UKM Indonesia

Faktor Penyebab Gagalnya Bisnis dan Tidak Optimalnya Pertumbuhan Usaha

Penulis : Muhammad Miqdad Robbani
Editor : Banu Rinaldi
24 Juni 2022
Lama Baca : 6 menit

Upset young businessman standing at workplace, office background.

Pandemi yang terjadi belakangan ini banyak memberikan dampak terhadap UMKM. Berdasarkan data yang didapatkan dari penelitian International Labor Organization (ILO) tahun 2020, setidaknya 39,24% pelaku UMKM memutuskan berhenti menjalankan usaha. Berhentinya sebuah usaha sendiri dapat disebabkan oleh banyak faktor. Nah, tulisan kali ini akan mencoba membahas mengenai faktor-faktor yang menyebabkan gagalnya suatu bisnis atau setidaknya tidak berkembang.

Baca Juga : Faktor yang Berperan Dalam Motivasi Pengembangan Bisnis Pelaku Usaha Mikro dan Kecil

1. Kurangnya motivasi untuk berkembang

Masalah paling pertama yang sering dihadapi oleh UMKM adalah kurangnya motivasi untuk berkembang. Motivasi untuk berkembang ini membuat usaha yang dimiliki menjadi stagnan di tingkat tertentu saja atau bahkan tidak mampu bertahan dalam waktu yang lama. Kondisi ini dapat berujung pada berhentinya kegiatan usaha.

Beberapa pelaku UMKM mungkin dapat menjalankan usahanya meski tanpa memiliki visi berkembang. Sebagai contoh, Pak Andi adalah pemilik toko kelontong yang berlokasi di sebuah daerah. Pak Andi tidak mau dibuat pusing dengan usahanya. Baginya, selama dia mampu menjual dagangan dan mendapatkan pendapatan itu sudah cukup.

Pola pikir inilah yang kemudian membuat Pak Andi tidak berusaha terus memperbaiki pola bisnisnya. Hal ini dapat terlihat dari luas warungnya yang tidak pernah bertambah. Beliau juga cenderung tidak pernah mencoba mencari produk yang disukai konsumen. Akan tetapi, kondisi ini tidak berarti Pak Andi tidak berhasil menjalankan bisnis. Sebagai buktinya, beliau telah menjalankan bisnis tersebut selama 10 tahun.

Baca Juga : Alasan Kenapa UKM Perlu Berbisnis Online

Secara tidak langsung, apa yang dihadapi Pak Andi mungkin menjadi sebuah contoh bahwa bisnis bisa berjalan tanpa adanya motivasi untuk berkembang dan bertahan cukup lama hingga 10 tahun. Akan tetapi, sebenarnya terdapat tantangan yang mengintai. Baru-baru ini salah satu tetangga Pak Andi membuka toko kelontong dengan jarang sekitar 1 KM.

Tetangga tersebut relatif lebih sering melengkapi produknya dan juga memiliki produk yang lebih beragam jenisnya. Dapat dikatakan, tetangga tersebut memiliki visi untuk tumbuh lebih besar dibandingkan Pak Andi. Hal ini yang kemudian membuat banyak masyarakat di lingkungan Pak Andi yang memilih berbelanja di toko baru tersebut dibandingkan di toko Pak Andi. Dalam waktu setahun, Pak Andi tidak lagi mampu mempertahankan usahanya karena kurangnya pembeli,

Kasus Pak Andi di atas menjadi salah satu contoh, seberapa penting sahabat UKM untuk memiliki motivasi untuk tumbuh. Selalu ada potensi dimana para kompetitor baru muncul dan akan membawa konsep yang bisa merebut konsumen. Dalam menanggapi dan mempersiapkan hal tersebut, sahabat UKM harus selalu mampu menawarkan konsep dan ide baru sehingga memiliki daya tarik di depan para konsumen.

Baca Juga : Mengenal Psikologi Konsumen Untuk Mengambil Keputusan Pemasaran

2. Tidak mampu menjual produk

Banyak pelaku UMKM yang memiliki motivasi sangat tinggi dalam mengembangkan usaha, tetapi tidak berhasil karena tidak mampu menjual produknya. Sahabat UKM perlu memahami bahwa esensi utama dari mendirikan usaha adalah menjual produk. Semua proses operasional yang dilakukan oleh suatu usaha adalah untuk mampu menghasilkan keuntungan dari penjualan produknya.

Salah satu masalah utama yang sering dihadapi oleh pelaku UMKM adalah terlalu sibuk menciptakan produk. Mereka menciptakan sebuah produk yang memiliki banyak kelebihan. Akan tetapi pada saat yang sama produk tersebut memiliki biaya produksi yang sangat tinggi. Sebagai akibatnya, harga jual produk tersebut menjadi mahal. Pada saat yang sama, konsumen tidak memiliki alokasi uang sebesar harga tersebut sehingga lebih memilih membeli produk lain. Hal ini yang mungkin dapat menjawab pertanyaan banyak pelaku UMKM, mengapa produk mereka yang sedemikian bagusnya tidak juga mendapat banyak pembeli.

