupos.bacakoran.co
Murai batu punya reputasi sebagai burung kontes dengan nilai tinggi. Liputan6 (Februari 2026) melaporkan seorang peternak di Rangkasbitung menjual murai batu mulai dari Rp2,5 juta per ekor anakan. Ini laporan media, bukan standar harga pasar.
Dari sisi hukum, kabar baiknya: murai batu, jalak suren, dan cucak rawa dicabut dari daftar satwa dilindungi melalui Permen LHK Nomor 92 Tahun 2018. Namun Burung Indonesia mengingatkan dalam kajiannya tahun 2026 bahwa perburuan untuk perdagangan bisa menekan populasi liar sampai nyaris hilang, meskipun jenisnya tampak melimpah di penangkaran. Artinya, indukan harus berasal dari penangkaran yang jelas asal-usulnya, bukan hasil tangkapan alam.
Persaingannya juga berubah. Seorang peternak di Yogyakarta mengatakan pemasaran kini tidak lagi hanya lewat pasar burung, karena hampir semua orang bisa menjual burung lewat media sosial. Jadi murai batu lebih cocok untuk kamu yang sudah punya pengalaman merawat burung kontes.
Merpati: Tiga Pasar yang Berbeda
Sumber foto: greeners.co
Merpati, atau burung dara, punya tiga arah bisnis: lomba, hias, dan pedaging. Ketiganya berbeda jauh, jadi tentukan tujuan sebelum membeli indukan.
Untuk pedaging, ukuran menentukan. Sumber pertanian yang kami temukan menyebut merpati lokal untuk balap berukuran kecil, sekitar 250–300 gram, sehingga kurang cocok jadi unggas pedaging. Untuk lomba, indukan berkualitas bisa sangat mahal. Dalam liputan Pemkab Pasuruan, seorang peternak pernah membeli pejantan balap seharga Rp25 juta, meski itu cerita tahun 2019.
Data pasar merpati 2026 lebih terbatas dibanding lovebird atau puyuh. Karena itu, sebaiknya kamu survei langsung ke komunitas dan pembeli di daerahmu sebelum berinvestasi besar.
Puyuh: Permintaan Ada, tapi Margin Tipis

Sumber foto: desasalam.gunungkidulkab.go.id
Puyuh punya cerita permintaan yang menarik. Sejak dapur MBG beroperasi, permintaan telur puyuh melonjak drastis, menurut peternak yang memasok ke banyak dapur. Namun bukan berarti pasti untung. Pada Juli 2026, di Kota Batu, harga telur di kandang jatuh ke Rp18.500 per kilogram, padahal biaya pokok produksinya sekitar Rp25.000 hingga Rp26.000.
Di Blitar, harga sempat menyentuh sekitar Rp16 ribu per kilogram, jauh di bawah harga acuan pemerintah Rp22 ribu, sehingga puluhan peternak membagikan 2.400 ekor puyuh secara gratis. Biaya pakan yang naik memperburuk keadaan: harga satu karung pakan naik dari sekitar Rp325 ribu di 2025 menjadi Rp337.500 setelah Lebaran 2026.
Pelajarannya: jangan menambah populasi hanya karena permintaan sedang tinggi. Pedagang di Kediri mengingatkan bahwa peternak yang menambah puyuh menjelang puasa membuat pasokan berlebih setelah Lebaran, dan harga turun. Hitung titik impasmu dulu.
Baca Juga: 11 Cara Memulai Usaha Ternak Burung Puyuh Skala Rumahan
Sebelum Memilih: Legalitas, Penyakit, dan Cara Membaca Tren
Ada tiga hal yang berlaku untuk semua jenis burung di atas.
Pertama, legalitas. Pastikan jenis yang kamu ternak tidak masuk daftar satwa dilindungi, dan cek Permen LHK terbaru karena daftarnya bisa berubah. Untuk ekspor, syarat karantina dan dokumen dari negara tujuan harus dipenuhi.
Kedua, penyakit. Flu burung tetap perlu diwaspadai. Menurut Dinas Peternakan Barito Kuala, virusnya dapat menyerang unggas domestik seperti ayam, bebek, dan puyuh, dengan kematian yang bisa mencapai 100 persen pada kasus ganas. Jaga kebersihan kandang, batasi kontak dengan burung liar, dan laporkan ke dinas setempat jika ada kematian mendadak.
Ketiga, tren. Harga burung hobi tidak berjalan lurus. Mulailah dari skala kecil, catat biaya dan hasil, lalu kembangkan setelah kamu paham pasarnya. Peternak yang bertahan biasanya bukan yang paling cepat menambah kandang, tetapi yang paling paham kapan harus menahan diri.
Daftar NIB gratis di OSS, bagi kamu yang butuh jasa untuk daftarin NIB tanpa ganggu waktu kelola bisnis kamu, cek disini
Ringkasan Singkat
| Jenis | Pembeli utama | Cocok untuk | Risiko utama |
| Lovebird | Pehobi, peserta lomba, kolektor | Pemula | Harga naik-turun; ekspor butuh dokumen lengkap |
| Kenari | Pehobi suara dan warna | Pemula | Harga beragam antar daerah; sensitif cuaca |
| Murai batu | Peserta lomba, kolektor | Berpengalaman | Harga mengikuti tren lomba; asal-usul indukan |
| Merpati | Peserta lomba, pehobi, konsumen daging | Tergantung jalur | Modal indukan balap besar; data 2026 terbatas |
| Puyuh | Dapur rumah tangga, kantin, dapur MBG | Yang disiplin menghitung biaya | Harga bisa di bawah HPP |
Tidak ada satu jenis burung yang selalu terbaik. Pilih yang paling sesuai modal dan kemampuanmu, dan pastikan indukan serta izinnya jelas sejak awal.
Ilmu dan informasi yang bermanfaat layak untuk terus bergerak. Yuk, bantu kami sebarkan kepada sesama pelaku usaha yang mungkin sedang membutuhkannya.
Kamu juga bisa berkontribusi lebih jauh dengan mendukung keberlanjutan konten edukatif ini melalui fitur Dukung Kami di bawah artikel ini.
Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin tumbuh dalam komunitas yang saling menguatkan, bergabunglah di ukmindonesia.id/registrasi. Tempat para pelaku UMKM belajar bersama dan naik kelas.
Dukung Misi Edukasi Kami
Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.









