Businessman holding tablet and showing the best quality assurance with golden five stars for guarantee product and iso service concept

Produk atau layanan merupakan intisari dari suatu bisnis. Tanpa produk atau layanan, tentu bisnis tidak akan bisa berjalan. Tak hanya itu, produk atau layanan ini pun memiliki peran penting dan andil besar dalam menentukan, apakah bisnis mampu bertahan lama (sustainable) dari masa ke masa ataukah tidak.

Suatu bisnis dikatakan sustainable apabila konsumen masih berminat untuk menggunakan produk atau layanan secara terus-menerus. Konsumen yang menggunakan produk atau layanan dari suatu bisnis secara berkelanjutan disebut dengan pelanggan loyal. Nah, untuk menciptakan loyalitas pelanggan, salah satunya adalah dengan menjaga kualitas dan konsistensi produk atau layanan dari bisnis itu sendiri.


Apa itu Kualitas?

Kita sering kali mendengar bahwa kualitas produk A lebih baik dari produk B, atau layanan A kualitasnya lebih baik daripada layanan B. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan kualitas itu?

Kualitas secara terminologi dapat didefinisikan sebagai keseluruhan ciri dan karakteristik produk atau layanan yang mendukung kemampuan untuk memuaskan kebutuhan. Selain itu dapat pula dipahami sebagai totalitas dari fitur dan karakteristik yang dimiliki oleh produk yang dapat memuaskan kebutuhan konsumen.

Baca Juga: Satisfaction Rate

Secara prinsip, kualitas suatu produk atau layanan bersifat abstrak, karena sering kali tidak berwujud. Meskipun abstrak, namun kualitas suatu produk atau layanan dapat diukur dengan indikator tertentu, yaitu kepuasan konsumen. Kualitas produk atau layanan itu kualitatif, sehingga untuk menjadikannya kuantitatif adalah dengan mengukur permintaan pelanggan.

Intinya, definisi kualitas pada produk atau layanan adalah yang sesuai dengan permintaan pelanggan. Sebab itu, penting untuk menetapkan siapa pelanggan dari bisnis yang dijalankan melalui segmentasi, targeting, dan positioning.

Baca Juga: Mengenal Psikologi Konsumen Untuk Mengambil Keputusan Pemasaran

Segmen pasar menentukan tingkat kualitas dari produk atau layanan bisnis. Misalnya, segmen pasar menengah ke atas lebih sensitif terhadap kualitas dibandingkan harga. Sebaliknya segmen pasar menengah ke bawah lebih sensitif terhadap harga daripada kualitas. Misalnya untuk membeli produk handphone, segmen pasar menengah ke bawah cenderung memilih harga yang lebih murah, meski nantinya dalam waktu 6 bulan ke depan sudah rusak. Sebab, prinsip pembeliannya adalah yang penting produk dapat dibeli lebih dulu, urusan rusak atau tidak setelah digunakan, itu akan dipikirkan belakangan, sehingga kualitas sering kali diabaikan.

Berbeda dengan segmen pasar menengah ke atas, mereka akan lebih mengutamakan kualitas produk atau layanan, meski harganya cukup mahal. Segmen pasar ini cenderung berpikir jangka panjang sebelum memutuskan untuk membeli produk atau layanan. Sebab itu, mereka lebih memilih produk atau layanan yang benar-benar kualitasnya bagus sehingga tahan lama atau memiliki masa manfaat lebih lama, meski harganya lebih mahal.

Baca Juga: Membangun Brand Positioning Agar Bisnis Berkembang


Pentingnya Kualitas Produk atau Layanan Dalam Bisnis

Kualitas sangatlah penting dalam bisnis baik yang berbasis produk maupun layanan. Namun, fakta di lapangan tak semua bisnis mengutamakan dan menjaga kualitas produk atau layanannya. Contohnya bisnis kuliner atau makanan, tak semuanya memiliki rasa yang enak. Demikian pula dengan bisnis berbasis layanan tak semuanya mengedepankan layanan prima yang diwujudkan dalam keramahan.

Memang banyak bisnis bertebaran mulai dari skala kecil, menengah, hingga besar. Secara prinsip, sebenarnya kualitas produk atau layanan merupakan poin penting yang tidak bisa ditawar-tawar. Artinya, setiap bisnis ‘seharusnya’ mampu menjaga kualitas dan konsistensi dari produk atau layanannya. Namun faktanya tidaklah demikian.

Hal ini tergantung dari mindset masing-masing pelaku bisnis itu sendiri. Sebab, tak semua pelaku bisnis memiliki ilmu dan pengetahuan di bidang bisnis yang mumpuni. Mereka berbisnis hanya sekadar menjalankan bisnis atau berjualan untuk memperoleh penghasilan, tanpa memikirkan apa itu kualitas produk atau layanan dan pentingnya hal tersebut bagi kelangsungan bisnis ke depannya.

Baca Juga: Menyusun Konten Untuk Membangun Kesetiaan Pelanggan (Customer Loyalty Program)

Bisnis yang tidak mempedulikan tentang kualitas produk atau layanannya, cepat atau lambat pasti akan ditinggalkan oleh pelanggannya. Akibatnya, bisnis tak akan mampu bertahan lama dari masa ke masa. Sebelum membangun suatu bisnis, ada baiknya pelaku bisnis tersebut mengukur standar kualitas dari produk atau layanannya. Seperti yang dilakukan oleh pelaku bisnis di Jepang. Mereka tidak akan gegabah membangun bisnis apabila produk atau layanannya tidak berkualitas.

Lain halnya dengan Tiongkok. Negara ini dikenal sebagai negara ‘penjiplak’ terbesar di dunia, yang memproduksi segala macam produk, mulai dari mainan anak-anak hingga elektronik berbasis teknologi canggih. Bukan dimaksudkan buruk, hanya saja Tiongkok cenderung memproduksi produk atau layanan dengan biaya yang lebih fleksibel, tergantung dari budget pelanggannya.

Artinya, ketika pelanggan tak mampu membeli barang sesuai dengan harga yang dibanderol, produsen dapat memproduksi barang sesuai dengan keinginan dan budget konsumen dengan menurunkan kualitas produk semula. Namun hal ini tidak bisa digeneralisir, karena ada pula produsen di Tiongkok yang benar-benar menjaga kualitas produk atau layanannya.

Baca Juga: Upgrade Bisnis dengan Costumer Service Otomatis

Terlepas dari skala bisnis yang dijalankan, baik kecil maupun besar, idealnya tetap harus mengutamakan kualitas produk atau layanan. Jika belum memiliki produk atau layanan yang benar-benar berkualitas sehingga layak dipasarkan, sebaiknya tidak mengkomersilkannya terlebih dahulu. Sebab, segala usaha dan jerih payah yang dilakukan untuk membangun brand, menerapkan strategi marketing yang baik, dan menjual produk atau layanan akan sia-sia dan ditinggalkan pelanggan karena produk atau layanan yang tidak berkualitas. Dengan perginya pelanggan, pastinya menyebabkan bisnis menjadi tidak sustainable.


Tips Menjaga Kualitas Agar Bisnis Tahan Lama

Disadari atau tidak banyak bisnis yang terjebak dalam euforia ketika mengalami perkembangan pesat sehingga lupa bahkan abai dalam menjaga konsistensi dan kualitas produk atau layanannya. Ketika bisnis masih skala kecil dengan jumlah pelanggan yang tidak terlalu banyak, kualitas produk atau layanan sangat terjaga demi memberikan kepuasan kepada pelanggan.

Namun, seiring dengan waktu bisnis mengalami perkembangan, di mana tingkat permintaan semakin tinggi, yang berarti pula jumlah pelanggan semakin banyak, kualitas dan konsistensi dari produk atau layanan justru menurun. Contohnya bisnis restoran spesial nasi goreng. Di saat jumlah pembeli masih dalam hitungan jari, kualitas rasa dapat dipertahankan. Sayang, ketika bisnis mulai maju, restoran ramai dengan pelanggan yang antre, justru rasa nasi goreng tak lagi enak di lidah, bahkan hambar.

Baca Juga: Siapa Bilang UKM Tidak Memerlukan Sertifikasi Halal?

Demikian pula dengan bisnis berbasis layanan. Jika penurunan kualitas produk atau layanan ini terus dibiarkan, maka tak menutup kemungkinan bisnis tersebut tidak akan bertahan lama karena ditinggalkan pelanggannya.

Lantas, bagaimana menjaga konsistensi kualitas untuk bisnis terutama yang masih berskala kecil? Sebenarnya sederhana saja, berikut tipsnya.

1. Membangun Norma

Norma atau norm adalah aturan atau ketentuan yang mengikat suatu kelompok, yang digunakan sebagai panduan, tatanan, dan pengendali tingkah laku yang sesuai dan diterima lingkungan dalam kelompok tersebut. Selain itu, norma juga dapat diartikan sebagai aturan, ukuran, atau kaidah yang digunakan sebagai tolok ukur untuk memulai atau membandingkan sesuatu. Jika definisi norma ini ditarik dalam bidang bisnis, maka akan memiliki arti sebagai aturan main standar yang bisa diterima dalam bisnis.

Meski tampak sederhana, namun norma ini sering kali luput dari perhatian pelaku bisnis. Padahal norma merupakan aspek dasar yang harus dipahami dan dikuasai oleh para pelaku bisnis. Sebab norma menjadi pedoman bagi para pelaku bisnis untuk menjalankan bisnis sesuai dengan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan.

Dengan adanya norma, pelaku bisnis dan semua anggota tim yang terlibat di dalam pengelolaan bisnis tersebut akan memiliki pedoman tentang cara menjalankan bisnis secara baik dan tepat. Selain itu, norma juga sekaligus menjadi dasar bagi penilaian baik buruknya konsisten kualitas produk atau layanan yang diberikan kepada pelanggan selama bisnis tersebut berjalan.

Baca Juga: Langkah Aksi Membangun Brand untuk Meningkatkan Nilai dan Citra Positif Produk/Perusahaan

Untuk mengukur kualitas suatu produk atau layanan, norma sangat dibutuhkan. Sebab, norma menyangkut tentang tiga faktor, yaitu mutu atau kualitas, waktu, dan harga atau biaya. Metode dan strategi yang digunakan pelaku bisnis sebagai pionir bisnis tentu akan menentukan berkembang tidaknya bisnis yang dijalankan. Apabila metode dan strategi tersebut berhasil efektif dan efisien, maka bisa digunakan sebagai norma bisnis yang harus dipatuhi dan diterapkan oleh semua personil yang terlibat di dalam bisnis tersebut.

2. Bangun Sistem SOP (Standard Operating Procedure)

Perlu dipahami bahwa norma tidak bisa dilepaskan dari sistem yakni alur kerja dalam bisnis. Berkenaan dengan hal tersebut, membangun sistem SOP juga menjadi aspek yang fundamental. SOP merupakan alur atau cara kerja yang sudah terstandarisasi dan memiliki kekuatan sebagai suatu petunjuk.

Alur kerja berupa SOP merepresentasikan suatu takaran standar kerja yang harus dilakukan oleh setiap personil dalam bisnis, baik karyawan di semua bagian maupun pelaku bisnis itu sendiri. Misalnya dalam contoh restoran nasi goreng, bagaimana cara menjaga cita rasa agar produknya tetap enak tanpa dipengaruhi oleh jumlah pembeli. Artinya, ketika pembeli sedikit atau banyak, rasa nasi goreng akan tetap sama. Hal ini tentu berkaitan dengan standar takaran bumbu yang digunakan, juga metode memasak agar tingkat kematangannya tetap sempurna.

Baca Juga: Pengenalan Bentuk SOP Yang Penting Diketahui Bagi UMKM

Ketika bisnis telah memiliki standarisasi atau terstandarisasi, maka siapa pun yang mengerjakan pekerjaan tersebut akan menghasilkan output yang sama. Dengan demikian, bisnis tidak akan bergantung pada salah satu personil yang dianggap lebih berkompeten dalam menjalankan tugas atau pekerjaan tertentu.

3. Bangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang Berkarakter

Sumber daya manusia menjadi salah satu aset dalam bisnis. Suatu bisnis bisa bertahan lama karena didukung oleh sumber daya manusia yang berkompeten, kredibel, dan berkarakter. Sumber daya manusialah yang berperan dalam menjalankan norma dan sistem atau alur kerja yang telah dibangun. Sebab itulah, sumber daya manusia harus paham tentang norma dan sistem atau alur kerja dalam bisnis. Artinya, sumber daya manusia ini harus terlatih dan cakap dalam bekerja sehingga mampu menghasilkan output yang sama.

Baca Juga: Tips Merekrut Karyawan

Tak hanya kecekatan dan kecakapan, sumber daya manusia dalam bisnis juga dituntut untuk memiliki emotional maturity atau kematangan emosional, terutama pada bisnis berbasis layanan. Kematangan emosional ini dibutuhkan karena SDM akan menghadapi situasi dan kondisi serta pelanggan dengan berbagai karakter yang berbeda. Dalam memberikan layanan, SDM dituntut untuk mampu mengatasi berbagai situasi tanpa mempengaruhi kualitas layanan yang diberikan sama sekali, sehingga tetap mampu memberikan kepuasan kepada pelanggan, meski dalam kondisi bad mood sekalipun.


Kesalahan yang Sering Dilakukan dalam Membangun Bisnis

Tanpa disadari banyak pelaku bisnis yang melakukan kesalahan dalam membangun dan menjalankan bisnisnya. Apa sajakah itu?

1. Belajar secara serabutan

Belajar di berbagai empat dari berbagai sumber yang berbeda, justru menjadikan ilmu bisnis seperti potongan puzzle yang tidak utuh dan sulit ditelusuri urutannya. Ketika belajar secara tidak runtut, ilmu yang terserap justru akan membingungkan. Dampaknya tentu saja pada penerapannya ke dunia bisnis menjadi tidak sempurna. Akibat yang mungkin ditimbulkan bukannya meraih kesuksesan, tetapi justru mengalami kegagalan.

2. Tidak menghitung kapasitas

Siapa yang tidak senang ketika bisnisnya berkembang? Produk atau layanan yang dijual laris dan jumlah pelanggan semakin banyak. Tentu pundi-pundi uang pun akan bertambah. Sayangnya, ketika bisnis berkembang, pelaku bisnis cenderung hanya fokus pada banyaknya order yang masuk, tetapi lupa mengukur kapasitas atau kemampuan untuk bisa memenuhi orderan tersebut.

Baca Juga: Pentingnya Memiliki Visi Dalam Menentukan Arah Pengembangan Usaha

3. Tidak menyiapkan pengganti pada posisi yang ditinggalkan

Posisi atau jabatan dalam setiap pekerjaan pasti akan diisi oleh orang-orang baru. Kesalahan yang sering dilakukan dalam bisnis adalah tidak menyiapkan pengganti pada posisi yang ditinggalkan tersebut. Pada saat seorang supervisor diangkat menjadi manajer, maka ia tidak akan lagi mengerjakan tugas-tugas supervisor, karena telah memiliki job description yang berbeda. Namun, manajer baru ini lupa untuk menyiapkan pengganti yang memiliki kemampuan dan kompetensi yang sama sesuai standar yang telah ditetapkan di posisi yang ditinggalkan. Akibatnya, kualitas pekerjaan menjadi menurun.

4. Tidak menyiapkan kurikulum yang sistematis dalam melatih SDM

Dalam memberikan pelatihan kepada sumber daya manusianya, di setiap bisnis sering kali menyerahkan proses pelatihan kepada seseorang yang sudah memiliki skill. Harapannya, dia bisa menurunkan skill yang dimilikinya kepada orang-orang baru. Hal ini sering kali tidak berjalan efektif, karena metode pelatihan akan tergantung pada selera dan kapasitas orang tersebut, tidak ada patokan baku untuk pencapaian suatu kompetensi. Kesalahan ini mengakibatkan output yang dihasilkan akan berbeda, sehingga konsistensi kualitas tidak tercapai.

Baca Juga: Membangun Tim Dengan Budaya Inovasi

Suatu bisnis akan mampu bertahan lama apabila kualitas produk atau layanannya selalu terjaga dan konsisten, tidak mengalami penurunan, bahkan akan lebih baik apabila semakin meningkat seiring dengan berkembangnya bisnis itu sendiri. Membangun norma, sistem, dan sumber daya manusia merupakan tiga faktor dasar yang paling utama yang harus dikuasai oleh para pelaku bisnis untuk dapat menjaga konsistensi kualitas produk atau layanannya.

Nah, untuk mengetahui pembahasan selengkapnya tentang cara agar bisnis bisa bertahan lama terutama dalam menjaga kualitas produk atau layanan, Anda bisa menyimaknya pada video Cara Mempertahankan Usaha Supaya Sustainable| Brand Strategi UKM Dodi Zulkifli.

Jika merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini ya Sahabat Wirausaha.