Dalam menjalankan bisnis, pelaku umkm akan dihadapkan pada banyak tantangan. Salah satu yang perlu dilakukan pelaku umkm adalah melakukan perhitungan keuangan yang tepat untuk bisa mengatasi tantangan dalam bisnis.
Baca Juga: Pentingnya Pencatatan Keuangan Bagi UMKM
Burn rate adalah salah satu bentuk perkiraan finansial yang digunakan dalam menjalankan bisnis. Burn rate digunakan untuk mempertimbangkan bagaimana kondisi modal yang dikeluarkan untuk kegiatan dalam bisnis.
Burn rate lebih sering terjadi pada bisnis yang baru dibangung, tapi tidak menutup kemungkinan terjadi pada bisnis yang sudah berjalan. Nah, supaya teman-teman umkm bisa lebih memahami istilah burn rate, ayo simak penjelasannya berikut ini.
Mengenal Burn Rate
Burn Rate adalah salah satu istilah yang digunakan di dalam dunia bisnis khususnya pada keuangan. Istilah ini mengacu pada berapa banyak pelaku UMKM mengeluarkan biaya untuk keperluan tertentu sebelum berhasil mendapatkan keuntungan. Uang yang dipergunakan untuk biaya inilah yang disebut burn rate atau ‘bakar uang’.
Baca Juga: Langkah Praktis Untuk Melakukan Pencatatan Keuangan Usaha
Manfaat Mengetahui Burn Rate
Dalam menjalankan bisnis pelaku UMKM perlu menghitung dan memperkirakan berapa biaya yang dikeluarkan di luar proses produksi. Bahkan, biaya tersebut bisa jadi sangat berpengaruh terhadap kondisi keuangan perusahaan. Penting bagi pelaku UMKM untuk mengetahu manfaat dari perhitungan burn rate. Ada beberapa keuntungan dari mengetahui burn rate:
Sumber: lifepal.co.id
1. Mengetahui Kelayakan Suatu Bisnis
Selain melihat produktivitas perusahaan, ukuran kelayakan dapat dilihat dari total biaya yang dikeluarkan. Tidak hanya biaya produksi, penting bagi pelaku UMKM untuk mempertimbangkan biaya yang tidak ada kaitannya dengan proses produksi. Hal ini bisa menjadi ukuran untuk menilai layak atau tidaknya bisnis tersebut untuk dijalankan.
2. Memprediksi Perubahan Modal Perusahaan
Besarnya modal adalah salah satu indikator bagaimana bisnis bisa tetap bertahan. Dengan menghitung dan mengetahui burn rate, pelaku umkm bisa menghitung berapa kira-kira besar modal yang dikeluarkan untuk biaya tersebut.
Baca Juga: Faktor Penyebab Gagalnya Bisnis dan Tidak Optimalnya Pertumbuhan Usaha
Tidak hanya itu, dengan mengetahui jumlah burn rate, teman-teman umkm bisa memprediksi jumlah modal yang dikeluarkan untuk kegiatan di luar proses produksi.
3. Memperkirakan Waktu untuk Perkembangan Perusahaan
Dengan mengetahui jumlah burn rate, pelaku umkm bisa memperkirakan waktu yang dimiliki untuk membuat inovasi dan merealisasikannya. Semakin tinggi biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan diluar produksi. Burn rate bisa menjadi acuan untuk memperkirakan lamanya waktu pelaku umkm melakukan inovasi dalam bisnisnya.
4. Mengendalikan Pengeluaran Perusahaan
Pengeluaran besar jadi salah satu faktor yang dapat menjadi hambatan. Penting bagi pelaku umkm untuk mengetahuinya, terutama dari jumlah burn rate. Dengan mengetahui jumlah burn rate, pelaku umkm akan berupaya untuk lebih bijak dalam mengeluarkan biaya atau mengatur ulang anggarannya.
Bagaimana Cara Menghitungnya?
Cara menghitungnya memerlukan cash flow perusahaan pada satu periode. Perhitungannya dibagi menjadi 2 yaitu:
Sumber: startupguys.net
Menghitung gross burn rate adalah sama dengan menghitung berapa pengeluaran bulanan dalam bisnis. Misalnya saja biaya gaji bulanan, biaya sewa, biaya listrik dan berbagai biaya bulanan lainnya. Mengetahui berapa gross burn rate memudahkan perusahaan melakukan efisiensi dari pengeluaran bulannya.
gross burn rate = kas/jumlah pengeluaran bulanan
Contoh:
Umkm di bidang konveksi sedang berusaha menghitung tingkat burn rate. Setelah didata ternyata uang kas yang dimiliki untuk oprasional berjumlah 35 juta rupiah. Biaya bulanan yang dikeluarkan mencapai 6 juta per bulan untuk gaji, sewa dan pembelian bahan baku.
gross burn rate = 35juta/6juta= 5,8
Maksud dari nilai 5,8 adalah pelaku umkm hanya punya waktu 5 bulan sebelum semua uang yang dimiliki habis.
Baca Juga: Melakukan Analisa Kesehatan Bisnis Untuk Menyusun Prioritas
2. Net Burn Rate
Metode penghitungan selanjutnya adalah metode net burn rate. Cara inilah yang paling sering digunakan untuk menghitung burn rate yang dimiliki. Rumus burn rate ini menggunakan pembagian antara kas yang dimiliki dengan jumlah kerugian pada periode tersebut.
net burn rate = kas/kerugian periode tersebut
Contoh:
Pelaku umkm sudah melakukan penjualan dengan pendapatan sebesar 2 juta perbulan. Dengan pengeluaran perusahaan bulan tersebut mencapai 5 juta perbulan. Ada selisih 3 juta pada bulan tersebut. Uang kas yang dimiliki adalah 35 juta rupiah. Penghitungannya adalah
net burn rate =35 juta/3 juta = 11,6
Artinya pelaku umkm hanya punya jangka waktu 11 bulan sebelum uang kas habis.
Perhitungan ini kebanyakan akan bersifat sementara. Burn rate tidak akan digunakan ketika aliran kas sudah mencapai titik positif. Walaupun begitu mengetahui cara penghitungan metode ini akan sangat membantu di awal memulai bisnis.
Menjaga Burn Rate di Titik Rendah
Pelaku umkm sebaiknya selalu menjaga kondisi burn rate berada di titik rendah. Ada dua cara yang bisa dilakukan untuk tetap menjaga posisinya selalu berada di titik yang rendah. Cara yang pertama adalah dengan meningkatkan keuntungan perusahaan.
Kebanyakan pelaku umkm melakukan promo dan diskon tampa perhitungan yang akhirnya terjadilah kondisi yang tidak diinginkan. Perlu dilakukan upaya lain agar perusahaan dapat meningkatkan keuntungan sehingga nilai potensi ini selalu rendah. Untuk cara yang kedua yaitu dengan mengurangi operasional. Dengan menurunkan biaya operasional dapat menekan burn rate untuk selalu berada di titik terendah.
Baca Juga: Memahami Berbagai Jenis Aset Untuk Mulai Menyusun Langkah Diversifikasi Rasio
Kesimpulannya, burn rate adalah jumlah biaya tertentu yang jadi salah satu pertimbangan pelaku umkm dalam melakukan analisis finansial. Bagi umkm yang baru didirikan, burn rate adalah salah satu bentuk perhitungan yang dilakukan untuk melakukan perkiraan biaya. Biasanya, biaya ini banyak dikeluarkan untuk overhead sebelum memiliki cash flow yang positif.
Potensi terjadinya burn rate memang sering kali tidak bisa dihindari oleh sebuah usaha. Tapi potensi terjadi kerugian bisa dicegah lebih awal. Sehingga nantinya pelaku umkm tidak mengalami kerugian yang berujung pada resiko lebih besar seperti pailit. Ini bisa di hindari melalui penggunaan program keuangan perusahaan yang lebih sistematis dan terkontrol.
Jika merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini ya Sahabat Wirausaha.
Referensi:
Dukung Misi Edukasi Kami
Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.








