UKM Indonesia

​Bedah Kasus NTUC Fair Price di Singapura sebagai Koperasi Multi Pihak


Our Retail Formats - NTUC FairPrice

Siapa yang tidak ingin memperoleh produk bagus dengan harga yang lebih murah? Apalagi di tengah-tengah himpitan ekonomi saat ini dimana harga barang-barang terus melambung tinggi. Hal ini sangat mungkin terjadi apabila diterapkan konsep ekonomi gotong royong. Seperti yang sudah dilakukan negara tetangga, Singapura.

Melalui National Trade Union Congress (NTUC), Singapura berhasil menciptakan sebuah mega bisnis dengan konsep Koperasi Multipihak. Keberhasilan Koperasi Multipihak ini juga membawa peningkatan dan kesejahteraan masyarakat kelas bawah di negara Singapura. Untuk lebih jelasnya, mari simak artikel berikut.


Singapura vs Indonesia

Inilah 3 jembatan penguat hubungan Indonesia-Singapura

Sumber Gambar: Alinea

Siapa sangka, negara sekecil Singapura bisa memaksimalkan potensinya meskipun hanya memiliki luas wilayah hampir sama dengan Ibu kota Jakarta. Perlu diketahui bahwa Singapura hanya memiliki luas wilayah sebesar 728,6 kilo meter persegi. Sedangkan Jakarta sendiri memiliki luas wilayah 661,5 kilo meter persegi.

Baca Juga: Potensi Ekspor Komoditas Agrikultur dan Hortikultura Indonesia ke Singapura

Namun, dibalik keterbatasan tersebut, terbukti bahwa dari sisi ekonomi, Singapura bisa lebih unggul daripada Indonesia. Tercatat per bulan Desember tahun 2021, pendapatan per kapita penduduk Singapura adalah sebesar 72.766 dolar Amerika atau setara dengan 1,09 miliar per kapita (kurs hari ini). Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya. Pada bulan Desember 2020, jumlah pendapatan per kapita ada di angka 60.752 dolar Amerika atau setara dengan 929 juta per kapita.

Di sisi lain, di tahun yang sama pada 2021, Indonesia memiliki pendapatan per kapita sebesar 4.349 atau setara dengan 65,3 juta (kurs dollar hari ini). Angka ini tentu sangat jauh apabila disandingkan dengan jumlah pendapatan per kapita Singapura di tahun yang sama. Padahal menurut data statistik, ekonomi Indonesia mengalami kenaikan sebesar 3,69 persen dibanding dengan tahun sebelumnya di tahun 2020.

Baca Juga: Potensi Ekspor Makanan Olahan Kemasan Dari Indonesia

Jika dilihat dari data-data di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa luas wilayah tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat pertumbuhan ekonomi maupun daya beli penduduknya. Padahal, luas wilayah Indonesia jauh lebih luas dibanding dengan Singapura. Namun, jika dilihat dari jumlah pendapatan per kapita nya, Singapura lebih unggul. Bahkan di Indonesia, masih banyak masyarakat yang tertatih tatih dalam pemenuhan kebutuhan sehari-harinya.

Lain halnya di Singapura, dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, Singapura mampu menyediakan barang-barang yang cukup terjangkau bagi masyarakat di sana. Daya beli masyarakat disana juga bisa terhitung stabil. Hal ini bukan tanpa alasan. Ternyata Singapura memiliki sebuah terobosan untuk menjaga harga-harga kebutuhan sehari-hari agar lebih stabil. Salah satunya adalah dengan adanya inovasi dari National Trade Union Congress (NTUC).

Baca Juga: Membedah Pameran Internasional dari Pemerintah Indonesia

Menurut sumber yang lain, NTUC merupakan organisasi yang berpengaruh kedua setelah kebijakan pemerintah dalam sisi ekonomi. Hal ini dikarenakan, NTUC tidak hanya mampu melakukan stabilisasi harga kebutuhan pokok, namun juga bisa meningkatkan Gross Domestic Product (GDP) dari penduduk Singapura itu sendiri.


Profil National Trade Union Congress

Our Retail Formats

Sumber Gambar: Fair Price

National Trade Union Congress (NTUC) merupakan koperasi multipihak yang berlokasi di Singapura. NTUC masuk ke dalam daftar 300 koperasi terbesar di dunia. NTUC memiliki sub-koperasi yaitu NTUC Fair Price dan NTUC Income. Keduanya masing-masing bergerak di sektor ritel dan asuransi. Saat ini, sudah lebih dari 500 ribu anggota koperasi yang juga sebagai pemilik dari usahanya.

Di bawah naungan koperasi, NTUC Fair Price sudah memiliki lebih dari 291 jaringan toko yang tersebar di berbagai wilayah di Singapura. Mulai dari convenience store yang menyediakan kebutuhan sehari-hari, hingga supermarket dan hypermarket dengan rincian sebagai berikut:

Baca Juga: Roa Judes, Menduniakan Sambal Khas Manado

  • Fair Price Supermarket berjumlah 104 outlets
  • Fair Price Finest berjumlah 18 outlets
  • Fair Price Xtra berjumlah 15 outlets
  • Cheers Store berjumlah 136 outlets

Meskipun Fair Price melabeli outlet nya dengan beragam nama, namun semuanya tetap berada di bawah naungan NTUC Fair Price.

Mekanisme yang diterapkan pada NTUC adalah koperasi bersama. Dimana semua anggota berhak untuk menentukan kebijakan dari perusahaan dengan hak suara yang sama. Setiap anggota diberikan kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya atas perusahaan pada Rapat Anggota Tahunan (RAT). Selain membahas terkait kebijakan, pada RAT tersebut juga akan dibahas mengenai Sisa Hasil Usaha (SHU) dan pembagiannya.

Menariknya adalah, pada pembagian SHU, besar kecilnya SHU yang diterima akan didasarkan pada jumlah transaksi anggota di convenience store Fair Price. Dengan kata lain, angota yang berbelanja lebih banyak, maka akan mendapatkan SHU yang lebih besar.

Baca Juga: Potensi UMKM Purbalingga Menembus Pasar Ekspor


Sejarah National Trade Union Congress Fair Price

Ntuc FairPrice Logo - Simsolutions

Sumber Gambar: Fair Price

Koperasi ini didirikan pada saat terjadi krisis pada tahun 1970. Dimana pada tahun tersebut, harga minyak dunia sedang melambung tinggi dan inflasi tidak terkendali. Selain itu, diperparah dengan kartel kapitalis yang banyak merugikan kehidupan para buruh. Pada akhirnya, banyak masyarakat yang sulit untuk memperoleh kebutuhan sehari-hari karena tingginya harga.

Kemudian, aktivis organisasi buruh di Singapura, National Trade Union Congress (NTUC) berinisiatif untuk mendirikan koperasi NTUC. NTUC bekerjasama dengan pemerintah untuk membentuk koperasi NTUC Welcome. Koperasi tersebut beranggotakan 65 serikat buruh dan enam perkumpulan karyawan dengan total lebih dari 500 ribu orang pekerja yang tergabung. Pada saat pembentukan NTUC Welcome, toko pertamanya diresmikan oleh Perdana Menteri Singapura, Lee Kwan Yew di Toa Payoh.

Baca Juga: Hj Nonoh Snack: Melinjo, Si Cemilan Lokal yang Go International

Pada waktu yang berdekatan, dua organisasi buruh lainnya yaitu Singapore Industrial Labour Organization (SILO) dan Pioneer Industries Employees Union (PIEU) juga mendirikan koperasi. Di tahun 1980, kedua organisasi ini memutuskan untuk bergabung dan membentuk Singapore Employee Cooperative (SEC).

Seiring berjalannya waktu, di tahun 1983, NTUC Welcome da SEC bergabung untuk membentuk koperasi yang lebih besar lagi. Sehingga terbentuklah koperasi NTUC Fair Price Cooperative Limited. Tercatat di akhir tahun 2015, jumlah anggota dari Koperasi NTUC Fair Price berjumlah lebih dari 700 ribu orang.

Tujuan awal didirikan koperasi tersebut adalah untuk meringankan biaya hidup para buruh. Sampai akhirnya, koperasi tersebut justru terus berkembang dan bertumbuh lebih kuat. Sistem keanggotaan pun dibuka lebih luas lagi untuk seluruh warga Singapura.

Baca Juga: International Organization for Standardization (ISO)

NTUC Fair Price mendelegasikan dirinya sebagai sebuah perusahaan ritel yang berbasis sosial. Dimana NTUC Fair Price ingin membantu masyarakat di Singapura untuk memperoleh kebutuhan sehari-hari dengan harga yang terjangkau.

Selain itu, NTUC juga aktif dalam mengkampanyekan isu lingkungan dan peduli terhadap pemanasan global. Slogan yang sering mereka gaungkan adalah ”serve with heart”. Selain berusaha untuk menciptakan tempat kerja yang nyaman, NTUC Fair Price juga menerapkan prinsip demokrasi di tempat kerja.


Keunggulan National Trade Union Congress Fair Price dibanding dengan yang Lain

Fairprice Chinese New Year 2021 Operating Hours from 28 Jan – 12 Feb 2021

Sumber Gambar: Singpromos

Adapun beberapa keunggulan dari NTUC Fair Price adalah sebagai berikut:

1. Outlet dan gerai dari Fair Price Mudah di Jangkau

Banyaknya permintaan dari konsumen membuat Fair Price memutuskan untuk memperluas jaringan pemasaran. Sehingga outlet dan gerai dari Fair Price pun sudah ber lebih dari 291 outlet yang tersebar di seluruh wilayah Singapura. Dengan demikian, akses para konsumen untuk berbelanja di Fair Price pun lebih mudah dan terjangkau dari tempat tinggal mereka.

2. Harga Lebih Murah di Singapura

Sesuai dengan misi utamanya dalam mendirikan koperasi, NTUC Fair Price konsisten dalam menyediakan kebutuhan harian dengan harga yang terjangkau. Bahkan, mereka mengklaim bahwa mereka menyediakan produk-produk kualitas bagus dengan harga yang lebih murah dari harga pasar.

3. Ketersediaan Barang Cukup Lengkap

Barang-barang ang dijual di Fair price terbilang cukup lengkap. Bahkan, Fair Price menjual buah-buahan dan sayuran segar. Mereka menjamin bahwa buah-buahan dan sayuran tersebut langsung didatangkan dari petani dalam kondisi yang bagus. Luasnya jaringan NTUC Fair Price dengan sistem koperasi multipihak, tentu tidak menyulitkan Fair Price dalam memperoleh barang-barang tersebut. Hal tersebut keanggotaan mereka sudah tersebar di berbagai kalangan, tidak hanya pada jaringan pekerja saja.

Baca Juga: Jitu Membidik Peluang Pasar dan Target Negara Ekspor

4. Diskon dan Bagi Hasil bagi Anggota Koperasi

Di convenience store yang lain, perusahaan hanya menawarkan dikson untuk menarik konsumen loyal. Lain halnya dengan di NTUC Fair Price. NTUC Fair Price tidak hanya menawarkan diskon bagi anggota yang tergabung, namun juga memberikan bagi hasil.

Siapa yang tidak menginginkan penghasilan tambahan? Kegiatan belanja yang biasanya hanya melibatkan aktivitas pengeluaran, di Fair Price justru sebaliknya. Mereka berkesempatan untuk mendapatkan bagi hasil dari aktivitas belanja tersebut. Hal ini juga yang membuat konsumen akan lebih loyal untuk berbelanja di Fair Price.


Strategi National Trade Union Congress

Sumber Gambar: Fair Price

Di awal pembentukannya, NTUC Fair Price dibangun dengan melibatkan partisipasi masyarakat, khususnya para pekerja. Sehingga pendekatan yang dilakukan pun menjadi lebih mudah memahami pasar dan konsumen langsung.

Baca Juga: Apa itu Bill of Lading?

Saat ini tercatat lebih dari 1,5 juta orang yang melakukan pembelian di convenience store Fair Price setiap bulannya. Bahkan, menurut data yang ada, Fair Price menguasai lebih dari 60 persen pasar ritel di Singapura. Sehingga tak heran, jika banyak kompetitornya merasa tidak sanggup untuk bersaing dengan Fair Price.

Perusahaan sosial yang bergerak di bidang ritel ini merupakan yang terkuat dan terbesar di Singapura. Hal ini terbukti dengan keluarnya perusahaan ritel Carrefour asal Perancis. Perusahaan asal Perancis trsebut terpaksa harus angkat kaki dari Singapura karena kalah bersaing dengan perusahaan ritel NTUC Fair Price.

Baca Juga: Cost and Freight (CFR)

Kemudian, strategi apa yang diterapkan oleh NTUC hingga bisa memukul mundur para kompetitornya?

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, jika NTUC Fair Price merupakan koperasi multipihak. Dimana semua orang berkesempatan untuk bergabung menjadi anggotanya sekaligus menjadi pemilik perusahaan. Berikut beberapa strategi yang berhasil diterapkan oleh NTUC Fair Price:

1. Fokus Pada Penyediaan Kebutuhan Pokok dan Harian

Bisnis seputar kebutuhan pokok memiliki tingkat perputaran yang sangat tinggi. Misalnya makanan dan sayuran, atau kebutuhan harian lainnya seperti sabun dan pasta gigi. Maka itu juga yang dilakukan oleh Fair Price. NTUC Fair Price fokus pada usaha yang menyediakan kebutuhan pokok yang biasa digunakan sehari-hari.

Dengan demikian, tingkat sales turnover lebih tinggi karena konsumen pasti akan melakukan repeat order untuk kebutuhan tersebut.

Baca Juga: Potensi Impor ASEAN

2. Anggota Koperasi sekaligus sebagai Pemilik Perusahaan

Menjaring lebih banyak anggota dari berbagai lapisan masyarakat menjadi nilai plus. Para pembeli di Fair Price diberikan kesempatan untuk mendaftarkan diri juga sebagai anggota. Sehingga, masyarakat tidak hanya diperlakukan sebagai konsumen saja, namun bisa juga menjadi pemilik dari perusahaan. Dengan kepemilikan tersebut, masyarakat akan berkesempatan untuk memperoleh penghasilan tambahan.

Dengan strategi tersebut, tentu menguntungkan kedua pihak, yaitu pihak perusahaan dan masyarakat (yang juga sebagai konsumen). Pertama, perusahaan diuntungkan dalam perolehan dana. Dana yang dihimpun kemudian bisa diputar menjadi modal untuk membiayai NTUC Fair Price. Selain mendapatkan suntikan modal, Fair Price juga lebih mudah melakukan penetrasi market. Sehingga tingkat perolehan konsumen loyal lebih tinggi.

Baca Juga: Tips Jitu Untuk Sukses di Pameran Internasional

Selajutnya, adanya bagi hasil untuk para anggota juga membuat daya tarik dalam mempertahankan konsumen loyalnya. Dimana konsumennya adalah anggotanya, dan anggotanya adalah konsumennya juga. Dengan demikian para konsumen akan lebih sering melakukan repeat order untuk berbelanja.

3. Fokus Pada Kesejahteraan Para Pekerja (Kalangan Menengah ke Bawah)

Strategi selanjutnya, NTUC Fair Price lebih fokus menyasar market kalangan menengah ke bawah. Memang tujuan di awal, NTUC Fair Price dibentuk untuk meringankan beban hidup para pekerja di Singapura. Oleh karenanya, harga barang-barang yang dijual di Fair Price jauh lebih terjangkau dibanding dengan kompetitornya.

Baca Juga: Cost, Insurance, dan Freight (CIF)

Selain meringankan biaya hiduppara pekerja, ternyata strategi ini cukup efektif untuk meningkatkan penjualan perusahaan. Dimana, konsumen kelas menengah ke bawah berjumlah lebih banyak dibanding dengan konsumen kelas atas. Sehingga, pada saat konsumen merasa nyaman dan cocok ketika berbelanja, repeat order pun akan lebih mudah didapatkan.

Sumber Gambar: Fair Price

4. Pemasaran Secara Offline Menggunakan Scan-and-Go

Perkembangan teknologi juga banyak diterapkan oleh NTUC Fair Price. Pada penjualan secara offline yang langsung dilakukan di toko fisik, Fair price menerapkan konsep scan-and-go. Pada sistem ini, mereka menggunakan artificial intelligence (AI) dengan konsep algoritma machine learning dalam menentukan trust score. Pada sistem tersebut para konsumen bisa dengan leluasa memilih sendiri produk yang diinginkan. Kemudian, mereka bisa memindai produk mereka menggunakan ponsel masing-masing. Setelah melakukan pemindaian, mereka bisa dilanjutkan dengan cara langsung membayar. Proses tersebut bahkan bisa dilakukan sembari mereka berjalan ke pintu keluar. Cara ini cukup efektif untuk menghilangkan antrian panjang di kasir. Bahkan, para konsumen tidak memerlukan waktu tunggu dan tidak ada kontak sama sekali.

Baca Juga: Mengidentifikasi Peta Persaingan Supaya Bisnis Tetap Unggul

5. Menggunakan Model Pemasaran Online

Selain menggunakan sistem pemasaran offline, Fair Price juga memanfaatkan pemasaran secara online. Bahkan, kapasitas online mereka tumbuh sebanyak empat sampai lima kali. Kondisi pandemi di tahun-tahun sebelumnya, justru malah mendatangkan penjualan yang terus meningkat bagi Fair Price.

Dalam proses pengiriman pesanan online, Fair Price membuat salah satu outlet supermarket nya untuk dijadikan dark store. Dimana toko tersebut ditutup untuk fokus melayani pembelian secara online. Mereka melayani pengiriman hyperlocal dengan radius tiga kilometer. Mereka memastikan kecepatan pengiriman langsung ke tangan konsumen dan menjamin pesanan yang di antar dalam kondisi masih fresh.

Baca Juga: Langkah Aksi Membangun Brand untuk Meningkatkan Nilai dan Citra Positif Produk/Perusahaan

Melihat dari keberhasilan Fair Price, sistem koperasi multipihak ternyata bisa diterapkan dimanapun, termasuk di Indonesia. Besar harapannya, semoga di Indonesia bisa juga didirikan koperasi semacam NTUC Fair Price. Selain bisa menyediakan kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau, tetapi juga bisa mendatangkan income bagi masyarakat Indonesia.

Jika merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini ya Sahabat Wirausaha.



Mungkin Anda perlu membaca Artikel ini: