UKM Indonesia

Potensi Ekspor: Wilayah Timur Tengah


Container operation in port series

Indonesia memiliki kekayaan alam yang begitu melimpah dan beragam. Mulai dari minyak bumi dan gas alam; hasil tambang berupa emas, batu bara, nikel, timah; rempah-rempah; hasil perkebunan; hingga sumber daya laut. Dengan berbagai sumber daya dan kekayaan alam tersebut, Indonesia memiliki potensi besar untuk membuka pintu ekspor komoditas-komoditas unggulan ke berbagai negara di dunia. Berdasarkan data ekspor Indonesia tahun 2022, tujuan ekspor masih didominasi oleh pasar China, Amerika Serikat, dan India. Sementara negara di Timur Tengah yang menjadi tujuan ekspor Indonesia saat ini masih terbatas di Arab Saudi saja, dengan nilai ekspor sebesar US$ 102,41 juta (BPS, Mei 2022).

Nilai ekspor Indonesia ke Timur Tengah dapat dikatakan masih rendah, mengingat negara-negara di Jazirah Arab saat ini mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi, bahkan tergolong sebagai negara berpendapatan tinggi. Sebut saja Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Kuwait, Oman, Siprus, dan Yordania. Negara-negara tersebut jelas potensi pasar ekspor yang menggiurkan. Meski Indonesia memiliki hubungan diplomatik dengan negara-negara Timur Tengah, namun harus diakui bahwa membuka keran ekspor ke wilayah tersebut tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Selain produk harus berdaya saing tinggi dan bersertifikat halal, hubungan dagang Indonesia dengan negara Timur Tengah terkendala bea masuk yang tinggi pula. Meskipun demikian, pemerintah Indonesia terus berupaya untuk menjangkau pasar ekspor di wilayah Timur Tengah dengan menggandeng dan memberdayakan UMKM (Kemenkeu, 2021). Nah, ini tentu menjadi peluang emas bagi Sahabat Wirausaha untuk mengembangkan bisnis dengan menjangkau pasar ekspor. Memang negara mana saja di wilayah Timur Tengah yang potensial sebagai tujuan ekspor, dan apa saja produk UMKM yang bisa diekspor ke sana? Lantas, apa pemerintah serius akan menembus pasar ekspor wilayah Timur Tengah? Sabar, untuk mengetahui jawabannya, Sahabat Wirausaha harus menyimak bedah bisnis kali ini, tentang potensi ekspor di wilayah Timur Tengah.

Baca Juga: LPNU Kabupaten Blitar: Merambah Bisnis Ekspor dengan Kekuatan Berjejaring


Profil Negara-negara Potensial Ekspor di Timur Tengah

Bicara tentang Timur Tengah, pikiran kita langsung mengarah pada negara-negara di Jazirah Arab yang secara geografis terletak di kawasan Asia Barat. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa wilayah Timur Tengah ini memiliki sejarah peradaban yang panjang. Dari yang awalnya kawasan negara-negara miskin, kini berubah menjadi negara-negara kaya dengan tingkat pendapatan yang tinggi. Perekonomian negara-negara di Timur Tengah ini mengalami perubahan drastis sejak ditemukannya ‘harta karun’ berupa minyak bumi yang tersebar di seluruh wilayah Jazirah Arab.

Seiring dengan pertumbuhan ekonomi wilayah Timur Tengah yang meningkat drastis, sekaligus menjadikan wilayah tersebut sebagai pasar potensial untuk dituju. Tak heran jika negara-negara lain berlomba untuk memasukkan produk-produk unggulannya ke wilayah tersebut, termasuk Indonesia. Sebenarnya, peluang produk-produk unggulan Indonesia masuk ke pasar Timur Tengah cukup terbuka lebar. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya produk Indonesia yang diminati oleh pasar Timur Tengah, seperti makanan dan minuman, perhiasan, minyak kelapa sawit, dan lainnya. Sayangnya, produk-produk tersebut masuk ke pasar Timur Tengah tidak langsung diekspor dari Indonesia, tetapi justru masuk dari negara lain. Hal ini disebabkan Indonesia belum memiliki kesepakatan dagang dengan negara-negara Timur Tengah, kecuali Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Yordania. Namun, ekspor ke ketiga negara tersebut pun tergolong masih rendah, sehingga perlu ditingkatkan.

Baca Juga: Bagaimana Bisa Ekspor Melalui Shopee?

Sumber: BPS & Ditjen Bea Cukai, 2021 (GoodNews Indonesia, 2022)

Berikut profil negara-negara di Timur Tengah yang potensial menjadi tujuan ekspor produk unggulan Indonesia (ilmupengetahuanumum.com).

  • Uni Emirat Arab

Sahabat Wirausaha tentu sudah mengenal Dubai, bukan? Kota bak surga dunia yang dibangun dengan begitu indah, mewah, dan megah. Kekayaan Dubai hanya cerminan sebagian dari kekayaan Uni Emirat Arab. Uni Emirat Arab merupakan gabungan dari tujuh pemerintahan yang terdiri dari Abu Dhabi (ibukota), Ajman, Dubai, Fujairah, Ras Al Khaimah, Sharjah, dan Umm Al Quwain. Negara ini memiliki wilayah seluas 83.600 km2, dengan jumlah penduduk sebanyak hampir 8,3 juta jiwa. Anehnya, sebagian besar penduduknya yakni 85% justru bukan penduduk asli Arab, melainkan warga asing atau pendatang. Negara ini termasuk negara terkaya di dunia dengan pendapatan PDB sebesar US$ 667,2 miliar.

Baca Juga: Potensi Ekspor Makanan Olahan Kemasan Dari Indonesia

Sebagai negara perdagangan, Uni Emirat Arab menjalin kesepakatan dagang dengan berbagai negara, termasuk Indonesia. Secara geografis, posisi negara ini sangat strategis sebagai hub atau agen untuk pengembangan jaringan mitra usaha dan perluasan produk unggulan Indonesia ke Timur Tengah, Afrika, dan juga Eropa. Dalam hubungan dagang dengan Indonesia, negara ini mengekspor beragam produk seperti mesin, peralatan listrik, suku cadang pesawat, produk dari kayu, batu mulia, makanan jadi, produk sayuran dan hewan, serta masih banyak lagi yang lainnya. Sementara impor Uni Emirat Arab dari Indonesia mencakup produk mesin, minyak bumi, pelumas, alumunium, bahan kimia, dan biji plastik dengan nilai sebesar US$ 1,2 miliar (kemlu.go.id).

  • Arab Saudi

Tak bisa dipungkiri bahwa Arab Saudi lebih terkenal di wilayah Timur Tengah, karena menjadi pusat peribadatan umat Islam dari seluruh dunia. Negara yang beribukota Riyadh ini secara geografis memiliki wilayah seluas 2.149.690 km2, dengan jumlah penduduk sebanyak lebih dari 28 juta jiwa. Pendapatan Arab Saudi berasal dari penjualan minyak bumi dan penyelenggaraan ibadah haji dan umroh. Nilai ekspor minyak Arab Saudi per Maret 2022 dilaporkan mencapai US$ 30 miliar atau setara Rp 438 triliun (Bisnis, 2022). Tak heran jika negara ini tergolong sebagai negara berpendapatan tinggi dengan perolehan PDB sebesar US$ 1,731 triliun. Sementara nilai impor Arab Saudi per April 2022 mencapai US$ 14,7 miliar (CEIC, 2022). Meski sebagai produsen minyak, Arab Saudi tidak hanya mengekspor produk tersebut, tetapi juga mengimpornya. Arab Saudi mengimpor minyak dari Rusia dan Uni Emirat Arab. Tak hanya minyak bumi, Arab Saudi juga mengimpor jenis produk lain bahkan dari Indonesia seperti sawit dan turunannya, kayu, daging, ikan, beras, sayur dan buah-buahan, serta vitamin.

Baca Juga: Potensi Ekspor Rempah-Rempah di Pasar Eropa

  • Mesir

Meski sebagian besar wilayahnya terletak di benua Afrika, namun Mesir termasuk negara wilayah Timur Tengah. Dengan wilayah seluas 1.010.407 km2, Mesir memiliki populasi sebanyak lebih dari 89 juta jiwa. Sebagai salah satu negara di Jazirah Arab, Mesir memiliki peradaban kuno dan monumen termegah di dunia, seperti Piramid Giza, Kuil Ramses, dan lainnya.

Seperti halnya negara Timur Tengah lainnya, perekonomian Mesir sebagian besar juga ditopang dari penjualan minyak bumi dan gas alam, sedangkan sisanya bersumber dari pertanian dan pariwisata. Secara nasional, pendapatan negara ini tergolong tinggi dengan PDB yang mencapai US$ 989,9 miliar. Mesir telah menjadi mitra dagang Indonesia sejak lama. Nilai impor Mesir dari Indonesia pada tahun 2021 mencapai US$ 1,4 miliar. Bahkan Mesir menjadi hub perdagangan produk-produk unggulan Indonesia ke negara-negara Timur Tengah lainnya.

Baca Juga: Potensi Ekspor Minyak Atsiri Indonesia

  • Yordania

Yordania termasuk negara Timur Tengah yang secara geografis berbatasan dengan Arab Saudi di sisi timur dan tenggara, Irak di sisi timur laut, Suriah di utara, dan Palestina di sisi barat. Negara ini menganut sistem pemerintahan monarki yang dipimpin oleh seorang raja. Luas wilayah negara ini mencapai 89.342 km2, dengan populasi sebanyak lebih dari 7 juta jiwa. Meski sebagian besar wilayah Yordania merupakan gurun, namun perekonomian negara ini berkembang dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan perolehan PDB yang tinggi, yakni mencapai US$ 82,991 miliar.

Perekonomian Yordania sempat mengalami kemunduran akibat berbagai permasalahan, seperti resesi, tingginya tingkat pengangguran, pangsa pasar yang kecil, kurangnya modal, dan banyaknya pengungsi yang masuk ke negara ini. Namun berbagai masalah ekonomi tersebut dapat diatasi setelah Raja Abdullah II naik tahta dan memberlakukan kebijakan ekonomi liberal. Kini, ekonomi Yordania mampu bertumbuh rata-rata 7%, yang artinya geliat perekonomian negara ini bergerak secara positif dan membuka peluang pasar lebih besar.

Baca Juga: Roa Judes, Menduniakan Sambal Khas Manado

  • Oman

Negara-negara di wilayah Timur Tengah umumnya menganut sistem monarki yang dipimpin oleh seorang raja atau sultan, termasuk juga Oman. Sebagai salah satu negara di Jazirah Arab, perekonomian Oman juga mengandalkan dari perdagangan minyak bumi. Dengan luas wilayah sebesar 309.501 km2, populasi penduduk Oman tidaklah terlalu besar, kurang lebih sekitar 4 juta jiwa. Meski demikian, secara ekonomi, Oman tergolong sebagai negara berpendapatan tinggi. Nilai PDB yang diperolehnya mencapai US$ 173,1 miliar.

Perekonomian Oman sebagian besar ditopang oleh komoditas minyak bumi. Meski harga minyak bumi selama lima tahun terakhir berada pada level rendah, namun negara ini masih mampu mencapai surplus perdagangan. Selain minyak bumi, Oman juga mengandalkan gas alam, hidrokarbon, aluminium, bijih besi, dan pupuk dalam meningkatkan pendapatan nasionalnya. Sementara untuk kebutuhan kendaraan bermotor, aksesoris kendaraan, peralatan konstruksi, dan komunikasi, Oman mengimpornya dari negara lain. Indonesia menjadi mitra dagang Oman untuk produk-produk unggulan seperti minyak kelapa sawit dan turunannya, karet, otomotif, makanan jadi termasuk kakao, kopi, dan lainnya dengan nilai mencapai US$ 525,7 juta di tahun 2020 (kemlu.go.id).

Baca Juga: Ekspor Tidak Melulu Soal Negara Besar, Coba Cek Potensi Pasar Non Tradisional


Ragam Produk Unggulan UMKM yang Potensial Diekspor ke Timur Tengah

Indonesia kaya akan sumber daya alam dan orang-orang kreatif yang mampu mengolahnya menjadi berbagai produk unggulan yang berkualitas dan berdaya saing tinggi. Buktinya, banyak pelaku UMKM yang menghasilkan produk-produk berinovasi tinggi, yang layak bersaing di pasar internasional, terutama pasar Timur Tengah. Namun, untuk bisa menembus pasar Timur Tengah, Sahabat Wirausaha perlu memperhatikan tentang kehalalan produk. Pastikan produk Sahabat Wirausaha telah memiliki sertifikasi halal dari instansi yang berwenang yaitu MUI (Majelis Ulama Indonesia). Khusus untuk produk makanan, minuman, dan obat-obatan yang masuk ke pasar Timur Tengah, terutama Arab Saudi harus melalui sertifikasi Saudi Food and Drugs Authority (SFDA). Sementara produk selain makanan, minuman, dan obat-obatan harus teregistrasi di Saudi Arabian Standards Organization (SASO). Hal penting yang harus diperhatikan adanya merek dagang, karena terkait dengan hak kekayaan intelektual, pastikan merek dagang Sahabat Wirausaha belum digunakan oleh pelaku usaha lain, agar tidak terjadi sengketa di negara tersebut.

Bicara tentang produk, berikut produk-produk unggulan UMKM yang berpeluang untuk menembus pasar Timur Tengah:

  • Minyak kelapa sawit

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, luas areal perkebunan kelapa sawit pada 2021 mencapai 15,08 juta hektar. Dari total luas tersebut, seluas 8,42 juta hektar (55,8%) dikuasai Perkebunan Besar Swasta (PBS), Perkebunan Rakyat (PR) menguasai seluas 6,08 juta hektar (40,34%), dan sisanya seluas 579,6 ribu hektar (3,84%) dikuasai oleh Perkebunan Besar Negara (PBN) (Databoks, 2022). Lahan seluas itu mampu menghasilkan kelapa sawit yang melimpah, yang mana secara nasional mencapai 46,88 juta ton pada tahun 2021. Tak heran jika kelapa sawit dan olahan turunannya menjadi produk unggulan ekspor dari Indonesia ke berbagai negara, salah satunya pasar Timur Tengah.

Baca Juga: Mengenal Harga Patokan Ekspor

Benar saja, minyak kelapa sawit dan turunannya banyak diminati negara-negara Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Mesir, dan juga Oman. Tingkat permintaan produk ini dari pasar Timur Tengah tergolong cukup tinggi. Selain itu, produk turunan dari minyak kelapa sawit pun juga tinggi. Sebut saja selai coklat, lipstik, margarin, sabun, kue kering, mie instan, sampo, biodiesel, dan deterjen. Nah, jika Sahabat Wirausaha memproduksi salah satu dari produk turunan minyak kelapa sawit tersebut, maka memiliki peluang besar untuk menembus pasar Timur Tengah.

  • Kopi

Kopi merupakan salah satu produk unggulan Indonesia yang telah diekspor ke berbagai negara. Tak heran jika komoditas ini memberikan sumbangsih pada pendapatan nasional dengan perolehan nilai ekspor yang cukup tinggi. Kini, ekspor kopi ditargetkan mampu menembus pasar Timur Tengah. Bak gayung bersambut, kopi Indonesia yang dikenal memiliki cita rasa khas sangat diminati dan bahkan telah terkenal di Oman dan Yordania. Sayangnya, untuk bisa menikmati kopi Indonesia, pasar Timur Tengah ini harus membelinya dari negara lain. Kini, penikmat kopi di Oman bisa berlega hati karena Indonesia telah menjadi mitra dagang Oman dalam ekspor produk kopi. Ekspor kopi perdana dilakukan oleh PT. Geber Ekspor Indonesia bekerja sama dengan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Bank Indonesia, dan Kadin. Kesepakatan dagang ini diharapkan mampu membuka jalur kerja sama perdagangan untuk komoditas-komoditas unggulan lainnya dari Indonesia.

Baca Juga: Potensi Ekspor Produk Kopi

  • Pasta bawang merah

Produk pasta bawang merah merupakan hasil inovasi produk bawang merah dari pelaku UMKM di kota Brebes, Jawa Tengah. Tak disangka, olahan bawang merah menjadi pasta ini ternyata banyak diminati konsumen, bahkan hingga ke pasar Timur Tengah, seperti Arab Saudi. Jadilah produk pasta bawang merah diekspor ke Arab Saudi pertama kali pada Desember 2019, di mana pengiriman setiap bulannya rata-rata mencapai 10 – 15 ton. Sayangnya, kegiatan ekspor pasta bawang merah ini harus terhenti sementara waktu sejak April 2020, karena pandemi Covid-19.

Sebagai salah satu bumbu makanan, pasta bawang merah mampu bertahan selama 6 bulan pada suhu ruang. Jika disimpan di dalam lemari pendingin, maka bisa bertahan hingga satu tahun. Saat ini, produksi pasta bawang merah masih tetap berlangsung untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Pemerintah diharapkan dapat kembali membuka keran ekspor produk pasta bawang merah ke pasar Timur Tengah, tidak hanya ke Arab Saudi, tetapi juga negara-negara Jazirah Arab lainnya (Kementerian Pertanian, 2022).

Baca Juga: Potensi Ekspor Produk Teh

  • Rempah-rempah

Indonesia dikenal sebagai Mother of Spices, karena memang negara kita ini kaya akan rempah-rempah. Dari banyaknya jenis rempah di dunia, sebagian besar terdapat di Indonesia. Kekayaan rempah ini tentu memberi peluang untuk diekspor ke pasar internasional, termasuk Timur Tengah. Qatar menjadi salah satu negara Timur Tengah yang potensial untuk menjadi tujuan ekspor rempah. Selain didukung dengan infrastruktur perhubungan udara dan laut yang memadai, negara ini juga prospektif untuk menjadi pusat perdagangan hub bagi perlintasan orang dan barang di kawasan Timur Tengah.

Potensi ekspor rempah ke Qatar terkuak dalam Pameran Pertanian Internasional Qatar (AgriteQ) yang dilaksanakan di Doha Exhibition & Convention Center pada Maret 2022. Dalam pameran tersebut, Indonesia diwakili oleh PT. Ince Jaya Mandiri yang menampilkan produk rempah-rempah khas Indonesia. Di sini, pelaku usaha produk perkebunan Indonesia berpeluang untuk bertukar pengalaman, mengeksplorasi tren pasar dan perkembangan terkini, serta meraih peluang bisnis sektor pertanian di pasar Qatar, khususnya produk rempah (Koran Jakarta, 2022).

Baca Juga: Potensi Ekspor Produk Seafood

  • Sambal

Produk makanan dan minuman (mamin) memang selalu jadi idola baik di pasar domestik maupun internasional. Sebab itu, pemerintah mulai membidik produk mamin produksi UMKM untuk diekspor ke kawasan Timur Tengah, khususnya Arab Saudi. Potensi pasar di Arab Saudi memang menggiurkan. Sebab, negara ini menjadi tujuan ibadah haji dan umroh ibadah setiap tahunnya, di mana para jamaahnya tentu merupakan pasar potensial. Jumlah jamaah haji dan umroh dari Indonesia sendiri lebih dari 1 juta orang. Hal ini menunjukkan adanya potensi pasar yang cukup besar untuk mengekspor mamin khas Indonesia, khususnya sambal. Selain menyasar jamaah haji, pemerintah juga membidik pasar ekspatriat dan TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang rindu akan cita rasa Indonesia (CNN Indonesia, 2021).


Dukungan Kebijakan Perdagangan

Tanpa kebijakan perdagangan yang mendukung, kegiatan ekspor produk unggulan UMKM akan sulit dilakukan. Memang benar. Sebab itu, pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan kinerja ekspor ke berbagai negara, termasuk wilayah Timur Tengah. Berikut kebijakan perdagangan pemerintah sebagai bentuk dukungan pada kegiatan ekspor produk unggulan UMKM di pasar Timur Tengah.

  • Membuka pusat promosi dagang

Untuk mengenalkan produk-produk unggulan Indonesia yang berdaya saing tinggi kepada pasar di wilayah Timur Tengah, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan membuka Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) atau pusat promosi dagang di Dubai, Uni Emirat Arab. Penempatan kantor ITPC sengaja dipilih lokasi yang strategis, agar promosi produk Indoensia ke pasar Uni Emirat Arab dan wilayah Timur Tengah lainnya lebih optimal. Tujuannya tentu saja untuk meningkatkan ekspor Indonesia di kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Jitu Membidik Peluang Pasar dan Target Negara Ekspor

Kantor pusat promosi dagang Indonesia di Dubai memiliki area khusus atau ruang pamer yang digunakan untuk menampilkan berbagai produk unggulan Indonesia, terutama produk-produk UMKM yang potensial diminati pasar Timur Tengah. Hal ini telah direalisasikan dalam penataan interior kantor, di mana furnitur yang menghiasi ruang tamu dan ruang pertemuan menggunakan produk unggulan Indonesia. Sementara produk-produk yang telah dipamerkan mencakup produk peralatan rumah tangga, handycraft, dan aksesori dari hasil produksi 30 UMKM Indonesia. Tak hanya display secara fisik, produk-produk unggulan Indonesia juga dipamerkan secara digital.

Pembukaan kantor ITPC di Dubai didasarkan pada proyeksi ekspor perdagangan non-migas Indonesia ke Uni Emirat Arab yang cukup menjanjikan, di mana potensi pertumbuhannya sebesar US$ 1,6 miliar per tahun. Pusat promosi dagang yang dibuka oleh pemerintah ini diharapkan dapat mendorong pelaku UMKM untuk lebih produktif menghasilkan produk-produk unggulan yang berkualitas dan berdaya saing tinggi (Katadata, 2021).

Baca Juga: Menentukan Unique Selling Proposition

  • Menjalin kesepakatan dagang

Pemerintah terus berusaha menjalin hubungan dagang dengan negara-negara yang berpotensi menjadi tujuan ekspor, termasuk juga wilayah Timur Tengah. Khusus di pasar Timur Tengah, pemerintah membidik tiga sasaran ekspor, yaitu pasar reguler, ekspatriat, serta haji dan umroh. Jika berhasil menembus pasar reguler, maka konsumsi produk Indonesia akan lebih stabil dan berkesinambungan. Pasar haji dan umroh serta ekspatriat sama pentingnya. Sebab itu, pemerintah berusaha untuk menangkap peluang ekspor yang ada di wilayah Timur Tengah secara maksimal.

Upaya menangkap peluang ekspor secara maksimal di Timur Tengah direalisasikan pemerintah dengan melakukan perundingan Indonesia-United Arab Emirates Comprehensive Economic Partnership Agreement (IUEA-CEPA). Dalam perundingan tersebut, Indonesia dan Uni Emirat Arab berusaha membuat kesepakatan dagang terkait dengan ekspor dan impor antar-kedua negara. Selain itu juga membahas tentang pengurangan hambatan tarif yang saat ini berlaku bea masuk sebesar 5% agar dapat ditekan hingga angka terendah. Harapannya perundingan ini dapat terealisasi sehingga mampu meningkatkan neraca perdagangan kedua negara dua hingga tiga kali lipat (Antara, 2021).

Baca Juga: Membangun Brand Positioning Agar Bisnis Berkembang

Menembus pasar internasional memang tidak mudah dilakukan. Ada banyak hambatan yang sering dihadapi, mulai dari birokrasi hingga tingginya bea masuk. Meski demikian, bukan berarti ekspor tidak bisa dilakukan. Di sinilah peran pemerintah dimainkan, dengan menjalin hubungan dagang dan melakukan kesepakatan dagang sehingga tercapai win-win solution, dalam arti saling menguntungkan kedua negara. Timur Tengah merupakan pasar yang potensial untuk menjadi tujuan ekspor produk unggulan Indonesia. Saat ini, Indonesia hanya mampu menembus sebagian kecil pasar Timur Tengah, terutama Arab Saudi, Mesir, Yordania, dan Uni Emirat Arab. Nilai ekspor ke negara-negara tersebut pun tergolong masih rendah, sehingga masih berpeluang untuk ditingkatkan.

Wilayah Timur Tengah sangatlah luas dan terdiri dari banyak negara dengan perolehan pendapatan nasional yang tinggi. Sebut saja Qatar, Oman, Bahrain, Kuwait, Siprus, dan lain sebagainya. Jika pemerintah Indonesia bisa lebih aktif dalam melobi dan menjalin hubungan dagang, maka tidak mustahil produk-produk unggulan UMKM mampu menembus pasar Timur Tengah. Sebab, memang produk-produk Indonesia dikenal berkualitas dan berdaya saing tinggi sehingga diminati oleh pasar di wilayah tersebut. Konsumen di wilayah Timur Tengah yang harus membeli produk Indonesia dari negara lain menunjukkan bahwa peluang ekspor ke wilayah tersebut sangatlah besar.

Jika merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini ya Sahabat Wirausaha.

Mungkin Anda perlu membaca Artikel ini: