Peluang pasar produk APD, menjadi salah satu alasan banyak UMKM yang sampai saat ini masih fokus membuat produk ini. Mengingat saat pandemi seperti ini, alat pelindung diri ini banyak dibutuhkan. Tidak hanya bagi tenaga medis, namun pekerja sektor lain yang mengharuskan kontak erat dengan orang lain, juga membutuhkan alat pelindung diri.
Melihat peluang pasar yang terbilang menjanjikan dan dibarengi dengan kualitas yang mumpuni, bahkan Menteri Perindustrian pun optimis jika mampu memenuhi kebutuhan APD negara lain. APD atau Alat Pelindung Diri tidak sebatas pada baju hazmat saja, ya. Namun juga mencakup masker, baju bedah dan pakaian pelindung medis.
Baca Juga: Memilih Jenis Badan Usaha yang Sesuai dengan Kebutuhan dan Tujuan Bisnis
Apalagi di tengah era new normal seperti ini. APD menjadi perlengkapan penting ketika kita keluar rumah. Mulai dari masker (entah itu masker medis maupun kain) hingga hand sanitizer. Nyaris saat ini masker menjadi kebutuhan primer jika masyarakat harus bepergian atau keluar rumah.
Rasanya bahkan jadi aneh kalau tidak mengenakan APD. Karena kita tahu, aturan untuk memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan setelah dari luar rumah maupun saat akan memasuki fasilitas umum sudah menjadi hal yang lumrah dan perlahan menjadi suatu kebiasaan baru.
Mau tidak mau memang harus dijalani karena mematuhi protokol kesehatan adalah salah satu cara agar kita bisa jauh dari virus, bakteri maupun kuman.
Namun sepenting apa sih produk APD itu untuk masyarakat Indonesia khususnya dan masyarakat di dunia pada umumnya?
Kebutuhan APD Bagi Masyarakat dan Tenaga Medis
Dilansir dari republika, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengatakan, berdasarkan hitungan konservatif pada 2020 lalu, kebutuhan Alat Pelindung Diri (APD) di dalam negeri sebanyak 16 juta per bulan. Sementara kapasitas produksinya pada awal Mei, bisa mencapai 18 juta per bulan.
Baca Juga: Menjamin Kepuasan Pelanggan dan Kepercayaan Mitra Bisnis Lewat Kontrol Kualitas
Melihat kebutuhan yang begitu banyak per bulannya, inilah kesempatan bagi usaha mikro, kecil dan menengah untuk memanfaatkan peluang pasar produk APD. Ini yang dimaksud dengan di tengah kesulitan ada kemudahan mungkin ya.
Berbagai macam hal buruk yang kita lalui selama pandemi tidak lepas dari banyak hikmah yang mampir dalam hidup. Termasuk diantaranya membantu banyak orang untuk mendapatkan APD sesuai dengan kebutuhan.
Jumlah 16juta per bulan tidak sedikit ya, dan dapat dipastikan kebutuhan tersebut akan berlangsung hingga obat dari Covid-19 ditemukan. Atau setidaknya seluruh umat manusia di bumi ini sudah memiliki antibodinya.
Berdasarkan data yang ditampilkan dari katadata.com tersebut kita bisa melihat kebutuhan APD terbesar berasal dari daerah Jawa Barat. Disusul kemudian Jawa Timur, Jawa Tengah hingga Kalimantan Utara.
Baca Juga: Analisis Tren: Produk Seperti Apa yang Akan Laku di Tahun 2022
Selama era new normal dan protokol kesehatan yang harus dipatuhi dimana saja kita berada, produk APD menjadi kebutuhan masyarakat seperti kebutuhan mereka akan internet dan makanan.
Bayangkan jika kebutuhan APD masyarakat tidak terpenuhi, maka akan terjadi gelombang baru yang bisa saja akan melumpuhkan perekonomian kita untuk kesekian kalinya. Berbekal data kebutuhan masyarakat akan APD inilah, para pengusaha mikro, kecil hingga menengah memiliki kesempatan untuk mengambil peluang pasar itu.
Peluang Pasar Produk APD dan Fluktuasi Bisnis
Tidak bisa dipungkiri, banyak sektor usaha yang harus mengurangi produksi atau bahkan gulung tikar ketika pandemi melanda negeri ini. Jika kita lihat pada tahun pertama pandemi, maka salah satu sektor yang banyak bermunculan adalah bidang kesehatan.
