Indonesia dan China dirasa memiliki hubungan yang baik. Hal ini tidak hanya dirasakan oleh Indonesia, namun juga China. Dilansir dari Antara News, Xiao Qian selaku duta besar China untuk Indonesia, menyatakan bahwa hubungan bilateral antara Indonesia dan China terus mengalami perkembangan positif, meskipun kedua negara tengah berada dalam situasi pandemi. Salah satu hubungan yang baik tersebut termasuk aktivitas perdagangan, khususnya terkait kegiatan ekspor impor, dimana volume ekspor Indonesia ke China tahun 2021 lalu meningkat sebesar 52,5 persen dibandingkan periode di tahun sebelumnya.

Gambar 1. Hubungan Bilateral Indonesia dan China

sumber : Kompas

Data ini tentu menggembirakan untuk seluruh Sahabat Wirausaha. Peningkatan nilai ekspor tersebut menggambarkan besarnya peluang yang terbuka untuk Sahabat Wirausaha. Peluang ekspor apa saja yang dapat Sahabat Wirausaha optimalkan? Yuk kita simak ulasannya berikut ini.

Baca Juga: Tips Petani dan Nelayan Modern Indonesia Menuju Pasar Ekspor


Mengenal Negara China Lebih Dekat

Seperti yang Sahabat Wirausaha ketahui, China atau Tiongkok adalah negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. Di tahun 2018, jumlah penduduk China diketahui sebanyak 1,38 miliar jiwa, dimana angka ini sekitar 5 kali lipat lebih banyak dari populasi Indonesia yang berjumlah sekitar 262 juta jiwa di tahun yang sama. Selain sebagai negara yang memiliki penduduk terbanyak di dunia, China juga merupakan salah satu negara terbesar di dunia dengan luas wilayahnya sebesar 9.596.960 km2. Luasnya wilayah tersebut menjadikan China sebagai negara terbesar ke 4 di dunia.

Dilansir dari Ilmu Pengetahuan Umum, secara geografis, China atau Tiongkok terletak di Benua Asia bagian Timur (Asia Timur) dan berada di antara 18° LU – 54° LU dan 73° BT – 135° BT. China berbatasan dengan Mongolia di sebelah Utaranya, sedangkan di sebelah Selatannya berbatasan dengan Nepal, Bhutan, India, Myanmar, Laos, dan Vietnam. Di sebelah Timur, China berbatasan dengan Korea Utara dan sebelah Barat berbatasan dengan Pakistan, Kirgistan, Kazakhstan, dan Tajikistan.

Baca Juga: Membedah Pameran Domestik untuk Furnitur

Gambar 2. China dalam Peta Dunia

sumber : Ilmu Pengetahuan Umum

Di bidang Ekonomi, China adalah negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia. Di tahun 2017, Pendapatan Bruto Domestik atau PDB China sebesar USD 23,21 triliun atau setara dengan Rp 333.643 triliun. Selain itu, China juga diketahui sebagai penghasil utama beberapa komoditas penting seperti emas, perak, tembaga, batu bara, timah, nikel, aluminium, besi, dan komoditas lainnya.


Ekspor Indonesia ke China

Pangsa pasar ekspor Indonesia ke negara Tirai Bambu atau China, saat ini masih menjadi nomor 1. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa ekspor Indonesia ke China mencapai 17,71 persen dari total ekspor ke negara lain. Angka ini luar biasa bukan Sahabat Wirausaha?

Gambar 3. Nilai Ekspor Indonesia tahun 2020

sumber : Badan Pusat Statistik dalam CNBC Indonesia

Berdasarkan data BPS, nilai ekspor Indonesia ke China di Juni 2020 mencapai USD 2,43 miliar atau mencapai Rp 34 triliun. Angka ini naik dibandingkan pada Juni 2019 yang hanya USD 1,8 miliar atau setara dengan Rp 26 triliun. Lebih jauh, didapatkan data bahwa selama bulan Januari hingga Juni 2020, ekspor Indonesia ke China sudah mencapai USD 12,82 miliar atau setara dengan Rp 179 triliun.

Baca Juga: Membedah Pameran Internasional dari Pemerintah Indonesia


Komoditas Ekspor Indonesia ke China

Berikut adalah ragam komoditas yang banyak diekspor dari Indonesia ke China, antara lain :

1. Besi dan Baja

Nilai ekspor : USD 2,91 miliar atau setara dengan Rp 41.8 triliun

Tren impor besi dan baja di Tiongkok mengalami pertumbuhan pesat sejak tahun 2017. Bahkan, lonjakan dari tahun 2019 ke tahun 2020 sangat luar biasa.

Gambar 4. Tren Impor Komoditas Besi dan Tiongkok

sumber : Trading Economics

Indonesia merupakan salah satu negara penyuplai besi dan baja. Lebih lanjut, ekspor produk besi dan baja dari Indonesia menunjukkan performa yang menggembirakan, meskipun menghadapi hambatan perdagangan di negara tujuan. Secara umum, ekspor komoditas besi dan baja tercatat tumbuh 92,74 persen sepanjang semester I di tahun 2021. Menteri Perdagangan Indonesia, Muhammad Lutfi, mengatakan bahwa nilai ekspor besi dan baja, terutama stainless steel, menyentuh 80 persen dari capaian ekspor sepanjang tahun 2020.

Baca Juga: Potensi Ekspor Furniture

Gambar 5. Komoditas Besi dan Baja

sumber : Tempo

China menerapkan anti dumping measure, termasuk untuk komoditas stainless steel. Sebelum kita membahas lebih lanjut, kita akan sedikit mengulas terkait strategi dumping dan anti dumping ya Sahabat Wirausaha.

Dumping adalah politik harga yang ditetapkan suatu pemerintah dimana harga suatu barang di dalam negeri akan lebih mahal dibanding di luar negeri. Dengan kata lain, pemerintah menjual barang dengan harga yang lebih murah untuk pasar luar negeri. Politik ini dijalankan untuk mendongkrak angka ekspor suatu barang manufaktur. Sedangkan anti dumping adalah sanksi balasan yang berupa bea masuk tambahan yang dikenakan atas suatu produk yang dijual di bawah harga normal dari produk yang sama di negara pengekspor maupun pengimpor.

Baca Juga: Menentukan Target Negara untuk Ekspor

Sebagai informasi, China tercatat telah mengenakan bea masuk anti dumping untuk impor stainless steel sejak 2019 kepada Indonesia, Uni Eropa, Korea Selatan dan Jepang dengan tarif bervariasi yang diterapkan, antara lain di kisaran 18,1 sampai 103,1 persen untuk stainless steel billets (SSB) dan hot-rolled plates (HRP). Ketika China memberlakukan anti dumping sebesar 20,2 persen pada sejumlah produk yang diekspor oleh Indonesia, maka ada bea masuk tambahan yang dibebankan China untuk produk kita. Meskipun demikian, nilai ekspor Indonesia masih dapat tumbuh sebesar 92,74 persen.

2. Lemak dan Minyak Hewan/Nabati

Nilai ekspor : USD 979 juta atau setara dengan Rp 14 triliun

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia pada periode Desember 2020 mengalami surplus sebesar USD 2,1 miliar atau setara dengan Rp 30 triliun. Adapun komoditas yang menyumbang surplus terbesar adalah lemak dan minyak hewan nabati.

Baca Juga: Tips Memilih Jasa Forwarder Ekspor yang Tepat

Gambar 5. Komoditas Lemak dan Minyak Hewani/Nabati

sumber : Suara Surabaya

Minyak sawit merupakan salah satu dari 13 jenis minyak nabati (vegetable oils) yang diproduksi, diperdagangkan, dan dikonsumsi secara internasional. Adapun ke 13 minyak nabati tersebut adalah minyak sawit (palm oil), minyak kernel sawit (palm kernel oil), minyak kedelai (soybean oil), minyak bunga matahari (sunflower oil), minyak biji lobak (rapeseed oil), minyak kelapa (coconut oil), minyak kacang tanah (groundnut oil), minyak biji katun (cotton seed oil), minyak jagung (corn oil), minyak zaitun (olive oil), minyak jarak (castor oil), minyak wijen (sesame oil), minyak biji rami (linseed oil). Konsumsi terbesar adalah minyak sawit, minyak kedelai, minyak biji lobak, dan minyak bunga matahari.

Kini, CPO (Crude Palm Oil) atau minyak sawit mentah merupakan salah satu minyak nabati yang penting di pasar dunia. Kecenderungan konsumsi CPO menurun, sementara produksinya terus meningkat, dan Indonesia adalah produsen utama CPO dunia selain Malaysia. Sedangkan di sisi konsumen, China dan Belanda disebut sebagai dua negara pengimpor terbesar, meskipun ada sedikit perbedaan kebutuhan di antara dua negara tersebut.

Baca Juga: Cost and Freight (CFR)

Gambar 6. Enam Negara Tujuan Ekspor Minyak Sawit Indonesia Terbesar

(Januari hingga November 2021)

sumber : BPS dalam Katadata

Di Belanda, permintaan impor minyak nabati yang utama adalah minyak sawit dengan kontribusi 70,42% dari total impor minyak nabatinya. Impor minyak kedelai Belanda merupakan komplemen terhadap permintaan impor minyak sawit, sedangkan permintaan impor minyak bunga matahari dan minyak biji lobak merupakan substitusi terhadap permintaan impor minyak sawit. Sedangkan di China, permintaan impor minyak nabati yang utama adalah minyak sawit dengan kontribusi 68,31% dari total impor minyak nabatinya. Di China, permintaan impor minyak kedelai dan minyak bunga matahari merupakan komplemen terhadap permintaan impor minyak sawit, sedangkan permintaan impor minyak biji lobak merupakan substitusi terhadap permintaan impor minyak sawit.

3. Pulp dan Kertas

Nilai ekspor : USD 963 juta atau setara dengan Rp 13.8 triliun

Bagi Indonesia sendiri, produksi kertas memberikan kontribusi terhadap pembangunan, khususnya jika dilihat dari perspektif ekonominya. Tidak heran jika tren nilai produksi industri kertas dan pulp di Indonesia meningkat setiap tahunnya.

Baca Juga: Tips Sukses Mengikuti Pameran dan Meningkatkan Kualitas Produk Ala Kultiva Co

Gambar 7. Nilai Produksi Industri Kertas dan Pulp PEriode 2010 Hingga 2013 (dalam Ribu Rupiah)

sumber : Qureta

Salah satu penyerapan pasar dari hasil industri ini adalah ekspor ke beberapa negara tetangga, salah satunya China. Terlebih, keputusan pemerintah China yang melarang impor limbah, termasuk produk kertas, menjadi berkah yang luar biasa untuk Indonesia, khususnya untuk Hutan Tanaman Industri atau biasa disingkat HTI. Hal ini karena industri pulp dan kertas nasional termasuk ke dalam rantai pasok hulunya. Sampai November, nilai ekspor pulp atau bubur kertas sudah menyamai devisa ekspor 2017.

Gambar 8. Komoditas Pulp

sumber : Qureta

Sejak awal 2018, China sudah melarang masuknya 24 jenis “sampah asing”, termasuk limbah kertas di dalamnya. Padahal, seperti yang Sahabat Wirausaha ketahui, China adalah pabrikan daur ulang kertas terbesar di dunia, di mana data China Paper Association (CPA) menyebutkan tahun 2016 saja dihasilkan 63,3 juta ton pulp dari limbah kertas. Dari volume itu, sebanyak 24 persen dihasilkan dari limbah kertas impor, terutama dari Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang.

Baca Juga: Memantau Peluang Pasar Ekspor melalui Platform Alibaba

Namun, berkat adanya kampanye terkait larangan masuknya 24 jenis “sampah asing” tersebut, industri pulp dalam negeri mendapat angin segar untuk bisa menyuplai komoditas tersebut. Berdasarkan data yang tercatat di Sistem Informasi Legalitas Kayu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (SILK KLHK), ekspor pulp sampai dengan 9 November 2018 tercatat USD 2,34 miliar atau setara dengan Rp 34 triliun dengan volume mencapai 3,7 juta ton. Angka itu sudah nyaris menyamai total ekspor pulp 2017.

Dalam hitungan lembaga pemeringkat internasional, yaitu Fitch Rating, yang mengutip data Bank Indonesia, ekspor pulp dan kertas Indonesia dalam delapan bulan pertama 2018, yaitu Januari sampai dengan Agustus, naik 24 persen secara year on year di posisi USD 3,1 miliar atau setara dengan Rp 44 triliun. Pertumbuhan ekspor tersebut dipicu oleh pengapalan ke pasar China yang sedang mengalami kekurangan pasokan dan didukung dengan komitmen China yang ingin memperbaiki standar kualitas lingkungan hidupnya.

Baca Juga: Mengenal Ragam Standar Produk Ekspor

4. Bijih, Kerak, dan Abu Logam

Nilai ekspor : USD 461 juta atau setara dengan Rp 6.6 triliun

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa China masih menjadi pangsa pasar terbesar komoditas non-migas Indonesia, khususnya terkait komoditas bijih, kerak, dan abu logam. Berdasarkan data BPS, ekspor produk non-migas Indonesia ke Cina pada November 2021 mencapai USD 5,41 miliar atau setara dengan Rp 78 triliun. Nilai tersebut setara dengan 25,16 persen dari total nilai ekspor produk non-migas Indonesia pada November 2021.

Gambar 9. Tujuan Ekspor Non-Migas Indonesia dalam USD

sumber : BPS dalam Tempo

Namun, jumlah tersebut menurun sebesar USD 515,1 juta atau setara dengan Rp 7 triliun dibanding capaian bulan sebelumnya. Pada Oktober 2021, nilai ekspor komoditas non-migas Indonesia ke Cina mencapai USD 5,93 miliar atau setara dengan Rp 85 triliun. Penurunan nilai ekspor itu pun jadi yang tertinggi dibanding negara-negara lainnya.

Baca Juga: Apa itu Bill of Lading?

Gambar 10. Peningkatan dan Penurunan Ekspor Non-Migas Indonesia bulan November 2021 dalam Juta USD

sumber : BPS dalam Tempo

5. Tembaga

Nilai ekspor : USD 456 juta atau setara dengan Rp 6.5 triliun

Komoditas lainnya yang memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi Indonesia adalah tembaga. Meskipun tren nya fluktuatif, namun secara umum nilai ekspornya meningkat.

Gambar 11. Nilai Ekspor Bijih Tembaga ke Tiongkok Tahun 2002 Hingga 2014

sumber : Kementerian Keuangan - Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam Katadata

Tembaga merupakan salah satu komoditas yang sangat dibutuhkan oleh China. Bulan November 2021 lalu, Administrasi Umum Kepabeanan melaporkan impor potongan tembaga China sebesar 133.011 ton pada Oktober 2021. Jumlah tersebut naik 98.09 persen year-on-year (yoy) dibandingkan Oktober 2020. Hal ini tidak terlepas dari pemulihan ekonomi China, sehingga mengapa pertumbuhan impor tembaga China nyaris mencapai 100 persen.

Baca Juga: Mengenal Harga Patokan Ekspor

Gambar 12. Komoditas Tembaga

sumber : IDX Channel

Selain kelima komoditas yang telah kita bahas sebelumnya, terdapat beragam komoditas lainnya yang selama ini dibutuhkan oleh China dari Indonesia, antara lain Bahan Bakar Mineral dengan nilai ekspor sebesar USD 3 miliar atau setara dengan Rp 43 triliun; Kertas Karton dengan nilai ekspor sebesar USD 372 juta atau setara dengan Rp 5.3 triliun; Produk Kimia dengan nilai ekspor sebesar USD 361 juta atau setara dengan Rp 5.2 triliun; Alas Kaki dengan nilai ekspor sebesar USD 343 juta atau setara dengan Rp 4.9 triliun; dan Ikan serta Udang dengan nilai ekspor sebesar USD 291 juta atau setara dengan Rp 4.2 triliun.


Peluang Indonesia Lainnya

Beragam upaya tengah dilakukan pemerintah untuk membuka keran ekspor komoditas lainnya ke negara China, salah satunya buah-buahan dan sarang walet. Bahkan, Enggartiasto Lukita selaku Menteri Perdagangan berharap Indonesia dapat meraih setidaknya USD 1 miliar atau setara dengan Rp 14 Triliun per tahunnya dari ekspor sarang burung walet. Hal ini mengingat sarang walet selama ini termasuk dalam komoditas yang tidak diproduksi China.

Baca Juga: Jitu Membidik Peluang Pasar dan Target Negara Ekspor

Gambar 13. Komoditas Sarang Walet

sumber : Republika

Terkait dengan buah-buahan, Indonesia memiliki potensi dalam melakukan ekspor buah manggis. Melansir data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor manggis ke China pada tahun 2018 lalu tercatat sebesar 38,83 ribu ton, tumbuh hingga 324 persen dibandingkan ekspor pada 2017 yang hanya mencapai 9,16 ribu ton. Nilai ekspor manggis pada 2018 pun tercatat sebesar Rp 474 miliar atau tumbuh 778 persen dari nilai ekspor pada 2017 yang sebesar Rp 54 miliar.

Sebelumnya, diketahui China sempat melakukan pembatasan impor manggis dari Indonesia. Ketika tahun 2012, ekspor manggis dari Indonesia ke China pernah mencapai USD 36 juta atau setara dengan Rp 517 miliar. Namun, angkanya turun drastis menjadi USD 96 ribu di 2013 atau setara dengan Rp 1.3 miliar. Kini, potensi ekspor ke China tercermin dari membaiknya ekspor manggis ke negara tersebut dan semoga Indonesia dapat merasakan manfaat dari kondisi tersebut.

Baca Juga: Potensi Ekspor Produk Kopi

Gambar 14. Komoditas Manggis

sumber : Ekonomi Bisnis

Sahabat Wirausaha, itulah tadi ragam komoditas yang dibutuhkan China dari Indonesia. Apakah Sahabat Wirausaha memiliki usaha yang berkaitan dengan komoditas-komoditas tersebut? Jika iya, maka Sahabat Wirausaha memiliki peluang yang besar yang harus dioptimalkan untuk menambah nilai ekspor Indonesia ke China. Selamat bertumbuh ya!

Jika merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini ya Sahabat Wirausaha.

Referensi:

  1. Antara News. Dubes : Hubungan China, Indonesia Terus Berkembang di Tengah Pandemi.
  2. Ilmu Pengetahuan Umum. Profil Negara China Tiongkok.
  3. Katadata. Ini Negara Tujuan Ekspor Minyak Sawit Terbesar Indonesia.
  4. Katadata. Nilai Ekspor Bijih Tembaga ke China 2002 - 2014.
  5. Trading Economics. China Imports of Iron and Steel.
  6. Qureta. Kontribusi Produksi Kertas terhadap Pembangunan di Indonesia dalam Perspektif Ekonomi.