​Kisah Inspiratif UMKM 215 Project : dari Hobi Hingga Mendulang Rezeki

Siapa sangka ternyata dari hobi juga bisa mendatangkan rezeki. Seperti yang sudah dilakukan oleh sebuah usaha lokal asal Nusa Tenggara Barat yaitu 215 Project. Bahkan, usahanya kini juga bisa membuka lapangan pekerjaan untuk warga sekitar. Apakah Sahabat Wirausaha juga memiliki hobi yang bisa dijadikan usaha? Untuk bisa menambah inspirasi, mari simak dulu perjalanan dari 215 Project berikut ini.

Baca Juga: Mengenal Istilah Social Media Campaign


Profile 21 Project

Jual ASESORIS KUSTOM KHUSUS - Kota Mataram - 215 Project | Tokopedia

Usaha ini lahir pada bulan Januari tahun 2016 di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pemilik dari usaha ini bernama Risman Hidayat. 215 project ini dijalankan sebagai usaha perseorangan yang dibantu oleh beberapa pekerja tetap dan Borongan.

Produknya pun beragam, mulai dari gelang, strap mask, gantungan, hingga tali jam tangan. Bahan baku utama dari produk-produknya adalah tali Parachute Cord (Paracord). Ada juga yang berbahan dasar tali kur dan tali prusik.

Sistem yang diterapkan oleh 215 Project adalah pre-order. Sehingga costumer diberi keleluasaan untuk memilih sendiri design dan warna yang diinginkan. Biasanya yang membeli produknya adalah langsung end user untuk keperluan pribadi maupun untuk buah tangan. Namun, sesekali 215 Project mendapatkan pesanan dari reseller indie.

Visi dari 215 Project adalah menjadi ikon, serta pusat design dan edukasi handcraft berbahan dasar paracord di NTB. Selain itu, 215 Project juga ingin mengenalkan budaya Indonesia seputar kerajinan tangan anyaman yang diaplikasikan sebagai aksesoris yang bisa dipakai dari kepala hingga kaki.

Baca Juga: Raja Uduk, Menjadi Pemenang Pasar Nasi Uduk Bermodal Observasi Riset Pasar


Perjalanan 215 Project

215project

Berawal dari hobi sang owner yang gemar mengenakan aksesoris di leher, tangan hingga kaki yang dibuatnya sendiri. Kemudian pada tahun 2016, hobinya tersebut dijadikan sebuah peluang bisnis dan bisa membuka lapangan pekerjaan sampai saat ini.

Di awal merintis usaha ini, 215 Project masih menggunakan tali kur dan tali prusik sebagai bahan dasar pembuatan produk. Kemudian beralih pada penggunaan tali paracord. Tali paracord ini biasanya digunakan sebagai alat untuk survival. Namun, oleh 215 Project tali terseut disulap menjadi berbagai macam aksesoris yang menarik. Kelebihan pengguanaan tali paracord ini adalah lebih kuat dibanding tali lainnya. Sehingga aksesoris pun bisa lebih tahan lama untuk digunakan.

Di tahun 2017, 215 Project memutuskan untuk bergabung dengan komunitas Indonesian Paracordist. Komunitas ini merupakan wadah bagi para pecinta survival dan penyuka aksesoris berbahan dasar paracord. Dengan mengikuti komunitas ini, menurut pemilik usaha 215 Project sangat membantu. Terutama dalam mencari target market bahkan dalam pencarian supplier terbaik.

Seiring dengan perjalanan waktu, kemudian 215 Project mulai mengurus berbagai macam perizinan usaha seperti Nomor Induk Berusaha (NIB) dan pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).

Baca Juga: Apa itu Hak Kekayaan Intelektual (HKI)?


Kenapa Dinamakan 215 Project?

Pemilihan nama 215 Project ternyata tersimpan cerita tersendiri. menurut cerita dari pemilik 215 Project, pada tahun 2001 ia mendapatkan nomor hp pertama yang berakhiran 215. Selain itu, menurut pemiliki usaha ini, 215 merupakan kependekan dari namanya yaitu RIS dari kata Risman. Namun, alih-alih menggunakan huruf, ia lebih memilih angka sebagai kode yang terlihat menyerupai dengan nama depannya. Oleh karena itu, dengan mantap, Pak Risman Hidayat pun menggunakan nama 215 Project sebagai band dari produknya.


Proses Produksi di 215 Project

215project

Biasanya produk kerajinan tangan memerlukan proses produksi yang cukup panjang dan perlu melalui beberapa tahapan. Namun, pada produksi 215 Project bisa dibilang cukup sederhana. Bahan baku yang sudah tersedia kemudian akan dianyam oleh para pengrajin dan dijadikan produk yang diinginkan.

Kerumitan yang terjadi biasanya terletak pada proses menganyam. Biasanya, setiap aksesoris memiliki cara menganyam dan pembuatan simpul yang berberda. Untuk itu, diperlukan kemampuan khusus untuk bisa mengerjakan produksi tersebut.

Baca Juga: Marketing Campaign, Seberapa Efektif Meningkatkan Penjualan?

Bahan baku yang didapat pun berasal dari supplier yang berasal dari berbagai daerah berbeda, seperti Sidoarjo, Bekasi dan Jakarta Selatan. Adapun kriteria dalam pemilihan pemasok bahan tersebut adalah bahan yang disediakan memiliki kualitas premim. Selain itu, terjaminnya pasokan bahan yang berkesinambungan juga dibutuhkan.

Kapasitas produksi 215 Project sekitar 750 pcs pada tahun 2021. Total karyawan yang dimiliki saat ini sejumlah 4 orang dan 15 orang pekerja Borongan.


Pemasaran Produk 215 Project

Pemasaran produk yang dilakukan oleh 215 Project pun beragam. Pemasaran secara online biasanya melalui Instagram 215 Project maupun melalui berbagai platform ecommerce, salah satunya NTBMall.com.

Untuk pemasaran secara offline, 215 Project sering mengikuti bazar yang difasilitasi oleh pemerintah setempat. Selain itu, 215 Project bekerjasama juga dengan distro yang ada di sekitar kota Mataram.

Bahkan terkadang pada saat melakukan bazar, 215 Project mengadakan workshop dan pelatihan menganyam dengan berbagai level, mulai dari basic, advance dan pro. Pelatihan menganyam tersebut sejalan juga dengan tujuan dari 215 Project yang ingin mengenalkan budaya menganyam pada masyarakat yang lebih luas.

Sejauh ini pemasaran yang sudah dilakukan sudah mencapai berbagai neagra di Asia Tenggara, seperti Singapura, Malaysia dan Filipina. Dalam satu bulan rata-rata omset yang bisa dihasilkan ada di kisaran Rp 6 juta hingga Rp 15 juta.

Baca Juga: Inilah Platform E-Commerce yang Mendorong Omset UKM


Tantangan

Setiap usaha memiliki cerita tersendiri, termasuk pada tantangannya. Untuk 215 Project, tantangan yang sering dihadapi pada saat pemilihan supplier. Terkadang pada saat mendapatkan orderan yang banyak, ketersediaan barang yang dibutuhkan cukup sulit. Terutama untuk pemilihan warna yang diinginkan customer.

Untuk menyiasati hal tersebut, biasanya akan dikomuniakasikan terlebih dahulu dengan customer. 215 Project menawarkan alternatif lain jika produk yang diinginkan sedang tidak bisa diproduksi karena ketersediaan bahan.


Presetasi 215 Project

​Kisah Inspiratif UMKM 215 Project : dari Hobi Hingga Mendulang Rezeki

Perjalanan 215 Project sampai saat ini juga pernah memiliki prestasi seperti:

  1. Tahun 2021 pernah masuk 100 katalog UKM Juwara yang difasilitasi oleh Indonesia Tumbuh Inklusif
  2. Tahun 2021 pernah masuk 100 besar kompetisi Diplomat Success Challenge yang diselenggarakan oleh Wismilak Foundation.

Baca Juga: Komponen Konten Pemasaran


Tips dan Trik Usaha dari 215 Project

Adapun tips dan trik yang dibagikan oleh pemiliki dari 215 Project adalah terkait semangat yang harus dimiliki oleh para pelaku usaha. Selain itu ada beberapa poin yang digaris bawahi seperti:

  1. Seorang pengusaha harus memiliki niat dan tekad yang kuat terhadap usaha yang akan dijalankan. Buatlah niat yang tulus dalam usaha seperti ingin membantu membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain. Dengan demikian, ketika terjadi kendala saat sudah berjalan, bisa kita kembalikan pada niat awal untuk membantu orang lain.
  2. Biasanya untuk seorang pengusaha pemula, semangat pun akan naik turun. Untuk itu, carilah komunitas yang satu frekuensi. Dengan demikian, semangat untuk terus berusaha akan terpelihara.
  3. Sebagai seorang pengusaha, sebaiknya kita tanamkan juga prinsip sebagai pembelajar. Hal tersebut dikarenakan akan ada banyak hal yang kita hadapi pada perjalanan merintis dan mengembangkan usaha. Oleh karenanya, diperlukan mentor yang tepat untuk bisa mengarahkan dan membimbing kita sebagai pengusaha.

Itulah lika-liku perjalanan dari 215 Project. Ternyata hobi yang diseriusi bisa mendatangkan rezeki. Jadi, apakah Sahabat Wirausaha sudah mulai terinspirasi untuk membuka usaha sendiri dari hobi? Jika iya, yuk mulai dari saat ini. Tetap semangat ya!

Jika merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini ya Sahabat Wirausaha.

Dukung Misi Edukasi Kami

Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.

•