Peluang Pasar Barang Impor Peralatan Rumah Tangga - Perdagangan internasional hingga kini masih memberikan peluang yang baik bagi bisnis untuk memperoleh basis pelanggan potensial dalam jumlah besar. Hal itu berarti semakin banyak pula keuntungan yang bisa diperoleh melalui nilai tukar mata uang asing. Setiap negara juga bisa memenuhi kebutuhan akan produk-produk yang tidak bisa diproduksi secara mandiri melalui perdagangan internasional yaitu kegiatan impor.

Apa saja yang diimpor oleh negara Indonesia? Barang-barang yang diimpor umumnya terbagi dalam kategori barang konsumsi, bahan baku pendukung, dan barang modal. Nah, barang konsumsi seperti perlengkapan rumah tangga misalnya, hingga kini masih diminati oleh banyak masyarakat di Indonesia loh. Lantas, bagaimana peluang pasar impor untuk jenis barang perlengkapan rumah tangga tersebut? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu menganalisis perkembangan impor di Indonesia terlebih dahulu. Yuk, simak ulasannya berikut ini.


Perkembangan Impor di Indonesia

Disadur dari sumber Wikipedia, impor adalah proses transportasi barang atau komoditas dari suatu negara ke negara lain secara legal, dan merupakan salah satu bagian penting dari perdagangan internasional. Berdasarkan data yang diperoleh dari laman web Kementerian Perdagangan (Kemendag), terdapat kurang lebih 98 Komoditas Impor Non Migas yang masuk ke Indonesia. 

Adapun komoditas impor non migas dibagi dalam tiga kategori yaitu Barang Konsumsi, Bahan Baku Pendukung, dan Barang Modal yang dapat diuraikan seperti berikut ini.

1. Barang Konsumsi 

Barang konsumsi adalah jenis barang yang dapat langsung digunakan dan dikonsumsi oleh seseorang, serta memiliki manfaat, nilai, dan volume. Contoh barang konsumsi yaitu pakaian, sepatu, produk makanan, perlengkapan rumah tangga, furnitur, dan lainnya.

Berdasarkan jenis golongan barang yang diimpor, komoditas barang konsumsi terdiri dari Barang Konsumsi Tidak Tahan Lama, Makanan dan Minuman (Olahan) Untuk Rumah Tangga, Barang Konsumsi Setengah Tahan Lama, Makanan dan Minuman (Belum Diolah) Untuk Rumah Tangga, Barang Konsumsi Tahan Lama, Bahan Bakar dan Pelumas (Olahan), Mobil Penumpang, Barang Yang Tidak Diklasifikasikan, serta Alat Angkutan bukan untuk Industri

Baca Juga: 10 Negara Potensi Ekspor Cengkeh Indonesia, Berikut Paling Potensial!

2. Bahan Baku Pendukung 

Bahan baku dapat disebut juga bahan mentah. Bahan baku merupakan bahan yang dibeli dan digunakan untuk membuat produk akhir barang jadi yang akan dijual kepada konsumen. Bahan baku umumnya belum mengalami proses pengolahan sama sekali, contohnya bahan baku gula dan tepung untuk pembuatan kue; bahan baku kayu untuk pembuatan furnitur.

Berdasarkan jenis golongan barang, komoditas bahan baku pendukung yang diimpor terdiri dari Bahan Baku (Olahan) Untuk Industri, Suku Cadang dan Perlengkapan Barang Modal, Bahan Bakar Motor, Bahan Bakar dan Pelumas (Belum Diolah), Bahan Bakar dan Pelumas (Olahan), Suku Cadang dan Perlengkapan Alat Angkutan, Bahan Baku (Belum Diolah) Untuk Industri, Makanan dan Minuman (Belum diolah) Untuk Industri, serta Makanan dan Minuman (Olahan) Untuk Industri.

3. Barang Modal

Barang modal adalah jenis barang yang bersifat tahan lama dan biasanya digunakan dalam proses produksi produk berupa barang maupun jasa. Contoh barang modal yaitu alat pengeboran minyak, peralatan kereta luncur, truk sampah, dan lainnya. Berdasarkan jenis golongan barang, komoditas barang modal yang diimpor meliputi Barang Modal Kecuali Alat Angkutan, Alat Angkutan Untuk Industri, dan Mobil Penumpang

Berdasarkan data total ekspor-impor di laman web Kemendag, total impor untuk barang konsumsi berkisar di angka 1.500 juta US$ hingga 1.800 juta US$; bahan baku pendukung berkisar di angka 12.500 juta US$ hingga 17.000 juta US$, sedangkan barang modal berkisar di angka 2.400 juta US$ hingga 3.600 juta US$. Data tersebut merupakan data tahun 2022. Jadi, dapat disimpulkan bahwa perkembangan impor untuk tahun 2022 Indonesia ternyata lebih banyak mengimpor komoditas bahan baku pendukung, dan lebih sedikit untuk komoditas barang modal serta barang konsumsi. 


Mengapa Perlu Melakukan Impor?

Nah, mungkin Sahabat Wirausaha bertanya-tanya, ‘mengapa sih harus impor barang dari luar negeri? Padahal negara khan masih mampu untuk produksi sendiri’. Umumnya, kegiatan impor dilakukan ketika terjadi peningkatan secara terus-menerus dalam permintaan suatu produk. Impor akan menjadi sumber utama pasokan dalam negeri ketika suatu produk tidak diproduksi di dalam negeri atau diproduksi dalam jumlah yang tidak cukup untuk memenuhi permintaan yang meningkat. Inilah alasannya mengapa impor perlu dilakukan.

Baca Juga: 8 Negara Potensi Ekspor Ketumbar Indonesia, Ini Daftarnya!

Hal tersebut sejalan dengan manfaat impor, menurut sumber bcbekasi.beacukai.go.id, yaitu impor memungkinkan suatu negara untuk memperoleh bahan baku, barang dan jasa suatu produk yang jumlahnya terbatas di dalam negeri, dan/atau yang tidak bisa dihasilkan di dalam negeri. Secara tidak langsung, kegiatan impor tersebut turut mendukung stabilitas negara.  Lantas, bagaimana dengan bisnis atau perusahaan? 

Adapun manfaat impor bagi bisnis atau perusahaan antara lain yaitu dapat mengurangi biaya produksi, memperoleh barang dengan kualitas tinggi, harga yang rendah, dan berpotensi menjadi leader (pemimpin) dalam suatu industri. Nah, jadi Sahabat Wirausaha tidak perlu ragu untuk melakukan kegiatan impor bila memang impor tersebut dapat mendatangkan keuntungan bagi bisnis apalagi jika terdapat peluang pasar yang baik untuk menjangkau konsumen potensial.  

Jadi, bagaimana dengan kegiatan impor barang-barang keperluan rumah tangga? Bagaimana peluang pasarnya?


Peluang Pasar Barang Impor Peralatan Rumah Tangga

Dikutip dari sumber ruangmenyala.com, peluang pasar adalah kondisi dimana keadaan dan waktu menciptakan sebuah kesempatan bagi perusahaan untuk mengambil tindakan atau strategi bisnis. Nah, bagaimana caranya menganalisis peluang pasar? Menurut sumber podomorouniversity.ac.id, ada beberapa tips untuk melakukan analisis peluang pasar secara umum yaitu sebagai berikut.

1. Melihat Perkembangan Pasar Impor

Langkah pertama, kita dapat melihat perkembangan pasar impor berdasarkan golongan barang dan komoditas impor. Dalam analisis ini, kita hanya akan menggunakan data yang kredibel yaitu data dari laman web Kemendag.

2. Mengetahui Keinginan Konsumen

Setelah melakukan langkah pertama, kita dapat mengetahui sejauh mana keinginan konsumen terhadap barang-barang impor untuk perlengkapan rumah tangga. Apakah jumlah impor terus meningkat tiap tahunnya? Jika iya, maka tentu ada indikasi bahwa ada kenaikan jumlah permintaan konsumen terhadap produk impor tersebut.

3. Melihat Perkembangan Impor Negara Asal

Langkah ketiga, kita dapat mengetahui perkembangan impor berdasarkan negara-negara pengimpor barang ke Indonesia. Negara mana saja kah yang mampu menyediakan komoditas berkualitas dalam volume yang cukup untuk memenuhi permintaan konsumen?

Baca Juga: 7 Negara Potensi Ekspor Kunyit Indonesia, Ini Daftarnya!


Menganalisis Peluang Pasar Barang Impor Peralatan Rumah Tangga

Fokus utama kita adalah melihat perkembangan impor untuk perlengkapan rumah tangga yang termasuk dalam komoditas barang konsumsi golongan Barang Konsumsi Tahan Lama. Berdasarkan data tersebut di atas, dapat dilihat bahwa nilai impor barang konsumsi tahan lama sejak tahun 2017 hingga tahun 2021 terus meningkat meskipun pada tahun 2020 sempat menurun di angka 1,730.3 juta US$, namun data menunjukkan adanya tren positif di angka 7,56%. 

[Sumber: Perkembangan Impor Non Migas (Gol. Barang)/Web Kemendag]

Dengan meningkatnya nilai impor pada golongan barang ini, maka ada indikasi bahwa konsumen di Indonesia memiliki minat yang cukup besar untuk produk luar negeri. Hal ini dapat dilihat pada persentase perubahan nilai impor tahun 2020 dan tahun 2021 sebesar 25,59%. Tahun 2020, nilai impor berjumlah 1,730.3 juta US$ namun meningkat cukup besar di tahun 2021 sebanyak 2,173.1 juta US$. Nilai tersebut bahkan lebih tinggi dari nilai impor di tahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan data perkembangan impor non migas kategori komoditas impor dari SatuData Kemendag, terdapat sebanyak 98 komoditas impor yang masuk ke Indonesia. Oleh sebab itu, kita dapat memilih beberapa jenis komoditas yang berkaitan dengan kategori barang-barang perlengkapan rumah tangga seperti komoditas perabot dan penerangan rumah, komoditas plastik dan barang dari plastik, komoditas berbagai barang buatan pabrik, serta komoditas perkakas dan perangkat potong.

Baca Juga: Standar Ekspor Produk Kerajinan dan Kriya, Eksportir Perlu Tahu!

Adapun tujuan analisis peluang pasar berdasarkan komoditas impor ini adalah untuk mengetahui sejauh mana minat konsumen terhadap barang-barang impor kategori perlengkapan rumah tangga serta sejauh mana negara bisa memenuhi permintaan konsumen dengan hasil produksi dalam negeri. Agar lebih jelas, kita perlu melakukan perbandingan nilai impor dan nilai ekspor dari masing-masing komoditas tersebut seperti yang ditampilkan pada tabel berikut ini. 

[Data Diolah: Perbandingan Persentase Perubahan Nilai Ekspor-Impor]

Berdasarkan data perbandingan tersebut, dapat dilihat bahwa komoditas perabot dan penerangan rumah memiliki nilai impor yang lebih kecil dibandingkan nilai ekspor. Hasil yang berbeda ditunjukkan oleh komoditas plastik dan barang dari plastik, komoditas berbagai barang buatan pabrik, serta komoditas perkakas dan perangkat potong. Ketiga komoditas tersebut memiliki nilai impor yang lebih besar dari nilai ekspornya. Lantas, kesimpulan apa yang bisa diambil dari data tersebut? Yuk, kita uraikan satu per satu. 

1. Komoditas Perabot dan Penerangan Rumah

Barang-barang perabotan dan penerangan rumah memang selalu laris manis di pasaran. Tahun 2021, nilai ekspor komoditas ini berjumlah 3,018.3 juta US$, cukup besar bila dibandingkan dengan nilai impornya yang berjumlah 1,351.7 juta US$. 

Hal ini dapat menunjukkan bahwa tampaknya Indonesia masih mampu memproduksi barang-barang perabotan rumah tangga secara mandiri. Namun demikian, Indonesia masih tetap membutuhkan bantuan produksi dari negara lain untuk memenuhi permintaan konsumen. Hal ini tampak pada kenaikan nilai impor dari tahun 2020 ke tahun 2021 sebesar 29,23%. 

Nah, kira-kira produk lokal apa saja nih yang Sahabat Wirausaha ketahui? Dilansir dari sumber journal.sociolla.com, ada 5 rekomendasi merek perabotan dan dekorasi rumah buatan lokal yaitu Uwitan, Woodsluck, Ifurnholic, Balka Living, dan Fabelio. Lalu, bagaimana dengan produk luar negeri? Salah satu contoh produk perabotan dan penerangan rumah buatan luar negeri yang paling terkenal di Indonesia adalah Philips. Disadur dari sumber Wikipedia, Philips didirikan pada 15 Mei 1891 atau 131 tahun lalu dan berpusat di Amsterdam, Belanda.

Philips memang terkenal dengan kualitas dan inovasi produknya. Tak heran, Philips Lighting berhasil menjual  lebih dari 240.000 produk. Philips Lighting bahkan memenangkan penghargaan Top Official Store Award 2021 loh! Hal ini menunjukkan bahwa minat konsumen terhadap produk perabotan dan penerangan rumah buatan luar negeri masih cukup besar.

Baca Juga: Mau Ekspor Tapi Belum Punya Buyer? Begini Cara Menemukan Buyer Ekspor yang Mudah

2. Komoditas Plastik dan Barang dari Plastik

Komoditas plastik dan barang dari plastik memiliki nilai impor yang sangat besar jumlahnya dibandingkan nilai ekspor. Tahun 2021, nilai impor komoditas ini sebesar 10,185.2 juta US$ sedangkan nilai ekspornya cukup kecil yaitu sebesar 2,892.6 juta US$. Selisihnya memang terbilang besar, bahkan sejak tahun 2017 nilai impor komoditas ini tidak pernah turun dari angka 7 juta US$ loh.

Tingginya nilai impor dapat disebabkan oleh jumlah permintaan konsumen yang tinggi terhadap komoditas plastik dan barang dari plastik. Hal ini wajar karena kebutuhan akan penggunaan plastik dan barang-barang berbahan plastik tidak hanya berlaku untuk rumah tangga saja melainkan juga untuk sektor bisnis dan industri. Nah, salah satu contoh produk impor berbahan plastik yang terkenal karena kualitasnya yaitu Tupperware

Disadur dari sumber Wikipedia, Tupperware merupakan lini produk rumah tangga Amerika yang pertama kali dibuat pada tahun 1946 di Amerika. Tupperware memiliki beberapa kategori produk seperti wadah penyiapan, penyimpanan, dan penyajian untuk dapur dan rumah, yang terbuat dari bahan plastik pilihan. Selain itu, Tupperware juga mengembangkan produknya dengan membuat produk kecantikan.

Tahukah Sahabat Wirausaha, angka penjualan Tupperware di Indonesia pada tahun 2013 bahkan mencapai lebih dari 200 juta dolar dengan jumlah  distributor sebanyak 250.000 loh. Hal ini dapat menunjukkan bahwa minat konsumen di Indonesia terhadap produk berbahan plastik buatan luar negeri cukup tinggi karena tentu konsumen menginginkan produk yang benar-benar berkualitas dengan harga yang terjangkau.

3. Komoditas Berbagai Barang Buatan Pabrik

Berdasarkan data Perbandingan Persentase Perubahan Nilai Ekspor-Impor tersebut di atas, untuk komoditas barang buatan pabrik baik nilai impor maupun ekspor, keduanya berada di bawah nilai 1 juta US$. Cukup rendah bila dibandingkan dengan komoditas perabot dan penerangan rumah serta komoditas plastik dan barang plastik. 

Tahun 2021, nilai impor komoditas berbagai barang buatan pabrik sebesar 596,3 juta US$, lebih besar dari nilai ekspornya yaitu sebesar 388,5 juta US$. Selain itu, sejak tahun 2017 hingga 2021 perkembangan ekspor komoditas ini menunjukkan tren negatif yaitu sebesar -0,03%. Sebaliknya, perkembangan impor komoditas ini menunjukkan tren positif yaitu sebesar 0,33%. Hal tersebut dapat menunjukkan bahwa Indonesia tampaknya belum mampu untuk memproduksi barang-barang buatan pabrik secara mandiri sehingga masih harus mengimpor barang dari luar negeri.

