
Sahabat Wirausaha, biaya berjualan di marketplace memang naik dalam beberapa tahun terakhir, dan ini bukan sekadar perasaan. Berdasarkan laporan keuangan salah satu perusahaan induk marketplace besar di Asia Tenggara untuk kuartal II 2026, pendapatan yang mereka ambil dari seller tumbuh jauh lebih cepat dibanding total nilai transaksi yang terjadi di platform. Artinya, semakin lama, semakin besar porsi yang harus disisihkan seller dari setiap transaksi.
Kalau kamu jualan di marketplace dan merasa margin makin tipis padahal omzet terlihat stabil atau bahkan naik, kamu tidak sendirian. Fenomena ini terjadi karena model bisnis platform e-commerce memang berubah — dari fokus membesarkan jumlah transaksi, menjadi fokus memaksimalkan pendapatan dari setiap transaksi yang sudah ada.
Baca Juga: Permen UMKM 3/2026: Diskon 50% Biaya Layanan Marketplace, Cek Faktanya
Apa Itu GMV dan Kenapa Penting Dipahami Seller
Sebelum masuk ke data, ada satu istilah yang perlu dipahami dulu: GMV atau Gross Merchandise Value. Sederhananya, GMV adalah total nilai seluruh barang yang terjual di sebuah platform dalam periode tertentu — termasuk dagangan kamu dan semua seller lain yang jualan di platform yang sama.
GMV ini penting dibedakan dari pendapatan platform itu sendiri. GMV adalah uang yang berputar di antara pembeli dan seller, sedangkan pendapatan platform adalah bagian yang mereka ambil dari perputaran itu — lewat komisi, biaya admin, biaya iklan, dan layanan tambahan lain.
Kenapa ini relevan buat kamu? Karena kalau GMV naik, itu bukan berarti seller otomatis untung lebih besar. Yang lebih menentukan margin kamu adalah seberapa besar porsi yang diambil platform dari setiap transaksi — dan porsi ini yang belakangan naik cukup signifikan.
Dari Kejar Jumlah Transaksi, Jadi Kejar Pendapatan per Transaksi
Analoginya begini: bayangkan sebuah warung makan yang tadinya fokus menarik sebanyak mungkin pelanggan, meski untung per porsi tipis. Semakin ramai, semakin untung — itu strategi awalnya. Tapi begitu pelanggannya sudah banyak dan setia, pemilik warung sadar ada cara lain menambah untung: menaikkan harga sedikit, menambah biaya kemasan, atau menambah biaya reservasi meja dari pelanggan yang memang sudah datang.
Pola serupa terjadi di marketplace. Dulu, platform untung dari semakin banyak transaksi yang terjadi — target utamanya membesarkan GMV, meski komisi yang diambil per transaksi kecil. Sekarang, dengan jumlah pengguna yang sudah sangat besar, platform lebih fokus menaikkan berapa yang bisa mereka ambil dari setiap transaksi yang sudah berjalan — lewat kombinasi komisi, biaya admin, biaya proses pesanan, dan iklan berbayar.
Ilustrasi sederhananya: kalau dulu dari setiap Rp1 juta transaksi, platform mengambil sekitar Rp60 ribu (6%), sekarang dari nilai transaksi yang sama, mereka bisa mengambil Rp150-240 ribu (15-24%) lewat gabungan komisi, biaya admin, dan iklan. Nilai transaksinya tidak berubah banyak, tapi porsi yang mengalir ke platform jauh lebih besar dari sebelumnya.
Inilah yang terlihat dari data: GMV Shopee memang tumbuh 28,4% dibanding tahun sebelumnya, tapi pendapatan inti mereka dari seller — yang sebagian besar berasal dari komisi transaksi dan iklan — tumbuh 65,6% pada periode yang sama. Kenaikan pendapatan platform lebih dari dua kali lipat kenaikan volume transaksinya.
Baca Juga: Marketplace Kini Jadi Pemungut Pajak Mulai 1 November 2026, Penjual UMKM Wajib Tahu Ini
Uang Tambahan Itu Nggak Semuanya Jadi Untung Platform
Meski pendapatan platform naik tajam, ini tidak berarti keuntungan bersih mereka ikut melonjak sebanding. Sebagian besar tambahan pendapatan tersebut justru dibelanjakan lagi, terutama untuk tiga hal:
-
Infrastruktur logistik — membangun gudang, pusat sortir, dan armada pengiriman sendiri, supaya barang bisa sampai lebih cepat ke pembeli (di beberapa negara, platform bahkan sudah bisa mengirim barang sehari setelah dipesan).
-
Subsidi ongkos kirim dan promo — supaya pembeli, terutama yang baru pertama kali coba belanja online, mau mencoba platform tersebut dibanding kompetitor.
-
Program menarik pembeli baru — seperti cashback dan diskon khusus pengguna baru, agar jumlah pembeli aktif terus bertambah.
Jadi biaya yang naik ke seller itu sebagian besar "muter lagi" untuk mempertahankan pertumbuhan platform, bukan otomatis masuk kantong sebagai untung bersih. Ini berbeda dengan pembahasan soal iklan berbayar di bagian berikutnya, yang merupakan biaya tambahan langsung yang dibayar seller ke platform, bukan biaya yang dikeluarkan platform untuk menarik pembeli.
Kenapa Biaya Iklan Jadi Andalan Pendapatan Baru Platform
Salah satu pola yang terlihat jelas dari data ini adalah pergeseran sumber pendapatan platform, dari sekadar komisi transaksi menjadi iklan berbayar dari seller. Beban pemasaran platform pada periode yang sama tercatat naik lebih dari 60% dibanding tahun sebelumnya, sejalan dengan lonjakan jumlah seller yang membayar untuk beriklan di platform serta rata-rata belanja iklan per seller yang juga meningkat.
Pola ini masuk akal dari sisi bisnis platform. Menaikkan komisi tetap secara terang-terangan biasanya memicu keluhan terbuka dari seller. Sebaliknya, menawarkan slot iklan yang sifatnya "opsional" membuat kenaikan biaya terasa seperti pilihan seller sendiri — padahal di tengah persaingan yang makin padat, banyak seller merasa terpaksa beriklan agar produknya tetap terlihat oleh calon pembeli.
Baca Juga: Surat Pernyataan Omzet Marketplace: Ini Cara Buatnya agar Kamu Tidak Kena PPh 0,5%
Sebenarnya, Apa yang Didapat Seller dari Marketplace?
Dengan semua kenaikan biaya ini, wajar kalau muncul pertanyaan: seller sebenarnya dapat apa selain sekadar exposure?
Beberapa hal yang memang nyata didapat seller dari berjualan di marketplace besar:
-
Akses ke basis pembeli yang sangat luas — sesuatu yang sulit ditiru toko online sendiri, terutama di tahap awal usaha.
-
Infrastruktur pembayaran dan pengiriman siap pakai — seller tidak perlu membangun sistem pembayaran atau kerja sama dengan jasa ekspedisi dari nol.
-
Kepercayaan konsumen — banyak pembeli merasa lebih aman belanja di marketplace besar karena ada sistem perlindungan pembeli, dibanding belanja di toko online yang belum dikenal.
-
Fitur pendukung penjualan — seperti data performa toko, fitur live streaming, dan program diskon yang sudah terintegrasi.
-
Akses pembiayaan usaha — beberapa seller bisa mendapat pinjaman modal dari fitur finansial platform, berdasarkan riwayat penjualan tokonya.
Yang berubah bukan berarti seller tidak dapat apa-apa, tapi rasio antara apa yang didapat secara gratis dan apa yang harus dibayar makin bergeser ke arah berbayar. Exposure organik, yaitu produk yang muncul di pencarian tanpa bayar iklan, makin sulit didapat karena makin banyak seller bersaing memperebutkan perhatian pembeli yang sama.
Jangan Cuma Lihat Omzet, Ini yang Harus Mulai Dihitung Ulang
Ada tiga hal yang perlu dicatat dari data ini.
Pertama, kenaikan biaya berjualan di marketplace bukan sesuatu yang bersifat sementara. Ini adalah arah jangka panjang yang berkaitan dengan bagaimana platform besar mencari keuntungan setelah bertahun-tahun berinvestasi membesarkan jumlah pengguna.
Kedua, persaingan antar-platform sendiri belum selesai. Sebagian dari kenaikan pendapatan tersebut justru digunakan untuk mensubsidi akuisisi pembeli baru dan mempercepat layanan logistik, bukan murni jadi keuntungan bersih platform. Artinya, tekanan biaya pada seller kemungkinan masih akan berlanjut selama perebutan pasar ini terus berjalan.
Ketiga, dan ini yang paling praktis: kamu perlu mulai menghitung ulang berapa margin riil yang tersisa setelah semua potongan biaya, bukan hanya melihat angka omzet kotor. Banyak UMKM baru menyadari bisnisnya sudah tipis marginnya, atau bahkan merugi, setelah menghitung secara detail semua komponen biaya yang selama ini jarang diperhatikan.
Memahami arah perubahan ini adalah langkah pertama sebelum menentukan strategi berikutnya, baik itu menyesuaikan harga jual, mengelola biaya operasional dengan lebih ketat, atau mulai membangun kanal penjualan di luar marketplace.
Semoga bermanfaat!
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Follow Instagram @ukmindonesiaid biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!
Daftar Referensi:
- Sea Limited. (11 Agustus 2026). Sea Limited Reports Second Quarter 2026 Results [Rilis resmi]. cdn.sea.com — https://cdn.sea.com/investor/2Q2026/wFBC39MbqnfLb3MGY6LP/2026.08.11%20Sea%20Second%20Quarter%202026%20Results.pdf
- Barchart. (2026). Sea Limited Reports Second Quarter 2026 Results. https://www.barchart.com/story/news/3773424/sea-limited-reports-second-quarter-2026-results
- Business Wire. (2026). Sea Limited to Report Second Quarter 2026 Results. https://www.businesswire.com/news/home/20260727724050/en/
- Sumber foto thumbnail: iMin Technology on pexels.com
Dukung Misi Edukasi Kami
Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.