Kondisi tersebut tidak berarti bahwa kualitas produk menjadi tidak penting bagi konsumen. Perlu dipahami bahwa konsumen tentu akan membeli produk dengan kualitas terbaik, dengan uang yang mereka miliki. Tantangan sesungguhnya bagi sahabat UKM adalah untuk menentukan komposisi terbaik antara kualitas baik dari sebuah produk yang dan harga jual yang tepat bagi konsumen.

Baca Juga : Mengenal Standar K3 Untuk Produksi

Selain memperhatikan produk dan harga, masih terdapat beberapa faktor lainnya yang mampu mendorong penjualan produk. Faktor tersebut terangkum dengan nama marketing mix atau bauran pemasaran. Marketing mix mengatakan bahwa terdapat 4 faktor utama dalam mendorong penjualan, yaitu produk, harga, tempat dan juga promosi.

Tempat memainkan peran sangat penting karena dapat membantu konsumen untuk menemukan produk yang dijual. Belakangan ini banyak rumah toko yang didirikan di lokasi yang tidak strategis seperti di jalan kecil, di pinggiran perumahan dan seterusnya. Rumah toko tersebut mungkin ditawarkan dengan harga murah kepada sahabat UKM dan terlihat menguntungkan.

Baca Juga : Mengemas Narasi yang Efektif Optimalkan Strategi Direct Response Marketing

Akan tetapi, ketika lokasi tersebut tidak strategis, berapa pun harga yang ditawarkan sebaiknya ditolak karena mungkin sama sekali tidak meningkatkan penjualan. Selain pemasaran, sahabat UKM juga mungkin dapat memanfaatkan promosi untuk menaikkan penjualan. Salah satu permasalahan yang sering dilakukan pelaku UMKM adalah melakukan promosi secara sporadis tanpa target yang jelas.

Dalam mendorong penjualan tersebut, sahabat UKM sebenarnya bisa memanfaat digitalisasi yang banyak berkembang belakangan ini. Digitalisasi dapat digunakan untuk menambahkan fitur produk sehingga lebih baik dibandingkan kompetitor. Digitalisasi juga dapat digunakan untuk menciptakan harga yang lebih kompetitif karena efisiensi proses yang saat ini menggunakan digitalisasi.

Digitalisasi paling sering digunakan dalam menggantikan tempat yang sebelumnya berbentuk fisik. Saat ini digitalisasi tempat penjualan bisa dilakukan dengan lebih banyak mengandalkan marketplace atau pun sosial media untuk menjual produk. Dengan menggunakan digitalisasi, sahabat UKM tidak lagi memiliki kewajiban untuk memiliki toko fisik dalam berjualan. Hal ini tentu sangat mengurangi biaya yang harus dikeluarkan dalam memiliki sebuah usaha.

Baca Juga : UMKM didorong Melek Digital dan Kuasai Marketplace

Selain lokasi, promosi juga mendapatkan manfaat yang besar dari digitalisasi. Promosi yang sebelumnya banyak dilakukan melalui media cetak dan memakan biaya cukup mahal, kini bisa dilakukan melalui media daring yang bisa dibuka dan dimanfaatkan oleh siapa saja. Tidak hanya itu, pemasaran secara daring bisa diatur sedemikian rupa untuk menyentuh target konsumen yang diinginkan. Seperti yang umum saat ini, salah satu fitur dari beriklan pada sosial media maupun marketplace adalah target pembaca yang akan melihat iklan sahabat UKM.

Dibalik semua kompleksitas yang ada, semua alat dan konsep yang dijelaskan di atas memiliki tujuan untuk menjual produk. Apabila sahabat UKM melakukan beberapa hal di atas tetapi tidak meningkatkan penjualan, maka perlu ada evaluasi terhadap strategi tersebut.

3. Tidak mampu melakukan ekspansi

Setelah memiliki keinginan untuk tumbuh dan juga mampu menjual produk dengan baik, sahabat UKM akan dihadapi pada sebuah kondisi untuk melakukan ekspansi usaha. Ekspansi usaha ini dilakukan dengan memproduksi dan menjual lebih banyak produk.

Dalam proses ekspansi ini, sahabat UKM akan menghadapi kondisi baru dimana perlu tambahan dalam banyak hal, mulai dari sumber daya manusia, permodalan hingga legalitas yang harus dipenuhi. Dalam hal sumber daya manusia, sahabat UKM akan menghadapi tantangan baru dalam mengelola lebih banyak karyawan dengan karakteristik yang berbeda.

Baca Juga : Tips Memulai Bisnis Dengan Modal Minim

Sahabat UKM juga akan menghadapi tantangan baru dalam mencari permodalan. Permodalan ini dapat mencakup modal untuk investasi maupun modal kerja. Dalam sisi legalitas, sahabat UKM mungkin akan menghadapi tuntutan legalitas yang lebih kompleks ketika akan melakukan ekspansi. Semua hal tersebut harus mampu dihadapi dengan baik dalam melakukan ekspansi usaha.

Nah, ketiga masalah tersebut adalah garis besar dari tantangan yang sahabat UKM hadapi untuk mencegah bisnis gagal. Meskipun terlihat berat, sahabat UKM jangan menyerah karena selalu ada solusi untuk setiap permasalahan.

Jika merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini ya Sahabat Wirausaha.

Mungkin Anda perlu membaca Artikel ini: