Is the future of shopping Brandless? - brandgym

Banyaknya persaingan dalam bisnis kemudian memunculkan berbagai strategi dalam melakukan branding. Namun, sebagian orang malah tidak terlalu fokus terhadap sebuah brand pada saat melakukan pembelian. Bahkan, saat ini ada sebuah strategi yang dikenal sebagai “No Brand” Branding. Untuk lebih jelasnya mari simak artikel berikut ini.

Baca Juga: Unique Selling Proposition


Pengertian “No Brand” Branding

“No Brand” Branding merupakan salah satu teknik pemasaran yang tidak terlalu menonjolkan pada sebuah merek. Dengan kata lain, produk yang dijual lebih mengutamakan fungsi dibanding dengan kemasan maupun embel-embel lainnya. Cara ini diklaim dapat menghemat pengeluaran konsumen dalam mendapatkan sebuah produk.

Hal tersebut dikarenakan perusahaan bisa memangkas biaya-biaya terkait pemasaran seperti biaya pencitraan merek, biaya iklan, maupun biaya tambahan kemasan. Dengan begitu, harga sebuah produk akan jauh lebih murah dibandingkan dengan produk yang memiliki brand.

The Brand of No Brand: The Inevitability of a Brand - Tronvig

Baca Juga: Mengenal Costumer Acquisition


Contoh Penerapan “No Brand” Branding

Strategi “No Brand” Branding yang paling jelas terlihat yaitu yang dilakukan oleh salah satu toko retail di Korea Selatan, E-mart. Produk-produk yang dijual di E-mart merupakan produk yang tidak memiliki brand terkenal pada umumnya. Melainkan produk yang dijual hanya diberi tanda sebagai “No Brand”. Tagline yang ditulis adalah “It’s not about brand. It’s about the consumer. Your path to becoming a smart consumer.” Harga yang ditawarkan pun relatif jauh lebih murah daripada produk sejenis yang ada di pasaran.

Baca Juga: Startegi Branding Mendapatkan Konsumen Loyal

E-mart ingin membantu konsumen jika nilai sesungguhnya pada sebuah produk adalah terletak pada kualitas produk itu sendiri bukan pada nama brand nya. Usahanya pun berhasil sejak diluncurkan pada tahun 2015 silam. Terbukti dengan mundurnya Wal-mart sebagai salah satu perusahaan retail asal Amerika. Walmart memutuskan untuk tidak membuka cabangnya di Korea Selatan karena melihat kekuatan E-Mart sebagai calon pesaingnya.

Meskipun strategi “No Brand” digunakan dalam pemasaran, namun, pada hakikatnya proses branding tetap terjadi disana. Sejatinya branding sendiri merupakan sesuatu yang diingat oleh konsumen. Misalnya pada produk “No Brand” dari E-mart yang menggunakan warna kemasan berwarna kuning dan simbol senyum di samping kata “No Brand”. Hal tersebut juga bisa dikatakan sebagai brand dari “No Brand”.

Baca Juga: Perbedaan B2B dan B2C

Jika merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini ya Sahabat Wirausaha.