
Halo Sahabat Wirausaha,
Ketika membicarakan UMKM, perhatian sering tertuju pada sektor usaha: perdagangan, kuliner, jasa, atau industri pengolahan. Padahal, di balik jutaan unit usaha itu ada manusia dengan latar usia, pendidikan, dan pengalaman hidup yang sangat beragam. Memahami struktur usaha memang penting, tetapi memahami siapa pelaku UMKM tak kalah krusial—karena arah kebijakan, pendampingan, hingga strategi naik kelas akan sangat ditentukan oleh profil pengusahanya.
Artikel ini melanjutkan pembahasan serial sebelumnya tentang data dan jumlah UMKM serta sektor lapangan usaha. Kali ini, fokusnya bergeser ke profil pengusaha UMKM Indonesia: usia, pendidikan, dan gender. Data bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk dibaca—agar keputusan yang diambil lebih kontekstual dan berkelanjutan.
Data pada artikel ini merujuk pada Sistem Data Informasi Terpadu UMKM (SIDT-UMKM) dan disajikan berdasarkan kondisi per 31 Desember 2024.
UMKM Dibangun oleh Manusia, Bukan Sekadar Unit Usaha

Infografik: Profil Pengusaha UMKM berdasarkan SIDT-UMKM bersumber dari Kementerian UMKM RI, 2024
Indonesia memiliki 29,09 juta pengusaha UMKM. Angka ini menunjukkan bahwa UMKM bukan sekadar statistik ekonomi, melainkan ekosistem yang hidup—ditopang oleh jutaan individu dengan kemampuan, keterbatasan, dan strategi bertahan masing-masing. Karena itu, membaca profil pengusaha menjadi penting untuk memahami mengapa sebagian UMKM bertahan, sebagian stagnan, dan sebagian lainnya mampu naik kelas.
Tanpa memahami siapa pelakunya, kebijakan UMKM berisiko seragam dan tidak tepat sasaran. Data profil pengusaha memberi konteks: pelatihan seperti apa yang relevan, pembiayaan seperti apa yang realistis, dan pendekatan pendampingan seperti apa yang benar-benar membantu.
Partisipasi Gender Hampir Seimbang, Tantangannya Tidak Selalu Sama
Komposisi pengusaha UMKM Indonesia relatif seimbang antara laki-laki dan perempuan. Sekitar 50,59% pengusaha adalah laki-laki dan 49,41% perempuan. Angka ini menegaskan UMKM sebagai ruang ekonomi yang inklusif—terutama bagi perempuan untuk berwirausaha secara mandiri atau berbasis rumah tangga.
Namun, kesetaraan angka tidak otomatis berarti kesetaraan akses. Dalam praktik, pengusaha perempuan kerap menghadapi tantangan tambahan: keterbatasan waktu akibat peran domestik, akses pembiayaan yang lebih ketat, serta jaringan bisnis yang lebih sempit. Artinya, kebijakan dan program UMKM yang “netral” belum tentu adil. Sensitivitas gender tetap dibutuhkan agar dukungan yang diberikan benar-benar berdampak.
Baca juga: Partisipasi Perempuan dalam Legalitas Usaha Mencerminkan Perubahan Perilaku Bisnis UMKM di Indonesia
Usia Produktif Mendominasi, Regenerasi Masih Menjadi Tantangan
Struktur usia pengusaha UMKM menunjukkan dominasi usia produktif. Kelompok 30–49 tahun menjadi tulang punggung utama. Di dalamnya, usia 40–44 tahun dan 45–49 tahun mencatat jumlah pengusaha tertinggi. Ini adalah fase ketika pengalaman hidup, jaringan, dan ketahanan finansial relatif matang—modal penting untuk bertahan dalam dinamika pasar.
Menariknya, pengusaha usia di atas 60 tahun juga masih signifikan. UMKM menjadi strategi bertahan hidup lintas generasi, bukan sekadar fase sementara. Namun, partisipasi usia muda (<25 tahun) masih relatif kecil. Ini memberi sinyal bahwa UMKM belum sepenuhnya dipersepsikan sebagai pilihan karier awal yang menarik bagi generasi muda.
Implikasinya jelas: regenerasi wirausaha masih menjadi pekerjaan rumah. Tanpa insentif, literasi, dan ekosistem yang ramah anak muda, UMKM berisiko kehilangan momentum inovasi di masa depan.
Pendidikan Menengah Mendominasi, UMKM Bertumpu pada Pengalaman
Dari sisi pendidikan, mayoritas pengusaha UMKM berlatar SMA dan sederajat (37,31%), disusul SD (29,75%) dan SMP (20,05%). Pengusaha dengan pendidikan tinggi (Diploma hingga Doktoral) berada di kisaran 8,97%.
Data ini menegaskan satu hal penting: UMKM Indonesia tumbuh dari pengalaman praktik, bukan semata dari teori. Banyak usaha dirintis dari kebutuhan hidup, peluang lokal, dan intuisi pasar. Namun, tantangan muncul ketika UMKM memasuki fase scale-up—saat pencatatan keuangan, legalitas, manajemen SDM, dan adopsi teknologi menjadi krusial.
Karena itu, pendekatan pelatihan UMKM seharusnya aplikatif dan kontekstual. Materi yang terlalu akademis berisiko tidak terserap. Yang dibutuhkan adalah pembelajaran berbasis kasus nyata, simulasi sederhana, dan pendampingan bertahap.
Pengusaha Disabilitas: Kecil Secara Angka, Besar Secara Makna
Sekitar 4,76% pengusaha UMKM merupakan penyandang disabilitas, sementara 95,24% non-disabilitas. Meski porsinya kecil, keberadaan pengusaha disabilitas menunjukkan UMKM sebagai ruang inklusi ekonomi yang nyata.
Hambatan utama bukan pada kemauan berusaha, melainkan pada akses: alat produksi yang adaptif, pendampingan yang sesuai, dan pembiayaan yang inklusif. Data ini mengingatkan bahwa pembangunan UMKM belum sepenuhnya merata. Inklusivitas bukan hanya soal membuka peluang, tetapi memastikan dukungan benar-benar dapat diakses oleh semua.
Baca juga: NIB UMKM Kini Tak Cuma Soal Data Usaha, Lokasi dan RTDR Jadi Penentu Utama
Benang Merah: UMKM Indonesia Bersifat Rakyat, Lokal, dan Adaptif
Jika dirangkum, profil pengusaha UMKM Indonesia menunjukkan karakter yang khas: usia produktif, pendidikan menengah, partisipasi gender relatif seimbang, dan adaptif lintas usia serta kondisi. Kekuatan ini membuat UMKM tahan banting di tengah krisis. Namun, karakter yang sama juga menjadi batasan ketika UMKM didorong naik kelas dengan pendekatan yang tidak kontekstual.
Artinya, transformasi UMKM tidak bisa instan dan seragam. Ia harus bertahap, berbasis realitas pelaku, dan memperhitungkan kapasitas belajar yang berbeda.
Mengapa Profil Pengusaha UMKM Penting untuk Arah Kebijakan
Memahami siapa pengusaha UMKM sama pentingnya dengan memahami sektor usahanya. Data profil ini relevan untuk merancang pelatihan yang tepat guna, skema pembiayaan yang realistis, serta strategi regenerasi wirausaha yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, UMKM bukan hanya soal omzet dan sektor. Ia adalah tentang manusia yang mengambil keputusan setiap hari—di tengah keterbatasan modal, waktu, dan informasi. Membaca profil pengusaha berarti membaca masa depan UMKM Indonesia itu sendiri.
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Follow Instagram @ukmindonesiaid biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!









