
Sahabat Wirausaha, setiap musim kemarau tiba, berita karhutla hampir selalu kembali menghiasi headline di Indonesia — asap tebal, jarak pandang berkurang, hingga kerugian ekonomi bagi masyarakat dan pelaku usaha di wilayah terdampak.
Memasuki 2026, persoalan ini masih jauh dari selesai. Data Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi+) Kementerian Kehutanan mencatat luas areal kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sepanjang Januari–Juli 2026 mencapai 202.004,30 hektare. Angka tersebut meningkat sekitar 69% dibandingkan periode yang sama pada 2025. Dari luas tersebut, sekitar 57% berada di kawasan hutan dan 43% berada di area penggunaan lain (APL).
Kondisinya bahkan masih perlu diwaspadai hingga September. Pemerintah menetapkan sejumlah wilayah sebagai prioritas penanganan, termasuk Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat. Pada 4 September 2026, misalnya, luas lahan terbakar di Riau sejak awal tahun telah mencapai sekitar 18.882 hektare, sedangkan di Sumatera Selatan mencapai sekitar 1.926 hektare.
BMKG juga menyebut September 2026 masih merupakan fase kritis karhutla. Kondisi kemarau yang kering, pengaruh El Niño, dan tingginya jumlah titik panas membuat risiko kebakaran masih perlu diwaspadai.
Karena itu, pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman setelah api muncul. Salah satu pendekatan yang bisa dikaji adalah mengolah residu biomassa yang biasanya dibakar saat pembukaan atau pembersihan lahan menjadi biochar melalui proses yang terkendali.
Dengan pendekatan tersebut, residu tidak langsung dilepas menjadi asap dan emisi melalui pembakaran terbuka, tetapi dapat diolah menjadi bahan yang berpotensi digunakan sebagai pembenah tanah. Pada saat yang sama, petani mendapatkan alternatif terhadap praktik pembakaran lahan.
Baca Juga: Ampas Kopi UMKM Ternyata Bahan Baku Biochar yang Mulai Dilirik Pasar Ekspor Dunia
Abu Bekas Kebakaran vs Biochar Buatan: Jangan Sampai Salah Kaprah
| Aspek | Abu/Arang Bekas Kebakaran Liar | Biochar Hasil Olahan Sengaja |
| Cara terjadi | Kebakaran tak terkendali, oksigen penuh | Pirolisis terkontrol, minim oksigen, suhu 300–500°C |
| Kondisi karbon | Sebagian besar karbon lepas jadi asap dan CO2 | Karbon "terkunci" stabil dalam struktur berpori |
| Konsistensi kualitas | Sangat bervariasi, tidak terstandar | Bisa dikendalikan dan diukur sesuai standar |
| Manfaat untuk tanah/industri | Minim, bahkan bisa merusak struktur tanah | Memperbaiki kesuburan tanah, bisa masuk rantai nilai komoditas |
Perbedaan ini penting dipahami karena ada anggapan keliru yang cukup sering beredar: seolah-olah abu atau arang sisa kebakaran hutan bisa langsung dikumpulkan dan disebut sebagai biochar. Padahal, biochar didefinisikan justru dari cara pembuatannya yang disengaja dan terkontrol — bukan dari hasil kebakaran yang tidak direncanakan.
Cegah Karhutla dengan Mengganti Praktik Bakar Lahan, Bukan Menyingkirkan Bahan Bakar
Penting diluruskan dulu: mayoritas karhutla di Indonesia, terutama di lahan gambut, bukan terjadi karena tumpukan biomassa kering yang terbakar dengan sendirinya. Penyebab utamanya justru manusia yang sengaja membakar untuk membuka atau membersihkan lahan pertanian dan perkebunan, karena itu cara paling murah dan cepat dibanding metode lain. Begitu dibakar di lahan gambut yang sudah kering akibat drainase, api bisa menjalar di bawah permukaan tanah dan jadi sangat sulit dipadamkan.
Di sinilah letak mekanisme pencegahan yang sebenarnya: bukan menyingkirkan biomassa supaya "tidak terbakar sendiri", melainkan mengganti insentif petani untuk membakar dengan alternatif yang lebih menguntungkan. Kalau sisa vegetasi atau residu pembukaan lahan dikumpulkan dan diolah jadi biochar lewat metode tanpa bakar, petani mendapat hasil yang bisa dijual atau dipakai memperbaiki tanahnya sendiri — sehingga tidak perlu lagi membakar lahan untuk membersihkannya. Titik api yang biasanya muncul dari praktik pembakaran itu sendiri pun otomatis berkurang, karena aktivitas bakarnya digantikan sejak awal.
Supaya lebih jelas, prosesnya sebenarnya punya dua bagian yang berjalan beriringan — bukan cuma satu langkah:
Pertama, sisa tanaman yang biasanya dibakar. Saat membuka lahan, petani tetap perlu membersihkan rumput, semak, atau sisa tebangan. Bedanya, residu ini tidak dibakar di tempat, melainkan dikumpulkan lalu diolah jadi biochar lewat proses pirolisis terkendali.
Kedua, lahan gambutnya sendiri juga perlu "dipulihkan" — bukan cuma dibersihkan. Ini bagian yang sering luput dari pemberitaan. Gambut yang sudah telanjur kering (biasanya karena kanal drainase) itulah yang paling gampang terbakar dan paling sulit dipadamkan. Karena itu, program restorasi gambut seperti BRGM biasanya menjalankan tiga langkah sekaligus, dikenal sebagai pendekatan 3R:
-
Rewetting (pembasahan kembali) — menutup atau menyekat kanal drainase, atau membuat sumur bor, supaya muka air di gambut naik lagi dan gambut tidak gampang terbakar.
-
Revegetation (penanaman kembali) — lahan yang sudah lebih basah dan diberi biochar sebagai pembenah tanah, baru ditanami kembali dengan komoditas seperti sayuran.
-
Revitalization (revitalisasi ekonomi) — hasil panen dari lahan yang sudah pulih ini yang jadi sumber pendapatan tambahan bagi petani.
Jadi biochar bukan solusi tunggal yang bikin gambut kembali lembap dengan sendirinya — ia berperan di tahap revegetasi, sebagai bahan yang menyuburkan tanah supaya lebih siap ditanami. Kelembapan gambut itu sendiri pulih terutama berkat langkah rewetting (sekat kanal, sumur bor), yang berjalan bersamaan dengan pengolahan biochar.
Satu hal penting: pendekatan ini hanya berlaku untuk biomassa kering di lahan yang sudah terdegradasi, bukan mengambil bahan dari kawasan gambut basah yang masih alami. Gambut sebenarnya bukan tanah subur — justru asam dan miskin hara — dan nilai pentingnya ada pada fungsi ekologisnya sebagai penyimpan karbon dan pengatur tata air. Gambut baru rawan terbakar setelah dikeringkan untuk pertanian atau perkebunan. Jadi pendekatan ini murni mengganti praktik bakar yang sudah telanjur jadi kebiasaan, bukan alasan untuk membuka lebih banyak kawasan gambut.
Sumber foto: antaranews.com
Contoh nyata pendekatan ini sudah berjalan sejak 2019 lewat program Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) bersama Kantor Layanan Proyek PBB (UNOPS), yang mendampingi petani di ratusan desa pesisir Kalimantan Barat beralih dari praktik bakar lahan ke pengolahan tanpa bakar. Hasilnya cukup signifikan: gambut yang tadinya kering kembali lembap dan kesuburannya membaik, sebagian berkat biochar yang dipakai sebagai pembenah tanah, sehingga petani bisa menanam sayuran seperti mentimun, tomat, cabai, dan terong di lahan yang sebelumnya kurang produktif. Pendapatan warga yang ikut program ini tercatat meningkat bersumber dari hasil panen sayuran tersebut, bukan dari menjual biochar-nya sebagai komoditas. Selain itu, risiko kebakaran di kawasan tersebut menurun drastis, bahkan program ini disebut berhasil menyelamatkan fasilitas publik seperti gedung sekolah dari ancaman kebakaran lahan di sekitarnya.
Dua Jalur Cuan, Beda Level: Mana yang Sudah Terbukti, Mana yang Masih Berkembang
Sahabat Wirausaha, penting dipahami ada dua jalur ekonomi dari biochar yang sering tercampur aduk dalam pemberitaan, padahal tingkat kematangannya jauh berbeda:
Jalur 1 — Sudah terbukti: biochar sebagai pembenah tanah lokal. Seperti contoh BRGM-UNOPS di atas, biochar dipakai memperbaiki kesuburan tanah gambut supaya bisa ditanami kembali. Cuannya datang dari hasil panen yang meningkat, bukan dari menjual biochar itu sendiri.
