UKM Indonesia

​Ragam Komoditas Potensi Ekspor ke Korea Selatan

Penulis : Nikita Puspita Ing Endit
28 September 2022
Lama Baca : menit

Jika mendengar nama Korea Selatan, kira-kira hal apa yang akan terlintas di benak Sahabat Wirausaha? Apakah kimchi, makanan tradisional Korea berupa asinan sayur hasil fermentasi yang diberi bumbu pedas; atau terbayang BTS, boyband beranggotakan 7 orang yang kemahsyurannya sudah sampai ke seluruh penjuru dunia; atau Itaewon Class, seri televisi Korea Selatan tahun 2020 yang dibintangi oleh bintang terkenal Park Seo-Joon, yang bercerita tentang pemuda gigih yang tak berkompromi dengan ketidakadilan dan korupsi sejak remaja.

Di artikel kali ini, kita akan banyak mengupas tentang Korea Selatan. Bukan tentang makanan tradisionalnya, boyband, atau serial drama televisinya ya Sahabat, melainkan tentang hubungan antara Indonesia dan Korea Selatan, khususnya terkait dengan aktivitas ekspornya.

Baca Juga: Potensi Ekspor Suplemen Kesehatan Herbal (Jamu)

Gambar 1. Hubungan Bilateral Indonesia dan Inggris

Sumber: Wordpress

Namun sebelum membahas tentang kegiatan ekspor Indonesia ke Korea Selatan, Sahabat Wirausaha perlu tahu bahwa hubungan antara kedua negara ini sudah dimulai sejak tahun 1973, karena memiliki tujuan yang sama yaitu menolak komunisme dan ingin memulai pembangunan nasional.

Selain itu, duta besar pertama Indonesia untuk Korea Selatan, yaitu mendiang Sarwo Edhie Wibowo, juga memiliki keakraban dengan Mantan Presiden Korea Selatan Park Chung Hee, karena banyak belajar mengenai cara Korea Selatan melakukan kontrol dan manajemen negara.


Mengenal Korea Selatan Lebih Dekat

Dilansir dari Ilmu Pengetahuan Umum, Korea Selatan adalah negara yang terletak di semenanjung Korea, Asia Timur. Semenanjung Korea yang sebelumnya merupakan wilayah untuk satu negara yaitu negara Korea yang saat ini terpisah menjadi dua negara (Korea Selatan dan Korea Utara) karena perang saudara. Korea Selatan membentuk negara tersendiri dan menamakannya sebagai Republik Korea (Republik of Korea) pada tahun 1948.

Baca Juga: Potensi Ekspor Si Pedas Penambah Selera

Gambar 2. Korea Selatan dalam Peta Dunia

Sumber: Ilmu Pengetahuan Umum

Di bidang perekonomian, Korea Selatan yang termasuk sebagai negara maju di dunia ini memiliki pendapatan domestik bruto (PDB) yang tinggi yaitu menduduki urutan ke-14 (tahun 2021) dengan nilai sebesar US$. 2,187 triliun sedangkan Pendapatan Perkapita Korea Selatan adalah US$. 42.300,-.

Industri-industri yang menjadi tulang punggung perekonomian Korea Selatan diantaranya seperti produk Elektronik, Telekomunikasi, Otomotif, kimia, perkapalan dan industri baja. Merek-merek terkenal yang sering kita dengar seperti Samsung, LG, Hyundai, KIA, Daewoo dan Lotte adalah berasal dari Korea Selatan.


Ekspor Indonesia ke Korea Selatan

Indonesia dan Korea Selatan saling melengkapi satu sama lain dalam hal ekonomi. Korea Selatan memiliki modal dan teknologi, sedangkan Indonesia dapat menghadirkan SDM yang bermutu.

Salah satu bidang hasil dari kolaborasi kedua negara ini ada di bidang pertahanan dan keamanan, serta pengembangan geopolitik. Penguatan kerja sama tersebut dilakukan melalui The First RI-ROK (Republic of Korea) Foreign and Defense Senior Officials Meeting (2+2 SOM), secara daring tahun 20201 lalu.

Selain itu, kegiatan ekonomi antara kedua negara juga dilakukan melalui kegiatan ekspor dan impor. Meskipun trend nya cenderung menurun jika dibandingkan tahun 2012 lalu, namun Korea Selatan selalu berada di urutan 10 besar negara dengan investasi terbesar ke Indonesia.

Baca Juga: Potensi Ekspor Buah dan Sayur Segar

Gambar 3. Investasi Korea Selatan dan Perdagangan dengan Indonesia (2012 hingga 2017)

Sumber: Kementerian Perdagangan, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dalam Katadata

Lebih lanjut, tahun 2017 hingga tahun 2018 terjadi kenaikan nilai ekspor yang cukup signifikan. Angka ini diharapkan dapat terus meningkat, mengingat Indonesia memiliki potensi dalam menyuplai beragam komoditas yang dibutuhkan oleh negeri gingseng tersebut.

Gambar 4. Ekspor Indonesia ke Korea Selatan

Sumber: Tradings Economics

Salah satu hal yang membantu meningkatkan nilai ekspor dari Indonesia ke Korea Selatan adalah Perjanjian Indonesia–Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA), dimana dari perjanjian ini maka terdapat 11.267 produk Indonesia yang dapat dipasarkan ke Korea Selatan dengan tarif 0 persen.

Hal ini tentu memberikan angin segar untuk seluruh Sahabat Wirausaha agar dapat dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan ekspor. Selain itu, dalam perdagangan jasa pun kedua negara membuka akses pasar terhadap lebih dari 100 sub sektor jasa. Kembali, hal ini tentu menjadi sinyal positif, karena dapat mendorong perdagangan jasa antar kedua negara.

Baca Juga: Surat Keterangan Ekspor Kemasan Pangan

Kerjasama ini telah membuahkan hasil positif untuk Indonesia, karena pada periode Januari hingga Juli 2021 lalu, total perdagangan Indonesia dan Korea Selatan tercatat USD 10,02 miliar atau setara dengan Rp 144 triliun, naik 30 persen dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya.

Dari jumlah itu, ekspor Indonesia ke Korea Selatan tercatat USD 4,73 miliar atau setara dengan Rp 68 triliun. Adapun produk ekspor utama Indonesia ke Korea Selatan meliputi batu bara, produk besi baja lembaran, pakaian jadi, kayu lapis, serta karet alam, yang akan kita bahas secara lebih mendalam sesaat lagi.


Komoditas Ekspor Indonesia ke Korea Selatan

Berikut adalah ragam komoditas yang banyak diekspor dari Indonesia ke Korea Selatan, antara lain :

1. Batubara

Sahabat Wirausaha, kita akan memulai pembahasan terkait komoditas yang pertama yaitu batubara, dimana komoditas ini sedang hangat dibicarakan oleh dunia, khususnya terkait kebijakan yang baru diambil oleh Indonesia. Ya Sahabat, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah melarang ekspor batu bara mulai 1 Januari hingga 31 Januari 2022.

Pelarangan ekspor tersebut berkaitan dengan pasokan batu bara di tanah air yang dirasa semakin menipis, sehingga komoditas yang ada saat ini akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan batu bara dalam negeri atau domestic market obligation (DMO), khususnya untuk pembangkit listrik yang dimiliki PT PLN (Persero). Jika larangan ekspor tidak dilakukan, maka hampir 20 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan daya sekitar 10.850 megawatt (MW) akan padam.

Baca Juga: Mempersiapkan Kemasan (Packaging) untuk Memenuhi Standar Ekspor

Gambar 5. Komoditas Batu Bara

Sumber: Belasting

Padahal sebelumnya, ekspor batu bara ke berbagai negara tujuan terus dilakukan. Bahkan, dilansir dari export genius, volume ekspor batu bara meningkat hampir dua kali lipat sejak Januari 2021 hingga Juni 2021 lalu.

Gambar 6. Volume Ekspor Batu Bara sejak Januari Hingga Juni 2021 (dalam juta USD)

Sumber: Export Genius

Pelarangan ekspor batu bara ini tentu menuai reaksi keras dari sejumlah negara yang menggantungkan kebutuhan batu bara negaranya kepada Indonesia, salah satunya Korea Selatan. Bahkan, Menteri Perdagangan (Mendag) Korea Selatan, Yeo Han-Koo mengadakan pertemuan darurat dengan Indonesia secara virtual.

Mendag Yeo menyampaikan keprihatinan pemerintah atas larangan ekspor batu bara Indonesia dan sangat meminta kerja sama pemerintah Indonesia agar pengiriman batu bara dapat segera dimulai kembali.

Selain Korea Selatan, Duta Besar Jepang untuk Indonesia Kanasugi Kenji juga turut melayangkan surat kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, untuk mencabut larangan ekspor batu bara. Dari kondisi ini, kita dapat melihat betapa kuatnya posisi Indonesia terhadap negara-negara lain, khususnya Korea Selatan dan Jepang, terkait supply komoditas batu bara.

2. Salak

Indonesia semakin mantap menjadi salah satu negara pengusung pertanian berkelanjutan di kawasan Asia. Hal tersebut dibuktikan melalui terjalinnya kerjasama antara 14 negara termasuk Indonesia, melalui Puslitbang Hortikultura, dalam kerjasama multilateral AFACI (The Asian Food and Agricultural Cooperation Initiative) semenjak 2012 lalu.

Baca Juga: Kesuksesan Ekspor Hitara Black Garlic Menciptakan Nilai Keunggulan Produk Bawang

Kerjasama yang terjalin ini memiliki tujuan peningkatan produksi pangan, peningkatan kesadaran terhadap pertanian berkelanjutan, dan perbaikan diseminasi inovasi dengan saling berbagi pengetahuan dan informasi dalam hal teknologi pertanian antar anggota AFACI.

Salah satunya upaya untuk mewujudkan tujuan tersebut adalah melalui pelaksanaan GAP (Good Agriculture Practice). Bahkan, Korea Selatan sebagai negara tempat kantor pusat AFACI berlokasi, tahun 2018 lalu pernah mengutus tiga orang delegasinya ke Indonesia untuk dapat berbagi pemikiran dan melihat langsung pelaksanaan GAP di Indonesia.

Pelaksanaan GAP di Indonesia sendiri telah diterapkan pada setidaknya 1000 petani salak pondoh di dua kelompok tani yang bertempat di Kecamatan Turi, Yogyakarta. Melalui kerjasama ini, diharapkan komoditas salak pondoh berbasis GAP dapat menembus pasar buah di Korea Selatan.

Gambar 7. Delegasi AFACI Kunjungan ke Yogyakarta

Sumber: Holtikultural Litbang

Saat ini, Korea Selatan masih belum menjadi negara tujuan utama terkait dengan ekspor salak. Dengan adanya kerjasama multilateral AFACI tersebut, diharapkan dapat mendongkrak ekspor salak, khususnya ke Korea Selatan.

Baca Juga: Potensi Ekspor Rempah-Rempah di Pasar Eropa

Gambar 8. Negara Tujuan Ekspor Salak

Sumber: Indonesiabaik.id

3. Karet Remah

Karet remah (crumb rubber) merupakan karet alam yang diolah secara khusus, sehingga mutunya terjamin secara teknis. Karet remah digunakan sebagai bahan baku untuk memproduksi ban, sehingga permintaan karet remah dunia meningkat seiring dengan peningkatan industri otomotif. Mengingat Korea memiliki perkembangan industri otomotif yang cukup baik, maka komoditas karet remah sangat potensial untuk dilakukan ekspor.

Gambar 9. Komoditas Butiran Karet Remah

Sumber: Alibaba

Namun sayangnya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor karet remah dari Indonesia mencapai USD 2,9 miliar atau setara dengan Rp 41 triliun. Nilai ini turun 14,7 persen dibandingkan pada tahun sebelumnya yang sebesar USD 3,4 miliar atau setara dengan Rp 48 triliun.

Nilai ekspor karet remah sempat meningkat 56,25 persen pada 2017 yang mencapai USD 5 miliar atau setara dengan Rp 71 triliun, namun nilainya merosot pada 2018 hingga 2020. Pola yang sama juga terjadi pada volume ekspornya. Volume ekspor karet remah sempat meningkat 16 persen pada tahun 2017 mencapai 2,9 juta ton, namun volumenya turun sejak 2018 hingga 2020 menjadi sebesar 2,2 juta ton.

Gambar 10. Nilai dan Volume Ekspor Karet Remah Indonesia (2016 hingga 2020)

Sumber: Badan Pusat Statistik dalam Katadata

Terkait dengan negara tujuan, Amerika Serikat menjadi negara tujuan utama ekspor karet remah Indonesia. Nilai ekspor karet remah ke negara tersebut mencapai USD 589,6 juta atau setara dengan Rp 8 triliun dengan volume 439,3 ribu ton pada tahun 2020.

Baca Juga: Mengenal Ragam Standar Global Produk Ekspor

Jepang berada di posisi kedua dengan nilai ekspor karet remah mencapai USD 514,1 juta atau setara dengan Rp 7,3 triliun pada tahun 2020. Setelahnya ada Tiongkok dan India dengan nilai ekspor karet remah masing-masing sebesar USD 378,7 juta atau setara dengan Rp 5,4 triliun dan USD 230,7 juta atau setara dengan Rp 3,3 triliun.

Negara tujuan ekspor karet reman berikutnya barulah ke Korea Selatan senilai USD 189,5 juta atau setara dengan Rp 2,7 triliun. Lalu disusul dengan negara Brasil yang mencapai USD 80,2 juta atau setara dengan Rp 1,1 triliun.

4. Ikan Tuna

Sebagai negara maritim, sektor kelautan dan perikanan Indonesia memegang peranan yang cukup penting dalam perekonomian nasional. Salah satu komoditas unggulan perikanan Indonesia adalah tuna. Memiliki 6 kawasan habitat utama, tuna masih memberikan kontribusi yang cukup besar bagi kinerja ekspor Indonesia, termasuk ke Korea Selatan.

Gambar 11. Ekonografik Tuna

Sumber: Katadata

Pelepasan ekspor komoditas tersebut dilakukan oleh Kementerian Perdagangan bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan dari sistem resi gudang (SRG) di Benoa, Bali. Upaya ekspor ini terus dilakukan Kementerian Perdagangan dalam rangka pemulihan ekonomi nasional, khususnya pasca Pandemi.

Seperti yang kita tahu Sahabat Wirausaha, Pandemi Covid-19 memberikan tekanan yang luar biasa bagi para pelaku usaha, khususnya bidang pertanian, peternakan, perkebunan, dan perikanan. Dengan adanya SRG, diharapkan dapat memberikan alternatif solusi salah satunya yang menyangkut permasalahan keuangan pelaku usaha dalam melakukan penyerapan komoditas dari produsen saat terjadi penurunan permintaan barang di dalam dan luar negeri.

Baca Juga: Jitu Membidik Peluang Pasar dan Target Negara Ekspor

Berdasarkan data statistik Kementerian Perdagangan, total transaksi ekspor ikan kode HS 03 dari Indonesia ke Korea Selatan selama lima tahun terakhir, yakni pada 2015 sebesar USD 51,12 juta atau setara dengan Rp 735 miliar; USD 43,05 juta atau setara dengan Rp 619 miliar di tahun 2016; USD 39,08 juta atau setara dengan Rp 562 miliar di tahun 2017; USD 52,83 juta atau setara dengan Rp 759 miliar di tahun 2018, dan USD 55,03 juta atau setara dengan Rp 791 miliar di tahun 2019. Adapun kinerja ekspor periode Januari hingga September 2020 mencapai USD 39,9 juta atau setara dengan Rp 573 miliar atau naik sebesar 3,07 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Gambar 12. Komoditas Ekspor Ikan Tuna

Sumber: Detik

5. Kopi

Tren kenaikan impor kopi oleh Korea Selatan dari berbagai belahan dunia, termasuk dari Indonesia, semakin besar. Namun, saat ini Indonesia masih menempati urutan ke 13 sebagai negara pemasok kopi ke Korea Selatan. Padahal, peluang pasar kopi di Korea Selatan sangatlah besar. Konsumsi kopi masyarakat Korea Selatan diketahui semakin meningkat dan jumlah kafe semakin menjamur.

Gambar 13. Trend Impor Kopi yang Meningkat oleh Korea Selatan

Sumber: Trend Economy

Oleh karena itu, Kementerian Perdagangan melalui Indonesia Trade Promotion Center mendorong para eksportir Indonesia untuk meningkatkan pasokannya ke Korea Selatan karena peluangnya masih terbuka lebar.

Adapun nilai impor kopi negara tersebut dari Indonesia senilai USD 10,56 juta atau setara dengan Rp 151 miliar pada 2020. Padahal, Korea Selatan merupakan importir kopi terbesar ke 11 dunia dengan nilai impor senilai USD 737,8 juta atau setara dengan Rp 10,6 triliun.

Gambar 14. Komoditas Ekspor Kopi

Sumber: Suara Merdeka

Untuk dapat sukses menjual kopi ke pasar Korea Selatan, ada beberapa hal yang harus Sahabat Wirausaha perhatikan, seperti adaptif pada selera pasar, mengembangkan kolaborasi dengan pelaku industri kopi Korea Selatan secara aktif, memanfaatkan teknologi digital tepat guna, serta menaati peraturan, dan cermat memperhatikan stimulus Pemerintah.

Baca Juga: Potensi Ekspor Cokelat Indonesia

Sahabat Wirausaha, itulah tadi ragam komoditas yang dibutuhkan Korea Selatan dari Indonesia. Apakah Sahabat Wirausaha memiliki usaha yang berkaitan dengan komoditas-komoditas tersebut? Jika iya, maka Sahabat Wirausaha memiliki peluang yang besar yang harus dioptimalkan untuk menambah nilai ekspor Indonesia ke Korea Selatan. Selamat bertumbuh ya!

Jika merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini ya Sahabat Wirausaha.

Referensi:

  1. Ilmu Pengetahuan Umum. Profil Negara Korea Selatan.
  2. Export Genius. Indonesia Coal Export Surge in 2021 - Indonesia Coal Export Outlook.
  3. Indonesiabaik.id. Ekspor Salak Terus Tumbuh.
  4. Katadata. 2012 - 2016, Perdagangan Indonesia - Korea Selatan Cenderung Turun.
  5. Katadata. Nilai Ekspor Karet Remah Turun 14,7% pada 2020.
  6. Katadata. Tuna, Unggulan Perikanan Indonesia.
  7. Trading Economics. Indonesia - Ekspor ke Korea Selatan.
  8. Trend Economy. Korea Import and Export Coffee.
Mungkin Anda perlu membaca Artikel ini: