Tenun eBoon - Sahabat Wirausaha, Indonesia adalah negara yang begitu kaya akan adat istiadat. Tak hanya terlihat melalui tarian atau ritual budaya saja, adat setempat juga kerap terlihat pada produk yang dihasilkan oleh warga lokal. Salah satunya berupa kain tenun tradisional. Warisan budaya turun-temurun ini tersebar di seluruh pelosok Nusantara dan memiliki beragam ciri khas sesuai karakteristik masing-masing wilayahnya.

Tak hanya elok dipandang, kain-kain tenun justru memiliki nilai ekonomis tinggi sehingga menjadi bisnis yang menjanjikan. Hal itu pula yang ternyata disadari oleh Novita Ratnasari yang mengenalkan kain tenun asal Lombok lewat bisnisnya bernama Tenun eBoon. Bagaimana cerita Novita dalam menjalankan bisnis Tenun eBoon? Simak sepak terjangnya dalam artikel lengkap berikut ini.


Tujuh Tahun Berjalan, Tenun eBoon Catat Omzet 30 Juta Rupiah

Bicara soal tenun, kegiatan ini merupakan salah satu teknik dalam pembuatan kain yang dibuat secara sederhana lewat penggabungan benang entah memanjang atau melintas. Di Indonesia, beberapa jenis tenun yang cukup populer sebagai buah tangan khas destinasi wisata adalah songket Minangkabau, ulos Batak, troso Jepara, songket Palembang, tenun Toraja, gringsing Bali, tenun Flores dan tenun sasak Lombok. 

Dari jumlah daerah yang menghasilkan produk tenun di Indonesia, Nusa Tenggara rupanya menjadi pulau dengan jumlah pelaku UKM (Usaha Kerja Mikro) kain tenun terbanyak kedua di Indonesia, seperti dilansir Good News From Indonesia. Dalam data tahun 2018, pulau Jawa masih memimpin dengan sekitar 125.722 unit UKM produk tenun. Lalu kemudian Nusa Tenggara memiliki total 75.549 unit UKM di tahun yang sama, jauh mengalahkan Sumatera (38.437 UKM) atau Sulawesi (16.667 UKM). 

foto: GNFI

Tingginya jumlah pengrajin kain tenun asal Nusa Tenggara itu juga yang sedikit banyak mendasari Novita untuk mengusung tenun asal Lombok yang memang menjadi asal dari keluarga besarnya. Dirinya yang sudah terbiasa dengan dunia tenun sejak kecil akhirnya memilih kriya itu menjadi salah satu souvenir dalam pernikahannya. Ternyata keputusan itu justru menjadi cikal bakal dari Tenun eBoon.

Baca Juga: Qaireen Moez, Inovasi Bisnis Fashion Kain Nusantara

“Waktu saya nikah tahun 2008, sepakat mau pakai adat Lombok di Jakarta, jadi memang sengaja mencari kain-kain tenun yang punya motif khas Lombok. Kebetulan uwak saya kan kepala desa, dibantu beliau, mengumpulkan seluruh anggota keluarga yang memang masih pengrajin kain,” cerita Novita.

Berawal dari kebutuhan untuk pernikahan itulah, Novita akhirnya terpikat pada kain-kain tenun khas Lombok. Ia pun sadar jika kain tenun Lombok mampu menarik perhatian banyak orang dan memiliki nilai jual yang menjanjikan sebagai produk bisnis. Apalagi, dua tahun kemudian, sang uwak yang bernama Sumiyati akhirnya membentuk komunitas tenun Enges Ethnic di Desa Marong, Nusa Tenggara Barat yang membuatnya semakin yakin untuk menjalani bisnis kain tenun Lombok.

foto: website resmi Tenun eBoon

Ibu empat anak perempuan yang pada tahun 2023 ini genap berusia 40 tahun itu pun akhirnya memilih nama Tenun eBoon untuk bisnis yang dia geluti. Menariknya, nama eBoon sendiri ternyata diambil dari nama sang nenek sekaligus istilah dalam bahasa Perancis yakni les boon yang bermakna anugerah.

“Awalnya masih ambil-ambil produk dari tempat lain karena kan saya juga masih bekerja sebagai konsultan pajak. Baru di tahun 2015 saya resign, dapat tawaran pameran di Loby Pasaraya Grande Blok M dan mengisi tenant sebagai outlet pertama. Sempat nyewa tenant lain di Thamrin City tapi sepi banget jadi cuma bertahan beberapa bulan. Barulah di 2017 itu resmi menjalankan Tenun eBoon dan produksi sendiri, sampai kita punya sekitar 50 sampai 100 orang penenun di Lombok,” jelas Novita.

Memberanikan diri menjadi seorang pebisnis produk kriya, Novita pun mulai mengikuti beberapa ajang wirausaha nasional. Apalagi di tahun awal itu pula, Tenun eBoon sempat diajak Little Bandung untuk membuka outlet pameran di Selangor, Malaysia. Sampai akhirnya Tenun eBoon berhasil meraih SMESCO Award 2018 untuk Kategori Heritage dan meraih Juara 3 dalam Festival Kreatif Lokal 2020 yang digelar Kemenparekraf - ADIRA.

Sarjana Akuntansi ini pun semakin memperluas pasar bisnisnya dengan membuka outlet di beberapa pusat perbelanjaan ternama di Jakarta. Mulai dari Alun-Alun Grand Indonesia pada tahun 2018, Metro Plaza Senayan di tahun 2019 dan SOGO Plaza Senayan serta Central Park pada tahun 2020. Untuk produknya sendiri, kain tenun khas Lombok dijual dengan harga mulai dari ratusan ribu rupiah per lembarnya.

“Kalau diingat-ingat, modal awal kami itu 10 juta rupiah dan sempat sentuh omset 40 juta rupiah per bulan. Kalau sekarang, kami punya 15 orang penenun rutin yang supply produk Tenun eBoon dan pendapatan udah mulai balik ke kisaran 30 juta rupiah per bulan,” jelas Novita panjang lebar. 

Baca Juga: Kainnesia, Perjuangan Memperkenalkan Tenun Ke Penjuru Indonesia


Anjlok Karena Pandemi, Tenun eBoon Tinggalkan Idealisme Demi Bertahan

Kendati saat ini sudah berangsur-angsur kembali menemukan omzet-nya kembali, Novita tak menampik bahwa pandemi COVID-19 memang sempat menghantam Tenun eBoon dengan cukup berat. Dirinya sadar jika kain tenun bukan merupakan kebutuhan pokok sehari-hari, sehingga membuat pendapatan langsung anjlok. Bahkan selama COVID-19 menerjang, Tenun eBoon pernah mencatat penjualan hanya satu produk sehari dan omzet cuma satu juta rupiah saja.

Apalagi menurut Novita, bisnisnya ini baru menemukan pasar yang cocok di penghujung tahun 2019 tepat ketika wabah corona mulai ditemukan di Wuhan, China. Di saat Tenun eBoon mulai mencatatkan omzet rutin, terpaksa ditutup gerainya di beberapa pusat perbelanjaan karena kebijakan pembatasan sosial dari pemerintah.

“Akhirnya kita juga nggak bisa achieved target dari pihak mall bahkan gada pembelian produk sama sekali, outlet pun terpaksa ditutup. Puluhan pengrajin kita di Lombok juga banyak yang beralih profesi dan memilih jadi TKW karena penghasilan lebih menjanjikan,” kenang Novita.

Demi tetap menjaga arus kas usaha, Novita pun akhirnya melakukan inovasi pada Tenun eBoon meskipun akhirnya membuat brand itu tak lagi fokus menghasilkan produk kain tenun. Bahkan selama pandemi COVID-19, Tenun eBoon menawarkan sarung bantal kursi kendati memang masih mengusung motif tenun khas Lombok. 

Jika sebelumnya para pengrajin menghasilkan kain tenun bermotif tradisional dan kontemporer berbahan benang premium yang rumit seukuran 100 cm x 60 cm sehingga berkesan eksklusif, Novita mulai mengikis idealismenya. Tenun eBoon akhirnya tak hanya fokus pada produk fashion tenun saja, karena mulai menghasilkan produk home decor, syal, sampai souvenir yang harga jualnya lebih terjangkau untuk masyarakat luas.

foto: UKM Jagowan

Salah satu keuntungan dari dihasilkannya produk-produk baru yang tak hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan fashion adalah proses pengerjaannya yang tak terlalu rumit. Novita mencontohkan jika motif tenun eksklusif membutuhkan proses produksi hingga satu minggu di Lombok, saat ini dirinya banyak melakukan kolaborasi dengan penjahit dan desainer lokal di Jakarta yang membuat biaya produksi lebih efisien.

“Ini semua memang upaya memenuhi permintaan pasar juga, meskipun saya sempat khawatir bakal kehilangan identitas kain tenun Lombok. Tapi yang utama sekarang adalah ada penjualan rutin,” ungkap Novita jujur.

Karena sudah menanggalkan idealisme produk khusus kain tenun Lombok, Tenun eBoon akhirnya semakin bisa dinikmati oleh seluruh kalangan masyarakat. Supaya semakin efektif dalam hal biaya produksi, Novita pun saat ini hanya mempekerjakan penjahit borongan yang baru memproduksi setelah dirinya melakukan riset produk sesuai permintaan pasar. Tak berhenti disitu, Novita juga meningkatkan kemampuannya dengan lebih fokus belajar perihal digital marketing.

Menparekraf Sandiaga Uno memakai kain Tenun eBoon foto: website resmi Tenun eBoon

Sadar bahwa setelah pandemi COVID-19 berlalu sangat mempengaruhi daya beli dan gaya berbelanja masyarakat yang semakin serba online, Novita pun mulai membuka diri untuk mempelajari hal-hal yang fokus pada pemasaran. Menurutnya saat ini di tahun ketujuh Tenun eBoon berjalan, dirinya lebih mengutamakan ilmu penjualan daripada produksi semata. 

Baginya, proses produksi saat ini lebih baik diserahkan pada desainer, penjahit dan pengrajin yang memang sudah terpercaya kualitasnya, sedangkan dirinya harus memahami kebiasaan dan kebutuhan konsumen lewat produk-produk yang lebih inovatif. Untuk bisa menjangkau konsumen yang lebih muda, Tenun eBoon pun berniat memaksimalkan kanal-kanal penjualan online mulai dari website, marketplace hingga media sosial.

Baca Juga: ​Diana Restu, Sukses Bangun Bisnis Fashion dengan Strategi Brand Identity

Lantas, apakah yang ingin direncanakan oleh Novita untuk kedepannya?

“Saya ingin punya outlet Tenun eBoon sendiri. Terus juga ingin jualan bisa jualan di Nusa Tenggara Barat sana, seperti di tempat-tempat wisata, karena jujur produk ini justru tidak dikenal di sana, padahal menawarkan kain tenun Lombok,” tutup Novita.

Bukan tanpa alasan kenapa dirinya ingin memiliki outlet tunggal karena menurut Novita, membuka gerai di pusat perbelanjaan sedikit banyak membebani usahanya. Lantaran para penjual di mall harus menghadapi target yang ditetapkan pihak pengelola, juga persaingan bisnis yang ketat. Selain itu dengan memiliki outlet sendiri, dirinya lebih bisa memberdayakan para penenun asli Lombok yang mayoritas berusia tua, sehingga bisa menawarkan regenerasi.

Tentu bukan proses mudah bagi Novita untuk mewujudkan semua keinginannya. Namun baginya dalam berbisnis memang harus tetap fokus dan jangan pernah berhenti atau takut untuk mencoba hal-hal baru. Menjadi seorang pebisnis haruslah didukung dengan jiwa yang kuat dan tak pernah berhenti belajar sepanjang waktu.

Nah bagaimana Sahabat Wirausaha? Sungguh luar biasa sekali kan perjuangan Novita Ratnasari dengan Tenun eBoon? Tentu ini bisa menjadi alasan bagi kita semua agar tetap bersemangat dalam menjalankan bisnis.

Jika Sahabat Wirausaha merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman lainnya. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini.