
Tips Memilih Staf Keuangan - Apakah Sahabat Wirausaha ingin mencari dan memilih staf keuangan untuk bisnis yang sedang dijalankan saat ini? Berkarir di bidang keuangan memang memiliki sejumlah konsekuensi yang harus ditanggung, sama seperti bidang pekerjaan lainnya. Hal tersebut mencakup stres yang tinggi, tanggung jawab yang besar, hingga jam kerja yang panjang.
Tentunya, menentukan calon karyawan yang mau berkomitmen untuk menjadi bagian dari staf keuangan tidak bisa dilakukan dengan tebakan koin atau menganalisis zodiak. Sahabat Wirausaha perlu melakukan serangkaian proses rekrutmen dan seleksi untuk menemukan kandidat yang tepat.Persiapan apa saja yang perlu dilakukan? Yuk, simak ulasannya berikut ini.
4 Tips Memilih Staf Keuangan
Berikut adalah 4 hal yang bisa Sahabat Wirausaha lakukan untuk merekrut staf keuangan yang tepat:
1. Membuat Iklan Lowongan Kerja Yang Realistis

[ Sumber: AbsolutVision/Unsplash ]
Ada dua jenis iklan lowongan kerja (loker) yaitu iklan loker yang terlalu positif dan iklan loker yang realistis. Iklan loker yang terlalu positif cenderung menggunakan kata-kata yang menarik perhatian banyak pencari kerja tanpa memberikan gambaran rinci mengenai deskripsi pekerjaan dan spesifikasi kandidat yang dibutuhkan.
Iklan loker seperti ini akan membuat banyak orang berbondong-bondong mengirimkan surat lamaran dan pada akhirnya Sahabat Wirausaha akan menjadi kewalahan menyortir semuanya.
Bagaimana dengan iklan loker yang realistis? Jenis iklan loker dikatakan lebih realistis ketika bisa menampilkan keterampilan yang dibutuhkan dan juga kelemahan berkarir di bidang keuangan seperti sistem kerja dibawah tekanan atau bekerja di hari libur.
Tentu tidak semua orang mampu atau bersedia bekerja dengan sistem kerja tersebut sehingga hanya orang-orang yang siap menerima konsekuensi pekerjaan yang akan mengirimkan berkas lamarannya. Iklan loker yang realistis seperti ini lebih memudahkan Sahabat Wirausaha untuk melakukan proses seleksi loh.
Baca Juga: Tips Merekrut Karyawan
Nah, agar lebih mudah dipahami, berikut ini merupakan contoh perbandingan iklan loker yang terlalu positif dan iklan loker yang realistis:
1). Contoh iklan loker yang terlalu positif
“Dibuka kesempatan menarik bagi para lulusan D3 dan S1 dari berbagai jurusan untuk bergabung dengan bisnis Kuliner Jaya Sentosa sebagai Staf Keuangan. Anda akan bekerja sebagai bagian dari tim yang menyenangkan, dengan tugas untuk mengatur dan mengelola keuangan di berbagai cabang bisnis Kuliner Jaya Sentosa yang tersebar di area Jabodetabek. Peran sebagai anggota staf keuangan adalah langkah awal dalam jenjang karir yang dapat mengarahkan Anda kepada jenjang karir yang lebih tinggi. Kirimkan CV dan surat lamaran Anda melalui email kami: hrd@kulinerjaya.com.”
2). Contoh iklan loker yang realistis
“Dibuka kesempatan bagi para lulusan D3 dan S1 untuk bergabung dengan bisnis Kuliner Jaya Sentosa sebagai Staf Keuangan. Persyaratan utama meliputi:
- Merupakan lulusan D3 Ekonomi dan S1 jurusan manajemen, akuntansi, dan ilmu ekonomi.
- Mampu mengoperasikan Microsoft Word dan Microsoft Excel.
- Berpengalaman sebagai kasir kurang lebih 1 tahun.
- Bersedia bekerja dibawah tekanan.
- Bersedia bekerja di hari libur jika dibutuhkan.
- Bersedia ditempatkan di cabang-cabang area Jabodetabek.
**Kirimkan CV dan surat lamaran Anda melalui email kami: hrd@kulinerjaya.com.”
Penentuan jurusan yang lebih spesifik untuk posisi jabatan staf keuangan sangat penting dibandingkan membuka lowongan untuk berbagai jurusan. Jika ingin bekerja sebagai staf keuangan maka kandidat perlu memiliki pengetahuan dasar mengenai literasi keuangan serta mampu mengoperasikan komputer agar dapat bekerja dengan baik. Tentunya, memiliki pengalaman mengelola keuangan juga dapat menjadi nilai tambah bagi kandidat tersebut.
Selanjutnya, bagaimana cara mengetahui bahwa isi iklan loker yang dibuat telah sesuai? Menurut Rob Yeung, jika terlalu banyak ‘kandidat yang tidak cocok’ yang melamar pekerjaan, maka perekrut dapat mempertimbangkan kembali untuk menulis ulang iklan tersebut dengan lebih menekankan kepada sisi buruk pekerjaan sehingga hanya pelamar yang paling berkomitmen yang melamar. Sebaliknya, di sisi lain jika hanya terdapat sedikit ‘kandidat yang cocok’ maka sebaiknya perekrut mengubah isi iklan menjadi lebih positif atau lebih menarik.
Baca Juga: Membangun Optimisme Tim di Saat Kondisi Bisnis Memburuk
2. Mempersiapkan Formulir Aplikasi Kandidat Karyawan

[ Sumber: Scott Graham/Unsplash ]
Menurut Rob Yeung, seringkali perekrut terlalu mengandalkan daftar riwayat hidup (CV) dan/atau rekam jejak karir yang kuat. Asumsinya, kandidat yang memiliki riwayat pekerjaan pada bisnis atau perusahaan di bidang yang sama cenderung pandai dalam bidang pekerjaan yang ditawarkan. Namun demikian, yang ditunjukkan dari CV dan/atau rekam jejak karir tersebut adalah pengalaman kandidat saat bekerja pada bisnis atau perusahaan sebelumnya dengan aturan dan sistem kerja mereka.
Pertanyaannya, apakah kandidat tersebut mampu bekerja di bisnis Sahabat Wirausaha saat ini dengan aturan, ritme kerja, dan orang-orang yang berbeda? Belum tentu. Lantas, apa yang sebaiknya dilakukan oleh Sahabat Wirausaha?
Umumnya, perekrut akan meminta para pelamar untuk mengirimkan berkas lamaran yang terdiri dari CV, surat lamaran, dan dokumen pendukung. Namun, jika Sahabat Wirausaha ingin memperoleh kandidat yang benar-benar potensial untuk posisi jabatan staf keuangan maka Sahabat Wirausaha perlu menyiapkan formulir aplikasi yang dirancang secara khusus sesuai kebutuhan Sahabat Wirausaha sebagai perekrut. Meskipun formulir aplikasi terbilang cukup rumit untuk dirancang, namun nyatanya sangat efektif dalam proses rekrutmen.
Sahabat Wirausaha dapat menggali berbagai informasi penting dari para kandidat lebih dalam lagi tanpa berpatokan pada CV mereka saja. Nah, untuk mengetahui lebih lengkap tentang formulir aplikasi tersebut, Sahabat Wirausaha dapat mengunduh contoh Formulir Aplikasi Kandidat Karyawan melalui link ini yah.
Baca Juga: Staf Temporer
Mungkin Sahabat Wirausaha bertanya-tanya, mengapa formulir aplikasi kandidat karyawan dikatakan lebih efektif daripada CV? Alasannya, para kandidat memiliki kendali penuh atas CV yang mereka buat yaitu tentang hal apa saja yang harus diungkapkan, dan hal apa saja yang perlu dihindari.
Mereka cenderung menampilkan sisi terbaik mereka di dalam CV tersebut agar diterima oleh perekrut. Sebaliknya, jika menggunakan formulir aplikasi kandidat karyawan maka perekrut memiliki kendali penuh atas informasi yang dibutuhkan dan para kandidat wajib untuk mengisi setiap pertanyaan di dalam formulir tersebut. Dengan demikian, perekrut dapat lebih mudah dalam memilih para kandidat yang layak untuk diwawancarai.
3. Mempersiapkan Proses Wawancara

[ Sumber: Tim Gouw/Unsplash ]
Sahabat Wirausaha dapat menentukan tahapan wawancara sesuai kebutuhan, apakah proses wawancara dilakukan hanya sekali atau kah dibagi menjadi dua tahap yaitu wawancara tahap awal dan wawancara tahap akhir.
Dalam proses wawancara, penting untuk diketahui bahwa mengajukan pertanyaan yang tepat untuk membedakan siapa yang akan dipekerjakan dan siapa yang tidak, bukanlah bakat alami manusia. Seseorang perlu diajari tentang proses wawancara yang baik agar dapat menjadi pewawancara yang terampil, jika tidak maka kecil kemungkinannya mereka akan melakukan wawancara tersebut dengan benar.
Lantas, bagaimana proses wawancara yang baik? Menurut Rob Yeung, proses wawancara yang baik harus memiliki tiga tujuan utama sebagai berikut.
- Mengevaluasi para kandidat dengan cara yang akurat dan adil sehingga dapat mengidentifikasi kandidat manakah yang akan memberikan nilai tambah tertinggi dalam pekerjaannya;
- Memperlakukan para kandidat secara profesional dan sopan sehingga mereka mau bekerja untuk organisasi bisnis Anda; dan
- Untuk membantu para kandidat memahami jenis pekerjaan yang ditawarkan sehingga mereka dapat memutuskan apakah mereka ingin bekerja untuk organisasi bisnis Anda atau tidak.
Baca Juga: Membangun Bisnis Berkelanjutan Melalui Peningkatan Kemampuan Karyawan
Sederhananya, prinsip wawancara yang baik yaitu berfokuslah hanya pada pertanyaan yang berhubungan langsung dengan pekerjaan. Selain itu, hindari pertanyaan-pertanyaan yang mendiskriminasi para kandidat berdasarkan ras atau etnis, kebangsaan atau keturunan, keyakinan agama, jenis kelamin, usia, orientasi seksual, status perkawinan, status disabilitas, keyakinan politik, dan topik lainnya yang berkaitan dengan kehidupan pribadi para kandidat.
4. Menentukan Pilihan Kandidat Yang Tepat

[ Sumber: Cytonn Photography/Unsplash ]
Jika seluruh proses rekrutmen dan seleksi telah dilakukan, maka bagaimana caranya menentukan pilihan kandidat yang tepat untuk posisi jabatan staf keuangan? Menurut Ozan Dagdeviren, dalam bukunya yang berjudul Startups Grow With People, How to Pick Partners, Recruit the Top Talent and Build a Company Culture, kandidat terbaik memiliki tujuh kualitas yang paling dicari oleh setiap perekrut yaitu sebagai berikut.
- Memiliki sikap toleransi terhadap ketidakpastian dan ambiguitas. Misalnya, tetap bersikap tenang saat menghadapi kondisi yang tidak pasti saat bekerja.
- Mampu beradaptasi dengan hal-hal baru. Tidak menutup diri dari perubahan yang baik.
- Memiliki semangat untuk terus belajar banyak hal.
- Memiliki etos kerja yang baik. Misalnya, mampu mengatur waktu dengan baik dan menetapkan tujuan yang realistis.
- Mampu mencari dan menyaring informasi online berkualitas tinggi dengan cepat.
- Memiliki sikap inovatif yaitu selalu mencari solusi yang lebih baik, lebih cepat, lebih optimal dan cara yang lebih efektif dalam melakukan sesuatu.
- Memiliki sikap kooperatif yaitu mampu bekerja sama di dalam tim dengan baik.
Namun demikian, pilihlah kandidat yang sesuai dengan kebutuhan Sahabat Wirausaha, yang dapat menyesuaikan diri dengan sistem kerja pada bisnis Sahabat Wirausaha sendiri. Tipsnya adalah jangan mencari kandidat yang sempurna karena faktanya tidak ada kandidat yang sempurna.
Demikian ulasan mengenai cara cermat memilih staf keuangan yang tepat, semoga artikel ini bermanfaat bagi Sahabat Wirausaha yah.
Jika merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini.
Referensi:
- Academia.edu
- Dagdeviren, Ozan. 2018. Startups Grow With People, How to Pick Partners, Recruit the Top Talent and Build a Company Culture. ISBN: 978 – 1982913373.
- Yeung, Rob. 2008. Successful Interviewing and Recruitment. London, Inggris: Kogan Page.
Dukung Misi Edukasi Kami
Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.