4. Komoditas Perkakas dan Perangkat Potong

Komoditas ini ternyata memiliki nilai impor yang terbilang cukup besar dibandingkan nilai ekspornya. Tahun 2020, nilai ekspornya bahkan tidak mencapai angka 100 juta US$ sedangkan nilai impornya mencapai hingga 547 juta US$. Selanjutnya, pada tahun 2021, nilai ekspornya meningkat di angka 110,4 juta US$ namun tidak sebanyak nilai impor yaitu sebesar 699,6 juta US$. 

Baca Juga: 4 Alasan UMKM Harus Mengekspor Barang, Raih Cuan dari Pasar Global!

Padahal kita tahu bahwa Indonesia memiliki produk perkakas dan perangkat potong buatan lokal yang cukup terkenal yaitu Krisbow. Namun ternyata, Indonesia masih banyak mengimpor produk buatan luar negeri. Sama halnya dengan komoditas plastik dan barang dari plastik serta komoditas berbagai barang buatan pabrik, maka nilai impor yang meningkat tiap tahunnya dapat menunjukkan bahwa konsumen di Indonesia memiliki minat yang tinggi terhadap produk perkakas dan perangkat potong buatan luar negeri. 


Menganalisis Peluang Pasar Barang Impor Peralatan Rumah Tangga Berdasarkan Negara Asal

[Sumber: Perkembangan Impor Non Migas (Negara Asal)/Web Kemendag]

Langkah terakhir untuk menganalisis peluang pasar impor perlengkapan rumah tangga yaitu dengan mengamati perkembangan impor non migas kategori negara asal. Berdasarkan data tersebut di atas, negara Republik Rakyat Cina (RRC) tampaknya masih mendominasi pasar impor di Indonesia. Bahkan sejak tahun 2017 jumlahnya terus meningkat. 

Dikutip dari sumber liputan6.com, Indonesia juga  mengimpor barang-barang perabotan rumah tangga dari Cina senilai 77 juta US$ pada tahun 2019. Hal ini wajar, karena perdagangan internasional telah menjadikan Cina sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia. Bahkan pada tahun 2004, Cina menjadi pedagang barang dagangan terbesar di Asia, serta pengekspor dan importir terbesar ketiga dalam perdagangan internasional. 

Baca Juga: Mau Ekspor Kopi ke Jerman? Berikut Daftar Importir dan Peluang Pasarnya

Setelah negara Republik Rakyat Cina (RRC), negara Jepang menduduki posisi kedua negara pengimpor terbanyak disusul negara Thailand. Jepang mengimpor barang-barang berupa mesin, peralatan mekanik, reaktor nuklir, serta besi dan baja sedangkan Thailand mengimpor barang berupa gula, beras, produk olahan ikan, dan kendaraan bermotor. Nah, setelah menganalisis peluang pasar berdasarkan golongan barang, komoditas, dan negara asal pengimpor, bagaimana kesimpulan akhir yang dapat diambil?

Secara keseluruhan, berdasarkan data-data dari laman web Kemendag, dapat dilihat bahwa peluang pasar impor untuk barang-barang perlengkapan rumah tangga cukup baik khususnya pada komoditas plastik dan barang dari plastik. Selain itu juga dapat dilihat bahwa Cina masih menjadi negara pengimpor yang mampu menyediakan barang-barang perabotan/perlengkapan rumah tangga berkualitas dalam volume yang cukup besar untuk memenuhi tingginya permintaan konsumen di Indonesia.  Jadi, Sahabat Wirausaha dapat memanfaatkan peluang pasar tersebut untuk menjangkau konsumen potensial dan memperoleh keuntungan yang lebih banyak.

Jika merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini.

Referensi: ruangmenyala.com, podomorouniversity.ac.id, liputan6.com, journal.sociolla.com.

Referensi Web: Wikipedia, Laman Web Kemendag, SatuData Kemendag, Laman Web Bea Cukai Bekasi, Laman Web Tupperware, Laman Web Krisbow, Web Money ID