Jalur 2 — Masih berkembang: biochar sebagai komoditas ekspor. Permintaan biochar dari luar negeri — termasuk Arab Saudi dan Jepang — sedang tinggi, dan pemerintah bersama asosiasi terkait sedang membangun standar dan sertifikasi supaya biochar Indonesia bisa diterima di pasar itu (sudah kami bahas lebih detail di artikel sebelumnya). Tapi sejauh ini belum ada bukti konkret biochar dari residu biomassa rawan karhutla sudah masuk ke rantai ekspor tersebut.
Kalau kamu mendampingi atau tergabung dalam kelompok tani hutan, ekspektasi paling aman untuk dipegang sekarang adalah Jalur 1. Jalur ekspor komoditas biochar bisa jadi peluang tambahan di masa depan, tapi jangan dijadikan andalan utama dulu.
Tantangan yang Perlu Diakui Sejak Awal
Pendekatan ini bukan tanpa kendala. Tidak semua pemerintah daerah punya peraturan atau infrastruktur yang mendukung pengumpulan biomassa secara terorganisir dari kawasan rawan karhutla, dan mengangkut biomassa dari lahan gambut yang biasanya sulit diakses juga bukan perkara mudah.
Karena itu, pendekatan ini realistisnya perlu berjalan bertahap: dimulai dari desa atau kelompok tani hutan yang sudah punya program pendampingan lingkungan, baru diperluas ke wilayah lain kalau modelnya terbukti berhasil.
Peluang untuk Kelompok Tani Hutan dan Masyarakat Sekitar Kawasan
Buat kelompok tani hutan, koperasi desa, atau pelaku usaha kecil yang berada di sekitar kawasan rawan karhutla, ini beberapa langkah awal yang bisa mulai dijajaki:
-
Mulai dari Jalur 1 yang sudah terbukti: pelajari cara membuat dan memakai biochar sebagai pembenah tanah untuk lahan sendiri, lalu coba tanam komoditas yang cocok di lahan gambut seperti sayuran hortikultura.
-
Identifikasi biomassa berisiko di sekitar lahan, seperti serasah gambut kering atau sisa tebangan yang biasanya dibakar terbuka saat pembukaan lahan. Pemetaan ini bisa dilakukan bersama penyuluh pertanian atau petugas Manggala Agni setempat.
-
Cari pelatihan pembuatan biochar dari lembaga penelitian, universitas, atau program pemerintah daerah yang sudah menjalankan inisiatif serupa di beberapa wilayah Kalimantan.
-
Bangun kerja sama kolektif lewat koperasi desa atau kelompok tani hutan yang sudah terbentuk, karena produksi biochar idealnya dilakukan skala kelompok, bukan perorangan.
-
Pantau perkembangan sertifikasi biochar nasional sebagai peluang tambahan jangka menengah, supaya lebih siap kalau Jalur 2 (ekspor komoditas biochar) benar-benar terbuka lebih luas.
Mengubah ancaman tahunan jadi peluang memang butuh waktu dan pendampingan yang konsisten. Tapi kalau pendekatan ini bisa direplikasi lebih luas, karhutla yang selama ini identik dengan kerugian bisa perlahan bergeser jadi bagian dari solusi ekonomi hijau yang nyata.
Ilmu dan informasi yang bermanfaat layak untuk terus bergerak. Yuk, bantu kami sebarkan kepada sesama pelaku usaha yang mungkin sedang membutuhkannya.
Kamu juga bisa berkontribusi lebih jauh dengan mendukung keberlanjutan konten edukatif ini melalui fitur Dukung Kami di bawah artikel ini.
Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin tumbuh dalam komunitas yang saling menguatkan, bergabunglah di ukmindonesia.id/registrasi. Tempat para pelaku UMKM belajar bersama dan naik kelas.
Referensi: Kementerian Lingkungan Hidup (kemenlh.go.id) untuk perkembangan program biochar nasional dan kebijakan pengendalian karhutla; Kementerian Pertanian melalui Balai Penelitian Tanah (pertanian.go.id) untuk panduan teknis biochar sebagai pembenah tanah.
Dukung Misi Edukasi Kami
Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.









