
Halo, Sahabat Wirausaha!
Bunga telang bukan tanaman baru di Indonesia. Sejak lama, ia tumbuh di pekarangan rumah, merambat di pagar, dan dipetik seperlunya. Dalam konteks rumah tangga, bunga telang lebih sering diperlakukan sebagai tanaman pelengkap, bukan komoditas. Namun, beberapa tahun terakhir, bunga telang mulai mendapat perhatian lebih luas sebagai bahan baku minuman, pewarna alami, dan produk berbasis gaya hidup sehat.
Perubahan ini menandai pergeseran penting. Ketika sebuah tanaman pekarangan mulai masuk ke pasar, persoalannya tidak lagi berhenti pada “apakah laku” atau “apakah tren”. Pertanyaan yang muncul justru lebih mendasar: bagaimana nilai ekonominya dibangun, dikelola, dan dipertahankan. Di sinilah bunga telang perlu dibaca melalui pendekatan rantai nilai, bukan sekadar peluang sesaat.
Dari Pekarangan ke Bahan Baku Ekonomi
Tahap awal rantai nilai bunga telang berangkat dari pekarangan rumah. Banyak warga menanam telang karena perawatannya relatif mudah, tidak memerlukan lahan luas, dan bisa dipanen berulang. Pada fase ini, bunga telang berfungsi sebagai bahan baku mentah. Nilai jualnya masih rendah, terutama jika dijual segar atau dikeringkan secara seadanya.
Meski demikian, fase ini tidak bisa dianggap remeh. Pekarangan adalah fondasi rantai nilai. Ketika permintaan meningkat, pasokan dari pekarangan hanya akan berkelanjutan jika ada pola tanam dan panen yang relatif konsisten. Tanpa perencanaan sederhana, suplai mudah terputus dan kualitas tidak seragam.
Banyak pelaku usaha bunga telang berhenti di tahap ini. Bunga dipetik, dijemur, lalu dijual. Pola ini membuat bunga telang rentan menjadi komoditas murah, mudah tergantikan, dan sulit berkembang lebih jauh.
Pascapanen sebagai Penentu Nilai
Masuk ke tahap berikutnya, pascapanen menjadi simpul paling krusial dalam rantai nilai bunga telang. Di sinilah nilai bisa naik—atau justru berhenti. Bunga telang sangat sensitif terhadap perlakuan setelah dipanen. Proses pengeringan yang terlalu lama, tidak merata, atau terpapar kelembapan berlebih dapat menurunkan kualitas warna dan aroma.
Praktik umum di lapangan masih mengandalkan penjemuran matahari. Metode ini murah dan mudah, tetapi sangat bergantung pada cuaca. Ketika sinar matahari tidak stabil, proses pengeringan menjadi tidak konsisten. Akibatnya, warna bunga pudar, daya simpan pendek, dan risiko jamur meningkat.
Di titik ini, pengeringan bukan sekadar urusan teknis, melainkan penentu arah usaha. Pengeringan yang cepat, efisien, dan terkontrol membantu menjaga warna biru khas telang serta meningkatkan daya simpan. Dengan pascapanen yang rapi, bunga telang berubah status: dari hasil pekarangan menjadi bahan baku yang layak diolah dan dipasarkan lebih luas.
Baca juga: Nuansa Rasa Daun Kelor Indonesia, Benarkah Mirip Matcha Jepang Saat Diseduh Alami?
Hilirisasi dan Batasannya
Tahap selanjutnya dalam rantai nilai adalah hilirisasi, yakni pengolahan bunga telang menjadi produk. Bentuk paling umum adalah teh bunga telang. Produk ini relatif mudah dibuat, pasarnya sudah terbentuk, dan bisa dijual langsung ke konsumen.
Namun, hilirisasi sederhana tidak selalu berarti naik kelas. Banyak produk teh bunga telang beredar dengan kualitas yang tidak konsisten. Warna bisa berbeda antar batch, rasa berubah, dan kemasan seringkali seadanya. Dalam kondisi ini, produk mudah bersaing harga, tetapi sulit bersaing nilai.
Hilirisasi baru benar-benar meningkatkan nilai ekonomi ketika didukung oleh bahan baku yang terstandar, proses yang konsisten, serta informasi produk yang jelas. Tanpa itu, hilirisasi hanya memindahkan bentuk produk, bukan meningkatkan posisi dalam rantai nilai.
Narasi sebagai Bagian dari Nilai
Dalam beberapa tahun terakhir, konsumen semakin peduli pada cerita di balik produk. Mereka tidak hanya membeli warna atau rasa, tetapi juga asal-usul bahan dan proses pengolahan. Pada bunga telang, narasi ini menjadi bagian penting dari rantai nilai.
Narasi tentang pekarangan, proses pengeringan, dan upaya menjaga kualitas memberi konteks pada produk. Narasi yang kuat membantu produk keluar dari jebakan komoditas generik. Ia menjelaskan mengapa produk tertentu layak dihargai lebih tinggi dibanding yang lain.
Tanpa narasi, bunga telang mudah dipersepsikan sebagai produk massal. Dengan narasi, ia memiliki identitas dan posisi.
Baca juga: Spesifikasi Standar Mutu (Grading) Kayu Gaharu dan Pemetaan Segmen Pembelinya di Indonesia
Tantangan Skala dan Tata Kelola
Ketika usaha berkembang, tantangan berikutnya adalah skala. Banyak pelaku mampu memproduksi dalam jumlah kecil dengan kualitas baik, tetapi kesulitan mempertahankan standar saat volume meningkat. Di fase ini, tata kelola menjadi krusial.
Pascapanen kembali memainkan peran utama. Pengeringan, penyimpanan, dan pengemasan harus disesuaikan dengan kapasitas produksi. Selain itu, koordinasi pasokan dari pekarangan menjadi penting agar produksi tidak terputus.
Skala juga menuntut pencatatan sederhana. Tanpa data panen dan produksi, pelaku usaha sulit menjaga konsistensi mutu dan volume.
Potensi Ekspor: Kelanjutan Logis Rantai Nilai
Pertanyaan yang kerap muncul adalah: apakah bunga telang berpotensi ekspor? Sejumlah platform pendukung ekspor UMKM mencatat bahwa bunga telang memiliki peluang di pasar global, terutama sebagai bahan baku minuman herbal dan pewarna alami. Minat terhadap bahan alami membuka ceruk pasar di luar negeri.
Namun, potensi ekspor ini bukan jalan pintas. Pasar internasional menuntut standar mutu yang lebih ketat: warna harus konsisten, kadar air terkontrol, produk bersih dari kontaminan, dan proses pascapanen terdokumentasi dengan baik. Dalam konteks ini, pengeringan kembali menjadi fondasi utama.
Ekspor tidak dimulai dari volume besar, melainkan dari konsistensi kecil. Pelaku usaha yang mampu menjaga mutu berulang, memastikan pasokan stabil, dan memahami standar dasar berada di posisi lebih siap untuk menjajaki pasar global. Dengan kata lain, ekspor adalah kelanjutan logis dari rantai nilai yang tertata, bukan loncatan instan.
Membaca Rantai Nilai Secara Menyeluruh
Rantai nilai membantu pelaku usaha memahami posisi mereka saat ini dan menentukan langkah berikutnya. Apakah masih di tahap bahan baku pekarangan? Sudah memiliki pascapanen terstandar? Atau siap memperluas pasar?
Nilai ekonomi bunga telang tidak muncul secara tiba-tiba. Ia dibangun bertahap, melalui pengelolaan proses—terutama pascapanen. Tanpa itu, bunga telang akan berhenti sebagai komoditas murah yang mudah tergantikan.
Baca juga: 6 Alasan Kenapa Jajanan Edamame Cepat Populer dan Diterima Pasar Kuliner UMKM
Dari Ramai ke Relevan
Jika sejak 2022 bunga telang sudah ramai dibicarakan, maka 2026 adalah waktunya berbicara tentang relevansi. Mereka yang bertahan bukan yang paling cepat ikut tren, melainkan yang mampu mengelola rantai nilai secara disiplin.
Bunga telang memberi pelajaran penting bagi UMKM berbasis tanaman lokal: naik kelas bukan soal menemukan komoditas baru, tetapi mengelola komoditas yang sudah ada dengan cara yang lebih cermat. Dari pekarangan ke produk bernilai ekonomi, perjalanan itu ditentukan oleh proses—bukan hype.
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Follow Instagram @ukmindonesiaid biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!
Daftar Referensi:
- Selayar Quarta. 2023. Mulai Dilirik Warga Selayar, Ini Potensi Cuan dari Bunga Telang. https://selayar.quarta.id/ekonomi/mulai-dilirik-warga-selayar-ini-potensi-cuan-dari-bunga-telang/
- Ajaib. 2023. Peluang Bisnis Teh Ungu dari Bunga Telang. https://ajaib.co.id/belajar/bisnis-kerja-sampingan/peluang-bisnis-teh-ungu-bunga-telang
- Trubus. 2022. Peluang Besar Bisnis Bunga Telang. https://trubus.id/peluang-besar-bisnis-bunga-telang/
- Innovillage. 2023. Solusi Pengeringan Bunga Telang yang Cepat dan Efisien. https://innovillage.id/katalog/portfolio/solusi-pengeringan-bunga-telang-yang-cepat-dan-efisien
- ExportHub. 2023. Kembang Telang Ternyata Punya Nilai Ekonomi Cemerlang. https://exporthub.id/kembang-telang-ternyata-punya-nilai-ekonomi-cemerlang/









