Halo Sahabat Wirausaha,

Dalam beberapa tahun terakhir, edamame semakin sering muncul di berbagai titik kuliner UMKM. Mulai dari jajanan kaki lima, menu pendamping minuman, hingga produk frozen rumahan, edamame seolah menemukan tempatnya sendiri di pasar. Fenomena ini menarik karena edamame bukan makanan baru, namun tingkat penerimaannya tumbuh relatif cepat dan merata.

Popularitas edamame di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sejarah jalur pasarnya. Sejak awal dikembangkan secara serius, edamame di Indonesia memang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan ekspor, terutama ke Jepang. Pasarnya sudah matang, permintaannya stabil, dan standar kualitasnya jelas. Bagi petani dan pelaku usaha, orientasi ekspor menjadi pilihan yang paling rasional karena menjanjikan kepastian serapan dan harga.

Di sisi lain, pasar domestik pada periode tersebut belum mengenal edamame sebagai pangan harian. Edamame lebih lekat dengan citra restoran Jepang dan belum menjadi bagian dari kebiasaan konsumsi rumah tangga. Bukan karena konsumen Indonesia menolak, melainkan karena belum ada konteks yang membuat produk ini relevan dengan keseharian mereka.

Situasi ini membuat edamame Indonesia justru lebih dikenal di luar negeri dibanding di dalam negeri. Baru ketika pola konsumsi masyarakat berubah—ditandai dengan meningkatnya minat pada camilan praktis dan persepsi makanan yang lebih “ringan”—edamame mulai menemukan momentumnya di pasar domestik. UMKM kemudian berperan sebagai jembatan, membawa produk yang lama dikenal di luar negeri itu masuk ke konteks konsumsi lokal.

Pertanyaannya bukan lagi apa itu edamame, melainkan mengapa jajanan ini begitu mudah diterima pasar, bahkan oleh konsumen yang sebelumnya tidak akrab dengan makanan berbasis kedelai yang diasosiasikan dengan kuliner Jepang. Jika dibaca lebih dalam, penerimaan edamame bukan terjadi secara kebetulan, melainkan didorong oleh sejumlah faktor struktural yang relevan dengan karakter pasar kuliner UMKM di Indonesia.

1. Terasa Baru, tapi Tetap Familiar di Lidah Konsumen

Edamame menempati posisi yang unik di benak konsumen Indonesia. Ia hadir dengan nama dan citra yang terkesan modern, namun secara rasa masih berada dalam spektrum yang familiar. Budaya konsumsi kacang-kacangan sudah lama mengakar, mulai dari kacang rebus hingga berbagai olahan kedelai.

Edamame memberi pengalaman “baru tapi aman”. Konsumen merasa mencoba sesuatu yang berbeda tanpa rasa khawatir berlebihan. Kombinasi ini membuat keputusan pembelian pertama relatif mudah terjadi, terutama di segmen konsumen urban dan anak muda.

Fenomena “terasa baru tapi tetap familiar” ini penting karena berkaitan dengan cara konsumen mengambil keputusan awal. Produk yang sepenuhnya asing membutuhkan edukasi panjang, sementara produk yang terlalu biasa tidak memicu rasa penasaran. Edamame berada di tengah: cukup berbeda untuk menarik perhatian, tetapi cukup familiar untuk tidak menimbulkan resistensi. Posisi ini menurunkan hambatan adopsi dan membuka peluang pembelian impulsif tanpa promosi agresif.

2. Mudah Masuk ke Berbagai Konteks Konsumsi

Edamame tidak terikat pada satu momen konsumsi tertentu. Ia bisa dinikmati sebagai camilan, lauk pendamping, teman minum, hingga produk beku untuk stok di rumah. Fleksibilitas ini membuat edamame mudah disesuaikan dengan berbagai konsep usaha kuliner UMKM.

Bagi konsumen, kemudahan ini berarti tidak perlu berpikir ulang tentang kapan dan bagaimana mengonsumsinya. Sementara bagi pelaku usaha, fleksibilitas tersebut membuka ruang pasar yang luas tanpa harus melakukan edukasi panjang. Produk yang bisa berpindah konteks konsumsi dengan mulus cenderung lebih cepat diterima dan lebih lama bertahan.

Baca juga: 7 Cara Memulai Usaha Sayuran di Tengah Tren Hidup Sehat

3. Persepsi Sehat yang Mudah Dipahami Pasar

Salah satu faktor penting penerimaan edamame adalah persepsinya sebagai camilan yang lebih sehat. Konsumen tidak harus memahami detail nutrisi untuk merasa bahwa edamame adalah pilihan yang “lebih ringan” dibandingkan jajanan gorengan atau camilan tinggi gula.

Edamame dikenal sebagai sumber protein nabati dan serat, serta memiliki indeks glikemik yang relatif rendah. Informasi ini membentuk citra edamame sebagai camilan yang aman dan ramah bagi berbagai kelompok konsumen.

Dalam konteks pasar UMKM, persepsi sehat ini sering menjadi pemicu pembelian awal. Konsumen mencoba bukan karena komitmen penuh pada gaya hidup sehat, melainkan karena ingin alternatif yang terasa lebih bertanggung jawab. Di titik ini, edamame tidak perlu diposisikan sebagai produk diet atau kesehatan secara ketat. Justru kekuatannya terletak pada kemampuannya hadir sebagai camilan biasa dengan citra yang lebih “aman”.

4. Struktur Produk dan Pasokan yang Ramah untuk Skala UMKM

Dari sisi operasional, edamame termasuk produk yang relatif mudah dikelola oleh UMKM. Proses pengolahannya sederhana, risiko kegagalan rendah, dan dapat disesuaikan dengan skala usaha kecil. Variasi penyajian pun tidak menuntut perubahan besar pada dapur atau peralatan, sehingga UMKM tidak perlu investasi tambahan yang kompleks untuk mulai menjualnya.

Keunggulan ini diperkuat oleh kondisi pasokan di dalam negeri. Di Indonesia, edamame telah lama dibudidayakan sebagai komoditas hortikultura, terutama di beberapa sentra produksi seperti Jawa Timur (Jember dan sekitarnya), Jawa Tengah, serta sebagian wilayah Jawa Barat. Di kawasan-kawasan ini, edamame awalnya dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan ekspor, terutama ke Jepang, yang memiliki standar kualitas ketat. Dilansir dari Kompas, edamame asal Jember dikenal luas di pasar Jepang dan menjadi salah satu komoditas unggulan ekspor hortikultura.

Namun dalam praktiknya, tidak semua hasil panen memenuhi spesifikasi ekspor. Sebagian edamame yang masih layak konsumsi, tetapi tidak lolos standar ukuran atau tampilan ekspor, kemudian masuk ke pasar domestik. Kondisi ini menciptakan ruang pasar yang menarik bagi UMKM: pasokan relatif tersedia, volumenya cukup, dan tidak sepenuhnya diserap industri besar.

Selain itu, edamame tidak harus dijual dalam kondisi segar. Dalam bentuk beku atau olahan sederhana, daya simpannya lebih panjang sehingga risiko kerugian akibat produk rusak dapat ditekan. Bagi UMKM, kombinasi antara ketersediaan pasokan domestik dan fleksibilitas bentuk produk ini membuat edamame lebih mudah dikelola sebagai usaha yang berkelanjutan, bukan sekadar mengikuti momentum sesaat.

Baca juga: 8 Strategi Bisnis Sayurbox Membangun Kepercayaan Pasar Sebagai Platform Belanja Sayur Online

5. Selaras dengan Pola Konsumsi Masyarakat Urban

Penerimaan edamame juga dipengaruhi oleh kesesuaiannya dengan pola konsumsi masyarakat urban. Konsumen perkotaan cenderung mencari makanan yang praktis, mudah dikonsumsi di sela aktivitas, dan tidak menimbulkan rasa “berat” setelah dimakan. Edamame memenuhi karakter tersebut.

Edamame mulai diadaptasi dengan pendekatan rasa lokal, misalnya melalui sentuhan pedas, asin, atau bumbu sederhana yang akrab di lidah konsumen Indonesia. Adaptasi ini membuat edamame terasa lebih dekat dengan kebiasaan jajan masyarakat urban, tanpa kehilangan karakter dasarnya sebagai camilan ringan dan praktis.

Selain itu, edamame mudah dipadukan ke berbagai jenis hidangan, mulai dari camilan sederhana hingga pelengkap makanan utama. Dilansir dari literatur pangan, karakter edamame yang netral dan bergizi membuatnya fleksibel untuk berbagai metode pengolahan, baik dikukus, direbus, maupun ditumis ringan. Fleksibilitas inilah yang membuat edamame relevan dengan gaya hidup urban, di mana makanan dinilai tidak hanya dari rasa, tetapi juga dari kemudahan konsumsi dan kesesuaiannya dengan rutinitas sehari-hari.

6. Kesalahan UMKM Membaca Edamame Seolah Tren Sesaat

Di balik penerimaan pasar yang cepat, edamame kerap dibaca secara keliru oleh sebagian pelaku UMKM. Bukan karena edamame benar-benar bersifat sesaat, melainkan karena lonjakan penjualannya sering disamakan dengan pola jajanan viral yang cepat naik lalu cepat turun. Cara baca yang terlalu menyederhanakan ini membuat edamame diperlakukan sebagai peluang jangka pendek, bukan sebagai produk yang perlu dipahami konteks konsumsinya.

Padahal, edamame diterima bukan semata karena viral, melainkan karena cocok dengan pola konsumsi tertentu. Ketika produk hanya dijual mengikuti keramaian awal, UMKM berisiko terjebak dalam persaingan harga dan kehilangan arah setelah fase coba-coba berlalu. Tantangan sebenarnya justru muncul setelah penjualan awal: apakah produk ini akan dibeli ulang, diingat, dan direkomendasikan.

Baca juga: Ide Bisnis Keripik Sayur Kreatif yang Bikin Produk Dicari Pasar


Penutup: Membaca Alasan di Balik Populernya Edamame

Sahabat Wirausaha, cepatnya penerimaan edamame di pasar kuliner UMKM bukan terjadi secara kebetulan. Ia hadir dengan karakter produk yang selaras dengan kebiasaan konsumsi, persepsi sehat, dan struktur pasar yang memungkinkan UMKM masuk.

Pelajaran terpenting dari fenomena ini bukan soal ikut-ikutan menjual edamame, melainkan kemampuan membaca mengapa suatu produk diterima pasar. Karena pada akhirnya, yang menentukan keberlanjutan usaha bukan seberapa cepat mengikuti tren, tetapi seberapa dalam memahami alasan konsumen memilih.

Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!

Follow WA Channel UKMIndonesia.id biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!

Referensi: 

  1. Kompas.com (2022). Edamame Jember, Mengapa Lebih Populer di Jepang?
    https://www.kompas.com/food/read/2022/12/07/171000475/edamame-jember-mengapa-lebih-populer-di-jepang-
  2. Beautynesia (2023). 6 Manfaat Edamame, Camilan Favorit Orang Jepang yang Sehat
    https://www.beautynesia.id/wellness/6-manfaat-edamame-camilan-favorit-orang-jepang-yang-sehat-untuk-tubuh/b-304289
  3. IDN Times (2023). Manfaat dan Khasiat Edamame
    https://www.idntimes.com/food/dining-guide/manfaat-dan-khasiat-edamame-1-00-c8x35-fbgh3h
  4. ScienceDirect – Elsevier. Edamame: Uses, Nutrition, and Processing
    https://www.sciencedirect.com/topics/agricultural-and-biological-sciences/edamame