Pembuatan alat pelindung diri, hand sanitizer, cairan desinfektan hingga jual beli tabung oksigen juga banyak dilakoni. Hal ini akhirnya membuka jalan bagi para pegiat UMKM. Seperti yang pernah disampaikan oleh Teten Masduki, jika UMKM turut serta dalam peningkatan pendapatan masyarakat.
Baca Juga: PolicyLab COVID-19 VS UMKM: Pemulihan Ekonomi Indonesia di Tengah Pandemi
Sumber: Canva
Melihat peluang pasar produk APD ini, pemerintah juga membuat sebuah wadah bagi para pegiat UMKM ini agar tetap bisa memasarkan dan menjual produknya dengan maksimal. Adalah Karya Nusantara yang merupakan kerjasama pemerintah dengan swasta.
Jika UMKM berkutat dengan produksi masker non medis, amka perusahaan besar juga tetap memproduksi APD dengan bahan baku yang kualitasnya sesuai kebutuhan dunia. Jika kita lihat, maka dalam pandemi ini pun banyak pihak yang bisa menangkap peluang bisnis ini.
Pada tahun 2021, tercatat bahwa sektor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) masih menunjukkan eksistensinya. Sebab jika melihat setahun silam, maka sektor inilah yang banyak terdampak sebab pandemi Covid-19 ini.
Salah satu hasil produk yang ikut berperan dalam menjaga kepulan sektor TPT ini adalah dengan adanya produksi APD. Meski begitu, secara keseluruhan sektor TPT ini tetap mengalami penurunan produksi dan nilai ekspor dalam kurun waktu setahun terakhir.
Ekspor APD Juga Mengalami Kenaikan
Peluang pasar produk APD yang terbilang cukup besar dan dibukanya pintu ekspor dari pemerintah, karenanya nilai ekspor APD kita juga mengalami kenaikan. Hal ini juga seperti yang disampaikan oleh Fajar Hirawan selaku Ekonom Center for Strategic and International Studies (CSIS).
Baca Juga: Peluang Pasar: Produk Kesehatan
Beliau juga menyampaikan jika sektor usaha mini, makro dan skala besar turut andil dalam pemenuhan ekspor APD ini, sebab permintaan pasar yang memang tinggi. Tapi, beliau juga menambahkan jika peluang pasar produk APD ini sangat bergantung pada lamanya masa pandemi. Bahkan, hal lain yang juga mempengaruhi produksi APD adalah penyebaran vaksin.
Data di BPS menunjukkan bahwa nilai ekspor produk APD seperti masker bedah, bahan baku masker ataupun APD sendiri sebesar US$70,25 Juta. Cukup fantastis, kan? Tidak hanya itu saja, permintaan pasar juga menjadi salah satu sebab bertambahnya perusahaan produsen APD ini.
Jika melihat peluang pasar produk APD, maka kita akan sangat bersinggungan dengan banyak aspek, baik itu ekonomi ataupun kesehatan (vaksin) dan juga gaya hidup masyarakatnya sendiri. Permintaan pasar memang sangat tinggi saat ini, dan semoga tetap bertahan pada nilai ekspor yang sama atau bahkan naik setelah pandemi ini berangsur turun.
Jenis-Jenis APD
Pemilihan APD untuk mencegah infeksi virus Corona tidak bisa dilakukan sembarangan. Inilah sebenarnya tantangan bagi kita, para pelaku usaha. Karena APD yang ideal untuk mencegah dan melindungi tubuh dari paparan virus Corona memiliki kriteria tertentu sebagaimana yang dilansir dari alodokter.com, yakni :
- Mampu melindungi tubuh dari percikan dahak yang mengandung virus Corona
- Tidak mudah rusak
- Ringan dan tidak membatasi gerak atau menimbulkan rasa tidak nyaman
- Mudah dibersihkan
Berikut ini adalah beberapa jenis APD yang umumnya digunakan para tenaga medis dalam menangani ODP (orang dalam pemantauan), PDP (pasien dalam pengawasan), pasien suspect (terduga positif), maupun sudah terbukti positif COVID-19 serta masyarakat luas ketika harus menerapkan protokol kesehatan di tempat tertentu :
Baca Juga: Potensi Ekspor Alat Kesehatan
Sumber: Canva
1. Masker
Masker menjadi peluang produksi APD untuk UMKM yang relatif mudah. Selain itu masker ini tidak hanya digunakan oleh tenaga medis, tapi juga masyarakat umum.
Ada 2 jenis masker yang umumnya digunakan sebagai APD dalam penanganan pasien COVID-19 atau orang yang dicurigai terinfeksi virus Corona, yaitu masker bedah dan masker N95.
Masker bedah merupakan masker penutup wajah yang terdiri dari 3 lapisan bahan yang digunakan sekali pakai. Masker ini dinilai efektif untuk mencegah masuknya virus Corona melalui mulut atau hidung, ketika ada percikan ludah penderita COVID-19 saat ia batuk, bersin, atau bicara.
Masker yang lebih efektif untuk mencegah virus Corona adalah masker N95. Masker ini terbuat dari bahan polyurethane dan polypropylene yang mampu menyaring hampir 95% partikel berukuran kecil. Masker N95 memiliki bentuk yang dapat menutup area mulut dan hidung dengan lebih rapat, bila ukurannya sesuai.
Baca Juga: Peluang Pasar: Produk Masker
Namun, perlu kita ketahui bahwa masker N95 hanya diperuntukkan bagi tenaga medis yang sedang menangani pasien dengan penyakit menular tertentu, termasuk pasien COVID-19.
Untuk mengurangi risiko penularan dan mencegah penularan kepada orang lain, pemerintah menyarankan masyarakat yang bukan tenaga medis untuk menggunakan masker kain. Namun, apapun jenis maskernya, pastikan Anda memakainya dengan cara yang benar.
Inilah yang menjadi peluang produk APD yang bisa dibuat oleh para pelaku usaha. Masker kain yang memenuhi standar kesehatan.
2. Pelindung mata
Pelindung mata atau google terbuat dari bahan plastik transparan yang berfungsi untuk melindungi mata dari paparan virus yang dapat masuk ke dalam tubuh melalui mata. Alat pelindung ini harus pas menutupi area mata, serta tidak mudah berkabut atau mengganggu penglihatan.
3. Pelindung wajah
Sama halnya dengan pelindung mata, pelindung wajah juga terbuat dari bahan plastik jernih dan transparan. Jenis APD ini dapat menutupi seluruh area wajah, mulai dari dahi hingga dagu.
Bersama masker dan pelindung mata, pelindung wajah mampu melindungi area wajah dari percikan air liur atau dahak saat pasien COVID-19 batuk atau bersin.
4. Gaun medis
Gaun medis digunakan untuk melindungi lengan dan area tubuh dari paparan virus selama tenaga medis melakukan prosedur penanganan dan perawatan pasien.
Baca Juga: 6 Bisnis yang Punya Prospek Cerah di Masa Pandemi
Berdasarkan penggunaannya, terdapat dua jenis gaun medis, yaitu gaun sekali pakai dan gaun yang bisa dipakai ulang. Gaun sekali pakai adalah gaun yang dirancang untuk dibuang setelah satu kali pakai. Jenis gaun ini terbuat dari bahan serat sintetis, seperti polypropylene, poliester, dan polyethylene, yang dikombinasikan dengan plastik.
Sedangkan gaun yang bisa dipakai ulang adalah gaun yang dapat digunakan lagi setelah dicuci atau dibersihkan. Pemakaiannya bisa hingga maksimal 50 kali, selama gaun tidak robek atau rusak. Gaun ini terbuat dari bahan katun atau poliester, atau kombinasi keduanya.
Gaun medis juga perlu dilengkapi dengan celemek atau apron untuk melapisi bagian luar gaun. Apron tersebut umumnya terbuat dari plastik yang tahan terhadap disinfektan.
5. Sarung tangan medis
Sarung tangan medis digunakan untuk melindungi tangan para petugas medis dari cairan tubuh pasien selama merawat pasien COVID-19. Sarung tangan ini idealnya tidak mudah sobek, aman digunakan, dan ukurannya pas di tangan.
Sarung tangan yang sesuai standar penanganan COVID-19 harus terbuat bahan lateks atau karet, polyvynil chloride (PVC), nitrile, dan polyurethane.
Kriteria APD Ideal Untuk Dipasarkan Hingga Internasional
Meskipun optimis bisa diproduksi di negeri sendiri hingga dapat memasarkannya di kancah internasional, namun para pelaku UMKM hendaknya juga memperhatikan bagaimana kriteria APD ideal dan memenuhi standar protokol kesehatan.
Kita ambil contoh masker. Bagaimana sih kriteria masker ideal yang memenuhi standar protokol kesehatan?
Penggunaan masker merupakan bagian dari rangkaian upaya pencegahan dan pengendalian penyebaran penyakit saluran pernapasan, termasuk salah satunya adalah COVID-19.
Baca Juga: Pendampingan Gratis Bagi UMKM Terdampak Covid-19
Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam pedomannya juga menyarankan penggunaan masker wajah. Baik bagi mereka yang sehat, maupun mereka yang sakit untuk mencegah penularan COVID-19.
Masker menjadi alat pelindung diri paling penting saat ini bagi orang sehat. Jika kita hitung, satu orang memakai satu masker setiap harinya karena dipastikan ia keluar untuk bekerja, berbelanja atau mungkin sekadar mengantar anak sekolah.
Sudah ada berapa masker yang dibutuhkan oleh satu keluarga kecil setiap bulannya?
Namun, mengacu pada rekomendasi WHO yang disebutkan dalam laman halodoc, ada beberapa hal juga yang perlu diperhatikan bagi masyarakat dalam memilih masker, khususnya pada struktur 3 lapis dan nilai efisiensi filtrasi.
Indonesia sendiri melalui upaya pemerintah juga selalu menjaga kualitas masker kain untuk melindungi masyarakat secara optimal. Hal ini dilakukan melalui Badan Standardisasi Nasional (BSN).
Dalam SNI ini, terdapat 12 parameter yang diuji, diantaranya adalah nilai BFE (bacterial filtration efficiency) atau efisiensi filtrasi bakteri minimal sebesar 60 persen dan efisiensi filtrasi partikel yang juga dengan nilai minimum 60 persen.
Direktur Jendral WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus melalui laman resmi WHO mengatakan bahwa WHO merekomendasikan bahwa masker kain yang digunakan sebagai APD untuk masyarakat umum harus terdiri dari tiga lapis material yang berbeda.
Sumber: who.int
Tiga lapisan ini terdiri dari satu lapisan pada bagian dalam masker, satu lapisan pada bagian tengah masker dan satu lapisan pada bagian luar masker.
Baca Juga: Tips Menentukan Keunggulan Kompetitif Suatu Produk Melalui Metode Validasi
- Lapisan pada bagian dalam masker dianjurkan terbuat dari bahan yang memiliki kemampuan menyerap air seperti kain katun. Dengan begitu, bagian dalam masker ini bisa menyerap droplet yang keluar dari pengguna masker.
- Lapisan tengah masker disarankan terbuat dari bahan non-woven seperti polypropylene. Dengan begitu, lapisan tengah masker ini bisa berperan sebagai penyaring.
- Lapisan luar dari masker dianjurkan terbuat dari bahan yang tidak menyerap air seperti poliester. Dengan begitu, lapisan luar masker ini dapat mencegah partikel-partikel dari luar untuk masuk melewati masker.
Jika tiga lapis tersebut tidak memungkinkan, WHO menganjurkan agar masyarakat setidaknya menggunakan masker kain yang terdiri dari beberapa lapis.
Sebagai referensi untuk UMKM, bahwa WHO juga tidak menganjurkan penggunaan kain elastis karena tidak bisa menyaring dengan baik dan tidak bisa dicuci di air panas. Seperti diketahui, WHO menganjurkan agar masker kain dicuci secara rutin dengan menggunakan air panas dan sabun atau deterjen.
Dalam panduan terbaru, WHO juga menganjurkan masyarakat untuk selalu menggunakan masker kain khususnya bila praktik jaga jarak minimal 1 meter tak bisa dilakukan. Anjuran ini tak hanya ditujukan untuk masyarakat yang menunjukkan gejala Covid-19, tetapi juga masyarakat yang tidak mengalami gejala Covid-19.
Semoga artikel tentang peluang pasar produk APD ini bisa membantu teman-teman UMKM untuk berkarya dan menebar manfaat dengan memenuhi kebutuhan pasar berupa produk APD yang sangat kita butuhkan beberapa tahun ke depan. Siapa yang tahu kan?
Jika merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini ya Sahabat Wirausaha.
Referensi:
- databoks.katadata.co.id
- alodok.com
- halodoc.com
- bsn.go.id
- who.int
Dukung Misi Edukasi Kami
Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.









